
Yahya menahan nafas saat melihat Anisa sudang berdiri menatap mereka.
"Nisa...?"
walaupun sakit Anisa berusaha bersikap tenang di depan Rosma.
"Maaf, Nis, kau terpaksa mendengar sesuatu yang mungkin kurang mengenakan. Tapi itulah kenyataanya. Apa Bibi tegaskan lagi?"
Anisa menggeleng lemah.
"Saya mengerti, Bi."
"Terimakasih, kau jangan tersinggung, ya! Bibi berbuat ini karna sangat menyayangi kalian, terutama Yahya. Dia satu-satunya keluarga Bibi yang masih tersisa. Jadi tolong, lupakan mantan suami mu dan jagalah calon anak kalian dengan baik.". Ucapnya sambil menepuk bahu Anisa.
Setelah berkata itu, Rosma meninggalkan mereka berdua.
Yahya merasa sangat bersalah.
Ia memegangi keningnya sambil mendesah.
"Maaf, Nus. Aku tidak tau Bibi akan berpikir sejauh itu ..."
"Bibi mu benar, kak " hanya itu yang keluar dari mulutnya. Wanita melangkah gontai ke kamarnya.
Tinggal Yahya yang duduk menyesali dirinya.
"Anisa sudah sangat tertekan dengan kehamilannya, mengadu lebih tertekan dengan ulah Bibi Rosma..." keluh Yahya.
Diam diam dia mencari tau tempat dimana Al sudah melihat ayahnya.
Yahya duduk terpekur di musholla dekat warung dimana Aby bekerja. Ia merenungkan semua yang sudah terjadi. Begitu rumit cinta segi tiga diantara dirinya, Aby dan Anisa.
Dulu ia menikahi Anisa atas permintaan Aby sendiri, Kenapa di saat Ia ingin melepas Anisa untuk Aby, Anisa malah hamil anak nya?
Karena merasa tidak mendapat petunjuk apa pun, ia kembali dengan tangan hampa.
Namun dalam hati ia berjanji akan kembali lagi kesana sampai Aby ketemu.
"Yahya, kenapa muka mu murung sekali?" sapa Risma.
Yahya hanya mengulas senyum samar.
"Jangan selalu murung seperti itu, tidak baik buat calon anak mu!"
Yahya hanya terdiam. ia bangkit dan pergi ke kamar.
"Aku mau mandi dulu, Bi." Sebenarnya itu hanya alasannya untuk menghindar dari Bibinya.
Ketika ia membuka pintu, ia melihat Anisa sedang rebahan di ranjang. Yahya menghentikan langkahnya. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk.
Saat tidur pun Yahya lebih banyak di depan tv. ketika di tanya eh Anisa, jawabannya tetap sama.
"Ngerjain tugas..."
Anisa merasa Yahya mulai menjaga jarak dengan dirinya, ia tak habis pikir, kenapa pria itu menjauhinya disaat dalam rahimnya sedang tumbuh benih yang sudah di tanamnya?
***
Di Sebuah besar dan mewah, terdengar teriakan kencang si nyonya rumah.
"Wanita buruk rupa! Cepat bereskan kamar tamu, sebentar lagi teman-teman ku akan datang, ingat! Tidak boleh ada sedikitpun debu yang masih tersisa, kau mengerti?!"
Wanita yang di panggilnya buruk rupa itu menutup telinga sambil mengangguk gemetaran.
Dia adalah Jelita, semenjak kejadian di siram air keras, wajahnya tidak bisa pulih lagi seperti semula, Dokter sudah menganjurkan untuk operasi, tapi dari mana dia mendapat biayanya? untuk biaya perawatan lukanya saja ia terpaksa harus menjual dirinya pada istri dari pria yang sudah menghamilinya dulu.
Karna ancaman Bu Sari pada Surya suaminya, Dan ternyata ia tidak membawa bukti sama sekali. wanita malah balik mengancam Bu Sari akan menjebloskan mereka ke penjara telah mencemarkan nama baik suaminya.
