PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Kehangatan


Sesampainya di Indonesia, mereka menempati rumah di kota Jakarta yang berukuran cukup besar, di kota dimana dulu Karina tinggal bersama Widia, ibunya.


Setelah seharian Karina mengurus surat surat kepindahan, dan beruntungnya mereka masih mengenali Karina hingga semua urusan Karina berjalan dengan lancar. Mereka di akui menjadi warga negara Indonesia lagi.


Sementara Quenby, Avram dan Rafa membereskan rumah dan membeli barang yang di butuhkan walau tak lengkap tapi cukup seadanya saja.


Setelah satu bulan mereka beristirahat dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, identitas baru. Mereka mulai terbiasa, terutama Quenby dan Avram.


Di sore hari, Rafa tengah duduk di kursi memainkan ponselnya. Ia masih berkomunikasi dengan Elena meski jarang ada balasan dari Elena. Karina dan Ava duduk di sebelahnya Rafa. Tak lama kemudian Avram dan Quenby duduk di kursi dengan membawa cemilan dan teh hangat, yang di letakkan di atas meja.


"Mulai besok, aku sudah bisa bekerja di salah satu perusahaan yang ada di kota ini. Dan kebetulan pemilik perusahaan itu sahabat lamaku." Jelas Avram.


"Syukurlah nak, aku juga mulai lusa bekerja lagi di tempat lama dulu aku pernah bekerja." Timpal Ava tersenyum.


"Kalau kau, Quen? apa rencanamu?" tanya Karina.


"Kita mulai semuanya dari awal, tentu aku juga akan ikut bekerja membantu kalian. Bukankah Rafa harus kuliah lagi." Jawab Quenby.


"Rafa sayang, kau mau sekolah di mana?" tanya Avram menatap ke arah Rafa yang masih sibuk dengan ponselnya, lalu ia letakkan ponsel itu di atas meja.


"Terserah kalian, semampu Dady and Momy membiayainya" Sahut Rafa.


Quenby tersenyum tipis, mengusap rambut Rafa sesaat. "Aku mau kau mendapatkan yang terbaik, tidak masalah kami bekerja keras."


"Terima kasih Mom.." Rafa memeluk Quenby sesaat.


Kemudian mereka menikmati teh hangat dan cemilan yang sudah di sediakan. Setelah sekian lama mereka bergelut dengan masalah yang datang bertubi tubi. Untuk pertama kalinya kehangatan, ketenangan, tercipta di antara mereka. Tawa canda terlontar indah do sore itu.


***


Keesokan paginya, mereka mulai beraktifitas seperti yang sudah mereka rencanakan. Ruang makan yang ukurannya tak cukup besar, namun selalu ada tawa dan canda di meja makan.


Avram dan Ava pergi untuk memulai pekerjaannya di hari pertama. Sementara Quenby dan Karina mengantarkan Rafa untuk mendaftarkan diri di salah satu Universitas di Jakarta.


Setelah beberapa jam, melalui proses persyaratan. Akhirnya Rafa di terima di Universitas tersebut. Quenby dan Karina sangat senang, karena semuanya berjalan dengan lancar.


"Anak anak kalian tenang, jangan berisik. Bapak mau memperkenalkan teman baru kalian." Kata wali Dose berdiri di depan bersama Rafa.


Kemudian pria yang bernama Rahmat mulai memperkenalkan Rafa berasal dari mana. Pindahan dari Universitas mana.


"Ada yang bertanya?" tanya Rahmat.


Seorang anak perempuan berwajah oval, bernama Sekar mengangkat tangan kanannya.


"Boleh minta nomer ponselnya tidak?" ucapnya tersenyum ke arah Rafa, di ikuti tawa anak anak yang lain.


"Diam!" bentak Rahmat melepaskan kaca matanya. "Ada lagi?"


Satu anak perempuan lain mengangkat tangannya. "Mau tidak jadi pacarku?"


"Hahahahaha!"


"Fiona!! bentak Rahmat, membuat semuanya kembali terdiam. "Rafa, silahkan kau duduk."


Rafa menganggukkan kepalanya, lalu memilih salah satu kursi yang kosong. Kebetulan di sebelah anak yang terlihat sangat kurus masih kosong.


"Boleh, aku duduk di sini?" tanya Rafa.


"Oh, sok atuh silahkan." Kata anak itu.


Kemudian Rafa duduk di sebelahnya, menatap tangan anak laki laki itu. "Deden."


Rafa membalas jabatan tangan Deden. "Rafa."


"Terima kasih!" sahutnya senang.


Rafa mengalihkan pandangannya ke depat. Memperhatikan Rahmat yang memulai mata kuliah. Bagi Rafa pelajaran yang di berikan Rahmat sudah ada di luar kepalanya.


Di Universitas itulah Rafa memulai hidupnya yang baru. Di kota Jakarta, Rafa dan keluarganya merasa hidupnya mulai tenang, meski bayang bayang masa lalu masih menghantui.