KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 53


Saat Rosma keluar, Anisa kembali menyambung pembicaraan mereka.


"Kak, bukannya aku benci pada Bibi, tapi rumah tangga kita tidak akan pernah tentram kalau Bi Rosma masih selalu ikut campur."


Yahya masih terpesona pada putrinya. Ia merasa tidak akan sanggup menyerahkan putri mungilnya itu pada Aby. Janjinya untuk menceraikan Anisa saat bayi itu sudah lahir, membuatnya ragu.


Anisa heran karna Yahya kurang


 menanggapi ucapannya.


"Kak, kau mendengarkan ku, kan ?"


Anisa menyentuh lengan Yahya. Pria itu tergagap dan menatap Anisa.


"Maaf, kau bilang apa?"


Anisa menghembuskan nafas pelan.


"Bi Rosma.."


"Aku tau, kau dan pak Aby kurang suka padanya, tapi apa yang harus aku lakukan? Dia sebatangkara. Tidak punya keluarga lagi selain aku." keluh Yahya.


"Bukan, aku tidak menyuruhmu mengusir Bibi, tapi setidaknya kasi pengertian padanya untuk jangan terlalu ikut campur dengan urusan keluarga kita. Bisa, kan?"


Walau merasa berat, Yahya mengangguk.


"Apa kau sudah menyiapkan nama untuknya?"


Yahya mengalihkan pembicaraan.


Anisa menggeleng.


"Aku tidak sempat, Kak. Begitu banyak masalah yang terjadi." gumam Anisa.


"Kau bukannya tidak sempat, Nis. Tapi memang anak ini tidak kau harapkan.." ucap Yahya dalam hati.


"Kak, bisa minta tolong keluar dulu sebentar?" tanya Anisa tiba-tiba.


Walau tidak mengerti alasannya, Yahya mengangguk dan mengayuh kursinya keluar.


Anisa mulai menyusui putrinya. Ia meminta Yahya keluar karena merasa risih di lihat menyusui, memang aneh, tapi itulah keadaannya. Yahya adalah suaminya, ayah dari anaknya. Tapi mereka tidak pernah melakukan hubungan suami istri seperti pada umumnya. Hanya karna usaha Rosma lah anak Yahya bisa hadir ke dunia.


Anisa merasa malu karna mata bayinya menatapnya terus.


Mata itu seolah sedang menghujatnya.


"Kenapa Bunda tidak menyukai ayahku? Kenapa Bunda tidak bahagia dengan kehadiranku?"


Bayi itu menyedot *********** dengan kuat.


Anisa sampai meringis. Perlahan dia mengusap lembut kepala bayi nya.


"Siapa bilang Bunda tidak bahagia dengan kehadiranmu? Bunda bahagia, sangat bahagia. Kau peri kecil Bunda yang manis..."


Anisa mengusap pelan pipi putrinya.


Mata bening itu seolah merespon kata-katanya dan menguap hebat.


"Mau bobok ya..? Udah ngantuk lagi?"


Anisa meminta suster memindahkan putrinya ke bok.


Rosma masuk keruangan itu.


Ia begitu mengagumi anak Anisa.


"Cantiknya, cepatlah besar.. Kita akan jadi tim yang solid. Kita akan main berdua." ucapnya kegirangan.


Ia melirik Anisa yang sedang menatapnya.


"Aku minta maaf atas kata-kata ku tadi." ucap Anisa. Walaupun ia merasa tidak bersalah, tapi ia sadar kalau Rosma adalah orang tua. Karenanya, ia mengalah.


Rosma tidak menjawabnya. Ia malah membuang mukanya.


Rosma menghampiri Yahya yang sedang termenung.


"Apa yang kau pikirkan?" tanyanya lembut.


"Aku memikirkan janjiku pada pak Aby. bahwa aku akan menceraikan Anisa saat bayinya sudah lahir. Tapi sekarang bayi itu sudah lahir, kenapa aku yang merasa tidak sanggup melepas mereka..."


"Bibi tidak setuju. Kau akan memberikan bayi mu pada Aby? Jangan! Kalau kau masih nekat berbuat itu. Bibi akan bawa anak itu pergi jauh dari kalian. Hingga kau akan menangis darah karena menyesal." ucap Rosma bersungguh-sungguh.


Yahya menatapnya.


"Bibi tidak main-main. Jangan pernah bercerai dengan Anisa, atau kau boleh menceraikan ya. Tapi anaknya harus bersama kita." Rosma mulai meracuni otak Yahya.


"Benar kata Bibi, kalau aku menggunakan anak ku sebagai alasan, Anisa tidak mungkin meninggalkan aku." gumamnya pelan.


Rosma tersenyum mengacungkan jempolnya.


"Ini baru keponakanku.."


Yahya semakin mantap akan menekan Anisa agar tidak meninggalkannya.


Sorenya, Aby datang membawa Al yang ingin menjenguk adiknya.


"Al masuk saja, Bunda ada di ruangan itu. Ayah akan menunggu di sini." ucapnya pada Al.


"Tanpa banyak tanya, bocah itu masuk mencari Bundanya.


