Pertahanan Seorang Wanita..

Pertahanan Seorang Wanita..
Kemarahan Ayah Anita.


BAB 130.


Ayah Anita melangkah dengan segenap hati yang hancur berkeping-keping. Andai saja yang menemuinya Ayah Mahesa atau Mahesa ny, Pasti babak belur di buat nya.


Ayah Anita paling melarang diri nya untuk berbuat kasar pada wanita siapa pun itu, itulah kehebatan Ayah Anita.


Ayah Anita segera pulang, dan Anita masih dalam isakan tangis nya mendekap Nara putri kesayangan nya.


Saat Ayah Anita sampai di rumah nya, Ayah Anita langsung duduk dengan wajah di tekuk dan tangan terus saja memukul-mukul kursi yang ada di hadapan nya.


Ibu Anita Menghampiri Suami nya, lalu duduk di samping nya, dengan lembut Ibu Anita mengelus pundak Suami nya. " Yah, kenapa ? apa Ayah sudah menemui Orang tua Nak Mahesa ? Apa katanya Yah ? " Tanya lirih Ibu Anita khawatir.


"Mah, kita bawa saja Anita ke kampung halaman kita, di sana Anita akan lebih tenang menjalani kehidupan nya. " Usul Ayah Anita terus memikirkan kesehatan Anita.


"Kenapa begitu Yah ? Apa kata mereka. " Tanya Ibu Anita semakin penasaran.


"Mereka meminta Anita untuk Tes DNA. " Jawab Ayah Anita emosi.


Anita mendengar penjelasan yang di lontarkan oleh Ayah nya. " ****Mereka ? Apa itu termasuk Tuan Rama, dan Tuan Mahesa**** ? " Batin Anita menjerit tak kuasa menahan sakit.


"Tega kamu Mas, hiks ... hiks !! " Isak tangis Anita.


"Mah, Ayah bisa saja memaksa mereka untuk bertanggung jawab, Tapi Ayah tidak suka jika harga diri keluarga kita di injak-injak, biarkan lah ini akan menjadi rahasia kita Mah, satu-satu nya jalan kita pindah dari sini, agar Anita tidak jadi bahan pembicaraan orang-orang sekitar sini. " Ujar Ayah Anita datar.


"Aku harus menemui Tuan Mahesa. " Ucap Anita mengambil jaket dan tas kecil nya lalu pergi lewat pintu belakang.


Usaha Anita untuk menemui Mahesa sia-sia saja, karna Anita lebih dulu di cegah oleh Ibu nya.


"Nak, mau kemana ? " Tanya Ibu Anita menarik lengan kiri Anita.


"Mah, aku harus bertemu dengan Tuan Mahesa. Apa sebenar nya yang dia maksud Mah !! Anak ini perlu Ayah nya Mah. " jelas Anita memaksa untuk pergi.


"Masuk Anita !!!! " Teriak Ayah Anita dari dalam.


Anita terperanjat kaget karna teriakan Ayah nya begitu keras dan membuat siapapun mendengar teriakan itu pasti akan ketakutan.


"Masuklah Nak, biar kami yang mencari jalan keluar. Istirahat lah agar esok hari bisa tambah Fresh. " Bujuk lembut Ibu nya Anita.


Anita menuruti perkataan kedua Orang tua nya. Anita masuk kedalam kamar sambil membawa Nara bersama nya.


"Kamu harus kuat Ann, kamu harus bisa !! Kamu bisa tanpa diri nya. " Anita menguatkan diri nya sendiri.


"Ya Aku harus kuat, aku harus menunjukan bahwa aku bisa. " Jawab Anita kembali untuk diri nya sendiri.


Dan pada saat itu pun Anita sudah belajar untuk menerima semua kenyataan, Anita menuruti perkataan kedua Orangtuanya nya untuk pindah tempat, namun itu perlu waktu mengingat Ayah Anita seorang pegawai Negri, jadi butuh waktu untuk mengajukan Mutasi nya di setujui.


Dan kini Mahesa sudah bersiap untuk datang kerumah Anita, dengan kain perban masih melilit di kepala dan kening nya.


Mahesa sungguh sangat merindukan Anita, Mahesa tak mengerti atas dasar apa dia tidak berusaha menemui nya. Mahesa ingin sekali mencubit hidung nya Anita dan menanyakan semua yang ingin dia tanyakan.


