
Anita sudah lebih dulu masuk ke dalam ruang oprasi, sementara orang tua Anita belum juga datang. Gilang terus saja menunggu Mahesa datang padahal Mahesa tidak akan datang Mahesa tidak tahu jika istri nya sedang melahirkan.
Gilang yang khawatir ia memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruang oprasi itu, ya sesuai ketakutan Gilang Glen meninggal dunia 6 bulan yang lalu, Glen meninggal saat dalam perawatan di rumah sakit di daerah Bandung.
Glen tak kuat dan tidak mau terima saat harus mendapati kenyataan bahwa anak yang ia kandung sudah meninggal di dalam kandungan, disitu lah Glen depresi berat. Kondisi Glenka semakin hari semakin memburuk pasca oprasi cesar itu.
Hingga Dokter menyatakan bahwa Glen sudah tiada, Gilang sungguh terpukul saat itu, Gilang yang masih trauma akan kehilangan Glen membuat nya sedikit takut saat mendampingi Anita yang akan melahirkan.
Takdir sudah mempertemukan Gilang dengan Anita di masa-masa sulit Anita, jika ada yang bertanya kenapa mengapa, hanya pemilik nafas lah yang tahu akan alasan Gilang di pertemukan kembali dengan Anita.
Orang tua Anita rupa-rupa nya terjebak macet parah, karna ada demo mahasiswa di gedung X. Sungguh Orang tua Anita pun gelisah namun orang tua Anita mengira jika Mahesa ada mendampingi Anita saat itu.
Gilang dengan ragu berdiri menghadap kepala Anita, Gilang membungkuk mendekat pada wajah Anita, balutan kain berwarna hijau kini menghiasi ruangan itu, alat-alat oprasi terlihat jelas sehingga menambah suasana pilu bagi diri Gilang.
"An, kamu harus kuat ! " Bisik Gilang dekat di telinga Anita.
Gilang hanya melihat Anita terus menitikkan air mata dengan wajah yang sangat pucat dan lemas.
"Jangan menangis, apa yang kamu takutkan ? sebentar lagi anak kalian akan lahir, bukan itu yang kalian tunggu, bahagia lah. " Bisik Gilang tidak tahu masalah yang sebenar nya, ia hanya berniat menguatkan Anita.
Sesekali Gilang menyeka air mata Anita, Gilang ingat jika ia tidak suka melihat Anita menangis, namun ia pun ingat dalam ke tidak sadaran nya dulu ia pernah membuat Anita menangis tanpa henti karna kebodohan nya.
"Tuhan, kuat kan aku. Selamat kan anak ku, jika aku saat ini lemah maka kuatkan lah anak ku. Karna dia lah yang akan memberikan ku kekuatan nanti nya. Tolong dengar kan doa ku Tuhan, dan terima kasih telah mengirimkan seseorang dalam masa sulit ku ini, walupun sebenar nya aku tidak paham tentang rencana engkau ini. " Doa Anita di sela-sela kesadarannya.
Tim Dokter saat itu kewalahan karna Proses oprasi Cesar Anita sedikit ada masalah, hingga nuansa dramatis terasa di ruangan itu.
Dan pada akhir nya suara tangis si kecil menggema di ruangan itu, suara tangis itu memecahkan keheningan atas ketakutan, keheningan atas ke khawatiran di dalam diri Orang-orang yang berada di ruangan itu.
Gilang menitikkan air mata, seolah-olah tangisan anak itu adalah tangisan anak nya, Gilang mencium kening Anita tanpa ia sadar wanita yang sedang ia belai itu bukan lah istri nya.
Anita tersenyum lemas saat mendengar tangisan bayi yang baru saja ia lahiran ke dunia fana ini, walaupun harus melalui oprasi cesar.
Tangis kesedihan, tangis kekecewaan kini sudah berganti menjadi tangis kebahagiaan di pelupuk mata Anita, dan Anita mendengar tangis pilu yang sangat dalam dari diri Gilang saat itu.
"Selamat, bayi berjenis kelamin laki-laki semua normal. " Ucap Dokter yang menangani Anita.
"Bayi kamu Laki-laki An, aku bahagia mendengar nya. " Bisik Gilang.
"Terima kasih Lang. " Ucap kecil dan lemas Anita saat itu.