
Aby berusaha mengerti dengan penjelasan Anisa, walaupun sebenarnya dia merasa ada sesuatu yang tidak biasa.
Besoknya ustadz Yahya kembali menemui Anisa di sekolah.
Sampai Anisa bertanya-tanya.
"Maaf ustadz, kayaknya ada sesuatu yang ingin ustadz sampaikan, sampai dua hari ini ustadz berusaha menemui ku, maaf lho...!"
Ustadz Yahya tersenyum.
Saya yang minta maaf, mungkin kamu merasa tidak nyaman. Tapi sungguh, tidak ada niat jahat dalam hatiku, aku hanya ingin mengetahui keadaanmu, apakah kau baik-baik saja."
Anisa kembali tersenyum.
"Atas dasar apa ustadz mengkhawatirkan diriku sampai segitunya?"
Ustadz Yahya merasa tidak sabar lagi.
"Kau tidak usah berpura-pura tegar lagi. saya tau semua yang kau alami."
Anisa tercekat.
"Ustadz, tau sesuatu? Maksudnya?" Anisa merasa gelisah. Ia takut ustadz Yahya benar -benar tau keadaannya.
"Saya tau tentang penyakitmu.." walaupun di ucapkan dengan pelan. Namun di telinga Anisa terasa seperti petir yang menggelegar.
Anisa masih terdiam.
"Maaf, Nis. Saya terpaksa memaksa dokter Ratna untuk mengatakan yang sebenarnya.saya sangat khawatir dengan keadaan mu saat itu."
"Apakah kau marah?"
Anisa menggeleng.
"Marah juga sudah tidak ada gunanya. Toh ustadz sudah tau." jawab Anisa enteng.
"Kenapa kau bisa setenang ini?"
"Aku sedang berusaha menerima takdirku dengan lapang dada.." jawab Anisa tenang.
"Lalu kenapa Abah dan juga suami mu tidak kau beri tau?"
Belum sempat Anisa menjawabnya, Aby sudah muncul di sana.
"Ustadz Yahya? Seingat ku kau tidak bertugas di sekolah ini.." Aby merasa kesal karena ustadz Yahya terkesan terus mengejar Anisa.
"Maaf, pak Aby.. Saya bisa jelaskan semuanya " kata Yahya.
"Benar, Mas. Ustadz Yahya ini satu proyek denganku.. Jadi ada banyak hal yang harus kami bahas." kata Anisa menengahi.
Walau hatinya merasa tidak terima, namun Aby tidak membantahnya.
"Kalau begitu, kami mohon diri ustadz, lain kali kita bahas lagi hal yang tadi." ucap Anisa sambil meraih tasnya.
"Kenapa lain kali? Sekarang saja, Mas, akan tunggu sampai selesai!" ucap Aby jutek.
Anisa dan Yahya merasa tidak enak.
"Kebetulan yang kami bahas hari ini sudah cukup.." kata Yahya.
Aby menggamit tangan Anisa sambil mengucapkan salam dengan terpaksa.
"WAalaikum salam...!" jawab Yahya.
Ia memandangi pasangan itu sampai menghilang dari hadapannya.
"Seandainya saja Aby tau apa yang di alami Anisa selama ini?" ucapnya dengan suara bergetar.
Di dalam mobil, Aby masih terdiam. Ia merasa ada sesuatu di antara Anisa dan Yahya.
"Mas Aby masih marah?"
"Gimana aku tidak marah, melihat istriku setiap hari di sambangi pria lain." jawabnya ketus.
"Aku memang sudah mengecewakanmu, aku menduakan mu. Tapi... Apa kau harus membalasnya dengan cara yang sama pula?"
"Aku cemburu, Nisa.."
Anisa menggigit bibirnya. Bagaimana ia harus menjelaskan kalau di antara mereka tidak ada apa-apa.
"Hukum aku dengan cara lain, tapi jangan berpaling dariku!"
