
Aby duduk kembali saat Anisa mengingatkannya.
Wanita tua itu terus berusaha menarik tangan gadis kecil yang berpenampilan Kumal itu.
Anak perempuan itu tidak mau beranjak dari tempatnya. Matanya terus memandang kearah makanan di depan Anisa.
"Bu, biarkan dia makan dulu, kasihan dia sangat lapar..' pinta Anisa pelan.
Wanita itu membenarkan kerudungnya yang kumal untuk menutupi sebagian wajahnya.
"Tidak usah.ayo, Nak." tolaknya sambil membujuk cucunya.
"Tapi aku lapar, Nek.." suara gadis kecil itu sangat menarik perhatian Anisa.
"Kalau begitu, biar di bungkus saja, Nis." usul Aby yang merasa tidak suka pada wanita tua itu.
Anisa meminta pada pemilik warung untuk di bungkuskan satu.
Si nenek tua itu langsung menyambar bungkusan yang ulurkan Anisa.
Dia sampai lupa penutup kepalanya sampai terlepas.
Aby dan Anisa tercengang.
"Kau? "
Perempuan tua itu langsung menyeret anak kecil itu dengan paksa.
"Mas, hentikan dia. Itu Bu Sari dan Zahra." pekik Anisa.
Aby masih syok. dia tetap duduk mengatur nafasnya.
"Apa yang terjadi pada mereka? kenapa keadaannya menyedihkan seperti itu?" gumam Anisa sendiri.
Aby berdiri dan berlari kearah dimana Zahra di bawa oleh neneknya.
Anisa tersengal mengikutinya.
Mereka kehilangan jejak.
"Sudahlah, saat ini kita sedang ada masalah yang lebih penting untuk di selesaikan. Lain kali kita cari tau lagi tentang mereka." Anisa mengangguk.
Mereka kembali ketempat semula mereka makan.
Anisa kehilangan selera makannya.
"Aku teringat Zahra, dia terlihat sangat kelaparan." ucapnya lirih.
"Kalau begitu, ayo kita cepat pulang. Al pasti sudah lama menunggu."
Setelah mengantar Anisa dan Al. Aby langsung pulang.
"Telpon aku kalau kau sudah dapat jalan untuk masalah ini." pesannya pada Anisa sebelum pergi.
Esok harinya, Anisa mengajar seperti biasanya. dia tidak pernah luput dari candaan teman temannya.
Mereka terus bertanya tentang pernikahan nya.
'Insya Allah tidak lama lagi, mohon doanya agar di mudahkan." ucapnya tersenyum.
"Mereka tidak tau apa yang sebenarnya sedang terjadi.." batin Anisa.
"Nis, pulang nanti temani aku membeli perlengkapan untuk semester besok, ya!"
kata Fani seorang rekan sejawatnya.
"Lama, ngga? Soalnya aku nitip Khaliza di tetangga."
"Ngga lama, kok. temani ya!" temannya masih memaksa.
Anisa mengangguk tersenyum.
Sekitar jam duaan, mereka pergi ke toko yang menyiapkan perlengkapan alat tulis.
"Owh ya, aku lupa, persediaan Pampers Khaliza sudah habis. Kita mampir sebentar di sebelah, ya!"
Fani mengangguk.
"Ayo, aku juga mau beli sesuatu."
Anisa berdiri di tempat yang menyediakan perlengkapan bayi.
Saat sedang asik memilih, tak sengaja telinganya menangkap suara dari lorong di sebelahnya. Semula dia tidak terlalu memperhatikannya . Tapi saat suara itu menyebut nama Aby, ia tertarik.
"Aku juga tak habis pikir, kenapa bisa jatuh cinta pada Mas Aby."
"Jadi namanya Aby? aah.. manis banget pake panggilan 'Mas' lagi." jawab suara satunya. mungkin juga temannya.
"Apa mungkin yang di maksud adalah Mas Abyaksa?" batin Anisa.
Dia mencoba melihat dari celah berang yang tertata rapi. Namun sangat susah. Dia tidak bisa melihat wajah pemilik suara itu.
"Memang seperti apa, sih dia?"
"Dia tampan, pasti lah ya... Selain itu dia dewasa dan penuh pesona. Aku bosan bergaul dengan cowok yang sebaya kita. Rasanya monoton. paling mereka hanya bisa balapan motor, minum-minum dan lain sebagainya. ngga asik!" serunya dan langsung di sambut tawa oleh lawan bicaranya.
Anisa semakin penasaran.
Perlahan dia mendekati arah suara itu.
Hatinya berdetak kencang saat melihat Ningsih tengah berbincang dengan seorang temannya sambil memilih beberapa barang.
"Tapi katamu, dia sudah punya calon istri bahkan mau menikah."
"Iya sih.. Tapi aku tidak bisa melepaskan Mas Aby begitu saja. Kau tau aku, kan? aku tidak bisa melepaskan begitu saja sesuatu yang aku inginkan."
"Lalu?"
"Kau masih ingat Dodi? Dia bersedia membantuku dengan berakting menjadi pria antagonis yang menyiksaku. Dengan sedikit air mata dan kata -kata, semuanya beres."
Mereka tertawa bersama.
Anisa mengurut dada menyaksikan semua itu.
