KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 65


Hari yang di tunggu-tunggu oleh Lyra pun tinggal sehari lagi. ia sangat antusias menyiapkan pernikahannya.


"Kau sangat yakin dengan pilihanmu, Nduk?" sapa pak Sofyan mendekatinya.


"Iya, Pa.. Di mana lagi aku dapatkan laki-laki bertanggung jawab seperti Mas Aby" jawabnya bangga.


"Papa juga berpikir begitu, selain pekerja keras, dia juga ulet dan tekun. Tapi dia seorang duda lho, apa itu sudah kau pikirkan?"


"Lalu kenapa kalau dia duda? Kecuali mantan istrinya masih sendiri, mungkin aku bisa khawatir. Tapi mantan istrinya sudah menikah, Pa."


"Baguslah.. Papa hanya ingin tau kesungguhan mu saja. Pilihanmu kali memang sudah tepat. Papa sangat mendukungmu."


"Terimakasih Pa."


Lyra merasa ngeri membayangkan andai Papanya tau alasan Aby mau menikahinya.


"Tapi papa merasa aneh saja, kenapa tiba-tiba kau memutuskan menikah dengan Aby? Padahal banyak teman-teman pria mu yang berusaha mendekatimu."


Lyra menggeleng.


"Tidak ada, Pa. Kami memang sudah memikirkannya, karena merasa ada kecocokan, Kenapa harus di tunda?"


Pak Sofyan merasa puas dengan jawaban Lyra.


Kesibukan sudah terlihat di rumah Lyra, undangan untuk keluarga dekat juga sudah di sebar.


Lain dengan Aby yang terlihat biasa saja menjelang pernikahannya, sangat berbalik dengan Lyra.


Aby sempatkan mengirim pesan pada Anisa.


(Nis, apa boleh Al hadir di acara ku?)


(Tentu saja, Mas. Dia harus hadir di acara penting dan bersejarah ayahnya) balas Anisa.


Ada rasa sesak di dadanya saat membaca balasan pesan dari Anisa. Namun ia sudah pasrah dengan tanggapan Anisa atas keputusan nya.


Aby sama sekali tidak tau kalau Anisa sudah melayangkan gugatan cerai terhadap Yahya.


Lyra yang sudah tau pun sengaja tidak memberitahunya.


Siang itu Lyra menemui Aby di tempat kerjanya.


"Mas, besok kita mau menikah, kenapa masih kerja saja, sih. Harusnya istirahat, biar besok badannya fit."


"Tidak apa, lagi pula tidak ada yang bisa aku kerjakan selain ini." jawab Aby. Ia terus bekerja walau Lyra berada di dekatnya.


"Persiapan sudah hampir rampung, Mas. Aku bisa bernafas lega sekarang." Lyra memeluk tangan Aby dengan manja.


Aby cepat menarik tangannya dengan sopan.


"Maaf, kita belum muhrim."


"Tapi kita akan segara, Mas." jawab Lyra.


"Tapi, kan belum Ly.. Sebaiknya jaga jarak dulu."


"Baiklah, tidak apa-apa." ucapnya sambil menggeser duduknya. Setelah berbincang sebentar, ia pamit untuk pulang.


Bukannya langsung pulang. Ia malah bertemu Rosma di suatu tempat yang sudah mereka janjikan.


"Ingat, atur supaya ijab kabul secepatnya di laksanakan. Aku akan berusaha menghalangi Anisa yang mau mengantar Al ke pernikahanmu. Karna kalau mereka sempat bertemu sekali saja, Aby akan berubah pikiran. Kau mengerti?"


Lyra mengangguk dan pamit pulang. Begitu juga dengan Rosma.


Dia mampir ke sebuah apotik untuk membeli sesuatu.


Sampai di rumah dia merasa lapar. Tapi saat membuka tudung saji di meja makan wajahnya berubah cemberut.


"Kok belum masak sampai jam segini? Apa saja yang di lakukan Anisa?"


Dia bergegas menghampiri kamar Anisa.


Dia merasa heran karena kamarnya juga kosong.


"Yahya, kau tau kemana Anisa?"


Yahya menggeleng. Ia sibuk melayani pelanggannya.


"Mungkin sebentar lagi juga datang, tunggu saja, Bi."


"Masalahnya, tidak ada makanan di meja. Apa dia tidak masak hari ini?"


"Mungkin Liza rewel, karena itu dia tidak sempat memasak." jawab Yahya acuh.


"Kau kenapa, sih masih tenang saja, Anisa menggugat cerai dirimu."


"Aku tau, Bi. Lalu apa yang bisa aku lakukan? "


"Apa? Apa Bibi tidak salah dengar? Banyak yang bisa kau lakukan, cari cara agar dia menarik gugatannya."


"Sudah terlambat, Bi. Berkasnya sudah di proses. Dan kemungkinan besar gugatannya akan cepat di kabulkan, karena keadaanku ini." Yahya menyeka wajahnya.


Ia terlihat putus asa. Rosma iba melihatnya.


"Jangan lembek jadi laki-laki! perjuangkan hakmu. Ingat juga anakmu."


"Dengan keadaanku yang cacat ini?"


"Iya...!" lalu Rosma membisikkan sesuatu pada Yahya.


Setelah itu Anisa datang sambil membawa Liza.


"Darimana? Tidak baik istri keluar terus meja makan masih kosong pula."


"Aku dari sekolah, ada tugas sedikit dari pak kepsek."


