
Gilang menatap instens Anita.
"Kenapa ? ada apa ? " Tanya Gilang perlahan namun tegas pada Anita.
Anita hanya menggelengkan kepala nya.
"Mahesa menyakiti mu ? jangan katakan Mahesa menyia-nyiakan mu An. " Tebak Gilang menyeliksik agar Anita mau jujur.
Anita meringis kesakitan.
"Anita masih dalam pemulihan, jika pun ada masalah Anita tidak boleh berpikir berat terlebih dahulu. " Batin Gilang tidak ingin ada yang Anita sembunyikan, tapi Gilang pun harus mengerti di samping ia tidak ada hak atas diri Anita, Gilang harus tahu jika Anita kini sedang dalam masa pemulihan.
"Ya sudah maaf An, Aku tidak bermaksud mengganggu mu. Sekarang istirahat saja dulu, jika perlu sesuatu kata kan pada ku. " Ujar Gilang menyelimuti Anita.
Anita saat itu tidak bisa berpikir Apa-apa, Anita sibuk dengan rasa sakit di bagian perut nya.
Anita tertidur kembali.
"An aku tahu dan aku paham kamu wanita baik, aku mengenal mu lebih dari aku mengenal diri ku sendiri, untuk itu kamu tidak bisa menutupi hal terkecil sekali pun. Jangan berpikir aku sudah tidak perduli pada hidup mu An, selama ini aku diam karna aku pikir kamu sudah bahagia bersama Mahesa. tapi ... aku berharap dugaan ku salah tentang Mahesa, aku berharap kamu baik-baik saja An. Cukup aku yang bodoh telah menyia-nyiakan diri mu atas kebodohan ku dulu. " Ucap lirih Gilang ingin sekali mengusap lembut rambut Anita namun kini ia tahu batasan nya.
Gilang terus saja memperhatikan Anita dan bayi kecil nya.
"Kamu beruntung Mahesa, Tuhan masih mempercayai kamu untuk bisa melihat dan merasakan ke hadiran Istri dan anak mu setelah masa-masa sulit saat melahirkan. " Ucap kecil Gilang, lalu Gilang tersenyum kecil namun senyuman itu penuh dengan duka.
Saat Gilang merasa kan luka dan duka, tidak ada satu orang pun yang bisa mengobati luka dan duka itu, sehingga Gilang setelah kepergian Istri dan anak nya Gilang hidup seperti dedaunan kering yang tertiup angin, kemana pun arah angin itu tertiup ia akan terombang ambing di dalam nya, itu lah hidup Gilang saat ini.
"Om, tante. " Sapa Gilang ramah.
"Loh kamu ? " Ujar Ibu Anita yang mengenali Gilang, namun Ibu Anita lupa-lupa ingat, karna saat itu Gilang hanya satu kali bertemu dengan Ibu nya Anita.
Sementara Ayah Anita tidak begitu mengenal Gilang.
"Ya ampun sayang maaf kami terjebak macet sampe beberapa jam, Tapi sukur lah kamu dan bayi kamu baik-baik saja. " Ujar khawatir dan haru Ibu Anita.
Anita yang tertidur, kini membuka mata nya kembali karna mendengar suara Ibu nya.
"Iya Mah, tidak apa-apa sukur lah tadi aku tidak terjebak macet mah. Entah apa yang akan terjadi jika aku terjebak macet tadi. " Jawab Anita lemas.
"Mana Suami mu Nak ? " Tanya Anyah Anita sambil mengusap kening Anita lembut.
Gilang langsung melihat ekspresi wajah Anita, penasaran jawaban apa yang akan Anita kata kan pada Ayah nya setelah Ayah nya bertanya tentang keberadaan Mahesa.
Anita tak bisa menahan air mata nya.
"Loh ... loh kenapa menangis, jangan menangis ada luka jahitan di perut mu, tenang. " Ucap cepat Ibu Anita.
Gilang meng ngepalkan telapak tangan nya, sehingga membulat sempurna.
"Sudah aku duga Anita tidak Baik-baik saja bersama Mahesa. " Hardik Gilang di dalam hati nya.