
Sambil menyetir Aby mencoba menghubungi Anisa, tentu saja Anisa tidak sempat memegang ponsel. Ia tenggelam dalam duka yang begitu dalam.
Ia duduk di dekat jasad Abahnya yang terbujur kaku.
Anisa sangat menyesalkan kenapa Abahnya harus mendengar percakapannya lewat telpon dengan dokter Ratna. Hingga membuat Abahnya Anfal dan tidak sadarkan diri.
Saat itu Ia dan dokter Ratna sedang membahas tentang kelanjutan pengobatan nya. Anisa sempat terhenyak mendengar nominal uang yang harus dia siapkan untuk biaya terapi.
"Tapi saya tidak punya uang sebanyak itu, Dok." saat itu Anisa tidak menyadari Abahnya sedang menyimak dengan seksama.
"Karna itu lah saya minta kamu berterus terang pada keluargamu." kata dokter Ratna di ujung sambungan.
"Tidak, dokter. suamiku tidak boleh tau, apalagi Abah ku. Aku tidak mau membuat mereka bersedih." jawab Anisa.
"Bersedih karna apa, Nduk?"
Tiba-tiba saja Abahnya sudah berdiri di belakangnya.
Anisa begitu tercengang.
"Abah, sejak kapan Abah disini?" Anisa khawatir kalau Abahnya sempat mendengar semuanya.
Anisa juga tidak berdaya saat Abah nya merampas ponselnya yang masih tersambung dengan dokter Ratna.
Dari situlah berawal musibah itu.
Abah ya tidak mampu menerima kabar yang begitu menggoncang jiwanya.
Ustadz Yahya dengan setia mendampingi Anisa yang sedang duduk terpaku.
Ustadz Yahya lah yang mewakili pihak keluarga untuk menyambut para tamu yang melayat.
Anisa tidak bisa berkata-kata lagi.
Ia pun tidak menyadari saat Aby datang dan duduk bersimpuh di dekat jasad mertuanya.
Aby melirik Anisa yang diam dengan wajah datarnya.
Ingin sekali ia mendampingi Anisa di saat itu. tapi niatnya dia bilang jauh-jauh saat melihat ustadz Yahya yang duduk di dekatnya dan selalu memberi dukungan padanya.Sampai acara pemakaman selesai. Aby tidak bisa bicara dengan Anisa.
Anisa begitu terpukul dengan kepergian laki-laki kedua dalam hidupnya itu.
"Abah... Maafkan Anisa. Maaf Bah.!"
Di saat para pelayat sudah pulang. tinggal para keluarga dekat dan santri yang sibuk berlalu lalang. Anisa masih tinggal di makam Abahnya. Ustadz Yahya tidak pernah meninggalkannya.
"Nisa, ayo kita masuk. Kau harus kuat, masih ada Al putramu yang membutuhkan perhatianmu." ucap ustadz Yahya.
walaupun merasa marah pada ustadz Yahya, Aby memberanikan diri mendekati Anisa.
Ia tidak perduli tatapan ustadz Yahya begitu aneh padanya.
"Nisa, maaf aku baru bisa kesini."
Ucap Aby sambil menggenggam tangan Anisa.
Anisa tidak menoleh sedikitpun.
"Terimakasih sudah menyempatkan diri untuk datang."
"Kenapa kau tidak mengabari Mas Aby tentang keadaan Abah?" nada suara Aby mulai meninggi.
"Jangan ajak aku berdebat kali ini Mas!" jawab Anisa datar.
"Kau yang memaksaku untuk berdebat, kenapa posisiku harus kau berikan pada ustadz Yahya?"
Yahya yang semula menahan diri untuk tidak ikut campur akhirnya bicara juga.
"Maaf pak Aby. Anisa memang istrimu, tapi saat ini dia sedang berduka. Tolong jangan tambah kesedihannya dengan sikap mu itu."
Aby semakin naik pitam karna Ustadz Yahya ikut bicara.
"Ustadz, mungkin kau lebih tau dariku tentang tatakrama dan sopan santun. Bukan kah menyela pembicaraan di antara dua orang apalagi mereka suami istri, itu tidak terpuji?"
Yahya terdiam.
"Dan kau Nisa, kau diam saja saat ada pria lain menceramahi ku tentang etika?"
Wajah Aby memerah karna emosi.
"Kesabaranku sudah tipis, Mas. Tolong jangan mencari pembelaan. bahkan kau tidak hadir di saat Abah mencari mu di saat terakhirnya. Kau malah bilang aku tidak mengabari mu? Aku sudah menelpon mu berkali-kali. Aku sudah mengirim pesan juga. Tapi apa? Kau tidak merespon sama sekali.
Aku mengerti kalau kau sedang sibuk karna Zahra sakit, tapi tidak kah ada sedikit waktumu untuk Abah?
Sekarang kau mempertanyakan ustadz Yahya?"
