
BAB 137.
Di pagi hari itu Tuan Mahesa datang kerumah Anita, berniat untuk membawa Anita dan Nara untuk pergi kesebuah Pusat Perbelanjaan, untuk membeli hantaran pernikahan yang belum Mahesa beli.
Sesampainya di rumah Anita, Tuan Mahesa mendapati Anita sudah siap, namun Tuan Mahesa tidak bisa membawa Nara ikut bersama nya, Nara sedang tidak flu jadi Ibu Anita melarang keras Nara untuk pergi.
Tuan Mahesa pamit pada Ibu Anita, dengan sangat telaten Mahesa mengarahkan Anita untuk berjalan dengan hati-hati.
"Sayang, hati-hati dong jalan nya !! kalau jatuh bagaimana ? " Gerutu pelan Tuan Mahesa sambil membukakan pintu mobil nya.
Anita memperhatikan wajah calon suami nya, " Ya ampun Mas, beruntung sekali kamu Nak punya Papah seperti Papah mu ini, dulu Kakak Nara tidak mendapatkan perhatian sama sekali dari Ayah nya. " Batin Anita sambil mengelus perut nya.
"Kenapa ? " Tanya Mahesa sambil mengelus rambut Anita.
"Ti-dak Mas, aku hanya ingat waktu kehamilan Nara, Anak kita ini beruntung Mas !! Masih dalam kandungan aja, Papah nya sudah memperhatikan nya dengan sepenuh hati, Tapi ...... Nara ..... !! " Ucap Anita haru dalam senyum nya.
Mahesa mengerti apa yang sedang di keluhkan oleh calon Istri nya itu.
"Jangan khawatir, apa yang tidak di dapatkan oleh Nara, kini akan Nara dapatkan !! Mas akan berusaha bersikap adil pada Nara ataupun pada calon anak kita. "Jelas Mahesa tersenyum dan mengelus pipi Anita .
"Terima kasih Mas, mendengar nya aku semakin yakin jika Mas Laki-laki terbaik yang akan menemani ku sampai akhir nanti. " Harapan Anita pada Tuan Mahesa.
"Semua akan baik-baik saja Sayang !! " Ucap Tuan Mahesa mulai melajukan kendaraan nya.
Dalam perjalanan Tuan Mahesa terus saja memperhatikan Anita, dari makanan ataupun minuman.
Anita menggelengkan kepala nya dan mereka tertawa bahagia di dalam mobil itu.
Sesampai nya di tempat yang di tuju oleh Tuan Mahesa, Anita pun tidak boleh turun dari mobil sebelum Tuan Mahesa sendiri lah yang membukakan pintu mobil itu, dan membantu nya turun dari dalam mobil.
"Mas !! aku masih bisa sendiri ko, lagian perut ku ini belum besar. " Ujar Anita tidak mau berlebihan.
"Sayang !! mau perut mu ini masih kecil ataupun besar, atau bahkan mau hamil atau pun tidak nanti nya kan tetap sama, Mas akan selalu menjaga kalian. " ucap serius Tuan Mahesa sambil menutup pintu mobil nya kembali dan mengunci nya.
Anita hanya menggeleng kagum pada sosok calon suami nya itu.
Tuan Mahesa hanya menunjuk satu toko saja, namun di situ serba ada, karna Mahesa tidak mau jika Anita banyak bejalan dan merasa lelah.
Semua bahan untuk hantaran sudah di dapat sesuai rekomendasi dari kepala toko itu, jika barang yang sudah di beli oleh Mahesa adalah barang branded semua, Anita sempat menolak nya, namun Tuan Mahesa tidak terima penolakan.
"Sayang !! lihat itu, apa kita sebaiknya membeli peralatan bayi sekalian ?? yuk ....... " Ajah Tuan Mahesa sambil menarik lembut tangan Anita.
Anita melingkahkan tangan nya di pinggang Tuan Mahesa. " Sayang, sebaik nya tidak sekerang deh, bukan apa-apa kalau kata pepatah itu pamali soal nya belum 7 atau 8 bulan. " Jelas Anita membuat Mahesa tidak mengerti.
"Maksud nya ?? " Tanya Tuan Mahesa menatap wajah Anita.
Anita tersenyum, " Maksud nya nanti saja kita beli nya, saat kita sudah mengetahui kelamin dari anak kita itu apa ?? " Jelas Anita membuat Tuan Mahesa paham dan menganggukan kepala nya beberapa kali.
