
Malam pukul 19:30
Rafa kedatangan Avram yang menjenguknya, membawakannya makanan kesukaan Rafa dan Quenby. Kini Avram tidak lagi membawa kucing atau yang lainnya untuk tes psikologi kejiwaan Rafa. Karena anak itu tidak terbukti mengalami gangguan psikopat.
"Mom..Dad..aku sudah mengantuk. Boleh aku tidur?" tanya Rafa sambil berkali kali menguap.
"Tentu sayang, tidurlah. Nanti aku menyusul." Jawab Quenby.
"Boleh aku tidur di kamar Momy?" tanya Rafa lagi penuh harap.
"Tentu saja!" sahut Quenby.
Rafa tersenyum, lalu ia beranjak dari kursi. "Dad, selamat malam!"
"Selamat malam, sayang. Mimpi indah ya!" Avram membalas senyuman Rafa.
Rafa melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah untuk beristirahat dan memberikan kedua orang tuanya ruang dan waktu untuk bicara.
"Quen, aku ingin bicara sesuatu. Tapi sebelumnya aku minta maaf." Ucap Avram hati hati.
"Ada apa?" tanya Quenby melirik sesaat ke arah Avram.
"Ayah mana yang tidak menginginkan putranya baik baik saja. Ayah mana yang tak menginginkan putranya bahagia. Doa terbaik selalu kusematkan di setiap napasku. Tapi Quen, semua itu tidak cukup. Ada hal yang harus kita lakukan, apabila sesuatu yang tidak kita inginkan pada putra kita. Posisiku sebagai Ayah bisa totalitas memberikan yang terbaik untuk putra kita, andaikan...?" Avram tidak melanjutkan ucapannya.
"Andai apa? maksudmu, kita menikah?" tanya Quenby balik.
Avram menganggukkan kepalanya. "Benar Quen."
"Tidak, aku tidak mau!" sahut Quenby.
"Dengar Quen, kau jangan keras kepala. Untuk kali ini, aku mohon.." Avram meraih kedua tangan Quenby untuk meyakinkan.
"Livian tengah mencari bukti bukti, tentu Livian melibatkan Polisi. Sementara bukti bukti mengarah kepada putra kita. Bagaimana kalau hak asuh Rafa di ambil darimu, dariku. Dan Pemerintah yang mengambil hak asuh Rafa. Apa kau tidak pikirkan bagaimana hancurnya perasaan anak kita? aku menjaga hal terburuk, bukan aku menginginkan hal itu, tapi apa yang Livian lakukan itu mengancam Rafa dan kita semua." Ungkap Avram panjang lebar.
Quenby terdiam, menatap tajam kedua bola mata Avram. "Beri aku waktu, boleh?"
"Jangan lama lama, aku khawatir dengan putra kita." Timpal Avram.
"Baiklah, jika itu demi putra kita. Akan aku lakukan, beri aku waktu dua hari untuk mempertimbangkannya."
"Silahkan." Kata Avram. "Aku berterima kasih, kau masih mau mendengarkanku."
Quenby menganggukkan kepalanya. "Sudah malam, sebaiknya kau pulang. Aku kabari kau secepatnya." Ujar Quenby
"Baiklah!" sahut Avram lalu beranjak dari kursi. Kemudian Avram melangkahkan kakinya menuju halaman rumah.
Quenby berdiri, memperhatikan Avram masuk ke dalam mobil. "Hati hati!" seru Quenby saat melihat mobil milik Avram melaju meninggalkan rumah. Kemudian Quenby masuk ke dalam rumah menuju kamar pribadinya.
Perlahan ia membuka pintu lalu menutupnya kembali. Nampak Rafa sudah tertidur pulas di atas tempat tidur. Quenby berjalan menghampiri, membungkukkan badannya mencium kening Rafa cukup lama.
"Selamat malam sayang." Ucap Quenby lalu berdiri tegap.
Quenby memilih tidur di sofa dan membiarkan putranya tidur dengan lelap di atas tempat tidurnya.
"Ya Tuhan, jika memang aku harus menikah dengan Avram adalah jalan yang terbaik. Aku harap, tidak ada masalah di kemudian hari." Ucap Quenby dalam hati, berusaha memejamkan matanya.
"Jika yang di katakan Avram benar, aku harus secepatnya mengambil keputusan sebelum semuanya menjadi terlambat."
Quenby menarik napas dalam dalam, sekali lagi ia meyakinkan dirinya dan keputusan yang akan di ambilnya.