"Astagfirullah...! Mas Aby kenapa berpikir sejauh itu?"
"Kenapa aku tidak berpikir kesana? Setiap hari kalian bertemu, setiap hari kalian mengobrol. Bagaimana aku tidak merasa kesal?" suara Aby mulai meninggi.
Aby terdiam. dia merasa marah kesal dan cemburu membayangkan tatapan ustadz Yahya ke Anisa.
Anisa merasa bersalah. Seandainya dia berterus terang tentang keadaannya, Aby pasti berubah pikiran. Tapi, dengan hal itu. Aby akan merasa sedih berkepanjangan dan menyalahkan dirinya sendiri. Membayangkan hal itu. Anisa merasa takut Aby mengetahuinya.
Hari itu, Anisa minta ijin untuk pulang sendiri.
"Mas, nanti siang aku mau ijin kerumah teman. tidak perlu di jemput. Aku akan bawa motor sendiri.'
"Tapi kau yakin tidak apa-apa?"
Anisa mengangguk pasti.
Sepulang dari sekolah. Anisa bukan kerumah temannya, tapi ia pergi kerumah sakit untuk check up.
Sangat dan sangat kebetulan ustadz Yahya juga sedang berada di sana.
"Ada urusan juga?" sapanya lembut.
"Aku check up rutin ustadz."
"Gimana keadaanmu?" pertanyaan ustadz Yahya bernada khawatir.
"Belum ada perkembangan kearah yang lebih baik." Jawab Anisa pasrah.
"Ustadz sendiri? Siapa yang sakit?"
Pria itu tergagap dengan pertanyaan Anisa.
"Ini, ada seorang siswa yang kena musibah, saya membawanya kesini."
Anisa terdiam.
"Nisa, apa tidak sebaiknya kau kasi tau Abah mu?" ucap Yahya hati-hati.
"Aku sudah memikirkannya, tapi Abah pasti sedih dan kepikiran aku terus. Aku tidak mau itu terjadi."
"Baiklah, itu adalah keputusanmu. Tapi kau harus ingat, aku akan selalu mendukungmu."
"Terima kasih." jawab Anisa.
Anisa berlalu dari hadapannya.
Yahya merasa heran karna Anisa Membuka dompetnya dan mendesah pelan.
Ia mencoba menelpon Jelita.
"Lit, aku lagi butuh uang, tolong sekali ini saja. Pinjamkan aku uang tabungan mu,
nanti aku ganti."
Jawaban Jelita sungguh di luar dugaan Anisa.
"Aduh, Mbak.. Maaf sekali, aku tidak bisa pinjamkan. Aku ada janji dengan ibu mau belanja. Lagian uang operasional rumah mbak semua yang pegang."
"Itu dia, jatah bulan ini sudah mbak pinjam.
Mbak bingung mau minta lagi pada Mas Aby."
"Itu sih, resiko mbak Anisa." jawab Jelita acuh.
"Kalau begitu, uang bulanan mu saja aku pinjam."
"Apa lagi uang bulananku. Tau, kan gimana kalau punya bayi itu. Belum popok, belum susunya, ini dan itu. Maaf ya Mbak."
Anisa menutup telponnya.
Ia sedikit kecewa. Jelita yang sudah di anggapnya saudara juga tidak bisa membantunya.
Akhirnya dia pulang tanpa membawa obat.
Malam harinya, Anisa merasa malas keluar kamar. Saat makan malam pun ia tidak keluar.
Aby menghampiri nya.
"Kenapa tidak makan malam bersama?"
"Aku sedikit meriang, Mas." jawaban Anisa membuat Aby meraba keningnya.
"Panas sekali..!" kata Aby kaget.
"Tolong selimuti aku, Mas!"
Aby menyelimutinya dengan penuh cinta.
Anisa sudah tertidur saat motif ponselnya berbunyi.