Mahesa berjalan dengan semangat saat hendak pergi ke rumah Anita, namun saat Mahesa melihat Ibu nya sedang ada di ruang tengah, Mahesa terbesit pikiran nya untuk lewat pintu belakang saja.


Mahesa memesan Taxi terlebih dahulu, karna dia tidak ingin memakai kendaraan nya atas dasar tidak mau banyak pertanyaan jika Ibu nya tau Mahesa akan pergi.


Mahesa memutar balikan badan nya menuju pintu belakang, dengan langkah mengendap Mahesa berhasil Lolos dari jebakan yang ada di hadapan nya.


Namun di sudut lain Tuan Rama tak tahan menahan rasa ingin tertawa nya kala melihat tingkah laku Anak kesayangannya, " Dasar Anak itu, sudah tidak bisa menahan rasa rindu rupa nya. " Decak Tuan Rama dalam hati nya.


Mahesa dan Tuan Rama sungguh tidak tau menahu wasiat buruk yang sudah Ibu Inggrit tanam dalam keluarga Anita.


Tuan Mahesa membiarkan Anak nya pergi. Tuan Rama pun ingin mengetahui kenapa Anita sampai harus mengundurkan diri sebelah pihak seperti itu.


Tuan Rama kini sedang fokus pada misi pertama nya yaitu membujuk Ibu Inggrit, yang menurut Tuan Rama kini Istri nya sudah mulai luluh.


Padahal di balik Sikap Diam nya Ibu Inggrit ada rahasia besar yang akan buat Tuan Rama dan Mahesa geram jika sudah mengetahui nya. Jika sampai Tuan Rama tau bisa jadi Ibu Inggrit yang akan kehilangan semua nya.


Kehilangan harta, karir, suami dan juga Anak. Sempurna lah hidup Ibu Inggrit jika sampai itu terjadi.


Mahesa dengn percaya diri nya terus saja membayangkan wajah Anita yang sangat ia rindukan, Mahesa melihat ke arah kaca Spion Mahesa melihat raut wajah nya dengan sangat detail, walaupun kain kasa masih menempel di jidat nya tidak mengurangi ketampanan Tuan Mahesa.


Kendaraan yang Mahesa naiki pun sudah sampai di tujuan, Mahesa membayar ongkos Taxi nya sesuai nilai yang tertera pada Argo di depan nya, bahkan Mahesa memberikan tips untuk supir Taxi itu.


Mahesa melangkahkan kaki nya, langkah demi langkah Mahesa lalui demi bertemu dengan pujaan hati nya.


Namun hari itu rupanya hari sial bagia Tuan Mahesa, ternyata Mahesa datang pada kandang singa yang sedang kelaparan.


Mahesa belum menekan tombol rumah Anita, namun pintu itu sudah terbuka, Tatapan buas Mahesa dapatkan dari wajah Ayah Anita. Dengan cepat Ayah Anita menarik Mahesa ke dalam rumah agar tidak menjadi tontonan warga.


Tubuh Mahesa di lempar ke atas sofa empuk di ruang tegah Rumah Anita, Tuan Rama menghampiri Mahesa dengan buas memutar kerah baju Tuan Mahesa.


"Ada apa ini Om, sunggh saya tidak mengerti. " Ucap Mahesa menahan tubuh Ayah Anita yang kuat itu.


"Apa kau sudah bosan di hantuo rasa bersalah hah ? sehingga kau menyerahkan diri ? Sialan kau Bajingan !!! Bughhhh ..... Bughhhhh ... Bughhhhh ... " Tiga pukulan sudah mendarat di bagian tubuh Mahesa.


"Om !! sabar Om ... tenang ... ada apa ini ? " Teriak Mahesa menghindar dari amukan Ayah Anita.


Anita, Ibu nya , dan juga Nara sedang tidak ada di rumah, mereka sedang pergi ke taman kompleks untuk membeli makanan.


"Bruuuuuukkkkk !!! " Tubuh Mahesa di bantingkan ke lantai oleh Ayah Anita.


Dan di saat itu Anita dan juga Ibu nya datang, kaget saat melihat Mahesa ambruk di atas lantai dengan wajah berlumuran darah, karna pukulan pertama mendarat di jidat Mahesa sehingga luka bekas jahitan nya kembali mengeluarkan darah segar.


