
Walau terbuang jauh dari sanak saudara tidak membuat Rosma insyaf juga. Ia masih menyimpan rasa dengki di hatinya.
Rosma yang terbiasa memerintah tapi kini harus di perintah oleh Bu Fatma membuat nya merasa sangat tidak nyaman.
"Bu Rosma sudah mengerti, kan tugas-tugas nya? Saya sangat berterimakasih karena kehadiran Bu Rosma disini sangat membantu. maklumlah, kami tidak bisa menggaji perawat untuk membantu merawat para lansia itu." ucapnya dengan senyum.
Rosma tersenyum kecut.
Dia merasa terjebak di panti jompo itu.
"Maaf, ya Bu Rosma. Bukan maksud saya menggurui tapi cuma mengingatkan. mengurus orang tua apalagi yang sudah pikun itu memang tidak gampang, terkadang kita harus melibatkan emosi juga.
Tapi yang namanya mengabdi itu harus ikhlas... Benar, kan Bu ?" Bu Fatma kembali menatapnya lurus.
Rosma berpura-pura mengangguk dan mendengarkan.
tapi dalam hatinya dia menggerutu kesal.
"Memangnya siapa yang mau mengabdi disini? Kalau saja aku tau tempat Yahya sekarang, Aku juga tidak akan betah berlama-lama di tempat ini." batinnya.
"Mereka sudah cukup terluka dengan perlakuan para anak mereka, jangan di tambah lagi dengan sikap kita yang semena-mena. Bicaralah dengan lemah lembut." nasehat Bu Fatma lagi.
"Tapi aku bukan pembantu disini. Aku Adalah bagian dari mereka. Yahya meninggalkanku disini hanya karena dia tidak mau membawaku hidup susah, Lihat saja, setelah dia berhasil nanti, dia akan menjemput ku disini."
Nada bicaranya masih saja congkak.
"Jangan sombong, Bu. kami sudah sering menyaksikan keadaan yang seperti Bu Rosma hadapi. kebanyakan dari mereka mulanya memang bilang begitu, tapi kenyataannya mereka membuang orang tuanya disini tanpa pernah menjenguk atau memberi kabar." ejek seorang wanita yang bertugas di bagian dapur.
"Itu mereka, bukan aku. Yahya tidak akan mengingkari janjinya padaku." ucapnya yakin.
"TapiBu Rosma sendiri yang bilang kalau usianya belum termasuk lansia seperti mereka, karena itu kami tidak sungkan minta bantuan pada Bu Rosma untuk mengurus mereka. masa mau gratisan saja."
Rosma merasa tersinggung. Dia sudah hendak kembali bicara saat Bu Fatma memotongnya.
"Sudah Sudah ..! Jangan di perpanjang lagi.
Intinya, kita semua yang ada disini adalah sama. Jadi jangan saling mencela!" Bu Fatma melerai mereka .
Iin lalu pergi ke dapur dengan wajah tidak puas. Begitu pula Rosma.
"Awas saja kau, tunggu sampai aku di jemput Yahya, kau tidak akan bisa menghinaku lagi." ia menggerutu kesal.
Rosma sengaja membuat ulah.
Secara tak sengaja ia mendengar percakapan Bu Fatma dan Iin di dapur.
"Kita harus bisa berhemat, cukup tidak cukup kebutuhan untuk sebulan ini harus di cukupkan." Bu Fatma terlihat sedih
"Tapi apa penyebabnya?" Iin ikut sedih.
,"Donatur untuk panti Kuta ini berkurang "
"Lalu bagaimana kelanjutannya, Bu Fatma? Saya sudah terlanjur cinta pada tempat ini dan penghuninya. Kalau panti ini tutup, saya akan kemana?" tangisnya pecah.
"Tidak akan saya biarkan itu terjadi. Tenanglah.!" Rosma berlalu kekamarnya.
Sedangkan Iin membereskan bahan makanan di gudang.
"In, saya tinggal dulu, ya. Saya akan coba bikin profosal ke orang-orang berduit. Siapa tau mereka terketuk."
"Siap, Bu Fatma. Ini tinggal sedikit lagi kok." jawabnya bersemangat.
Iin masih tinggal beberapa saat, hingga akhirnya dia menarik nafas lega.
"Akhirnya kelar juga..." ucapnya puas.
Iin meninggalkan gudang itu dengan perasaan lega.
Setelah Iin pergi, Rosma menyelinap masuk dan membuat barang-barang itu berantakan, bahkan ia menumpahkan beras yang katanya tinggal sedikit."
Setelah itu dia keluar dengan wajah puas.
Keesokan harinya, Iin yang pertama kali masuk gudang merasa kaget mendapati bahan makanan yang berhamburan. Ia menjerit histeris hingga mengundang perhatian Bu Fatma.
Semua terkejut melihat pemandangan di depan mata.
Bu Fatma memandang Iin dengan heran.
"Bukannya kau yang terakhir kali masuk kesini?"
"Iya, Bu. Tapi saat say tinggalkan kemarin, semua sudah saya rapikan di tempatnya masing-masing." ucapnya dengan bingung.
Bu Fatma menggeleng.
"In, kita sedang krisis bahan pangan, tapi...?"
Bu Fatma meninggalkan gudang itu dengan kecewa.
"Bu, Percaya sama saya. Saya tidak mungkin berbuat seperti itu, saya adalah bagian dari tempat ini." teriak Iin. Namun Bu Fatma tidak menoleh lagi.
