
Di ruang persalinan Anita merasa jika persalinan nya yang sekarang cukup lama dan tenaga nya pun sungguh hampir terkuras.
"Dok pasien lemah, detak jantung pun lemah. " Ucap suster yang mendampingi persalinan Anita.
Dokter memeriksa Vital pasien. " Kita harus melakukan tindakan Cesar. Kalau tidak akan fatal. "
"Coba minta persetujuan keluarga nya terlebih dahulu. " Ucap Dokter yang menangani Anita.
Suster yang mendapati mandat dari Dokter langsung keluar membawa selembar kertas, untuk di tandatangani jika keluarga pasien setuju.
Suster keluar, di sana hanya ada Gilang. Gilang belum pergi ia masih berjalan mondar mandir di depan ruangan Anita.
"Bagaimana Sust ? " Tanya Gilang langsung menghampiri Suster yang baru saja keluar dari ruangan persalinan.
"Pasien harus segera mendapati tindakan, karna kondisi pasien saat ini lemah dan harus segera melakukan tindakan oprasi Cesar. " Jawab Suster yang mendampingi Anita.
"Lalu, bagaimana Sust ? " Tanya balik Gilang.
"Kami perlu tandatangan dari pihak keluarga, untuk mempersetujui tindakan yang akan Dokter lakukan, ini keadaan nya emergency. Apa orang tua atau suami pasien sudah datang ? " Ujar Suster.
Tubuh Gilang saat itu langsung mengeluarkan keringat dingin, entah apa yang harus ia lakukan. Sementara ia tidak mempunyai hak apapun atas diri Anita.
Gilang memperhatikan sekitar sambil mengusap kasar wajah nya.
"Sust begini saja, saya kerabat pasien saat ini. Biar saya yang menandatangani surat pernyataan ini ! saya yakin sebentar lagi orang tua pasien atau su-suami pasien akan segera datang. " Gilang sangat khawatir sehingga ia buru-buru mengambil keputusan, yang sebenar nya ia pun takut untuk di salah kan.
Suster itu pun hanya terdiam dan sedikit berpikir, karna itu keadaan darurat suster pun menyetujui nya.
"Baik lah Pak, Bpak tandatangan di sini. Bapak boleh mendampingi pasien saat menjalani oprasi Cesar. Itupun jika orang tua atau suami pasien tidak kunjung datang. " Jelas suster itu.
Setelah surat itu di tandatangani Suster langsung masuk kembali, dan segera memberikan kabar jika keluarga pasien sudah menandatangani surat pernyataan itu.
Anita segera di pindahkan keruangan Operasi, saat Blankar Anita keluar dari ruangan Gilang langsung berdiri dan menghampiri Anita.
"An, kemana Mahesa kemana orang tua mu ? " Tanya Gilang bingung harus bagaimana.
Anita hanya menggelengkan kepala dan terus meringis kesakitan.
"Kamu siapa ? " Tanya Dokter itu sambil berlari mendampingi Anita.
"Sa-saya kerabat nya Dok. " Jawab Gilang.
"Sebenar nya kemana Mahesa ? kemana Rama dan Inggrit ? " Batin Dokter itu heran, karna tidak melihat Mahesa ataupun teman nya Tuan Rama dan Ibu Inggrit.
"An kamu harus kuat, ada aku di sini kamu tidak sendiri. " Bisik Gilang sambil mengusap kening Anita sampai ke pangkal rambut nya.
Anita hanya Maringis kesakitan dan terus menganggukan kepala nya.
"Kenapa dia hadir di saat saat seperti ini ? dan kemana Glen ? " Batin Anita sejenak bertanya, namun ia tidak perduli karna rasa sakit semakin kuat dalam diri nya.
Wajah Anita yang kini terlihat pucat membuat Gilang tidak sanggup melihat nya.
"Temani aku Lang, aku takut. " Pinta Anita Tiba-tiba pada Gilang.
"Suami kamu An ? ta-tapi baik lah. Kamu jangan takut. " Jawab Gilang tidak perduli jika nanti Mahesa marah pada nya itu urusan belakangan.