"Aaaaaaarrgghhhh Massssss !!!! " Teriak Anita berhamburan menghampiri Mahesa yang masih ambruk di atas lantai.


Ibu nya Anita langsung membawa Nara ke dalam kamar, Nara terlihat Syok karna melihat darah berceceran di mana-mana.


Mahesa memegang lengan Anita yang melingkar di wajah nya. " Ann, tolong jelaskan apa sebenar nya yang terjadi ? Mas tidak paham kenapa Ayah marah sebegitu nya sama Mas. " Ucap Mahesa dengan lemas, dan wajah berlumuran darah.


Anita histeris menangis dan memeluk wajah Mahesa, Anita mendekap wajah Tuan Mahesa. Sehingga kini bukan hanya Tuan Mahesa yang berlumuran darah, di wajah dan baju Anita pun terkena darah segar dari luka Tuan Mahesa.


"Awas kamu Ann, masuk !! Ayah akan beri dia pelajaran atas hinaan yang Ibu nya katakan pada kamu. " Teriak Ayah Anita sudah seperti kesetanan, dan sudah siap untuk memukul Mahesa kembali.


"Ibu ?? " Batin Mahesa dalam dekapan Anita.


"Ayahhh Stoppp yahhh !! sadar, Ayah sudah kelewatan Yah, buka mata Ayah. " Teriak Anita dalam tangis nya tak mau melepaskan pelukan nya sedikitpun terhadap Tuan Mahesa.


Ayah Anita sudah kelewat emosi hingga siapa pun yang menghalangi nya pasti akan dia paksa untuk menyingkir.


"Anak tidak tau diri, sudah baut malu Ibu dan Ayah sekarang kamu masih membela bajingan ini, Hah ?? " Teriah Ayah Anita dengan kuat nya melepaskan Anita hingga terhempas perlahan ke belakang dan berhasil menjauh dari tubuh Mahesa.


"Annnnnnnnnnnnn !!!!! " Teriak Mahesa dengn sekuat tenaga nya berusaha bangkit, walaupun penglihatan nya sedikit tidak jelas akipat sakit di bagian kepala nya.


Anita dengan posisi duduk, masih terdiam dan meringis Anita memegang perut nya yang sakit dan kepala yang cukup pusing.


Mahesa memeluk Anita sehingga posisi nya membelakangi Ayah Anita, Ayah Anita tidak ingin kehilangan kesempatan nya untuk mengukur Mahesa, saat Ayah Anita ingin menghajar kepala Mahesa, teriakan Ibu Anita terdengar sehingga berhasil membuat Ayah Anita berhenti dari aksi brutal nya.


Ibu Anita membawa tubuh Suami nya menjuh dari Mahesa dan juga Anita.


Mahesa menangkup kedua pipi Anita. " Sayang mana yang sakit ? kau tidak Apa-apa ? " Tanya Mahesa khawatir.


"Mas , perut ku Mas !! " Rintih Anita sambil memegang perut nya.


Kesadaran Anita terlihat berkurang saat tatapan mata nya semakin susah untuk melihat Mahesa.


Anita akhir nya tidak bisa Manahan rasa sakit nya, Anita mengalami Syok yang berlebihan sehingga membuat nya tidak sadarkan diri.


Mahesa berteriak mamanggil nama Anita beberapa kali. Mahesa membawa tubuh Anita ke atas Sofa, Mahesa menelpon Dokter pribadi nya untuk datang ke rumah Anita.


Karna untuk membawa Anita ke Rumah Sakit Mahesa tidak ada tenaga.


"Ann, bangun Sayang !! " Bisik Mahesa mengelus tangan Anita dan mengecup nya.


Mahesa mengelus wajah nya, karna darah yang menutupi penglihatan nya.


Sudah setengah jam Mahesa menunggu kedatangan Dokter, dan akhir nya Dokter pun datang.


Dokter yang kaget akan kondisi Mahesa langsung masuk dan menghampiri Mahesa. " Ya Ampun Mahes kenapa ini ? " Ucap Dokter memeriksa wajah Mahesa.


"Dok tolong periksa Anita terlebih dahulu, dia pingsan sekitar setengah jam yang lalu. " Ucap Mahesa tidak memperdulikan keadaan nya sendiri.