"Kau yang mengarang cerita, Nisa, kau bilang sudah menelpon ku, mana? Aku menunggu kabarmu dari jam lima sore sampai malam. Bahkan sekedar pesan pun tidak ada."
Anisa merasa bingung dengan Aby. jelas jelas dia sudah mengabarinya, tapi dia bilang dirinya tidak pernah menelponnya? Biarlah dia memang sedang mencari-cari kesalahan orang lain saja.
"Kayaknya, kehadiranku memang sudah tidak diperlukan lagi disini... "
Aby beringsut dan meninggalkan tempat itu.
"Ustadz Yahya mendekatinya. "Maaf, Nisa. pak Aby sudah salah paham padaku." ucapnya merasa bersalah.
"Kau tidak perlu merasa bersalah. Keadaan memang sedang menguji kita."
Di sisi lain, Aby pulang dengan perasaan kesal tiada Tara.
"Kenapa Anisa berubah sejauh ini...? Kenapa dia lebih membela pria itu ketimbang aku yang suami sahnya? Kenapa?" Aby memukul stang kemudi.
Ia merasa tidak sanggup kehilangan cinta dan perhatian Anisa.
"Baiklah, kalau dia bisa memanas manasi ku, aku juga bisa!" ucapnya tegas.
Aby tetap datang datang di acara tahlilan mertuanya. Ia juga ikut sibuk melayani. Tapi sepanjang ia disana. ia tidak bertegur sapa dengan Anisa.
Hanya Al jembatan mereka berkomunikasi.
Ustadz Yahya yang mengetahui hal itu semakin miris memikirkannya.
"Kalau begini caranya, memang sebaiknya Aby melepaskan Anisa..." ucap ya dalam hati.
ustadz Yahya bermaksud bicara empat mata dengan Aby.
"Ada apa" tanya Aby ketus. Api cemburu kembali menyala kalau melihat ustadz Yahya.
"Maaf, pak Aby. Melihat kondisi kalian yang semakin jauh, dan tidak menemukan titik terang, apa tidak sebaiknya kau melepaskan Anisa?"
Saat itu mereka berada di sebuah ruangan hanya berdua saja.
Aby begitu kaget atas permintaan ustadz Yahya.
"Apakah ini kemauan Anisa? " tanyanya dengan berang.
"Bukan? Sama sekali Anisa tidak tau tentang hal ini. Saya hanya merasa kasian padanya, pak Aby sudah ada Jelita juga. Sedangkan Anisa sendiri saya lihat sudah tidak nyaman dengan pernikahannya." ucap Yahya ragu.
Tak disangka oleh Yahya. Sebuah tinju sudah melayang mengenai sudut bibirnya, peci yang ia kenakan sampai terbang tak tau kemana.
"Maaf, pak Aby.. Saya hanya ingin memberi solusi yang terbaik buat Anisa." ucapnya sambil menghapus darah di sudut bibirnya.
Ia sama sekali tidak membalas pukulan Aby.
"Siapa kau sampai berani berkata kalau Anisa sudah tidak nyaman dengan pernikahannya? Oh aku tau, kau ada maksud tertentu di balik rencanamu itu. Iya, kan?"
"Almarhum Abah sudah menitipkan Anisa pada saya, maka apapun yang menyangkut kebaikannya, akan saya lakukan." Yahya masih belum menyerah.
"Semula saya masih mempertimbangkan perasaan Anisa, tapi melihat ini semua aku berubah pikiran. Apapun yang terjadi, aku tidak akan melepaskan Anisa!"
Aby keluar dengan wajah memerah sambil membanting pintu.
Beberapa santri yang sedang beraktivitas menatapnya heran. Aby tak perduli lagi. Ia merasa Anisa dan Yahya sudah menginjak harga dirinya.
Aby mencari Al dan membujuknya untuk pulang.
Namun anak itu menolak.
"Ayah dan Dek Zahra akan rindu pada Abang.."
"Al mau disini sama Bunda. lagian kalau ayah pingin sama Al juga, tinggal disini bersama kami." jawabnya polos.
Aby pulang tanpa Al maupun Anisa.
Beberapa hari berlalu, Aby tidak lagi datang ketempat Anisa.
Ia sengaja membiarkannya agar keadaan membaik dulu.
Tapi sampai tujuh hari, sepuluh hari, Anisa tak kunjung pulang juga.
Aby menjadi gelisah sendiri.
Semenjak kepergian Anisa yang tidak pulang, Jelita dan membuat Jelita dan ibunya bebas di rumah itu. Tentu saja Aby tidak mengetahuinya. Ia Pergi pagi dan pulang di sore hari.
"Benar-benar tidak menyangka, hidup kita bisa senyaman ini sekarang." ucap Bu Sari sambil menghembuskan nafas lega.
"Ibu jangan gembira dulu, kita bisa nyaman karna Mbak Anisa sedang pergi, coba kalau dia kembali, aku hanyalah seorang istri ke dua yang harus mengalah dalam segala hal." sungut Jelita.