Pertahanan Seorang Wanita..

Pertahanan Seorang Wanita..
BAB 184


"Baik lah Mas, sekarang jika tidak ada yang perlu di bicarakan lagi pergi lah. Kita bisa bertemu nanti saat di pengadilan, dan aku harap kamu tidak mempersulit keadaan. " Pinta Anita secara langsung mengusir Mahesa secara lembut.


"Baik lah, aku tidak menyangka An segampang ini kamu membiarkan hubungan kita berakhir begitu saja. Sungguh aku tidak menyangka, sekali aku berbuat kesalahan kamu langsung mengakhiri semua nya. Tanpa memaaf kan kamu sudah bisa mengusir atau bahkan melupakan aku. Apahkah kamu tidak lihat perjuangan ku dari awal aku mendapatkan mu, hingga kita hidup bersama. " Timpal Mahesa mencoba mengingat kan Anita di mana perjuangan nya cukup besar kala itu.


Anita tersenyum kembali, melihat wajah tenang anak bayi nya yang kini masih ada di dalam pelukan nya.


"Aku tidak lupa Mas, sehingga kamu tidak perlu untuk mengingatkan aku kejadian apa yang sudah terjadi di belakang, kamu bicara seolah-olah kamu yakin dan tahu bahwa perjuangan mu itu tidak lah sedikit dan mudah untuk mendapatkan diri ku. Lalu kenapa kamu melupakan perjuangan mu sendiri ? jika benar kamu merasa perjuangan mu itu tidak mudah kenapa kamu mengkhianati perjuangan mu sendiri Mas, kamu mendapatkan ku tidak mudah tapi kenapa setelah aku kmu dapatkan, dengan gampang nya kamu sia-sia kan. Hanya Karna aku tidak bisa memenuhi kemauan mu saat itu, kamu pikir ini gampang buat ku. Tidak Mas apa yang aku lakukan tidak semudah yang kamu lihat, jika kamu bertanya aku hancur, ya aku hancur bahkan lebih hancur dari yang kamu rasakan, jika kamu bertanya aku sakit, ya aku sakit. Lebih sakit dari yang kamu rasakan, lalu untuk apa aku mempertahankan semua nya setelah rasa sakit dan hancur aku rasakan kembali ? aku wanita biasa Mas, mungkin di luar sana banyak sekali wanita hebat yang mau memaafkan suami nya saat ketahuan mengkhianatinya, tapi aku tidak termasuk ke dalam wanita hebat seperti itu, aku tidak bisa. " Jawab Anita mengeratkan ucapan nya seraya menahan genangan air mata yang hampir jatuh dari pelupuk mata nya.


Saat itu Mahesa merasa jika usaha nya untuk mendapatkan kata maaf dari Anita adalah sebuah keegoisan, tapi diri Mahesa tidak bisa dan tidak akan pernah mau berpisah dengan Anita begitu juga dengan anak nya.


Mahesa hanya menganggukan kepala nya saja, terlihat sangat jelas jika di mata nya sangat banyak sekali air mata yang ingin ia tumpahkan. Entah dimana dan kapan air mata itu akan jatuh.


Mahesa pun pergi dan Anita pun pergi ke dalam kamar nya tanpa menoleh sedikitpun pada Suami nya itu.


Di dalam kamarnya, Anita menidurkan bayi mungil nya dengan sangat hati-hati. Setelah ia rasa bayi nya sudah nyaman.


Baru lah Anita menumpahkan air mata nya tanpa suara di sudut kamar nya itu. Isakan tangis tanpa suara itu terlihat sangat menyakitkan, tak jarang Anita membungkam mulut nya sendiri, Karna ia tidak mau jika ada satu orang pun mendengar isakan Tangisan nya itu.