
Setelah Dokter Ratna keluar dari ruangan Anisa, Ustadz Yahya diam diam mengikutinya.
Ia merasa harus minta penjelasan dari dokter itu tentang penyakit Anisa.
Ustadz Yahya berusaha mencegat langkah dokter cantik itu.
"Maaf, Dokter. Saya mengganggu sebentar."
"Ada yang bisa saya bantu?"
Ustadz Yahya terdiam sejenak.
"Saya keluarga dari pasien Anisa. Saya ingin tau sebenarnya dia kenapa?" tanyanya dengan ragu.
"Bu Anisa? Dia hanya kelelahan dan kurang tidur. Dengan vitamin dan cukup istirahat insyallah akan segera pulih."
Jawab dokter itu, namun wajahnya terlihat menyembunyikan sesuatu.
'Benarkah, se sederhana itu?"
Dokter Ratna memandang Yahya dengan tajam.
"Maksud anda?"
"Saya merasa dokter sedang menyembunyikan sesuatu."
Dokter itu menarik nafas panjang.
Ia menyuruh asistennya jalan terlebih dulu.
"Apakah anda bisa menjaga amanah?"
"Insya Allah." jawab Yahya mantap.
"Sebenarnya saya tidak bertugas di rumah sakit sini. Tapi datanglah ke alamat ini." Dokter itu menyerahkan kartu nama dan alamat prakteknya.
"Saya permisi, pak." ucap dokter itu dan melangkah pergi.
Yahya begitu shok saat mengetahui penyakit
Yang sedang di derita Anisa.
"Ini sudah berapa lama, Dok?"
"penyakit itu sudah stadium tiga. Tapi baru terdiagnosa lima bulan yang lalu. dan Bu Anisa minta saya merahasiakan penyakitnya.
Walaupun tidak mengerti alasan yang sebenarnya, sebagai seorang dokter yang terikat sumpah. Saya berusaha menuruti keinginannya."
"Dan ini hasil diagnosanya.."
Yahya menerimanya dengan tangan bergetar.
"Kanker otak stadium tiga..." ucapnya berulang kali.
Yahya terduduk lemas di bangku tempat praktek dokter Ratna. Kakinya terasa berat melangkah.
"Anisa menanggung beban seberat ini seorang diri... Bahkan Abah dan suaminya sendiri tidak dia beri tau."
Setelah merasa agak tenang, Yahya bergegas kembali kerumah sakit tempat Anisa di rawat.
ia memandangi punggung Anisa yang sedang tertidur menghadap tembok.
"Anisa.. Andai saja kau bisa membagi deritamu denganku?" ucapnya pelan.
"Ustadz? Sudah lama di situ?" sapa Anisa dengan senyum yang tak pernah ketinggalan.
"Baru saja, bagaimana keadaanmu?"
"Sudah sangat baik. Sebaiknya aku pulang sekarang. Al pasti sudah menungguku, dia aku titipkan pada tetangga sebelah." kata Anisa sambil bangkit.
"Yakin sudah merasa sehat? wajahmu terlihat pucat."
"Aah itu biasa, pakai istirahat juga akan baik kembali." Anisa berkeras untuk pulang.
Yahya mengantarnya dengan hati pilu. Anisa memang selalu berusaha ceria. Ingin sekali ia berada di samping Anisa di saat-saat sulitnya itu. Tapi bagaimana caranya? Anisa pasti akan menjaga jarak dengannya. Tentu saja, mereka bukan mahram.
"Kalau ada sesuatu, jangan sungkan kabari aku"
Anisa mengangguk.
"Kenapa ustadz terlihat cemas begitu? aku sudah tidak apa-apa. Lagian besok, Mas Aby sudah pulang dari liburannya." kata Anisa berbesar hati.
"Sungguh tega, Aby. Dia bersenang-senang bersama istri mudanya, sedangkan Anisa berjuang sendiri melawan penyakitnya." rutuk Yahya dalam hati.
"Terima kasih sekali lagi" suara Anisa membuat ia sadar dari lamunannya.
"Kalau begitu aku permisi dulu." Yahya berbalik menuju motornya.
"Ustadz, jangan bilang pada Abah apa yang terjadi, saya takut Abah kepikiran dan kumat lagi!" ucap Anisa setengah berteriak.
Ustadz Yahya hanya mengangguk sambil tersenyum.
Di tempat lain, Jelita merasa kecewa karena harapannya bisa lebih dekat dengan Aby hanya harapan belaka. Aby justru lebih sibuk dengan Zahra. Begitupun saat mereka berkumpul untuk makan malam. Ia memilih untuk menggendong Zahra.
"Kamu makan duluan! Biar aku pegang Zahra."
Jelita tidak bisa menolak.
rasa kesalnya pada Anisa timbul kembali.
..."Mungkin Mbak Anisa memang sengaja merencanakan kesibukannya biar aku tidak bisa menikmati liburan ini bersama Mas Aby."...
Malam itu Zahra sudah tidur nyenyak, Jelita hendak menidurkannya di bok, tapi Aby melarangnya.
"Biarkan saja dia tidur disini."
"Tapi, Mas?"
Aby tidak perduli. Ia mengambil Zahra dan menidurkannya di dekatnya.
