Pertahanan Seorang Wanita..

Pertahanan Seorang Wanita..
BAB 151. Sabar


Dengan liar nya Amel menangkup leher Mahesa.


"Lagi-lagi kamu mengatakan kamu sudah beristri, aku tahu Sayang ! tapi untuk apa kamu mempunyai Istri tapi tidak bisa memuaskan kamu. " Bisik Amel mengecup daun telinga Mahesa.


Lemah ....


Lemah ...


Lemah ...


Itulah yang di rasakan pribadi Mahesa saat ini.


"Apa yang kamu ingin kan ? " Tanya Mahesa, yang sudah jelas ia pun tahu apa yang di ingin kan Amel, Amel menginginkan diri nya.


"Aku menginginkan kamu sayang. " Jawab Amel manja dan langsung mengecup bibir Mahesa dengan penuh gairah.


Amel sudah tak perduli jika kini diri nya di cap sebagai wanita murahan sekali pun, di hadapan laki-laki seperti Mahesa tak masalah bagi nya bersikap seperti wanita murahan sekali pun.


Sejenak Mahesa mendiamkan permainan lidah Amel yang semakin buas dalam rongga mulut nya.


Laki-laki yang kini melemah semakin tak kuasa menahan hasrat yang semakin menggebu di dalam diri nya.


Kini tangan Mahesa mulai meremas pundak Amel, dan melawan permainan lidah Amel yang tak kalah panas nya.


Namun saat itu permainan mereka hanya sebatas main bibir saja, walaupun begitu Amel merasa senang karna permainan nya mampu memancing gairah Mahesa yang sudah lama ia tunggu-tunggu.


Makan malam pun usai dengan wajah yang sangat senang membekas di wajah Amel yang berpamitan pulang pada Ibu Inggrit dan juga Mahesa.


Mahesa tak menawarkan diri untuk mengantar Amel pada malam itu, Mahesa masih bersikap dingin di hadapan Ibu nya, padahal Ibu nya pun sudah tahu jika Amel sudah berhasil memancing Mahesa.


mereka bertiga pun keluar dari restoran dan pulang dengan kendaraan yang mereka bawa.


Sementara di tempat lain Anita selalu menunggu kedatangan Suami nya itu, untuk makan malam bersama.


Ada perasaan tidak enak kala itu, namun Anita tepis dengan perasaan tak sabar menunggu Mahesa pulang dan melihat tampilan nya saat itu.


Tampilan yang sudah pasti akan mendapatkan pujian dari suami tercinta seperti biasa nya.


"Makanan nya sudah dingin, tapi dia belum juga dayang ! " keluh Anita sambil melihat keluar lewat kaca jendela nya.


Anita duduk tanpa bosan menunggu dan terus menunggu.


Tendangan dari anak yang ada di kandungan nya pun, berhasil membuat nya tersenyum.


"Hallo sayang, kamu juga nungguin Papah ya Nak ? sabar ya sayang, mungkin Papah masih di jalan. " Ucap Anita mengelus lembut perut besar nya itu.


Dan akhir nya suara kendaraan yang sudah familiar di telinga nya pun terdengar, senyuman mereka tersirat di bibir Anita yang langsung menyambut Mahesa di depan pintu rumah nya.


Tanpa aba-aba Anita membuka kan pintu rumah nya saat Mahesa sudah tepat berada di hadapan pintu itu.


Mahesa menatap Anita dari atas sampai bawah, yah iya ingat dress yang Anita kenakan itu adalah dress yang sangat ia sukai saat Anita mengenakan nya pada malam hari.


"Hay Mas ? " Sapa Anita menarik tangan Mahesa, agar segera masuk ke dalam rumah.


Mahesa hanya tersenyum.


"Kenapa pakai dress itu ? apa tidak pengap ? " Tanya Mahesa tidak memuji Anita seperti yang Anita tebak saat ia setia menunggu Mahesa dan melihat dress yang ia kenakan.


"Loh ini kan dress kesukaan kamu Mas, aku sengaja memakai nya agar kamu senang. " Jawab Anita manja.