"Jangan bohong..! Ini hari minggu, dimana-mana sekolah libur." bentak Rosma. Anisa tidak menggubrisnya.


Khaliza menangis dalam gendongan Anisa.


"Sini sama ayah..!"


"Tuh, lihat anakmu langsung diam di gendongan ayahnya. Bagaimana kalau kalian tidak bersama lagi? Khaliza butuh kalian berdua."


Yahya dan Anisa terdiam. Kali ini ucapan Rosma ada benarnya menurut Anisa. Tapi hatinya terlanjur kecewa. ia tidak bisa merubah keputusannya lagi.


Ia membiarkan Rosma terus bicara.


"Apa yang di katakan Bibi ada benarnya, Nisa.


Apa kau tidak kasihan pada Khaliza? Dia butuh kita berdua."


"Kau benar, aku memang kasihan padanya, tapi keputusanku sudah bulat, kak. Aku minta tolong, jangan di persulit lagi"


Yahya terdiam.


Malamnya, Khaliza menangis kejer, sampai Anisa tidak bisa mendiamkannya.


Rosma dan Yahya masuk kekamar Anisa.


"Lapar mungkin." Rosma memberi pendapat.


"Dia tidak mau minum susu..."


"Coba berikan padaku." Yahya mengambil anaknya dar Anisa.


Saat di pangkuan Yahya, Khaliza bisa tenang.


"Tuh, kan!" Rosma berlalu dengan senyum yang di sembunyikan.


"Sudah tidur, biar aku tidurkan di ranjang." pinta Anisa.


Tapi saat di tidurkan, Khaliza kembali terbangun dan menangis. Membuat Anisa putus asa.


"Biar aku yang tidurkan."


Anisa memandang Yahya dengan ragu. Dengan begitu, berarti mereka akan tinggal seranjang.


"Aku mohon, sekali ini saja..!"


Anisa mengijinkan Yahya tidur di ranjangnya. Ia masih berdiri mematung saat Yahya sudah berbaring.


"Tidurlah disini, Khaliza ingin kedua orang tuanya tidur di ranjang yang sama. mungkin saja ini yang terakhir. Setelah kita resmi bercerai, mungkin bicara saja kau sudah tidak sudi lagi." Yahya menepuk tempat di samping nya.


Anisa masih ragu.


"Putusan cerai belum ada. dan talak tidak pernah aku ucapkan, kita masih sah sebagai suami istri." ucap Yahya lagi.


Anisa merasa bimbang. Apa yang di katakan Yahya benar semua, dirinya tidak mau di laknat karena menolak suaminya malam itu.


Ia berpikir, mungkin benar malam ini bisa saja malam terakhir Yahya minta sesuatu padanya.


Ia teringat kembali dengan rencana besarnya esok hari. Rencana yang mungkin saja membawa titik terang dalam kehidupannya.


Yahya masih menatapnya dengan penuh harap.


"Aku mohon Anisa, anggaplah ini permintaan ku yang terakhir sebelum kita berpisah."


Walau merasa ragu, Anisa melangkah mendekati Yahya.


Ia membaringkan tubuhnya di sisi pria itu.


Suasana hening dan kaku. sampai akhirnya suara Yahya memecah kesunyian.


"Seandainya kita jadi berpisah kelak, aku ingin mengenang malam ini sebagai kenangan yang paling indah seumur hidupku.


Anisa menoleh kearahnya dengan wajah penuh pertanyaan.


"Tidak, Nis. Aku tidak akan meminta lebih. berbalik lah!"


Anisa berbalik membelakanginya.


Perlahan Yahya merangkulnya dari belakang.


Dada Anisa berdesir. Pria itu memeluknya dengan penuh perasaan.


"Hanya ini, hanya ini yang aku minta dari sekian lamanya kita berumah tangga."


Suara Yahya parau. Sebenarnya, Rosma sudah memberinya saran agar melakukan sesuatu pada Anisa malam ini agar ia merasa terikat dan membatalkan gugatannya. Tapi Yahya tidak tega melakukan seperti yang di sarankan Bibinya.


Ia hanya bisa memeluk istrinya itu dengan penuh perasaan.


Anisa hanya terdiam. Ia merasa bersalah juga pada Yahya. Tapi hati tidak bisa di bohongi, dia tidak bisa mencintai pria itu sebagai pasangan.


Yahya begitu meresapi keadaan itu, sedangkan Anisa malah terbayang pernikahan Aby dan Lyra esok harinya.


"Aku harus bisa menyadarkan Mas Aby..." ucapnya dalam hati.


Esok harinya, Rosma heran melihat Yahya dan Anisa biasa saja. seperti tidak ada sesuatu yang terjadi tadi malam.


Anisa bersiap ke sekolahnya pagi sekali.


"Ayo,Bang. Cepetan Mandi. Kan mau ketempat ayah." serunya pada Al.


"Mau ku antar?" tawar Yahya.


Tidak usah, kak. Aku antar Al sebentar sebelum ke sekolah, Liza sekalian aku bawa ke penitipan anak." kata Anisa datar.


Rosma terus minta penjelasan pada Yahya dengan bahasa isyarat.


Selain itu, Rosma dan Yahya merasa heran karena ponsel Anisa terus bergetar.


Anisa hanya meliriknya sebentar lalu mengabaikannya.


"Bibi pasti bertanya tentang apa yang terjadi semalam." pikir Yahya.


Setelah semua beres, Anisa berangkat bersama kedua anaknya.


"


.