Kebetulan yang ada di kamar itu cuma Rosma.


Anisa sedang pergi ke ruangan lain untuk di periksa.


"Bundaa..!"


Rosma menatap kedatangan Al dengan senyum tak suka.


"Adek kecil..." serunya hendak memegang pipi adiknya.


Rosma menepisnya dengan keras.


"Nenek..?"


"Jangan sembarang pegang. Al belum cuci tangan, kan. Nanti adik bayi bisa sakit."


Ucap Rosma dengan nada agak tinggi.


Terpaksa Al hanya bisa mengawasi adiknya dari luar bok.


Yahya masuk, ia menyapa Al yang sedang asik menonton adiknya.


"Dengan siapa Al?" sapanya lembut.


"Ayah Aby.. Dia menunggu di depan." jawab Al sambil terus mengawasi adiknya.


"Al bawa mainan untuk adik."


Anak itu mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.


Sebuah benda warni khas anak bayi.


"Adil u baru lahir, dia belum tau hal yang beginian." Rosma merampas paksa mainan itu dan melemparnya keluar.


Aby yang ada di depan pintu menangkapnya.


Ia sangat kaget dengan perlakuan kasar Rosma pada putranya.


Aby menatap Rosma dengan geram.


"Tidak begini caranya memberitau anak kecil, Bi..." ucap Aby menahan emosi.


"Pak Aby jangan mengajari Bibi saya. Dia jauh lebih tua dan berpengalaman ketimbang kita." Yahya ikut angkat bicara.


"Ustadz tau apa yang di lakukan Bibi, masih mau membelanya?" keributan itu terus berlanjut hingga si bayi terbangun dan menangis.


Rosma mengangkatnya.


Anisa masuk saat itu.


ia merasa heran melihat ketegangan di antara Aby dan Yahya.


"Abang.. Sudah lama datangnya?" Anisa meraih Al dan memeluk ya.


"Aku ingin melihat adik bayi."


"Owh.. Tentu saja, itu dia di gendong nenek!."


Anisa menunjuk anaknya yang di gendong Rosma.


Namun Al terlihat takut pada Rosma


"Kenapa sayang?"


"Aku bawakan mainan untuk adik bayi, tapi nenek melemparnya," mata Al mulai berair.


Hati Anisa merasa panas seketika.


"Benar, Bi?"


"Iya, aku hanya menjaganya dari benda asing.


Bayangkan saja, dia baru berumur satu hari. Sudah di bawakan mainan segala." ucap Rosma tidak merasa bersalah.


Anisa mengerti penyebab ketegangan yang terjadi.


Dengan wajah marah dia mengambil mainan itu dari tangan Aby.


Anisa memberikan benda itu pada Al.


Lalu mengambil bayi nya dari Rosma.


"Ayo, sekarang adik bayi sudah menunggu hadiah dari abangnya." ucap Anisa seolah menentang mata Rosma.


Yahya tidak bisa berkata-kata. Ia menunduk memandangi lantai kamar itu.


"Jangan pernah menghalangi kasih sayang diantara Al dan adiknya, aku pastikan itu. kalau sampai terjadi, kalian akan tau apa yang bisa aku lakukan..!" ucapnya tegas.


Ia membiarkan Al bermain dengan adiknya.


"Terimakasih, Mas. Kau sudah bisa mengantar Al melihat adiknya."


"Tapi ada yang tidak suka dengan kehadiranku di sini rupanya..." jawab Aby dengan wajah yang masih memerah.


Anisa mengerti dengan kondisinya.


Yahya dan Rosma hanya terdiam.


"Sudah, Nak. nanti kalau adik sudah pulang, kau bisa main sepuasnya." kata Aby membujuk anaknya.


Walaupun merasa keberatan, Al menurut ucapan ayahnya.


Ia pergi menyusul Aby yang sudah keluar terlebih dulu.


Anisa merasa tidak enak saat melihat kepergian Aby dan anaknya.


"Ada yang bisa menjelaskan apa yang terjadi?" matanya menatap Yahya dan Rosma bergantian.


"Aku tau, pasti ada ucapan kalian yang membuat Mas Aby begitu marah." ucapnya lagi.


"Bibi... Biasanya Bibi suka membuat masalah. Apa yang sudah Bibi ucapkan padanya?"


"Aku hanya bilang, tidak perlu mengajari Bibi, karna dia lebih tua dan berpengalaman dari kita, pak Aby malah tersinggung."


"Ya, jelaslah tersinggung, kak. Dan perbuatan Bibi yang menghalangi Al untuk mendekati adiknya, kau pikir itu berpengalaman? Aku tidak habis pikir, ya? Kenapa semakin kesini kau semakin tidak punya pendirian. Kau ikut saja apa kata Bibi."


"Tentu saja Bibi selalu salah di matamu. Yang benar hanyalah mantan mu itu!" omel Rosma.


Yahya menarik lengan Bibinya agar diam. Baru kali ini ia melihat kemarahan di mata Anisa. Dan itu sangat membuatnya takut.


Takut kali Anisa akan menjauhkan anaknya darinya.