Ningsih tidak menyadari kalau Anisa sedang mengawasinya dengan geram.
Merasa sudah mendapatkan sebuah bukti, Ia bergegas menjauh dari Ningsih.
'Mas Aby pasti senang mendengar kabar ini." pikirnya senang. Karena saking senangnya, dia sampai tidak memperhatikan jalan.
Brugh! Dia menabrak tubuh seseorang tanpa sengaja.
"Kau?" gumam pria itu kaget.
Anisa cepat-cepat bangun dan meninggalkan pria itu.
"Hei tunggu!" teriaknya, namun Anisa sudah menghilang di kerumunan.
Dodi, pria yang membantu Ningsih itu termenung.
"Hei kenapa baru dateng? Pake bengong lagi?" Ningsih mengagetkannya.
"Aku melihat wanita yang bersama pak Aby waktu itu."
"Masa, sih? Dimana?" Ningsih ikut mencari dengan ekor matanya.
"Tidak ada, tuh."
"Aku melihatnya sangat tergesa meninggalkan tempat ini. Apa mungkin dia sempat melihatmu?" ujar Dodi lagi
"Astaga...! Apa dia sempat mendengar apa yang kita bicarakan tadi?" Ningsih dan temannya ternganga.
"Lalu bagaimana, dong?" tanya temannya bingung.
..."Tau, nih. Aku juga bingung. Dasar mulut tidak bisa diam." dia memukuli mulutnya ...
Sendiri.
"Mungkin juga dia tidak tau tentangmu, dia tergesa pergi karna ada urusan penting. Bisa jadi, kan?" hibur Dodi.
Mereka mengangguk bersama.
Sementara itu Anisa langsung pulang.
Ia tidak sabar menceritakan pada Aby tentang apa yang di lihat dan di dengarnya.
Anisa belum sempat berganti baju saat dia menelpon Aby.
"Masa, Nis?" suara Aby seakan tak percaya.
"Kau datang saja, Mas. pasti ikut kaget melihat rekamannya."
Tak berapa lama Aby datang dengan wajah penasaran.
"Mana rekamannya?"
Mereka duduk berdua sambil melihat rekaman yang di putar Anisa.
"Aku tidak menyangka, gadis secerdas Ningsih punya pikiran picik seperti itu?" gumam Aby.
"Tapi Alhamdulillah kita bisa mendapatkan bukti ini. Allah menjawab semua doa kita. itu artinya jalan kita menuju pernikahan semakin lancar. Aku tidak sabar ingin segera menghalalkan mu, aku takut ada hambatan-hambatan yang lain lagi." ucap Aby bersyukur sambil mengusap wajahnya.
"Dan Ningsih-Ningsih yang lainnya.." sambung Anisa.
Aby meliriknya dari sela-sela jari tangannya.
"Kau cemburu?"
"Tidak lah.. " elak Anisa.
"Jujur saja, justru aku ingin melihat kau cemburu." goda Aby lagi.
"Maas..?" Anisa memandang Aby dengan senyum menggemaskan.
"Ya, Allah.. Jika engkau berkenan hamba ingin melihat bagaimana Anisa cemburu.." ucap Aby sambil mengangkat kedua tangannya persis seperti orang berdoa.
Anisa menggeleng melihat ulah Aby itu.
Setelah itu datang Al mendekati mereka.
"Bagaimana sekolahmu, Bang?"
"Baik, Yah. Owh ya? Bu guru Afifah menanyakan ayah?" celetuk Al.
Sontak Aby dan Anisa menatap Al.
"Tanya tentang ayah?" ulang Aby terlihat gembira.
Al mengangguk.
"Terus, dia bilang apalagi?" cecar Aby.
"Dia tanya kenapa ayah tidak pernah ngantar Al lagi."
"Ternyata Bu guru perhatian sama Ayah." gumam Aby.
Al dan Anisa memandang aneh padanya.
"Kalau begitu, besok ayah akan antar Abang. tapi besok Bu Afifah ada jadwal, kan?" Aby terus bergumam. Ia tidak melihat wajah Anisa yang cemberut.
"Bagaimana menurutmu?" ia menatap Anisa.
"Apanya?"
"Tentang Bu Afifah,lah Nis." ucap Aby malas.
"Menurut ku dia suka padamu, bahkan sangat suka. Jadi, sangat bagus kalau kau yang mengantar Al setiap harinya.." ucap Anisa tersenyum bijak.
"Susah sekali membuatmu cemburu, kadang aku berpikir, kau tidak pernah mencintaiku. Dari Jelita, Ningsih dan Lyra. Aku melihatmu biasa saja."
Anisa tersenyum geli.
"Sebenarnya aku cemburu, Mas. Tapi apa harus meledak-ledak seperti yang sering kau lihat di dunia nyata? Aku juga bisa kalau itu yang kau inginkan?" ancam Anisa
"Owh tidak, tidak! Aku mau kau apa adanya. Anisa yang tenang, yang selalu bijak dalam menyikapi suatu masalah. Jangan pernah menjadi orang lain hanya untuk menyenangkan orang."
Nasehat Aby.
"Lalu bagaimana dengan Bu Afifah?" goda Anisa, membuat Aby tertawa lebar.