Aby melihatnya perlahan.
ia melihat ada teranferan sejumlah uang masuk ke rekening Anisa.
Setelahnya ada juga pesan yang masuk dari ustadz Yahya.
(Maaf, Nisa. Saya tau kamu sedang kesulitan saat ini. Saya tidak bermaksud membuatmu tersinggung. Terimalah bantuan yang tidak seberapa ini)
Aby merasa bingung.
"Kalau Anisa kesulitan uang, kenapa dia tidak bercerita padaku? Kenapa harus pria itu yang lebih dulu tau..."
Hati Aby di bakar cemburu.
Ia merasa Anisa sudah bermain api di belakangnya.
Saat Anisa terbangun,
Ia tidak mendapati Aby lagi di sampingnya.
Anisa melihat ponselnya yang tergeletak begitu saja.
Ia bertambah kaget saat melihat isi pesan ustadz Yahya.
"Mas Aby pasti salah paham lagi."
Samar-samar Anisa mendengar suara Aby yang sedang bermain bersama Al dan Zahra.
Dengan terhuyung, dia bangkit dan melihat Aby dari celah pintu.
Ia melihat Aby dan Jelita sedang duduk bercanda dengan kedua anak kecil itu.
Hal yang belum pernah ia lakukan selama ini.
Yang Anisa tau, Aby belum bisa menerima kehadiran Jelita seutuhnya, hal itu lah yang memicu kecemburuan di hati Jelita.
Tapi apa yang di saksikan nya malam ini sangat berbeda. Mereka terlihat hangat dan bahagia. Anisa mengurungkan niatnya untuk bergabung.
"Kenapa aku harus sedih? Bukankah aku mau mas Aby bisa menerima Jelita seutuhnya?"
Anisa menyeret langkahnya kembali kedalam.
Sikap Aby mulai berubah agak cuek padanya.
Anisa paham, rasa cemburu Aby pada ustadz Yahya mengalahkan akal sehatnya.
keesokan harinya..
Saat Aby berada di kamar. Jelita sengaja mendekati Anisa.
"Mbak, gimana kalau aku saja yang pegang keuangan. Soalnya mbak Anisa lebih jarang dirumah. Aku yang selalu standby setiap saat. jadi kalau ada keperluan mendadak tidak bingung lagi.
Lagi pula, mbak sudah tidak mampu menerima amanah ini. Buktinya uangnya habis oleh mbak sendiri."
Anisa berpikir sejenak. Ia merasa memang sudah waktunya mempercayakan keuangan rumah tangga ini pada Jelita.
"Baiklah... Kau benar, sekalian kau belajar mengelola keuangan rumah ini." Anisa tetap tersenyum.
Bu Sari yang mengintip dari balik pintu merasa menang.
Mulai saat itu, Anisa memberikan semua uang belanja ke Jelita.
"Mbak, minta mas Aby mentransfer langsung ke rekeningku saja." rengek Jelita suatu sore.
"Kau tau sendiri bagaimana Mas Aby." jawab Anisa.
"Iya, sih.. Mas Aby tidak pernah percaya padaku. Begini saja, mbak pakai rekeningku yang baru. Bilang saja itu punya Mbak, dan Mas Aby harus mentransfernya kesana, gimana?"
"itu berarti kita membohongi Mas Aby."
"Sekali ini saja, Mbak."
"Baiklah... Aku coba." janji Anisa. ia merasa Jelita sudah seperti adiknya sendiri.
Ia tidak menaruh curiga sedikitpun.
Benar saja, Aby juga tidak menaruh curiga pada permintaan Anisa.
Akibatnya, Anisa merasa kebingungan dengan pengobatan yang ia lakukan diam-diam.
Tabungannya sendiri sudah habis. Biasanya Ia hanya mengandalkan uang belanja yang ia sisihkan tiap bulannya.
Sekarang semua sudah di pegang Jelita.
Maaf banyak kesalahan🙏🙏