KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 9


"Nak Aby, nanti malam jadwalnya Jelita cek kandungan, sudah ibu ingatkan tapi dia tidak mau. Kalau Nak Aby yang membujuknya barangkali dia mau pergi."


Aby terdiam saat mendengar suara Bu Sari di telpon.


"Insya Allah, Bu. Saya usahakan." jawab Aby.


lalu sambungan terputus.


Pesan dari istrinya pun masuk.


(Mas, jangan lupa jadwal aku check up kandungan nanti malam, kalau bisa pulang cepetan.)


"Aduh bagaimana ini? Anisa dan Jelita sama-sama mau check up kandungan, ya Allah kenapa harus barengan waktunya? Saya harus bagaimana?"


Aby memijit kepalanya yang terasa pening.


Saat itu Imran kebetulan lewat di depannya.


"Eh kebetulan banget kamu lewat, aku sangat butuh bantuanmu."


"Kalau tentang Jelita aku tidak mau." Imran mengangkat tangannya.


"Tapi sayangnya memang tentang Jelita."


"Kenapa kau sengaja membuat dirimu dalam masalah, sih By?" ujar Imran gemas.


"Ujung-ujungnya aku juga yang terlibat.." sungut Imran lagi.


Aby menangkupkan kedua tangannya.


"Hanya kau sahabat dan keluargaku, aku mohon."


"Ya, sudah. Apaan?" kata Imran akhirnya walaupun dengan terpaksa.


"Tolong anterin Jelita periksa kandungan nanti malam."


Mata Imran melotot sempurna.


"Kau gila? Bagaimana kalau Lisa tau, bisa potong aku."


"Saat sudah menyanggupi Jelita, Anisa mengirim pesan bahwa dia juga jadwalnya untuk check up nanti malam. Aku sendiri heran, kenapa jadwalnya harus bersamaan."."


"Aby, Aby... Masa jadwal periksa kandungan istri mu sendiri tidak kau ingat."


"Ya, aku memang salah. sekarang tolong pikirkan bagaimana caranya agar keduanya bisa pergi tanpa harus mengetahui satu sama lain."


"Ribeeet...!" keluh Imran.


"Kau yang poligami, tapi aku yang repot."


Aby tidak membantah omelan sahabatnya, dia menyadari semua yang di katakan Imran benar adanya.


"Bagaimana?" tanya Aby memelas seperti anak kecil.


"Kau pergi saja dengan Anisa. Jelita biar aku yang antar. Tapi kau juga harus bantu meyakinkan Lisa, kau tau bagaimana dia, kan?"


"Baiklah, yang itu biar jadi urusanku."


Dengan senang hati Aby membalas dan menyanggupi pesan istrinya.


Pukul 7:00 tepat Jelita sudah bersiap. Tentu saja atas perintah ibunya.


"Sekarang duduk manis disitu, tunggu suamimu datang..!" perintahnya, namun dengan nada lembut.


Jelita tidak membantah.


Bu Sari duduk di sebrang Jelita. Ia mengamati wajah putri angkatnya itu.


"Aku akan berusaha agar kau mendapatkan hak mu seutuhnya. Kau pantas menerimanya." bathin Bu Sari.


Ting!


Buru-buru Jelita memeriksa pesan yang masuk di ponselnya.


(Maaf Jelita, aku tidak bisa menepati janjiku untuk mengantarmu, karna istriku juga minta di antar ke dokter malam ini. Tapi jangan khawatir, temanku akan mengantarmu)


"Kenapa?" tanya Bu Sari penasaran.


"Mas Aby tidak jadi mengantarku, ada temannya yang akan datang." jawab Jelita lirih.


Bu Sari menggeram dalam hati.


"Kalau memang tidak bisa, kenapa harus menyanggupi?" ucapnya kesal.


"Aku tidak jadi pergi saja, " ucap Jelita malas.


"Jangan! Kau tidak boleh mengabaikan kandunganmu, dia darah dagingmu. sudah ibu bilang, anak itu tidak bersalah. Pria bajingan itulah yang bersalah."


"Aku sangat benci anak ini." Jelita memukul mukul perutnya.


Bu Sari mencoba menahannya.


"Ibu jangan halangi aku!" teriaknya.


"Ingatlah, Aby menikahi mu karna ada anak ini, kalau dia sampai kenapa-kenapa.. Kau. Tau? dia akan segera meninggalkanmu!" jelas Bu Sari. kekuatan tangan Jelita melemah.


Dalam hati ia membenarkan Kata-kata ibunya.


"Assalamualaikum.." suara Imran mengagetkan lamunan Bu Sari.


"Pasti temannya Aby." Bu Sari membukakan pintu.


"Saya Imran, temannya Aby, apa Jelita sudah siap pergi?"


