
Mahes tidak pernah dia di rumah, kali ini Mahesa ingin menemui Ayah nya meskipun Ibu nya melarang keras untuk Mahes menemui Ayah nya.
Dugaan Mahesa perihal keberadaan Ayah nya sangat lah tepat, Mahesa memparkirkan kendaraan nya di sebuah apartemen mewah di kota tersebut.
Mahesa menduga jika di jam tujuh pagi Ayah nya masih ada di apartemen.
"Pagi Tuan. " Sapa salah satu petugas keamanan apartemen itu.
Mahesa tidak menjawab nya sama sekali, Mahesa langsung menaiki lift menuju apartemen Tuan Rama.
Mahesa mengetuk pintu Apartemen milik ayah nya itu, seketika pintu itu terbuka.
"Mahes. " Ucap Tuan Rama masih mengenakan piyama tidur.
"Pah, aku mau bicara Pah. " Pinta Mahesa pada Ayah nya.
Seketika Tuan Rama membuka lebar pintu itu, Mahesa pun masuk dan duduk di ruang tamu sekaligus ruang Tv.
"Ada apa ? " Tanya Tuan Rama datar.
"Pah. cukup aku yang Papah diam kan, jangan Mommy Pah. Jangan bawa Mommy ke dalam permasalahan yang aku buat ini Pah, ini salah ku. Sungguh aku tidak terima jika Papah menggugat cerai Mommy dalam hal ini. " Ujar Mahesa.
"Apa Ibu mu yang menyuruh mu menemui Papah, dan membicarakan ini ? " Tanya Tuan Rama tenang.
"Tidak Pah, Mommy tidak menyuruhku menemui Papah. " Jawab Mahesa membela Ibu nya.
"Tapi Pah, kasihan Mommy. " Mahesa tetap membela Ibu nya.
"Sudah lah Mahes, jangan tutup mata dan hati mu untuk menerima dan mengetahui jika Ibu mu lah yang membuat mu seperti ini. Kamu mengenal Papah kan ? jikapun Papah berada jauh di negri orang Papah akan tetap tahu apa yang terjadi di negri sendiri. " Jelas Tuan Rama.
Mahesa hanya terdiam dan Tiba-tiba ingat dengan perkataan Anita waktu itu, dimana Ibu Inggrit datang bersama Amel ke rumah nya untuk bertamu.
Dan Mahesa pun ingat dengan janji nya, jika seandainya apa yang di pikirkan Anita benar Mahesa berkata dan berjanji tidak akan tergoda oleh wanita manapun.
Mahesa mengusap wajah nya kasar.
"Kenapa ? kamu ingat sesuatu Mahes ? " Tanya Tuan Rama memperhatikan sikap Mahesa.
Mahesa tidak menjawab, namun Tuan Rama paham apa yang sedang Mahesa rasakan saat ini, walaupun Tuan Rama bukanlah ayah kandung Mahesa.
Namun Tuan Rama mengurusi Mahesa semenjak Mahesa masih ada di dalam kandungan Ibu nya.
"Nak lihat lah Papah, terima lah semua nya. Jalani kehidupan mu yang akan terjadi di depan nya, bagaimana pun kamu harus tanggung jawab dengan apa yang sudah kamu lakukan. Apahkamu tahu Laki-Laki petanggung jawab lah yang di sebut lelaki sejati, meskipun ia mempertanggung jawab kan kesalahan yang sudah ia perbuat. " Ujar Tuan Rama mencondongkan tubuh nya lebih dekat pada Mahesa.
"Apa maksud Papah menikahi Amel ? mana mungkin bisa Pah, aku masih mencintai Anita. " Jawab Mahesa.
"Ini bukan saat nya kamu membicarakan soal cinta Mahes, tapi di sini harga diri lah yang lebih di ingat dan di bicarakan, Papah tidak akan mengingkari jika di antara kamu atau bahkan Anita masih mempunyai rasa cinta yang kamu maksud itu, tapi menurut Papah Meskipun rasa Cinta itu ada itu akan percuma Mahes, Cinta itu tidak akan suci lagi jika salah satu pasangan sudah menodai nya dengan perselingkuhan. Itu tidak mudah bagi siapa pun. Coba pahami dan mengerti lah, bukan hak kamu untuk memaksakan kehendak Anita. Kamu berpikir jika Anita egois tidak bisa memberi kesempatan sekali saja untuk mu, kesempatan itu sudah Anita berikan sebenar nya, bahkan dari awal Anita menerima untuk kamu nikahi itu adalah kesempatan Nak. Apa kamu lupa penderitaan dan pengkhianatan yang Anita dapatkan sebelum mengenal kamu ? Mengertilah dia lelah dengan semua pengkhianatan, seharus nya kamu sadari ini dari awal. " Jelas Tuan Rama tak henti membuka mata dan hati Mahesa untuk bisa menerima semua nya.
Tumpahlah air mata Mahesa di hadapan Tuan Rama.