PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Komedi?


Tidak ada yang mudah jika menyangkut masalah hati


"Mr J? siapa mr J? tanya Quenby kepada Avram.


Rupanya sesampainya di rumah. Rafa menceritakan semua fakta yang ia temukan tentang serangkaian pembunuhan yang sudah di rencanakan Avram, atas perintah Yama.


Avram sendiri sudah di perdaya Yama. Namun karena sibuk mengurus putranya, sama sekali tidak menyadari itu semua. Tetapi Avram sendiri tidak melakukan rencana yang sudah dia buat. Justru, Yama sendirilah yang menjalankan rencana pembunuhan itu dan di dukung penuh oleh Mr J.


"Aku belum pernah bertemu dengan Mr J, aku hanya mendengar namanya saja." Jawab Avram.


"Jadi? Anna bukan putri, Yama? Anna simpanan Yama yang sudah hamil dan menjebakku seolah olah aku yang melakukannya?" timpal Livian bertanya.


"Benar ayah!" sahut Rafa. "Yang menaruh minyak di tempat oma Miyako, pelakunya Anna sendiri. Dia sengaja melakukan itu semua demi menghilangkan nyawa dalam kandungannya."


"Bodohnya aku!! gara gara wanita iblis itu aku harus kehilangan kau, Quen!" seru Livian geram.


"Aku harus segera melaporkan semua ini kepada Polisi!" Livian beranjak dari kursinya.


"Tidak Ayah! kalau kau melaporkannya pada Polisi, itu artinya Dad juga akan di hukum karena sudah terlibat!" cegah Rafa menarik tangan Livian lalu berdiri tegap di hadapannya.


"Tapi Yama tidak bisa di biarkan, dan Anna juga harus menerima balasan setimpal!" Livian tetap bersikeras.


"Ayah, aku mohon. Jangan lakukan itu.." pinta Rafa penuh harap.


"Tenang sayang, aku akan mencarikan pengacara terbaik untuk Dady mu." sela Quenby menenangkan Rafa. "Kalau tidak di laporkan, dia akan merajalela dan mengancam kita semua."


"Rafa, putraku.Aku juga harus mempertanggungjawabkan semuanya. Kau tidak perlu khawatir, yang terpenting kau selamat dari tuduhan dan kau tidak diambil dari kami." Avram menimpali.


"Tidak! kalian tidak mengerti, percaya padaku. Jangan di laporkan dulu!" Rafa tetap membela dan mencegah Livian.


"Rafa, selama ini kau salah paham. Aku tidak sejahat yang kau pikirkan. Kau tidak perlu khawatir, aku pasti membantu kebebasan Avram." Kata Livian.


"Ayah, sdikitpun aku tidak pernah berpikir kau jahat. Meski kau hanya ayah tiriku, tapi tak pernah ada dalam benakku berpikir buruk." Ungkap Rafa.


"Lalu apa masalahnya?" tanya Livian tidak mengerti.


"Ingat baik baik Ayah, kalau kau berani melaporkan ini semua. Aku tidak akan pernah memaafkanmu!" ancam Rafa, balik badan, melangkahkan kakinya meninggalkan mereka.


"Anak itu aneh.." ucap Livian dalam hati.


***


Keesokan paginya, Livian melaporkan semuanya sesuai bukti yang sudah di temukan. Polisia mulai bergerak, dan menyelidiki kasus itu secara mendalam. Fakta fakta baru di dapat oleh pihak kewajiban, dan Mr J di ungkap oleh mereka.


Dalam waktu 24 jam, Polisi berhasil mengungkap kasus ini secara keseluruhan. Anna terbukti telah melakukan penipuan, dan membunuh bayinya sendiri dengan cara menaruh minyak pelumas di lantai.


Sementara Avram sendiri di tangkap atas tuduhan, bahwa dalang utama yang menjalankan semua rencana Yama, di balik semua itu adalah Mr J. Mr J sendiri di tuduhkan kepada Avram.


Ternyata, apa yang di katakan Rafa benar, dua hari sebelum Livian melaporkannya. Livian hendak membalas perbuatan Yama dan Anna, justru Avram lah yang paling berat dan jadi tersangka utama.


Hari itu juga, Pihak berwajib menangkap Anna dan Yama, berikutnya Avram. Dan akan di bawa ke pengadilan.


"Aku tidak menduga, kau berpura pura seolah olah menjadi korban. Kau tega korbankan anakmu sendiri!" ucap Quenby marah.


"Quen, aku-?"


"Cukup! kau tidak perlu menjelaskan apa apa lagi."Potong Quenby.


"Avram, aku minta maaf.." ucap Livian.


"Tidak, kau tidak salah..." jawab Avram pelan.


"Tangkap dia!" kata salah satu anggota Polisi.


Sementara Rafa hanya diam memperhatikan kedua tangan Ayahnya di borgol. Satu patah katapun ia tidak bersuara, menangispun tidak.


Avram menoleh ke arah Quenby. "Quen, maafkan aku.." Lalu matanya beralih menatap ke arah Rafa. "Maafkan aku..Rafa.."


Namun Rafa hanya diam, ia memilih pergi dari pada harus melihat ayahnya di bawa Polisi.


"Rafa!" seru Avram.


Namun Rafa mengabaikan panggilan Avram, berlari keluar dari rumah. Terdengar suara motor melaju meninggalkan halaman rumah.


Avram menarik napas dalam dalam, menundukkan kepalanya sesaat. "Aku sudah siap Pak!"


Kemudian pihak berwajib membawa Avram keluar dari rumah Quenby, di ikuti Livian. Di sela sela langkahnya ia menoleh ke belakang, berharap Quenby mengikutinya dan mengatakan sesuatu. Namun yang terlihat, Quenby beranjak pergi ke kamar pribadinya.


Avram tersenyum, dengan kepala tegak. Ia siap menghadapi hukuman yang akan di berikan pengadilan kepadanya.


Sementara Rafa yang berada di atas jembatan, di mana malam itu ia dan ibunya menyelamatkan Avram yang hendak mengakhiri hidupnya. Berdiri tegap memperhatikan air lautnya yang tenang. Angin yang berhembus kencang, membuat rambutnya berantakan. Tatapan matanya kosong ke depan, tak ada senyuman, tak ada kesedihan di matanya.


Ibu selalu memberitahuku untuk tersenyum dan memasang wajah bahagia. Ia berkata aku ada untuk menyebarkan kebahagiaan dan tawa.


Maksudku bukankah kamu harus menjadi lucu agar bisa menjadi komedian?


(anonymous/joker)