"Sudah dari tadi Nak Imran, memangnya istrinya Aby sakit apa? apa tidak bisa di tunda sampai besok pagi?" tanya Bu Sari dengan ekspresi tidak suka.


"Iya, sih. Tapi bagaimanapun Jelita juga istrinya."


Imran tidak menjawab lagi, ia merasa kalau Bu Sari punya ambisi berlebihan terhadap pernikahan Aby dan Jelita.


Malam itu Aby mengantar Anisa ke dokter kandungan.


Ia merasa lega karna Anisa dan calon anaknya baik-baik saja.


"Mudahan di kasi cewek, ya Mas?" ucap Anisa.


'Apa saja, yang penting kau dan anak kita sehat." jawab Aby bersemangat. Ia menuntun Anisa keluar dari ruangan dokter.


Wajahnya terlihat begitu bahagia.


Tak sengaja matanya melihat Jelita sedang duduk di kursi antrian sendirian. Imran tidak ada bersamanya.


Aby terkesiap. Matanya beradu dengan mata Jelita yang juga sedang menatapnya.


"Mas Aby..." ucapnya lirih.


Aby terus melangkah keluar dengan perasaan tak enak.


"Kemana Imran? Kenapa pula mereka harus memilih tepat ini?" keluh Aby dalam hati.


Aby dan Anisa berpapasan dengan Imran di pintu.


"Mas Imran, kau disini? Mbak Lisa hamil lagi?


Bukannya si bungsu baru enam bulan?" Anisa merasa heran melihat Imran di tempat itu.


Imran yang di tanya jadi kebingungan.


"Aku.. Aku.." ucapnya gugup.


"Mungkin dia mengantar teman, Nisa.." Aby mencoba memberi jawaban.


"Iya, kebetulan ada teman yang istrinya lagi periksa di sini." kata Imran terbata.


"Teman?" walaupun merasa aneh, Anisa tidak membahasnya lagi.


Saat itu Jelita yang mengawasi mereka merasa kesal.


"Ternyata istrinya Mas Aby sangat cantik. Sholehah dan memakai hijab." ucap Jelita sendirian.


"Pantas dia mengacuhkan ku." pikirnya lagi.


Imran mendapati Jelita yang sedang mengawasi Aby dan Anisa.


"Itu istrinya Aby. Mereka pasangan yang serasi dan harmonis." ucap Imran sambil menyodorkan sebotol air mineral.


Jelita menerimanya tanpa berkata apa pun.


"Aku sudah bilang pada Aby agar berterus terang dengan pernikahan kalian pada istri pertamanya. tapi Aby belum melakukannya."


"Aku sudah minta dia menceraikan ku, aku tidak ingin jadi bebannya."


"Bukan dengan perceraian juga..." jawab Imran.


Tiba giliran Jelita di panggil


"Biar aku saja yang masuk.nanto mereka kira kau suami ku." kata Jelita dengan wajah datar.


Imran merasa iba juga melihatnya.


"Suaminya tidak ikut?" sapa Dokter yang ramah itu.


"Tidak, Dok." jawabnya acuh.


Setelah dokter menyatakan kandungannya baik-baik saja, Jelita melangkah keluar. Ia tak banyak bicara.


Imran mengantarnya sampai di depan pintu.


"Kenapa wajahmu terlihat murung begitu, Nduk?" Bu Sari penasaran dengan perubahan wajah Jelita dari pergi sampai pulang lagi.


Jelita langsung masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu.


"Terima kasih, Nak Imran." ucap Bu Sari mewakili Jelita.


"Lita, buka pintunya, cerita sama ibu, ada apa?"


Jelita terus mengurung diri, ia tidak berkata apa pun. Tak bisa di pungkiri saat melihat kemesraan Aby pada istrinya membuat hatinya terluka.


"Kenapa bukan aku di posisi wanita itu.." gumamnya lirih.


Jelita sengaja tidak mau makan dan minum, ia membiarkan janin yang di kandungnya kelaparan.


Di rumahnya, Anisa kembali terbayang kegugupan Imran saat dia tanyai keperluan nya berada di tempat itu.


"Ada apa, ya? Tidak seperti biasanya, sikap Mas Imran seperti menyembunyikan sesuatu." pikir Anisa.


Anisa masuk kekamarnya, ia bermaksud mencari Aby dan membahas tentang Imran. Tapi ia tidak mendapati Aby. Yang ada ponselnya terus berbunyi.


Semula Anisa mengabaikannya.


Tapi karna tidak berhenti berdering. Ia bermaksud mengangkatnya.


"Siapa Nisa?" Di saat yang tepat itu Aby muncul dari kamar mandi.


"Ini tidak tau, tidak ada namanya."


Anisa memberikan ponsel itu ke suaminya.


Aby meliriknya. Ia merasa lega karna Anisa belum sempat mengangkatnya. Kalau tidak, bisa terjadi perang dunia, pikir Aby.