Namun Anita tak mau membahas Rasa kecewa nya itu.


"Ya sudah Mas tidak apa-apa nanti aku ganti Mas, sekarang kita makan dulu ya. " Ajak Anita berharap bahkan sangat berharap suami nya bersedia makan bersama nya.


"Emm ... Sayang Mas kebetulan sudah makan tadi di kantor bareng rekan Mas kerja. Mas sudah kenyang, Mas ngantuk malah ! " Jawab Mahesa dengan sedikit rayuan agar Anita tidak curiga.


Deggg ....


Hati Anita seketika teriris perlahan, namun lagi-lagi ia tidak menghiraukan nya.


"Ya sudah, sekarang kita ke kamar Mas mandi dulu, setelah itu istirahat. " Ujar Anita mengambil tas dan jas yang ada di tangan suami nya itu.


Mahesa hanya tersenyum, dan berusaha menyembunyikan kebohongan nya itu.


Tidak ada rasa curiga sedikitpun di pikiran Anita jika rumah tangga nya lagi-lagi di uji oleh orang ke tiga.


Kedua nya masuk ke dalam kamar, kamar yang selama ini menjadi saksi bisu perasaan cinta yang di miliki oleh kedua nya.


Dan kamar itu pun saksi bisu dari kesedihan Anita belakangan ini.


Anita membiarkan suami nya masuk ke dalam kamar mandi, tak lupa sebelum nya ia sudah menyediakan air hangat terlebih dahulu.


Di buka kan nya semua lemari dimana pakaian Mahesa tertata rapih di dalam nya, di Ambilah sebuah piyama tidur milik suami nya itu.


Anita menaruh nya di atas tempat tidur, Mahesa tidak pernah sekali pun mengambil sendiri apa yang dia perlukan.


Anita selalu sigap dan selalu tahu, tapi sayang belakangan ini Mahesa tidak pernah mengingat semua itu, hanya karna satu hal Anita tidak bisa memuaskan hasrat nya belakangan ini.


Saat Anita sudah mempersiapkan semua kebutuhan suami nya, Anita duduk di meja rias yang ukuran nya tidak terlalu besar itu.


Di depan cermin ia melihat wajah nya, yang ia sadari kini sudah berubah karna gemuk akibat dari kehamilan nya.


Anita tidak pernah mengeluh akan perubahan fisik nya, yang penting kewajiban ia sebagai seorang istri dan seorang ibu tak pernah ia lewati, ia selalu melakukan nya dengan senang hati.


Saat Anita sudah menghapus make up di wajah nya dan mengganti pakaian, barulah suami nya keluar dari dalam kamar mandi.


Tanpa kata terimakasih Mahesa memakai apa yang sudah istri nya siapkan.


Setelah selesai Mahesa menjatuhkan badan nya di atas tempat tidur, dan di susul oleh Anita yang berbaring di samping nya.


Tidak ada kata " Selamat mimpi indah " yang Anita dengar seperti biasa nya.


Mahesa hanya mengatakan bahwa hari itu sangat melelahkan, sehingga dia merasa sangat mengantuk dan ingin segera tidur.


Anita mengiyakannya dan sangat mengerti, Anita mengelus kening Mahesa sampai ke pangkal rambut dengan dengan sangat lembut.


Anita menatap wajah yang selalu mengerti diri nya selama ini, menatap wajah yang selalu lemah lembut pada diri nya, wajah yang selama ini selalu membuat diri Anita merasa menjadi wanita paling beruntung dari wanita manapun.


Sekilas teringat saat Wajah itu sangat keras memperjuangkan diri nya, sangat keras sangat ingin menikahi nya.


Anita tersenyum, namun senyuman itu memudar ketika trauma nya di masa lalu tiba-tiba melintas di pikiran nya.


Trauma nya pada laki-laki yang menjadi suami pertama nya mengkhianatinya saat keadaan Anita baru melahirkan, trauma oleh mantan ke kasih nya yang dengan tidak sengaja menyakiti nya.


Anita buru-buru menepis nya, dan berharap itu tak kan ter ulang lagi.