PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
2 keinginan terakhir


Dua jam sudah terlewati, tapi Rafa masih enggan beranjak dari bangku taman yang sedari tadi ia duduki. Menatap kosong ke depan, rambutnya yang gondrong di biarkan menutupi wajahnya yang tertiup angin sepoi sepoin.


Entah apa yang di pikirkan Rafa saat ini? tidak ada, yang ada hanyalah kesunyian. Merasa asing di tengah tengah keluarganya, aneh bukan?


"Aku ingin pulang.." ucapnya dalam hati.


Matanya yang bulat berkaca kaca, terasa perih dan panas mencoba menahan air mata supaya tidak menangis. Sesak di dalam dadanya saat teringat kata kata Livian yang menuduhnya gangguan jiwa.


Tanpa Rafa sadari, kedua orang tuanya telah kembali ke rumah setelah melangsungkan acara pernikahan dadakan.


"Sayang, kau di sini?" sapa Avram lalu duduk di bangku sebelah kanan di ikuti Quenby duduk di sebelah kiri Rafa.


"Boleh kami bicara?" tanya Quenby hati hati.


Rafa hanya melirik sesaat lalu kembali tatapannya lurus ke depan.


"Sekarang kami sudah menikah, apa kau senang?" tanya Quenby.


Rafa menarik napas dalam dalam lalu di hembuskan perlahan.


"Mungkin.."


"Mungkin?" Quenby mengerutkan dahi menatap wajah putranya. "Bukankah ini yang kau inginkan? kita hidup bersama?"


Rafa tersenyum samar, berdiri lalu melangkahkan kakinya tiga langkah ke depan, kemudian ia balik badan menghadap ke arah kedua orangtuanya


"Itu dulu Mom..Dad.." Rafa menundukkan kepala sesaat. "Dulu aku pikir keluarga tempat ternyaman yang bisa kumiliki, memiliki ayah dan ibu yang utuh adalah impian terbesarku. Tapi ternyata aku salah, dan aku menyesali keinginanku itu."


"Apa maksudmu, Rafa?" tanya Quenby menatap bingung putranya. Lalu ia bangkit dari duduknya hendak mendekati Rafa.


"Jangan lakukan apapun Momy! tetap di tempatmu!" seru Rafa menunjuk ke arah Quenby


"Rafa, aku-?"


"Sudah kubilang jangan lakukan apapun untukku!" pekik Rafa memotong ucapan Quenby.


"Baiklah sayang." Quenby kembali duduk.


"Aku benci situasi ini! aku benci terlahir hanya untuk menjadi beban kalian!" ungkapan kekesalan hati Rafa akhirnya tak dapat ia bendung lagi.


"Rafa..ada apa denganmu.." Avram yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.


"Ada apa denganku, Dad? ada apa dengan kalian!" Balas Rafa.


"Buat apa menikah kalau itu semua demi aku, buat apa sekarang kalian hidup bersama setelah kalian dengar kata kata Ayah Livian kalau aku gila! buat apa Mom? Dad?"


"Rafa, aku ingin melindungimu.." timpal Avram.


"Cukup! aku tidak mau mendengar apa apa lagi, terserah kalian!" seru Rafa lalu berlari meninggalkan taman.


"Rafa!!" seru Quenby memanggilnya.


Namun Rafa terus berlari memasuki rumah. Quenby hanya bisa menghela napas, menatap sedih punggung putranyan


"Apa yang harus kita lakukan lagi, untuk meyakinkan putra kita?" ucap Quenby merasa lelah dengan semua permasalahan yang ada.


"Anak anak memang seperti itu, apalagi Rafa belum dewasa. Belum mengerti apa yang di ucapkannya, apa yang di perbuatnya. Sebaiknya kita masuk dan ajak bicara Rafa pelan pelan."


Quenby menganggukkan kepalanya, menyeka air mata yang hampir jatuh dari sudut matanya. Lalu mereka beranjak pergi meninggalkan taman.


***


Di suatu pagi, Rafa menyatakan keinginannya untuk pindah sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Ia menyatakan kebosanannya di sekolah yang sekarang ini. Rafa merasa sudah menguasai semua pelajaran yang di berikan oleh semua guru pengajar.


"Nak, kau masih kecil. Mana mungkin kau akan di terima di perguruan tinggi." Kata Quenby.


"Momy meragukanku?" tanya Rafa balik menatap tajam wajah ibunya.


Quenby menoleh ke arah Avram meminta pendapatnya.


"Kita coba, selama Rafa mampu. Selama itu baik, kenapa tidak?" timpal Avram.


"Universitas mana, yang kau mau Rafa?" tanya Karina melirik sesaat ke arah Rafa sambil menuangkan air mineral ke dalam gelas.


"National University of Science and Technology ." Rafa menyebutkan salah satu perguruan tinggi paling populer di kota itu.


"NUST??" Ava dan Avram menimpali.


"Apa kau yakin dengan pilihanmu, Rafa? apa kau sudah tahu mengenai universitas itu?" tanya Avram terlihat raut wajah cemas.


"Sebaiknya kau pilih Universitas lain." Usul Karina.


"Tidak Oma! sahut Rafa. "Aku punya dua keinginan, sekolah di Universitas itu dan satu lagi....?" ucapan Rafa menggantung.


"Apa?" tanya Quenby.


"Aku bosan tinggal di kota ini, aku mau suasana baru." Kata Rafa tersenyum.


"Pindah kota? kemana?" tanya Avram semakin bingung dengan putranya yang memiliki keinginan di luar kebiasaan anak anak.


"Aku mau pindah kota ke Indonesia." Jawab Rafa.


"Indonesia? Oma juga mau!" timpal Karina tersenyum lebar.


"Ya Ampun!" Quenby menepuk keningnya sendiri.


"Oma mau?" tanya Rafa.


"Tentu saja sayang, itu keinginanku juga untuk menghabiskan sisa usiaku di tempat kelahiranku." Kata Karina.


"Hore!" Rafa mengangkat kedua tangannya bahagia karena mendapat dukungan.


"Aku setuju kalau pindah ke Indonesia, tapi mengenai Universitas yang kau maksud. Aku tidak setuju Rafa. Di sana banyak anak anak mafia, gangster dan juga anak bangsawan yang sekolah di sana. Mereka memiliki geng masing masing dan sering terjadi diskriminasi." Jelas Avram.


"Dad, aku mau menyelesaikan sesuatu yang harus aku selesaikan. Aku mohon, izinkan aku sekolah di sana. Percayalah, aku tidak akan membuat kalian repot." Ungkap Rafa menatap penuh harap.


"Baiklah, kita coba!" sahut Avram memberi izin.


"Terima kasih Dad..Mom.." ucap Rafa.