Sampai dua hari terlewatkan tanpa terjadi sesuatu pun di antara mereka. membuat Jelita uring-uringan.
Anisa menyambut kepulangan mereka dengan suka cita.
"Kalian terlihat capek, biar aku bikinkan minum dulu." ucapnya hendak beranjak kedapur.
Namun panggilan Aby menahannya.
"Nisa, kau baik-baik saja, kan? Wajahmu terlihat pucat."
"Aku baik, Mas. Cuma kecapean dikit karna bergadang mengerjakan tugas." elaknya.
Anisa meninggalkan suami dan madunya kedapur.
"Yang enak-enakan di rumah saja di khawatirkan." sungut Jelita. namun tentu saja Aby tidak mendengarnya.
Anisa yang sedang menyiapkan cangkir tiba-tiba saja merasakan pusing yang luar biasa. Matanya berkunang-kunang.
Prang..!!
Cangkir yang di pegangnya jatuh dan pecah berantakan.
Aby dan Jelita saling pandang.
"Sandiwara apa lagi yang di mainkan mbak Anisa." pikir Jelita.
Aby yang panik langsung mengangkat tubuh Anisa ke kamar.
"Kamu sedang sakit, jangan bilang baik-baik saja." ucap Aby khawatir.
"Aku hanya perlu istirahat dan minum vitamin, Mas. Itu kata dokter."
"Kata dokter? Berarti kamu sudah sempat kedokter?" tanya Aby sambil membenarkan bantal istrinya.
Anisa terdiam. Ia malah keceplosan di depan Aby.
"Kamu sudah berubah, kamu sudah jadi wanita mandiri. kamu tidak butuh seorang Aby lagi.." ucap Aby kecewa.
Anisa sadar, dulu ia sangat bergantung pada suaminya dalam hal apapun. Hal itu membuat Aby merasa di perlukan. Dan kini saat ia harus belajar membiasakan diri tanpa Aby, pria itu malah tersinggung.
"Bukan begitu maksudku, Mas. Aku hanya ingin terbiasa mandiri seperti katamu, bukan karna tidak menghargai mu lagi, tapi karena aku sadar kau bukan lagi hanya milik ku. Ada Jelita di antara kita."
Aby terdiam. Ia selalu tersudut kalau Anisa sudah menyebut nama Jelita.
"Baiklah, apapun alasanmu. Kita akan ke dokter malam ini!" kata Aby tegas.
"Tidak usah, Mas. Kalau kau ingin aku istirahat, tolong Carikan asisten saja untuk bantu-bantu mengerjakan pekerjaan rumah."
Aby tidak menjawab.
"Apakah keadaan Anisa separah itu, hingga harus memakai jasa ART segala. Padahal dari dulu dia yang paling menentang tentang hal yang satu itu." Aby semakin merasa curiga.
"Ya sudah, sekarang kau istirahat. jangan pikirkan yang lain kagi. Al biar Mas Aby yang urus."
Aby meninggalkan kamar Anisa.
Ia mendekati Al yang sedang bermain dengan Zahra
"Al, biar ayah mandikan."
"Bunda kemana, Yah?"
"Bunda lagi istirahat, dia kecapean." kata Aby menuntun tangan Al.
"Abang Al mandi, dulu ya cantik... nanti main lagi." Aby mencubit pipi Zahra yang gembul.
"Jadi, bunda masih sakit?"
"Iya, jangan di ganggu dulu, ya ,nbiar cepat sehat."
"Iya,Yah. Kata ustadz Yahya juga begitu, Al harus menjaga bunda, bunda tidak boleh capek, tidak boleh sedih juga." celoteh Al mengundang perhatian Aby.
"Ustadz Yahya? Kapan bilang begitu, Nak?"
"Kemarin, dia yang mengantar ibu pulang dari rumah sakit."
"Jadi Anisa sudah kerumah sakit, dan di antar Ustadz Yahya? Kenapa dia tidak cerita?"
Setelah memandikan Al, Aby menghampiri Anisa lagi.
"Kemarin kamu sempat kerumah sakit?" selidiknya.
Setelah terdiam beberapa saat Anisa mengangguk.
"Dengan ustadz Yahya?"
Anisa kaget. Darimana Aby tau semua itu.
"Dia yang membawaku kerumah sakit karna aku pingsan tak sadarkan diri di pinggir jalan"
Aby semakin tercengang mendengar berita itu.
"Kenapa kau tidak mengabari ku tentang hal yang sebesar itu?"
"Aku tidak mau menganggu liburanmu, Mas. Jelita baru kali ini pergi denganmu. kalau aku kabari dan kau terpaksa pulang, dia pasti kecewa."
"Anisa, Anisa.. Dalam keadaan seperti ini kau masih memikirkan perasaan orang lain? Padahal orang lain itu belum tentu memikirkan dirimu!"
ucap Aby kesal.
Anisa meraih tangan Aby.
"Sudahlah, jangan di besar-besarkan. Intinya aku tidak mau membuat kalian cemas. Abah saja tidak aku beri tau."
Aby menggeleng pasrah. Ia semakin tidak mengerti jalan pikiran Anisa akhir-akhir ini.
💞Minta dukungannya guys!!