KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 75


Dengan bersemangat Aby menuju tempat Anisa. Ia tidak sabar ingin membagi kebahagiaannya. Sampai-sampai Aby tergesa memarkir motornya.


Dia langsung menuju teras rumah kecil itu seperti kebiasannya.


Tapi langkahnya tertahan saat melihat Yahya sedang duduk berhadap-hadapan dengan Anisa. Mereka terlibat pembicaraan serius.


Mau menghindar tapi Yahya dan Anisa keburu melihatnya.


"Mas..." Anisa memanggilnya.


Aby jadi salah tingkah.


"Kedatanganku tidak tepat, ya? Maaf, aku permisi." Aby mengangguk pada Yahya dan berbalik hendak pergi.


Tapi suara Anisa menahannya.


"Tidak usah pergi, kami hanya bicara soal Khaliza saja. Iya, kan kak Yahya?"


Yahya mengangguk.


Aby sengaja duduk jauh dari mereka.


"Memang tidak banyak, tapi ini bisa bantu-bantu beli susunya Liza.." Yahya menyodorkan sebuah amplop.


"Kak, kau pakai saja untuk keperluan mu. insya Allah aku masih bisa mencukupi kebutuhan mereka." Anisa mendorong kembali amplop putih itu.


'Ini sudah aku niatkan, jangan di tolak, Nis. Kalau kau menolaknya aku merasa tersinggung." ucap Yahya.


Dengan ragu Anisa menerimanya.


" Sebentar, ya.. Aku ambil Khaliza di rumah tetangga sebelah." kata Anisa seraya bangkit dari duduknya.


Aby dan Yahya mengangguk bersamaan.


Sepeninggal Anisa, Aby dan Yahya saling diam. Mereka merasa canggung satu sama lainnya.


"Pak Aby, saya senang bapak bisa menemani mereka setelah saya tidak bisa lagi melakukan itu." ucap Yahya terbata.


"Eum.., iya. Sekarang hubungan sebagai suami istri memang sudah berakhir, tapi ikatan silaturahmi kita jangan sampai terputus. Khaliza pasti sangat merindukanmu." tutur Aby.


Yahya menelan ludah.


"Saya masih ingat dengan janji saya saat di rumah sakit itu, sekaranglah waktunya pak Aby merealisasikannya. Anisa sangat mencintai pak Aby. sumpah! Selama kami bersama, sedetik pun dia tidak bisa melupakan pak Aby. Saya memang serakah


karena sudah memanfaatkan keadaan, tapi sekuat apapun saya mencoba, tidak pernah berhasil memenangkan hatinya." Yahya menarik nafas sesaat.


"Mungkin Allah murka dan menegur saya lewat musibah ini." Mata Yahya begitu sayu. Wajahnya sendu, wajah yang menyimpan banyak kepedihan.


"Aku dan Anisa belum membahas hal itu. Kami hanya fokus memikirkan bagaimana cara agar anak-anak bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik." jawab Aby.


Yahya menatap Aby dengan mata sendunya.


"Aku percaya melepas Khaliza pada sosok ayah seperti pak Aby. Bapak tidak akan membeda-bedakan antara Al dan khaliza. saya yakin itu."


"Kalau tentang itu, aku berjanji akan menyayangi Khaliza dengan sepenuh jiwaku.


Sudahlah, jangan bahas lagi.Yang terpenting sekarang.. Anak-anak kita tidak kehilangan sosok dan kasih sayang kita sebagai orang tuanya. Masalah Anisa, biarlah dia yang menentukan dimana kebahagiaannya."


Tatapan Aby begitu teduh membuat Yahya merasa tenang.


"Sekarang aku baru bisa mengerti kenapa cinta Anisa pada pak Aby begitu besar.. Pak Aby sangat bijaksana dan penuh tanggung jawab. Saya merasa malu selama ini telah menuduh kalian yang tidak -tidak." Yahya menunduk malu.


"Semua sudah berlalu, kita mulai awal yang baru lagi. jujur, sampai saat ini aku masih merasa bersalah karna keadaanmu ini akulah penyebabnya." Aby merangkul Yahya.


"Tidak usah menyalahkan diri seperti Pak. Ini sudah takdir. saya juga sudah mulai berdamai dengan nasib."


Anisa yang baru muncul membawa Khaliza, merasa heran melihat kedua mantan suaminya berangkulan.


"Ehemm..!" Anisa sengaja berdehem membuat Aby dan Yahya tersenyum.


"Dedek Liza... Darimana saja?" Yahya mengulurkan tangannya hendak mengambil Khaliza.


Tapi Khaliza malah mencondongkan tubuhnya kearah Aby.


"Ini ayah lho , Nak.. Ayah rindu sekali padamu." Yahya mengeluarkan mainan kecil dari kantong jaketnya.


Khaliza malah menangis ingin di gendong Aby.


"Mau ikut ayah Aby? Ayok... !" Aby mengambilnya dan bocah itu terdiam dengan mainan dari Yahya.


"Tenang saja. Mungkin karena lama tidak melihatmu makanya reaksinya seperti itu."


Anisa masuk dan membuatkan minuman.


Di dalam dia berpikir keras, apa yang membuat mereka akur dan berpelukan? Padahal selama ini Yahya selalu salah paham pada Aby. Apakah ada kesepakatan di antara mereka yang dirinya tidak tau? Entahlah...


Khaliza sama sekali tidak mau di pegang ayahnya. Dia nempel pada Aby.


"Sepertinya memang dia lebih nyaman pada Pak Aby.." ucap Yahya membuat Anisa dan Aby tidak enak.


