
Hari putusan sidang pun tiba ...
Dengan pakaian soapan Anita datang di temani sang Ayah, tak lupa si cantik Nara pun ikut serta dalam agenda hari itu.
"Ayahhh .... ! " Seru Nara pada sosok yang baru saja keluar dari dalam mobil berwarna silver.
Sosok itu adalah Mahesa, Sosok yang di anggap sebagai Ayah oleh Nara.
Dengan senyuman hangat Mahesa membuka kaca mata nya dan mencoba tegar menghampiri Nara.
Anita menggenggam erat lengan Nara.
"Kenapa Bunda ? " Tanya Nara merasakan genggaman tangan nya di pegang erat oleh sang Bunda.
Anita belum sempat menjawab pertanyaan anak nya, Mahesa sudah lebih dulu sampai dan merentangkan tangan nya agar sang Anak mau datang memeluk nya.
"Nak. " Ucap Mahesa dalam dekapan nya.
"Ayah .... " Ucap Nara dengan logat lucu dan menggemas kan.
Bagai irisan tipis yang menyisakan rasa sakit di dalam lubuk hati Mahesa melihat sang anak sambung memeluk nya begitu erat.
Seorang gadis kecil seperti Nara, memang belum memahami apa yang sedang terjadi antara Ibu dan Ayah sambung nya itu.
Butiran bening mulai keluar dari sudut mata Mahesa, namun ia segera menyeka nya dan berbicara sejenak dengan Nara.
Seperti biasa Nara selalu saja meminta hadiah berupa mainan saat bertemu dengan Mahesa.
"Baik lah Nak, Ayah akan segera mengirimkan apa yang kamu ingin kan. Kamu seharus nya tunggu saja nak di rumah jaga adik kamu sayang. " Ujar Mahesa membujuk Nara, agar dia tidak melihat dan mendengar apa yang akan terjadi di dalam ruang sidang itu.
"Sayang sudah, Ayo .. " Ajak Anita pada anak nya.
"An ... " Ujar kecil Mahesa pada istri nya yang sebentar lagi akan menjadi mantan istri nya.
"Iya Mas . " Jawab gamang Anita melihat jelas kesedihan yang ada di dalam wajah Mahesa.
"Jika mau masuk, masuk lah. Biar Nara bersama ku. " Saran Mahesa karna melihat Nara masih ingin bersama nya.
"Andai aku bisa melupakan kejadian pahit yang sudah kamu lakukan Mas, andai aku bisa kuat agar aku bisa terus bertahan Mas, Maaf aku tidak bisa Mas. Terlalu berat dan terlalu lelah buat ku untuk melakukannya. " Batin Anita dalam diam nya.
"Ayok Na, Kakek gendong. Biar Ayah dan Bunda masuk. " Sambar Ayah Anita menggendong paksa Nara dalam dekapan Mahesa.
Nara hanya pasrah dan diam saat sang kakek menggendong nya. Ayah Anita dan Nara masuk lebih dulu meninggalkan Anita dan juga Mahesa.
Anita menyusul langkah Ayah nya, namun tangan nya di tarik oleh Mahesa perlahan.
"Tunggu An. " Ujar Mahesa dengan suara ketir menahan tangis.
Anita merasakan suhu yang sangat dingin dalam telapak tangan Mahesa.
"Kenapa Mas ? Mas sakit ? kenapa harus kusut gini sih Mas. Mas Mahesa tidak bekerja ? Ibu kemana ? " Jawab Anita lembut merasa kasihan dengan penampilan Suami nya itu.
Jauh sebelum kejadian itu, Mahesa selalu tampak rapih dan penuh dengan kewibawaan.
"Terima kasih telah mengingatkan ku, dan memperhatikan ku An. Sebelum sidang putusan di lakukan, ijinkan aku untuk memeluk mu untuk yang terakhir kali nya, aku ingin memeluk mu di saat kamu masih menjadi istri ku An. " Pinta seorang suami pada istrinya untuk terakhir kali nya.
Anita merasa terenyuh, lalu Mahesa memeluk nya dan Anita diam tanpa menghindari pelukan Mahesa.
Kesedihan mulai terasa di antara kedua nya.
"Maaf kan Mas An, sungguh Mas menyesal. Tapi kali ini Mas tidak akan meminta mu untuk mundur dari perceraian ini. Mas doa kan kamu bahagia. " Bisik kecil Mahesa dalam ketir nya kesedihan.
Anita pun sampai menitikkan air mata.
"Aku pun minta maaf Mas, aku doa kan kamu bahagia. Dan cobalah berdamai dengan keadaan Mas jangan menyiksa diri sendiri, meskipun kita tidak bersama tapi kamu harus meneruskan hidupmu. " Pinta Anita sendu.
Sebuah perpisahan yang sebenarnya tidak di ingin kan oleh kedua nya, namun sebuah godaan sudah meruntuhkan kekuatan hati Mahesa sehingga ia harus merelakan seorang wanita yang dengan susah payah nya perjuang kan.
kesedihan pun berlalu, sidang putusan pun akan segera di mulai.
Anita dan Mahesa duduk di tempat nya masing-masing mendengarkan hakim membacakan putusan nya.