
Semua gembira menyambut kedatangan Anisa dan bayi kecilnya.
Al dan beberapa kerabat menyiapkan penyambutan itu.
Sedangkan Aby, dimana Aby saat itu? Dia tengah berada di sebuah tempat, dia pergi ke sebuah tempat grosiran sembako bersama Imran.
Sebenarnya ia ingin membuka toko sendiri tapi terkendala modal yang cukup besar. Walaupun Imran menyanggupi tapi itu masih jauh dari modal yang di butuhkan.
"Aku harus bekerja dulu untuk mencukupi kekurangannya." ucapnya pada Imran pada saat itu.
Lalu Imran menawarkan untuk minta pekerjaan pada seorang kenalannya.
Jadilah mereka berada di tempat itu.
"Ini dia orang yang saya ceritakan, pak."
Kata Imran pada pak Sofyan di pemilik usaha.
"Imran sudah menceritakan semuanya tentang anda, katanya anda pernah bekerja di sebuah perusahaan di bagian pemasaran."
"Ia, pak. Tapi itu hanya masa lalu. Saya ingin bekerja dari nol. Terserah bapak mau menempatkan di mana."
"Baiklah, saya terima kamu bekerja disini. Datanglah besok pagi."
Entah apa yang di katakan Imran pada pak Sofyan sebelumnya, yang jelas dengan mudahnya Aby di terima bekerja. Ia tidak perduli di tempatkan di bagian apa. Yang penting bekerja dulu.
"Im, karena aku sudah dapat pekerjaan, sekarang aku ingin pindah dari rumah Anisa. Bagaimana menurutmu?"
"Bagus juga, sih. tapi apa kau yakin bisa hidup sendiri dengan kondisi ginjalnya yang tidak sehat?"
"Insya Allah. Aku merasa sudah lebih baikan. Lagi pula kalau masih di tempat Anisa tidak enak juga sama Yahya dan Bibinya. Dan memang aku rasa kurang tepat saja ikut menjadi beban di sana."
"Lalu Al?"
"Itu aku serahkan pada anaknya, mau ikut aku boleh. ikut Bundanya juga tidak apa-apa."
"By, apa kau yakin dengan pekerjaan mu yang sekaran? Padahal dulu jau seorang menjerit di sebuah perusahaan besar...'
"Aku tidak pernah merasa minder. Selama pekerjaan yang ku jalani itu halal.' jawab Aby.
"Baiklah, aku hanya bisa mendukungmu.."
Imran menepuk bahu sahabatnya.
Aby dan Imran merasa heran melihat keadaan rumah terlihat semarak.
'Ada apa, ya By. Rumah Anisa terlihat ramai." tanya Imran."
"Aku juga tidak tau, tapi mungkin juga Anisa sudah pulang dari rumah sakit." tebak Aby.
Rencananya, Imran mengantar Aby mengambil beberapa baju dan sekalian pamit pada Anisa.
"Apa? Mas mau pindah? Apa kau yakin? Kondisimu belum pulih benar, Mas." Anisa terlihat tidak rela.
"Kau tidak usah khawatir, aku sudah baik-baik saja."
Rosma dan Yahya hanya diam menyimak.
"Apa kau pindah gara-gara masalah di rumah sakit kemarin?'" ucap Anisa penasaran.
"Tidak, sungguh tidak sama sekali. Ini memang sudah aku pikirkan jauh-jauh hari. tidak mungkin juga selamanya aku ikut denganmu." ucap Aby tersenyum.
Anisa terdiam, walaupun hatinya sebenarnya tidak rela dengan kepergian Aby.
"Bibi sih, hanya bisa bilang, mungkin ini yang terbaik. Baik buat nak Aby baik juga buat Yahya." celetuk Rosma.
Semua mata memandang aneh padanya.
"Maksud Bibi, itu, kan keputusannya dia. Alangkah baiknya kalau kita dukung." ulangnya lagi.
"Begini saja, kau boleh pindah, tapi tidak boleh jauh-jauh dari rumah ini. Karena aku yakin Al juga tidak akan setuju."
"Tapi Anisa.."
"Diam dulu, Bi, aku masih bicara dengan Mas Aby."
"Mas, kalau kau harus pindah, berarti harus ngontrak, kalau ngontrak itu artinya harus bayar. timbang uangnya buat ngontrak, lebih baik di pergunakan untuk yang lebih bermanfaat." Anisa kukuh.
