Pertahanan Seorang Wanita..

Pertahanan Seorang Wanita..
Murka.


BAB 141.


Siang itu, Anita dan Mahesa menghabiskan waktu nya bersama Nara, kebetulan hari itu Mahesa tidak akan masuk kantor sebelum acara resepsi nya selesai.


"Sini Nak sama Ayah !! kasian Mamah capek. " Ujar Mahesa pada Nara yang terus bermain dengan Anita.


Anita yang mendengar kata Ayah dari mulut Mahesa merasa haru dan menatap Mahesa dengan mata yang berkaca-kaca.


"Terima kasih Mas !! " Batin Anita merasa senang dan haru.


Mahesa tersenyum, dan meraih tangan Nara yang hendak menghampiri nya, Nara yang kini berusia 3 tahun mulai mengerti apa yang Orang katakan pada nya.


Mahesa terus saja menggoda Nara dengan candaan nya, Anita sangat menikmati pemandangan indah itu, Nara tertawa terbahak bersama dengan Ayah baru nya.


"Stop Ayah ... Nara geli !! " Ucap Nara sambil terus tertawa.


Kata Ayah terlontar dari mulut Nara, sehingga Mahesa dan Anita terpaku bersama menatap Nara yang masih polos itu.


Mahesa merasa haru mendengar nya. " Ayah janji tidak akan buat Nara kecewa, Nara sayang Ayah kan ?? " Ucap Mahesa sambil bertanya pada Nara dan memegang lembut kedua pipi Nara.


"Cayang !! " Jawab Nara dengan wajah polos nya.


Entah kenapa Mahesa merasa haru mendengar nya, Mahesa memeluk Nara dengan penuh kasih sayang. Anita sampai terus meneteskan air mata tak henti melihat itu semua.


"Mudah-mudahan kamu bahagia Nak !! " Batin Anita untuk putri kesayangan nya.


"Mas ! sampai kapan kita di sini ? " Tanya Anita pada Suami nya.


"Sampai hari Resepsi kita Sayang, apa kamu merasa bosan ? Ayok kita jalan-jalan. " Ajak Mahesa agar Istri dan anak nya senang.


" Tidak Mas, aku hanya ingin bertanya saja ! diam di rumah kan lebih baik, Gratis lagi. " Jawab Anita berpikir jika hotel yang ia tempati pasti mahal.


"Ya ampun Sayang masalah biaya ? jika kamu betah untuk tinggal di sini kamu boleh semau mu tinggal di sini, dan ingat semua ini Gratis. " Jawab Mahesa sambil tertawa ringan.


"Iya lah Gratis, orang Tuan besar yang bayar semua nya. " Ujar Anita datar.


"Sayang .... jangan panggil Papah dengan sebutan Tuan besar beliau bisa marah besar, panggil beliau Papah. Bukan masalah di bayar sama siapapun, Hotel ini pemilik nya atas nama Mahesa Prasetya anak dari Rama Prasetya, sampai situ paham ?? " Jelas Mahesa meras gemas saat menjelaskan pada Istri nya itu.


Anita tersenyum " Oh ... " Jawab Anita singkat.


Anita semakin tertawa, "Iya ... sayang ... iya. "


Mahesa menganggukkan kepala nya dan bahagia melihat Istri nya bahagia dengan tawa lepas di di bibir nya.


Tiba-tiba Orang tua Anita meminta izin untuk pulang terlebih dahulu, Nara pun ingin ikut bersama Nenek dan Kakek nya walaupun sudah di bujuk oleh Anita dan juga Mahesa, Nara tetep saja ingin ikut bersama Orang tua Anita.


Anita dengan berat hati membiarkan Nara pergi bersama kedua Orang tua nya. Mahesa merasakan apa yang Anita rasakan.


"Jika kamu mau malam ini kita bisa pulang ke rumah kamu, dan tidur bersama Nara. " ujar Mahesa.


Anita tidak enak jika harus pulang. " Di sini saja dulu Mas, besok baru kita pulang untuk menjemput Nara. "


"Baik lah !! " Jawab Mahesa menggenggam lengan Anita dan menuntun nya menuju kamar mereka.


Tidak ada yang ingin Mahesa lakukan selain berdua bersama dengan Istri tercinta nya, sebelum Mahesa kembali di hadapkan dengan pekerjaan nya.


Di tempat lain Ibu Inggrit dan Tuan Rama sudah sampai di kediaman nya.


"Pah !! Mommy gak suka ya Papah narik-narik Mommy di depan umun seperti tadi, apa Papah tidak malu ... hah ?? " Ucap keras Ibu Inggris pada Suami nya.


"Mom, Mommy yang harus nya malu !! di sana itu semua Orang tau jika Anak kita baru saja menikah, dan di sana juga ada Anita menantu baru kita. Bagaimana tanggapan Orang lain jika mendengar ucapan Mommy itu. " Jawab Tuan Rama sambil berkaca pinggang.


"Anita lagi ... Anita lagi !! kenapa harus dia yang jadi menantu kita sih Pah !! dasar wanita murahan. " Teriak Ibu Inggrit kesal.


PLAAAAKKKKKK .... satu tamparan mendarat dengan sempurna di pipi kanan Ibu Inggrit.


Ibu Inggrit terdiam sambil memegang Pipi nya yang memerah dan cap tangan yang terlihat sempura di pipi nya.


"Mom, sekali lagi Mommy anggap menantu kita itu seperti apa yang Mommy katakan barusan, Papah tidak akan segan menandatangi surat perceraian yang sempat tertunda waktu itu. Jangan sampai Papah kecewa dan jangan sampai Papah berpikir jika keputusan Papah memberikan kesempatan kedua untuk Mommy itu salah. " Ucap keras Tuan Rama sambil menunjuk wajah Ibu Inggrit dengan telunjuk nya.


Ibu Inggrit sampai terperanjat saat mendengar ancaman yang terlontar dari mulut Suami nya itu.


"Pah ... Pah ... !! " Teriak Ibu Inggrit saat Tuan Rama melangkah pergi meninggalkan nya.


"Awas kamu Anita !! " Dengus Ibu Inggrit tetap saja benci pada Anita, walaupun sudah jelas Tuan Rama tidak menyukai itu.