"Mas, aku udah kaya anak TK yang mau nyebrang saja kalau begini !! " Anita tertawa.
"Eh .... Sayang jangan salah, kata Papah kalau wanita sedang hamil, aura nya akan lebih cantik dari sebelumnya loh, nah karna itu bagi siapa pun yang melihat aura kamu, pasti akan melihat juga siapa Orang yang di samping kamu. " Ucap Mahesa sambil terus berjalan menuju satu toko perhiasan.
"Ya Tuhan, benar kata pepatah. Jika Wanita jatuh pada Laki-laki yang tepat, maka Wanita itu akan di perlakukan seperti seorang Permaisuri. " Batin Anita merasa beruntung berada di sisi Mahesa saat itu.
Anita terus berjalan, lalu Anita tiba-tiba menggandeng Tuan Mahesa dengan cara tangan nya ia lingkarkan di pinggan Mahesa dan tangan Mahesa ia lingkar kan di pundak nya.
Tuan Mahesa merasa kaget, karna sikap Anita yang tiba-tiba itu. "Loh, kenapa Sayang ? "
Anita menatap wajah Tuan Mahesa dengan kesal. " Ternyata bukan aura Ibu hamil saja yang terlihat cantik dari sebelu nya, aura dari calon Ayah nya pun lebih terlihat tampan dari sebelumnya, Lihat wanita di sekeliling mu Mas ..... !! " Gerutu Anita menyadarkan Mahesa jika Anita sedang cemburu pada setiap Wanita yang memperhatikan Mahesa dari tadi.
Tuan Mahesa tertawa kecil lalu mengecup pangkal rambut Anita, sehingga siapa pun yang melihat nya akan iri pada Anita. " Jika aku mau aku bisa menggandeng mereka tidak hanya satu, bahkan semua nya !! Tapi aku melihat, tidak ada keistimewaan dari mereka, yang aku lihat hanya lah keistimewaan dari Wanita yang ada di samping ku ini. " Ucap lembut Tuan Mahesa pada Anita.
Lagi-lagi Anita di buat melayang oleh Mahesa, Anita berharap Tuan Mahesa akan tetap seperti yang dia harapkan.
Tuan Mahesa menempatkan Anita di sebuah kursi soffa, " Tunggu sebentar, Mas akan menemui kepala toko nya terlebih dahulu. "
"Sayang, kenapa harus bertemu kepala toko nya terus sih ?? kita kan bisa langsung memilih perhiasan itu untuk di beli, lalu setelah itu kita pulang. " Rengek Aninta perlahan.
Tanggapan Tuan Mahesa salah jika Anita tidak mau dirinya menemui kepala toko itu, karna perkiraan Anita kepala toko itu adalah wanita.
Padahal maksud Anita ia tidak mau di perlakukan berlebihan, di depan Orang lain.
"Kepala toko nya Laki-laki ko Sayang !! Tenang saja ya. " Jawab Tuan Mahesa membuat Anita terdiam saat menerima kecupan hangat di wajah nya.
Anita menggelengkan kepala nya kembali, saat melihat Tuan Mahesa pergi dari hadapan nya.
Anita hanya bisa menunggu sampai Tuan Mahesa kembali pada nya.
Anita berada di ruang khusus, bukan di tempat menunggu untuk pembeli lain nya, tidak lama dua Orang Wanita cantik menghampiri nya dan membawa beberapa kotak dan di letakan di sebuah meja kristal yang ada di hadapan Anita.
Dan tak lama dua Orang laki-laki menghampiri nya, salahsatu nya adalah Tuan Mahesa.
Tuan Mahesa datang bersama dengan kepala toko nya.
Kepala toko itu menawarkan beberapa perhiasan mahal di hadapan Anita dan Tuan Mahesa, Anita sampai di mabukan oleh semua perhiasan itu, namun Anita tidak sampai khilaf untuk di belikan semua perhiasan itu.
Anita bahkan merasa bingung untuk memilih nya, Anita menyerahkan semua nya pada Tuan Mahesa, bukan hanya bingung tapi Anita meras tidak enak saat memilih karna semua perhiasan di bandrol dengan harga selangit.
Tuan Mahesa memilihkan Anita perhiasan satu set, dengan harga fantastis. Anita menyunggingkan sikut nya pada lengan Mahesa, Anita merasa harga yang akan Mahesa bayar itu adalah nominal yang sangat besar.
Tuan Mahesa tidak memperdulikan sikap Anita, yang terus saja menolak hanya karna alasan terlalu mahal.