KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 71


Kondisi Khaliza semakin membaik. Dia sudah bisa menyusu pada Bundanya. Hal itu membuat Anisa sangat bersyukur. Aby juga masih setia menemaninya di rumah sakit. ia sengaja meminta ijin ke pak Sofyan untuk tidak bekerja hari itu.


"Mas, kau pergi saja, aku bisa kok sendiri." Anisa tersenyum ke arahnya.


Aby merasa lega melihat senyuman itu sudah kembali lagi di wajah Anisa.


"Tidak apa, aku sudah minta ijin ke pak Sofyan. Lagi pula, aku ingin menemani peri kecil ini dulu sampai kondisinya benar-benar membaik." Aby menyentuh pipi Khaliza pelan.


"Terimakasih, Mas. Seandainya dia bisa bicara, dia pasti mau mengucapkan banyak - banyak terimakasih padamu." ucap Anisa bersungguh-sungguh.


""Oh, ya? Kalau begitu dengan senang hati ayah akan menerima terimakasihmu cantik.."


Aby membelai rambut Khaliza.


Anisa merasa damai di dekat Aby. tidak ada keributan, tidak ada salah paham dan sebagainya. Kasihnya pada Khaliza juga terlihat tulus. Pribadi Aby begitu tenang. Seakan semua yang terjadi dalam hidupnya tidak menjadi bebannya .Selain itu, walau berulang kali di sakiti oleh Rosma, dia juga tidak pernah terlihat menaruh dendam. Hal itu membuat Anisa bertanya.


'Mas, apa kau bahagia dengan kehidupanmu saat ini,?" tanya Anisa saat mereka sudah duduk berdua saja karna anaknya sudah tertidur.


Aby melempar pandangannya keluar jendela.


Ia bisa melihat beberapa pasien yang sedang terapi sedang belajar berjalan disana.


"Aku juga tidak mengerti apakah aku bahagia atau tidak. Bahkan aku pernah berada di titik paling rendah dalam hidupku. tapi aku merasa biasa saja. Tapi aku merasa tidak baik justru pada saat melihatmu menderita. Aku merasa terpuruk saat melihat air matamu... Hanya satu yang bisa ku pahami saat ini. Aku merasakan sakit saat kau terluka." ucapnya bersungguh-sungguh.


"Jangan salah paham, Nisa. Aku tidak bermaksud lancang." timpalnya cepat.


Anisa menatap pria di sampingnya itu tanpa berkedip.


Aby memang tidak sementereng dulu lagi, Aby juga bukanlah seorang pekerja kantoran yang pulang pergi selalu naik mobil mewah lagi.


Tapi satu yang tidak berubah darinya, Yaitu, tatapan matanya. Yach... Tatapan matanya mengingatkan Anisa pada saat pertama kali Aby melamarnya dan mengucap janji di depan Abah nya.


Suasana hening, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Sampai seorang perawat mengagetkan mereka.


"Dengan ibu Anisa?"


"Iya, saya sendiri."


"Dokter menunggu anda di ruangannya.."


"Owh, terimakasih, saya segera kesana." jawab Anisa ramah.


Setelah perawat itu pergi.


"Aku kesana dulu, titip Khaliza, Mas." ucap Anisa salah tingkah.


"Iya, aku akan menjaganya..." jawab Aby ikut gugup.


Ia tersenyum sendiri menyadari kejadian barusan.


"Padahal kita sering bertemu, tapi saat Anisa menatap ku seperti tadi, kenapa jantungku berdebar keras, ya?"


Aby menggeleng sendiri sambil tertawa kecil.


"Sadar Aby, kau sudah tidak remaja lagi."


Ia menepuk keningnya sendiri.


***


Di kantor polisi...


"Semua ini salah mu! Kau terlalu lembek menjadi kepala keluarga." meskipun sudah ada di kantor polisi, Rosma masih saja bisa melempar kesalahannya pada Yahya.


"Coba kau tegas dari awal, semua ini tidak akan terjadi."


Suara Rosma yang berisik membuat petugas polisi membentaknya.


"Bisa diam tidak?"


Yahya masih terdiam tidak menggubris Bibinya. pandangannya menatap ruang kosong.


"Memang susah bicara dengan orang lemah seperti mu." gerutunya lagi.


Tapi kemudian dia bersuara.


"Aku memang lemah, Bi. Tapi aku tidak kejam sampai menjual anak ku sendiri..!"


Suara Yahya bergetar. Ia masih ingat bagaimana Rosma membujuknya untuk menitipkan Khaliza ke penitipan anak karena tidak bisa diam setelah kepergian Anisa.


setelah ia setuju, bukannya penitipan anak yang datang. Tapi oknum yang ingin menjual anaknya.


"Lalu kau pikir Bibi yang kejam sudah tega menjual cucunya sendiri? Begitu maksud mu?" Rosma tersinggung.


"Bukankah itu yang Bibi lakukan pada anak ku?" ucap Yahya lagi.


Ia masih dalam posisi semula, sama sekali tidak mau menatap Bibinya.