"Jangan di masukin hati.. Dia masih anak kecil, dia akan akrab pada apa yang biasa di lihatnya." ucap Aby menghibur.


"Benar kata pak Aby, mungkin karena lebih sering melihat Pak Aby ketimbang saya yang ayahnya sendiri..."


Yahya membuang mukanya.


"Sering-seringlah menengoknya, dia akan terbiasa..." hibur Aby lagi. Anisa hanya terdiam.


"Oh ya, bagaimana kabar Bi Rosma?" Anisa sengaja mengalihkan pembicaraan.


Yahya tersenyum kecut.


"Nisa, kembalilah ke rumahmu sendiri, aku dan Bi Rosma sudah tidak tinggal disana lagi."


Anisa merasa heran.


"Lalu kalian tinggal dimana selama ini?" tanya Anisa khawatir.


Harapanku dengan tinggal disana Bi Rosma bisa menyadari semua kesalahannya. Aku sadar selama ini telah banyak mengecewakanmu dengan mendengarkan Bi Rosma."


Yahya menarik nafas sebentar.


"Aku minta maaf, ya Nisa.. pada pak Aby juga.


Kalian sudah banyak mengalami masalah karena kami."


Anisa menarik nafas lega.


"Syukurlah kalau kau menyadarinya, kak. aku juga mohon maaf. Aku tidak bisa menjadi istri yang kau harapkan." ucap Anisa menyesal.


"Sudahlah... Semua sudah lewat, tidak perlu di ingat lagi. Anisa... Sekarang kau bebas, pak Aby juga bebas. Kenapa tidak kembali bersatu saja. Ini demi anak-anak.. Aku yakin menyerahkan Khaliza ke tangan pak Aby."


Anisa tertunduk dalam.


"Aku belum berpikir sampai di situ, kak. "


"Karena itu, kau sudah harus memikirkannya sekarang. Demi anak-anak."


Anisa menatap Aby, ayahnya Al itu mengangguk padanya.


Setelah berbincang sebentar, Yahya mohon diri untuk pulang.


"Biar aku antar.." tawar Aby cepat.


Yahya menggeleng.


"Saya sudah pesan taksi, pak Aby." tolaknya halus.


Yahya mencium dan membelai rambut Khaliza sebelum akhirnya tertatih pergi.


Ada rasa pilu di hati Anisa mengiringi kepergian Yahya.


"Akhirnya semua berakhir baik..." gumam Aby.


Anisa menoleh padanya.


"iya, rasanya tidak percaya kalau kak Yahya bisa menyadari semua kekhilafan nya." timpal Anisa.


"Owh, ya.. sebenarnya aku datang untuk memberimu kabar gembira." ucap Aby bersemangat.


"Apa itu, Mas?" Anisa ikut penasaran.


"Kau pasti tidak percaya. Aku di berhentikan kerja oleh pak Sofyan."


Anisa mengerutkan keningnya.


Di berhentikan kok malah senang?


"Kau bingung, kan? begini, pak Sofyan menyuruh aku membuka usaha sendiri, dia yakin uang tabunganku sudah lumayan untuk modal usaha baru. kalaupun nantinya ada kekurangan, dia berjanji akan menolong."


"Mulya sekali hati pak Sofyan itu.." ucap Anisa kagum.


"Iya, beliau orang bijak. Dia juga menjadi motivasi buatku dalam dunia usaha."


"Selamat, ya. Aku ikut bahagia dengan kabar ini." ucap Anisa tulus. Ia senang melihat semangat Aby.


"Dan aku ;juga berencana ingin menyicil rumah walaupun kecil-kecilan. tempat ini kurang layak buat kalian." ucap Aby tanpa sadar.


Anisa tercengang. Ia menunggu ucapan Aby selanjutnya.


Aby ingin mengambil rumah untuk dirinya dan anak-anak? Itu berarti...?"


Anisa tidak berani menebak-nebak.


Tapi Aby sudah asik mengajak Liza mengobrol.. Ia sudah lupa dengan pembicaraannya dengan Anisa barusan.


Sampai Aby minta diri untuk pulang, pun Aby tidak menyinggung soal rumah lagi.


"Ayah pulang dulu, ya? Liza jangan nakal nanti Bunda kecapean.. Ohya, Nis? Kenapa Abang Al lama sekali?"


"Mungkin sebentar lagi datang." Benar kata Anisa.


Dari jauh, Al terlihat mengayuh sepedanya.


"Assalamualaikum Ayah, Bunda..." Al mencium tangan orang tuanya dan mencium adiknya.


"Seru latihannya, Nak?"


"Lumayan, Yah. Ayah mau pulang, ya?"


"Iya.. Ayah pulang dulu. Besok ayah datang lagi, mau di bawain apa?"


Al menggeleng. "Al tidak ingin apa-apa, kecuali ayah bisa menginap disini. Bermain bersama Al dan dedek Liza, iya, kan Dek?"


Aby dan Anisa saling pandang.


Sebuah curahan hati yang:tulus datang dari anak polos seperti Al.


"Ayah juga berharap begitu, berdoa saja ya.. Semoga Allah memudahkan jalan kita."


Aby menatap dalam kearah Anisa.


Anisa terdiam menahan nafas.


"Aku harap kau memikirkan keinginan anak kita.." bisik Aby sebelum benar-benar pergi dengan motornya. Membiarkan Anisa yang berdiri mematung. Ia masih tidak percaya dengan pendengarannya tadi.


"Mas Aby.. Kenapa kau beri aku tela teki seperti ini. Kalau kita memang harus kembali, bicara yang jelas, Mas..!" keluh Anisa sendiri. Padahal Aby sudah tidak terlihat lagi.


💞Salam sejahtera semua!!


..