"Baru mulai bekerja, kan? lalu biaya hidup sehari-hari?"
Karena Anisa tidak mengijinkan untuk pindah jauh. Aby menurut saat Anisa menawarkan sebuah rumah kosong yang berjarak sepuluh meter dari rumahnya.
"Rumah itu di tinggal pemiliknya. Sementara waktu kau boleh tinggal disana, Mas. Al juga tidak akan jauh kalau mau menemui mu."
Akhirnya sepakat kalau Aby tinggal di rumah itu. Imran membantunya membersihkan tempat itu.
"Alhamdulillah. Sekarang baru berupa rumah, By." gurau Imran.
"Iya, Alhamdulillah sekali. Terimakasih ya, Im."
"Santai saja bro.. Kau seperti orang lain saja pakai terimakasih segala."
"Ohya, besok aku jemput atau gimana?"
Aby menggeleng.
"Aku pakai ojek saja. Nanti biar ku nego biar bayarnya akhir bulan saja sekalian pada tukang ojeknya."
Imran kembali menepuk bahu Aby.
"Tidak menyangka. Nasib membawamu ke titik ini lagi, yang sabar, ya..!"
"Yah, bagaimana kita bisa mensyukuri saja. Siapa tau nasib bisa berubah lagi. Siapa tau, kan?" Aby terlihat optimis.
"By, apa kau benar-benar sudah merelakan Anisa?"
Aby memalingkan wajahnya.
"Yang aku lihat, Anisa belum bisa melupakanmu sepenuhnya, walau sudah ada Yahya di hidupnya." gumam Imran.
"Aku juga bingung, Im. Kami berdua tau, kalau perasaan kami ini salah. Sangat salah. Tapi kenapa perasaan itu tidak mau pergi.
Aku sadar, dengan semua ini akan menyulitkan Anisa melanjutkan hidupnya. Banyak hati yang terluka karena perasaan yang tidak semestinya ini."
"Aku juga tidak tau harus bicara apa, perasaan kalian tidak salah, tapi Yahya juga tidak berdosa."
Setelah mengobrol cukup lama, akhirnya Imran mohon diri. Tinggal Aby sendirian di tempat barunya.
Suara adzan yang berkumandang mengusik telinganya perlahan dia bangun dan berwudhu. Lalu menenggelamkan diri dalam sujud yang panjang.
"Ya Allah, mungkin ini caramu menegurku, aku pernah menjauh darimu. Ampuni aku ya Robb.. "
***
Al, tolong bawakan makanan ini pada ayah, ya." pesan Anisa.
Rosma yang melihatnya merasa tidak suka.
"Sudah pindah dari sini, apa bedanya kalau masih makanan juga masih kau yang tanggung."
"Bibi, lalu apa hubungan Bibi denganku? Kenapa aku harus menanggung Bibi juga?
Yang berkeluarga dengan Bibi adalah Kak Yahya, bukan aku. begitu juga dengan Mas Aby."
Anisa menyuruh Al pergi ke tempat Aby.
"Tapi kalau Mas Aby jelas dia ayah dari anakku, tentu saja masih berhubungan denganku. Lagi pula asal Bibi tau. Rumah ini, rumah yang kita tempati sekarang, adalah rumah Mas Aby." Rosma melotot tak percaya.
"Benar, dulu Abah ku sempat di tipu orang hingga membuat rumah ini di ambil. Karena jasa Mas Aby lah Abah masih tetap memiliki rumah ini." itu artinya, dia juga berhak atas rumah ini."
"Tapi kami lebih berhak. Karena kami keluargamu, kalau dia hanya ayah dari anakmu." Rosma seperti tidak mau mengerti dengan maksud ucapan Anisa, membuat Anisa semakin naik darah.
"Tapi kalau Bibi , kan orang tuanya Yahya, dan kau menantuku. Seorang menantu wajib taat pada mertua dan suami."
"Lalu kewajiban mertua pada menantu apa? Apa Bibi sudah melakukan kewajiban Bibi?"
Rosma hanya terdiam, dalam hati dia menyangkal semua cerita Anisa.
"
Sudahlah, Bi. Aku malas berdebat."
"Lah siapa pula yang mau berdebat, makanya, kalau tidak mau berdebat, jangan membantah terus dong. Bibi juga capek. Kapan tenangnya hidup kita ini."