Pertahanan Seorang Wanita..

Pertahanan Seorang Wanita..
BAB 191


Sebuah tatapan kosong Mahesa tunjukan saat melihat sekeliling ruangan itu.


Maskipun begitu pesona ketampanan Mahesa tidak hilang.


Sementara Anita hanya mengepal-ngepalkan telapak tangan nya saja.


"Pertahanan ku sebagai seorang istri selalu gagal ! ya ... aku memang seorang istri yang gagal. Tapi setidak nya pertahanan ku sebagai seorang wanita untuk menjadi ibu dari anak anak ku tidak gagal. " Batin Anita menundukkan kepala nya.


"Semangat Anita. " Anita menyemangati diri nya sendiri.


Pertanyaan dari setiap pertanyaan di lontarkan oleh hakim ketua dan hakim pedamping pada kedua belah pihak.


Kuasa hukum Anita bersikap sangat tegas atas semua laporan tentang Mahesa.


Sementara Mahesa tidak sama sekali menyewa pengacara, bukan ia tidak mampu dan tidak ingin mengajukan sebuah keinginan, namun Mahesa merasa jika Anita sudah bulat dengan niat nya.


Karna saat tahap mediasi saja itu sudah cukup bagi nya, saat mediasi Mahesa meminta rujuk sampai dia kehabisan kata-kata untuk memohon pada Anita, namun Anita tetap pada pendirian nya.


Di sana lah Mahesa merasa untuk apa dia menyewa pengacara.


Beberapa waktu setelah Hakim selesai menyampaikan sederetan pertanyaan yang tertulis di selebaran kertas putih itu, Hakim akhir mengetukkan palu nya.


Tanda Mahesa dan Anita sudah berpisah.


Perasaan lega terlihat dari raut wajah Anita, meskipun kesedihan masih terlihat di wajah nya.


Sementara Mahesa hanya menundukkan kepala nya, lalu menerima pelukan support dari teman dekat nya yang mengikuti putusan sidang perceraian itu.


Anita melihat secara seksama saat Mahesa mendapatkan banyak support dari para sahabat nya.


Sebuah senyuman yang di perlihatkan Mahesa bukan lah senyuman kebahagiaan, melainkan kesedihan kekecewaan atas apa yang sudah terjadi.


"Tak ku sangka An, kini kita tidak ada ikatan selain mantan istri dan mantan suami, semoga kamu bahagia. Dan semoga aku bisa bahagia tanpa kamu An. " Batin Mahesa saat melihat mantan istri nya itu.


Sementara Anita tak membalas tatapan Mahesa, bukan dia tidak tahu tapi Anita tidak mau melihat kesedihan Mahesa lebih besar lagi.


Anita mengalihkan perhatian nya pada Nara, dan Ayah nya pun paham kesedihan yang sedang di sembunyikan oleh anak nya.


"An ! yang sabar ... semua akan baik-baik saja. " Ucap Ayah Anita mengelus lembut pundak Anita.


Anita melihat sejenak wajah Ayah nya, tersirat begitu banyak air mata yang hendak keluar dari wajah Anita, namun Anita sekuat tenaga membendung nya.


Anita hanya mengangguk kan kepala nya dan tak kuat menatap wajah ayah nya, dengan begitu Anita langsung menunduk kan kepala nya.


Pelukan sang Ayah begitu mengerti akan kesedihan Anak nya.


"Tidak apa-apa Nak ! ini bukan kesalahan mu, dan Ayah tahu ini bukan keinginan mu. " Ujar sang Ayah pada Anak nya dalam pelukan erat antara kedua nya.


Saat beberapa langkah lagi Mahesa keluar dari ruang sidang itu, Mahesa melihat kesedihan mantan istri nya dalam pelukan Ayah nya.


Rasa bersalah semakin terasa dalam lubuk hati Mahesa, ingin sekali ia memberikan sebuah ketenangan bagi Anita, namun Mahesa merasa ia tidak bisa karna sumber masalah dari kesedihan Anita adalah diri nya.


Mahesa dengan langkah berat melanjutkan langkah nya, tak di sangka sentuhan hangat untuk menguatkan diri nya ia dapatkan saat keluar ruang sidang itu.


"Pah ... " Ucap Mahes pada Tuan Rama yang ada di hadapan nya.


"Kuat Mahes. " Ucap Tuan Rama menguatkan Mahesa.


Mahesa menatap wajah Tuan Rama sejenak. " Terima kasih Pah. " Jawab Mahesa lalu pergi melewati Tuan Rama.


Tuan Rama tak merasa marah atas sikap Mahesa pada nya, ia sangat mengerti akan hal itu.