
Langkah Mahesa terasa hampa, dimana saat ia pertama melangkahkan kaki untuk keluar ruang persidangan di saat itu lah ia tidak punya hak lagi atas diri Anita.
Entah apa yang sedang Mahesa pikirkan kini, tatapan Mahesa kosong. Saat ia pertama datang bahkan sampai persidangan selesai pun tatapan Mahesa masih sama.
"Semoga Mas Mahes bisa lebih baik. " Doa Anita tak henti untuk Mahesa, bahkan dia lupa untuk mendoakan diri nya sendiri.
Beberapa hari setelah persidangan itu Anita berusaha kuat dan tegar walaupun sebenarnya diri nya rapuh dan merasa khawatir pada mantan suami nya itu.
Di hari itu Anita mendapati tamu yang sangat tidak ia duga kedatangannya.
"Gilang ? " Sapa Anita saat tahu siapa yang hendak bertamu ke rumah nya di sore hari itu.
"Lagi sibuk kah ? " Tanya Gilang yang masih berdiri di depan pintu rumah Anita.
Lamunan Anita terhenti saat tahu dia belum mempersilahkan Gilang untuk masuk ke dalam rumah nya.
"Ehh .. Ayoh masuk Lang. " Ajak Anita ramah.
"Emm .. suasana rumah masih sama seperti dulu ya An, rasa nyaman nya masih sama seperti dulu. " Ucap Gilang memperhatikan rumah Anita.
Anita masih bingung, dan Anita masih terdiam karna Anita tidak tahu atas maksud apa Gilang datang kerumah nya dan tanpa memberitahu Anita terlebih dahulu.
"Ya ampun ... bagaimana dia mau mengabari ku, jika dia akan datang kerumah. Kita kan sudah putus komunikasi cukup lama. " Ujar Anita dalam hati nya.
"Sebentar aku buatkan minum Lang. " Anita bangkit dari duduk nya, untuk mempersiapkan minuman untuk tamu nya itu.
Gilang menolak nya, atas dasar takut merepot kan. Namun Anita tidak mendengarkan nya.
"Begitu terlihat kesedihan di wajah kamu An. " Gilang menilai Anita, saat Anita pergi menuju dapur di rumah nya itu.
Rumah Anita saat itu tampak sepi, karna kedua orang tua Anita beserta Nara sedang pergi ke suatu acara pernikahan kerabat nya di Bandung.
Anita datang kembali dengan nampan yang berisi segelas kopi hangat kesukaan Gilang.
"Silahkan di minum Lang. " Ucap Anita rapan dan kembali duduk di kursi yang tak jauh dari tempat Gilang duduk.
"Maaf ya An, jika kedatangan ku ini mengganggu waktu kamu. " Ucap Gilang santai pada Anita.
"Gak ko Lang, kebetulan aku lagi santai dan si kecil pun lagi tidur. " Jawab Anita menepis rasa canggung pada diri Gilang saat itu.
"Oh ya Lang, kamu sengaja datang kesini apa kebetulan lewat ? " Tanya Anita dengan senyuman yang tidak sepaham dengan keadaan hati nya saat itu.
"Sengaja An, aku datang kesini hanya ingin melihat keadaan kamu. Dan ya keadaan keluarga kamu juga. " Jawab Gilang santai namun ke gugupan tersirat di sorot kedua mata Gilang.
"Oh ... (Anita tersenyum seraya menganggukkan kepala nya paham) aku dan keluarga ku baik Lang, bahkan baik-baik saja. Kamu sendiri bagai mana baik kan ? " Tanya Anita membalik kan pertanyaan Gilang untuk mengetahui kabar Gilang.
"Aku baik An. " Jawab Gilang singkat.
Keadaan senyap dan sunyi dalam sekejap.
Sehingga Gilang memberanikan diri untuk bertanya pada Anita.
"An, aku tidak tahu ini waktu yang tepat atau bukan untuk aku bertanya hal ini pada mu, tapi sungguh aku harus tahu dan aku ingin tahu jika kamu baik-baik saja saat ini. Emmm ... kamu baik-baik saja kan setelah putusan sidang itu ? emmm ... aku hanya khawatir An, apa lagi pasca operasi Caesar yang sudah kamu jalani. Itu saja sih An ... maaf jika aku salah mempertanyakan hal ini. " Ucap Gilang takut jika Anita marah, karna sudah mengingatkan luka keperihan dalam hati nya.
Anita berusaha berpikir positif akan pertanyaan Gilang, lagian layak nya seorang teman pasti akan mempertanyakan hal itu pada nya.
Anita tersenyum dan berusaha baik-baik saja di hadapan Gilang.
"Ya ... seperti yang kamu lihat Lang, aku baik-baik saja. Terima kasih atas perhatian dan support nya. " Jawab Anita hangat.
Gilang memperhatikan gaya bicara Anita, yang berusa terlihat baik-baik saja di hadapan nya.
Setelah berbincang dalam waktu yang cukup lama, akhir nya Gilang berpamitan pada Anita untuk pulang ke rumah nya.
Layak nya seorang teman, Anita bersikap hangat pada Gilang. Gilang pun sebalik nya pada Anita.
Tidak ada perasaan yang lain sedikit pun tersirat di dalam hati Anita, Anita hanya mengartikan jika kedatangan Gilang kali itu hanya lah untuk memberikan support satu sama lain.
Dan di tempat lain, Amel semakin gila dengan rencana nya, karna ia tidak terima di perlakukan kasar oleh Ibu Inggit dan juga Mahesa.