"Kau? Jangan bego Yahya.. Pernyataan mu ini akan memberatkan kita. Sudah Bibi bilang, saat itu Bibi bingung karena anak mu tidak berhenti menangis. Bibi bermaksud meminta pertolongan jasa penitipan anak untuk sementara. Tapi, siapa yang sangka ternyata kita tertipu. Mereka bukannya tempat penitipan anak. Itu bukan salah kita, dong."


Ia membela diri.


Yahya terdiam. ia tidak bisa melupakan bagaimana Khaliza di beri sesuatu hingga tertidur dan di masuk kan kedalam kardus.


"Anisa dan Aby pasti bersorak penuh kemenangan melihat keadaan kita." omel Rosma lagi.


 Petugas jaga melotot ke arahnya.


Rosma terdiam sesaat. Namun tak berapa lama dia mengoceh kembali.


"Sekarang kita sudah kalah, benar-benar kalah. Masa kau tidak ada gregetnya, sih? Anisa menceraikan mu. Dan sekarang dia bersama Aby, apa kau tidak marah?"


Tak di sangka Yahya berbalik menatap Bibinya dengan sorot mata kebencian.


"Yang bermusuhan dengan mereka adalah Bibi, kenapa aku harus ikut menanggung semua ini?"


Rosma terperanjat. Ia tidak menyangka kalau


Yahya berani menentangnya.


"Heh jangan ribut! Ini sudah malam. Kalian menganggu orang lain." bentak petugas polisi yang sedang jaga.


Yahya mengangkat tangannya kearah petugas itu.


"Benar kata Anisa, Bibi terlalu ikut campur urusan orang. Bibi..." Yahya tidak bisa menahan gejolak di hatinya.


Dia Memukul tembok di depannya dengan geram.


Rosma semakin kaget.


"Selama ini aku selalu diam karena aku menghormati Bibi sebagai orang tua. tapi apa yang ku dapat? Aku sudah kehilangan kepercayaan Anisa, aku juga kehilangan anak ku." ratap Yahya sedih.


Rosma belum percaya kalau yang bicara di depannya itu adalah Yahya.


"Kau...? Kau menyalahkan Bibi?" tanya Rosma pelan.


Yahya membuang pandangannya.


"Aku sangat menyayangimu sejak kecil. Aku menganggap mu seperti anak kandungku sendiri.. Tapi kau malah meragukan ku?"


Yahya terus menyesali diri, tapi melihat air mata bibinyab yang bercucuran membuatnya tidak tega.


Sekarang ia tinggal menunggu hukuman apa yang akan mereka terima karena semua perbuatannya. Rosma duduk termangu di pojokan. Ia tidak berani menatap Yahya yang diam membisu.


Mereka di tahan sementara waktu karena tuduhan dengan sengaja hendak menjual Khaliza.


Yahya merasa miris karena ia mendapat tuduhan hendak menjual anaknya sendiri.


Sebejat- bejatnya seorang ayah, tidak mungkin menjual darah dagingnya sendiri .


Dan itu semua terjadi gara gara kekerasan hati Rosma.


"Semua memang salahku. Aku telah mengabaikan Anisa selama ini. Ini memang salahku!" gumam Yahya sambil menampar pipinya sendiri.


Rosma hanya bisa melihat Yahya tanpa berani bicara apapun.


Sesal tinggallah sesal. sekuat apapun Yahya akan meminta maaf, hati Anisa tidak mungkin luluh lagi. Dan yang lebih menyakitkan, mungkin Khaliza akan melupakan dirinya. Itu pukulan terberat baginya.


"Aby memang lebih pantas segala-galanya dariku. Anisa pantas mendapat pendamping seperti dia." batin Yahya.


Ia kembali teringat janjinya akan menceraikan Anisa saat Khaliza lahir.


Ia menjadi ragu.


"Apakah karena janji itu hingga Allah begitu murka dan menimpakan cobaan yang begini berat padaku?"


Rosma memandangnya dengan sinis.


"Apa gunanya coba dia merenungi nasib. Bertindak saja tidak.." omelnya dalam hati.


Pagi harinya,


Pintu terbuka dengan kasar.


"Ayo keluar!" perintah seorang penjaga.


Yahya keluar di iringi Rosma.


Wajah Yahya terlihat lesu tanpa gairah.


Berkas perkara mereka sudah di limpahkan ke pengadilan.


Di tempat lain, Anisa sedang bersukacita karena Khaliza sudah boleh pulang. Selama dua hari di rumah sakit membuat anak kecil itu akrab dengan Aby.


Aby juga merasa ada ikatan dengan Khaliza. Dia tidak merasakan perbedaan antara Al dan Khaliza. Hal itu membuat Anisa senang.


Kemungkinan besar kedepannya Khaliza akan jauh dari Yahya. Walaupun tidak bermaksud memisahkan nya.. tapi paling tidak dia akan menjaga jarak dengannya.


Anisa tidak merasa khawatir karena Khaliza mendapat sosok seorang ayah dari Abyaksa.


.