PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Kue gosong


Jam kuliah telah selesai. Rafa terlihat berjalan keluar dari ruangan tergesa gesa, mengikuti langkah Sekar dan Rangga dari belakang. Langkahnya terhenti sesaat, ketika melihat Sekar dan Rangga masuk ke dalam mobil mewahnya.


Kemudian Rafa menghampiri tukan ojeg yang berada tak jauh dari gerbang kampus.


"Pak, tolong ikuti mobil di depan itu." Tunjuk Rafa ke arah mobil milik Pramudya.


"Baik, ayo naik." Kata tukan ojeg.


"Cepat ya Pak." Rafa naik ke atas motor, seraya menggunakan helm milik tukang ojeg.


Tak lama kemudian Rafa meminta tukang ojeg untuk berhenti, ia turun dari atas motor sambil melepas helmnya lalu di berikan kepada tukang ojeg.


"Berapa Pak?" tanya Rafa.


"Dua puluh ribu saja dek." Kata tukang ojeg.


Kemudian Rafa merogoh saku celananya dan memberikan uang pecahan lima puluh ribu."Kembaliannya ambil saja."


"Terima kasih, dek!" sahut tukang ojeg senang.


Rafa hanya menganggukkan kepala, lalu ia berjalan perlahan mendekati gerbang rumah Pramudya. Di balik tembok gerbang, kepalanya menyembul memperhatikan dua buah mobil yang terparkir di halaman rumah.


Rafa dapat melihat Sekar dan Rangga memeluk seorang pria yang menggunakan jas, sayang sekali Rafa tidak dapat melihat wajah pria yang di panggil ayah, karena berdiri membelakangi.


"Tapi sepertinya aku mengenal pria itu. Apa mungkin?" Mata Rafa melebar.


Namun di saat bersamaan, ia melihat Rey dan satu pria lagi, tapi sama saja, pria itu membelakangi hingga Rafa tidak dapat melihat dengan jelas wajah pria tersebut. Hanya Rey yang dapat Rafa kenali.


"Paman Rey? apa hubungannya dengan mereka?" gumam Rafa pelan. "Aku yakin, ini semua ada hubungannya dengan masa lalu Oma."


Kemudian Rafa melihat ketiga pria tersebut masuk ke dalam rumah, di ikuti Sekar dan Rangga. Terbersit di benaknya untuk masuk ke dalam rumah Pramudya dan berpura pura ingin bertemu Sekar. Tapi niat Rafa di urungkan karena ia khawatir semua rencananya akan kacau, apalagi akan sangat berbahaya jika mereka tahu keberadaan Rafa.


Kemudian Rafa memutuskan untuk pulang, baginya apa yang di lihatnya hari ini sudah cukup bukti untuk menentukan rencana selanjutnya.


**


Sesampainya di rumah, Rafa terkejut melihat Quenby sangat berantakan di dapur. Wajahnya di penuhi tepung, dan barang barang berantakan di atas meja.


"Apa yang Momy lakukan?" tanya Rafa berdiri di hadapan Quenby lalu meletakkan tasnya di atas kursi.


"Sayang, aku mau buat kue kesukaanmu. Tapi entah kenapa gagal terus." Tunjuk Quenby ke arah kue yang terlihat gosong di atas piring.


"Hahahaha!" Rafa tertawa terbahak bahak melihat kue gosong itu. "Momy, biar aku yang buatkan kuenya. Momy duduk saja ya."


Rafa meminta Quenby duduk di kursi, lalu ia mulai bekerja menyiapkan kembali semua bahan dan mulai membuat adonan kue.


"Ya ampun Quen? kenapa dapur jadi berantakan seperti ini?" tanya Karina dari arah pintu, berjalan menghampiri Rafa.


"Ya ampun Quen, kenapa tidak bilang padaku. Bukankah aku bisa membantumu? lihat putramu, dia lebih pintar darimu." Puji Karina.


"Oma, cerita dong." Bujuk Rafa sambil mengaduk adonan.


"Kau mau, aku ceritakan tentang apa?" tanya Karina.


"Tentang Oma waktu dulu." Kata Rafa.


Awalnya Karina menolak, namun akhirnya ia kemakan bujukan Rafa. Mau tidak mau, ia menceritakan bagaimana pahitnya hidup Karina dulu sewaktu bersama Pramudya.


"Zahra?" ucap Quenby.


"Iya sayang, Zahra yang telah menghancurkan hidupku. Tapi aku beruntung mendapatkan ayahmu." Kata Karina. "Kenapa kau terkejut? apa kau mengenal Zahra?"tanya Karina


"Tentu saja Bu. Zahra sendiri masuk rumah bordir, entah masih hidup atau tidak." Ungkap Quenby.


Karina yang baru mengetahui hal itu menjadi terkejut. "Jadi? Zahra meninggalkan mas Pram? lalu anaknya Zahra hasil hubungannya dengan mas Pram? dimana dia?"


"Aku mana tahu, Bu!" sahut Quenby.


"Ibu juga tidak tahu Nak. Seingatku, Zahra dan Mas Pram memiliki dua anak. Laki laki dan perempuan. Tapi sejak aku memutuskan bercerai, aku tidak tahu lagi tentang mereka." Jelas Karina.


Rafa yang sedari tadi diam, mencoba mencerna alur yang ada. Kini ia mulai paham dan bisa menarik benang merahnya. Hanya tinggal beberapa langkah saja, Rafa sudah bisa membongkar kasus itu.


"Momy, di mana Dad?" tanya Rafa.


"Aku di sini!" sahut Avram dari arah pintu bersama Ava.


"Hei, kau sudah pulang?" tanya Quenby menoleh ke arah Avram.


"Sudah sayang, hari ini aku pulang cepat." Jawab Avram lalu mencium puncak kepala Quenby.


"Aku mendapatkan kiriman uang dari perusahaan kita yang di sana. Paman Alex yang mengirimnya, aku mau belikan Rafa motor supaya tidak kesiangan berangkat kuliah. Juga buatmu, kita belikan mobil supaya kau tidak kesulitan menunggu angkutan umum." Jelas Quenby.


"Terserah kau saja, aku ikuti maumu." Jawab Avram lalu duduk di kursi.


"Aku lapar, apa ada makanan?" sela Ava.


"Tenang Opa, ini kue buatanku." Sahut Rafa lalu menyodorkan kue di atas piring.


"Kue gosong?" Ava menatap Rafa, Karina dan Quenby bergantian.


"Hahahaha!" semua orang yang ada di dapur tertawa terbahak bahak menatap kue gosong buatan Quenby.