Pertahanan Seorang Wanita..

Pertahanan Seorang Wanita..
perlindungan terhadap Anita.


BAB 62.


Tuan Rama memang mempunyai Ruangan Bawah tanah di Gedung Perusahaan Pusat nya itu. Tempat dimana, apa bila ada Orang yang berbuat Macam-macam pada nya atau pun yang akan berbuat Curang pada nya.


Biasa nya Tuan Rama akan membuat Hukuman yang sangat Ekstrem pada Orang yang di tahan di Ruang bawah tanah itu, sampai benar-benar jera seumur hidup nya.


Setelah Tuan Rama sudah tidak melihat para Anj*ng itu, Tuan Rama Memanggil Antoni. Tangan Kanan Tuan Rama.


"Ton, Tolong kamu Utus beberapa Anak Buah kamu untuk menjaga Anita dari kejauhan. Saya yakin Anita sedang dalam Bahaya !! " Ucap Tegas Tuan Rama, namun tersirat wajah cemas di wajah nya.


Di balik Sikap Garang Tuan Rama, Tuan Rama adalah Sosok Pribadi yang paling tidak suka, kalau ada Orang yang tertindas, atau ada Orang yang sedang Ada dalam Bahaya.


Mungkin kalau Kejadian ini bukan Menimpa Anita pun, Tuan Rama akan Bersikap Sama pada Orang itu.


"Pah, Biar aku saja yang menjaga Anita. Sudah Ton kamu jangan Perintahkan Anak Buah mu itu !! " Ucap Ketus Mahesa tidak terima Jika Antoni yang akan mengawasi Anita.


Tuan Rama menatap Mahesa dengan Tajam, Tuan Rama melihat ada perubahan dari diri Mahesa, Baru kali ini Tuan Rama melihat Mahesa perduli pada Wanita lain selain Mendiang Mey.


Tuan Rama sudah paham Konsekuensi apa, saat Tuan Rama memutus kan Anita untuk menjadi Sekertaris Untuk Mahesa. Jadi jikalau Mahesa Jatuh cinta pada Anita. Tuan Rama harus terima itu.


Tuan Rama memilih Untuk tidak menanyakan Lebih jauh lagi Perihal perasaan nya Mahesa, karna Tuan Rama Tau, perasaan Mahesa belum bisa di katakan Benar-benar menyukai Anita, dan Bisa melupakan Mey. Itu Pasti tidak akan mudah Bagi Mahesa.


Tapi Titik terang sudah mulai terlihat dari dalam diri Mahesa pada Anita.


"Kamu Jangan Bantah Papah Mahes !! Biar Antoni dan Anak Buah nya yang memantau Keselamatan Anita !! Jika kamu Mau Bantu Silahkan, Tapi jangan Pakai Cara Papah, pikir sendiri bagaimana Cara nya !! Tapi Ingat, Papah Tidak mau Perusahaan Papah hancur Gara-gara kamu !! " Hardik Tuan Rama keras pada Mahesa.


Tuan Mahesa mencerna Perkataan Ayah nya, Mahesa sendiri Bingung, kenapa Diri nya menjadi perduli pada Anita, dan takut jikalau Anita Ada yang melukai.


Tuan Rama pun Pergi dari Ruangan itu. Meninggalkan Mahesa yang Masih bergelut dengan Lamunan nya. Di ikuti oleh Antoni, Yang selalu setia mendampingi Tuan Rama.


Sekembali nya Mahesa dari Ruangan Itu, Mahesa sudah mendapati Anita di Ruangan Kerja nya, Mahesa berjalan Menghampiri Anita.


Sesampai nya di Meja kerja Anita, Mahesa meletakan Kedua Tangan nya untuk menopang tubuh nya saat melihat Anita lebih dekat lagi.


Anita kaget dengan Sikap Mahesa. Anita menelan Saliva nya dengan Gugup. " Glekkk !!"


"A-ada Apa Tuan !! Apa ada Yang bisa saya Bantu ?? A-atau Saya sudah berbuat kesalahan ?? " Ucap Anita membulat kan Mata nya dan Memundurkan Tubuh nya, karna Tubuh Mahesa semakin mendekat pada wajah Anita.