"Makanya kalau kerja itu yang benar..." ejek Rosma
Iin hanya bisa menangis menyesali semuanya.
Besoknya, Rosma kembali berulah. Kali ini dia menumpahkan banyak deterjen di kamar mandi.
"Iin, kenapa lagi ini? Tolonglah, kalau sudah tidak betah disini. Tinggalkan kami baik-baik. Jangan berulah seperti ini." keluh Bu Fatma kepada Iin.
"Ibu percaya ini perbuatan saya?" tanya Iin tak percaya.
"Maunya saya tidak percaya. Tapi semua saksi bilang, kau yang terakhir masuk ketempat ini. Lalu apakah saya harus menuduh yang lain?"
Iin menarik nafas panjang. Ia tidak bisa membuktikan dirinya kalau tidak bersalah.
"Bi Fatma.. Kenapa masih mempertahankan orang yang tidak bertanggung jawab seperti dia? Pecat saja!" Rosma mencoba memberi usul.
"Tapi Iin susah lama tinggal disini, sebelumnya dia juga tidak pernah membuat kesalahan. Tapi saya juga bingung. kenapa dia berubah seperti itu.." Bu Fatma terdiam sejenak.
"Saya akan pikirkan lagi..."
Malamnya Rosma tidak bisa tidur. Ia memikirkan cara agar Iin bisa di usir dari tempat itu.
Paginya, Bi Fatma mengumpulkan semua orang termasuk Iin Risma dan seorang tukang kebun. Semua bertanya-tanya ada apa gerangan.
"Kalian pasti bertanya-tanya kenapa saya mengumpulkan kalian disini, saya ingin kalian tau bahwa uang operasional panti kita raib entah kemana."
Iin menutup mulutnya begitu juga tukang kebun. Rosma ikut-ikutan tercengang.
"Saya ingin menggeledah kamar kalian masing-masing." ucap Bu Fatma lagi.
"Iya, Bu. Pastikan pencurinya angkat kaki dari tempat ini." ucap Iin Berapi api.
Dia merasa yakin kalau Rosma lah pelakunya.
Setelah di geledah di kamar masing-masing. Ternyata dua gepok uang itu berada di lemari Iin. Ia memandang Bu Fatma tak percaya.
"Saya.. Saya tidak mengerti kenapa uang itu bisa ada di lemari saya.. Sumpah, Bu Fatma." ucapnya memelas.
"Mana mungkin uangnya jalan sendiri kesini." ucap Rosma.
Iin masih menggeleng menatap Bu Fatma.
"In, saya berat harus mengatakan ini, tapi kamu masih ingat, kan kata katamu tadi? Yang kedapatan mencuri uang ini harus angkat kaki dari sini."
Dengan berurai air mata Iin meninggalkan panti dimana dia hidup selama ini.
Rosma tersenyum penuh kemenangan.
***
Aby datang agak telat ketempat kerjanya.
Ia melihat pak Sofyan sedang bicara dengan seseorang.
"Assalamualaikum, maaf saya terlambat."
"WAalaikum salam.. By, duduklah. Ini Ningsih anak dari seorang sahabat ku."
"Aby mengangguk sopan sambil mengangguk.
"Aby... "
Gadis itu menyambut uluran tangan Aby.
"Ningsih.."
"Maksud saya begini, By, bapak pikir kau sudah punya cukup tabungan untuk membuka usaha sendiri. Karena itu bapak menarik Ningsih untuk menggantikan mu.
Bukannya bapak ingin menyingkirkan mu, tapi bapak ingin melihat kau mandiri." ucap pak Sofyan serius. sungguh itu sebuah angin segar buat Aby. Sejak lama dia ingin membuka usaha sendiri. Tapi merasa tidak enak pada pak Sofyan.
"Terima kasih, pak. Saya juga sangat ingin punya usaha sendiri, apalagi kalau bapak merestui saya semakin bersemangat."
"Bapak ingin melihatmu maju." jawab pak Sofyan tulus.
Aby merasa tak sabar menunggu sore hari. Ia ingin memberitau Anisa kabar gembira itu.
"By, sebelum kau meninggalkan tempat ini, tolong beri sedikit bimbingan pada Ningsih."
"Dengan senang hati, pak." Aby begitu bahagia. Ia sudah terbayang kalau Anisa ikut bahagia juga mendengar kabar itu.
Aby dan Ningsih duduk berdua. Dengan rinci Aby menjelaskan tata cara dan sebagainya pada Ningsih. karna pada dasarnya Ningsih cerdas, ia cepat tanggap dengan penjelasan Aby.
Gadis itu terlihat santun. Beberapa kali ia menggeser duduknya saat tak di sengaja Aby mendekatkan wajahnya ke laptop di depan mereka.
"Maaf... " ucap Aby tersenyum.
"Ngga papa, Mas. Aku sangat beruntung dapat bimbingan dari orang berpengalaman seperti Mas Aby ini." puji Ningsih malu-malu.
Sore pun tiba.
Aby mohon diri dengan wajah berseri.
Sambil bersiul kecil ia menuju motornya.
Ningsih memperhatikannya dari dalam jendela.
"Dia terlihat bersemangat, seorang pekerja keras yang ulet.. " gumamnya sendiri.
💞Huh...Aby, kau cakep, dewasa, bertanggung jawab dan pengertian. Pantaslah kalau banyak cinta tercurah untuk mu🤣🤣komen ya👇