Mahesa tidak menjawab pertanyaan Anita, Mahesa malah menguatkan Pandangan nya, namun saat Mahesa melirik Tangan Anita, Pandangan Mahesa terkunci Pada sebuah Cincin yang menghiasi Jari Manis Tangan Kiri Anita.


Mahesa Tau itu Bukan tipe Cincin Murahan.


"Cincin ?? Apa Anita sudah Bertunangan ?? Setau ku Dia seorang janda !! " Gumam Mahesa, mengendur kan Pandangan nya.


Tiba-tiba Mahesa Emosi, dan Menggebrak Meja Anita, Seharus nya Mahesa tidak melakukan nya. Tapi entah kenapa Mahesa merasa Kecewa saat diri nya berpikir kalau Anita sudah Bertunangan.


Mahesa langsung pergi memasuki Ruangan nya, meninggalkan Anita yang Masih Terdiam dalam ketakutan nya, saat Anita Melihat Tatapan Mata Tuan Mahesa seperti ada Kesedihan yang menerpa diri nya.


Anita sangat tau Sifat Mahesa, Anita berpikiran Untuk segera Membuat kan Teh, Agar Tuan Mahesa Sedikit bisa tenang, Anita memang ketakutan, Tapi rasa Khawatir nya sangat Besar pada Tuan Mahesa.


Selesai nya Anita membuat kan Teh, Anita langsung menuju Ruangan Tuan Mahesa.


Setelah Anita mengetuk Pintu Ruangan Tuan Mahesa, tidak ada Sahutan jawaban yang ia Dengar, Anita langsung membuka Pintu itu.


Dan Benar saja Tuan Mahesa sedang menyendiri di Sofa Empuk di dalam Ruangan nya.


Tuan Mahesa Sedang menyenderkan Tubuh nya Di sofa itu, kelihatan nya Tuan Mahesa sedang Penat.


"Ma-maaf Tuan !! Emmm ... ini saya Buat kan Teh Untuk Tuan. " Ucap Anita sambil meletakan Gelas Teh itu di meja kerja Tuan Mahesa.


Mahesa mulai mencerna Perkataan Anita. "Ya Anita, kamu sedang berbuat kesalahan Besar dalam Hidup ku, Kau telah membuat ku merasa Ingin Melindungi mu !! Tapi rasa ingin itu, seketika terhenti, Saat aku merasa Sudah ada Penghalang bagi Ku untuk melakukan nya !! " Gumam Mahesa dalam Hati nya yang sangat Susah di ajak Kompromi.


" Kau sudah boleh Pergi !! " Ucap Mahesa dengan Singkat.


"Ta-tapi Tuan !! " Ucap Anita ingin mendengar jawaban Dari Tuan Mahesa, jika benar diri nya sudah melakukan kesalahan.


Mahesa Ingin sekali Berteriak Seperti biasa nya, Seperti yang sering Ia lakukan, apa Bila Diri nya merasa kesal dan Marah.


Namun kali ini Tidak, Mahesa tidak Ingin melakukan kekerasan di hadapan Anita, bahkan Mahesa Tidak sanggup jika harus membentak Anita.


"Ba-baik lah Tuan, Kalau begitu saya permisi dulu. " Ujar Anita khawatir saat melihat Tuan Mahesa.


Sebelum Anita mendapat kan jawaban Dari kesalahan nya, Anita lebih memilih untuk Pergi dari Ruangan Mahesa. Karna Pikir Anita, Mungkin kali ini Tuan Mahesa Ingin menyendiri terlebih dahulu.


Mahesa belum juga membuka Mulut nya untuk mengatakan Sesuatu Pada Anita.


Anita pun memilih Pergi dari Ruangan Mahesa dan Kembali ke ruangan nya.


Saat Mahesa Tau Anita sudah pergi, Mahesa langsung bangkit dari Duduk nya dan Berjalan menuju Meja kerja nya, Untuk meminum Teh yang di Buat Oleh Anita.


Kepala Mahesa rasa nya sangat Berat sekali, dengan Harapan Jika Meminum teh , rasa sakit nya akan sedikit Berkurang. Dan Mahesa pun meminum teh itu. Mata Mahesa tidak sengaja melirik ke luar ruangan yang dimana Terlihat Anita sesang tersenyum-senyum bahagia, kala melihat Cincin yang menghiasi Jari Manis nya.


Tangan Mahesa yang sedang memegang Gelas itu, Sekita mengerat kan dengan kuat Genggaman nya, Hingga Gelas itu pun Tak mampu menahan Keras nya Tekanan yang ada pada Telapak Tangan Mahesa.


Tanpa Suara, Gelas itu terbelah menjadi Dua, dah belahan Gelas itu berhasil Melukai Tangan Mahesa.


"Syittttt ..... !! " Umpat Mahesa kesakitan, dan melempar kan Gelas itu.


Lalu di situ lah Suara pecahan terdengar di telinga Anita, Anita langsung beranjak dari Duduk nya dan berlari Menuju Ruangan Mahesa.


Rasa ke khawatiran Anita terhadap Mahesa mampu meninggalkan senyuman Kebahagiaan saat melihat Cincin yang di berikan Oleh Gilang.


"Tuannnnn !! " Teriak Anita cemas saat membuka Pintu Ruangan Itu, Anita membungkam mulut nya saat melihat Darah segar mengalir Bebas di telapak Tangan Mahesa.


Anita Berlari Dan Meraih Tangan Mahesa. Entah kenapa Air mata Lolos begitu saja Di mata Anita, saat mengetahui Tangan Mahesa Terluka.


Dan Seperti Biasa, di Ruangan Lain tuan Rama melihat kejadian itu lewat Kamera CCTV.


"Benar Dugaan ku, Mahesa Mempunyai perasaan Terhadap Anita. Namun Mahesa tidak akan mudah mewujud kan perasaan nya itu. Tapi Papah akan Bantu kamu Nak !! Papah bahagia karna kini kamu bisa menahan Emosi kamu, walau pun kamu terluka !! Tapi Papah khawatir, jika Perasaan mu terhadap Anita. Akan lebih berdampak Buruk pada Hidup mu, jikalau seandai nya Anita tidak menerima perasaan mu itu. " Ucap Tuan Rama di Ruangan itu.


Anita langsung membawa Kotak Obat, dan menarik Tubuh Tuan Mahesa untuk duduk Di sofa itu, Anita Duduk di samping Mahesa dengan Tangan yang masih memegang tangan Mahesa yang terluka.


Mahesa tidak menolak atas sikap Anita yang telah ia berikan pada nya, Karna Tetesan Air mata Anita tadi, mampu membuat Mahesa Diam Seribu bahasa.


"Air mata apa itu Ann ?? " Tanya Mahesa dalam Hati nya.


Anita dengan telaten nya, membersihkan Luka Tuan nya itu dengan Sangat Hati-hati. Sesekali Anita mengusap Pipi nya yang basah di karna kan Air mata yang tanpa Ijin keluar dari pelupuk Mata nya.


"Tuan Kenapa kau Selalu menyakiti diri mu sendiri ?? Jika perlu Teman untuk berbicara, katakan lah pada ku Tuan, jangan seperti ini !! " Ucap Anita khawatir sambil terus mengobati luka yang menganga di telapak Tangan Mahesa.


Mahesa yang melihat noda darah di pipi Anita, Langsung mengangkat tangan nya dan membersihkan Noda darah itu di pipi Anita dengan Lembut.


Seketika Gerakan Anita saat mengobati Tangan Mahesa terhenti, saat Tangan itu menyentuh Lembut Pipi nya.


"Di Pipi mu ada Noda Darah. " Ucap Mahesa tanpa memandang Mata Anita, dia hanya memandang gerakan Tangan nya saja saat membersihkan Noda darah itu.


"Semoga kamu di jauh kan dari segala macam mara bahaya Ann !! " Ucap Mahesa lembut dan tersenyum tulus pada Anita.