Setelah melalui perundingan yang alot. Akhirnya wanita itu dan suaminya menarik ucapannya dengan satu syarat. Jelita dan ibunya harus bekerja di rumah mereka selama setahun tanpa gaji.
Karna takut ancaman akan di jebloskan ke penjara atas tuduhan pencemaran nama baik. Jelita dan ibunya terpaksa menerima perjanjian itu.
Buat hati ingin memeras ayahnya Zahra, malah di sendiri yang terjebak.
"Bu, kaki ku pegal sekali, dari tadi nenek lampir itu tidak membiarkanku istirahat sedikitpun. Selalu teriak minta ini lah, minta itu lah.." keluh Jelita pada ibunya yang sedang memasak. Art yang asli dirumah itu malah di suruh istirahat oleh nyonya rumah.
"Yang sabar... Liat saja, kalau semua ini sudah berakhir. Kita akan balas mereka!"
Bu Sari begitu geram.
"Eh, jangan ngerumpi terus, nanti nyonya marah lho... Berani?? " ledek salah seorang Art di rumah itu.
"Lah, kita pembantu terus mereka apa dong?"
Jawab mereka.
Bu Sari sudah mengayunkan sendok sayurnya hendak memukul dia orang yang meledek Jelita, tapi suara nyonya Surya terdengar nyaring melengking memekak kan telinga.
"Jelita..!"
"Tu, kan Bu.. Nenek sihir itu pasti mau menyiksaku lagi.
Jelita bergegas kedepan.
Ia melihat nyonya Surya begitu marah menatapnya.
"Apa lagi kesalahanku??" keluh Jelita dalam hati.
"Kau sengaja, ya bikin aku malu di depan teman-teman ku? Kenapa jus ini rasanya asin? Matamu masih waras, kan membedakan gila dan garam?" bentak ya dengan mata melotot sempurna.
Jelita hanya terdiam. ia tidak tau tentang jus yang tersaji itu. Ia hanya bertugas membawanya kedepan tadi.
Ia teringat kejadian beberapa tahun silam saat Anisa menyajikan kopi untuk Aby dan rasanya asin. Itu karna ulahnya dan Bu Sari.
Saat itu ia juga meledek Anisa dengan kata-kata yang sama yang di ucapkan nyonya Surya padanya barusan.
"Malah bengong! Dasar wanita buruk rupa!" nyonya pemarah itu semakin emosi. Dia menyiramkan jus itu ke wajah Jelita hingga cadar yang di pakainya terlepas.
Seketika sebelah wajahnya yang mengerikan langsung terpampang jelas. Beberapa Ibu -ibu yang hadir di sana langsung berteriak kaget.
"Hii.. Menjijik kan, darimana kau dapat pembantu buruk rupa ini, jeng?"
"Iya, kalau mau, aku bisa carikan yang lain yang lebih normal tentunya. Lihat tuh wajahnya, seperti hantu..." mereka bergosip ria sambil memandang jijik pada Jelita.
Jelita hanya bisa menahan air matanya. Perlakuan seperti itu tidak pertama kali ia terima.
karenanya ia memilih menutupi wajahnya dengan cadar agar orang tidak ketakutan dan jijik melihatnya.
"Tepat pada saat Jelita sedang di permalukan. Pak Surya datang.
Ia menegur istrinya dengan sopan
"Ma, jangan keterlaluan. Sudah cukup mereka mau menjadi pembantu di sini tanpa gaji pula. Jangan tambah lagi hukuman mereka."
Nyonya itu mengangkat tangannya.
Ia merasa tidak suka karena suaminya berusaha membela Jelita.
"Papa diam! Di rumah ini siapa yang ambil keputusan?"
Ia menantang suaminya.
"Mama..." jawab pak Surya pelan.
"Jadi apapun yang aku lakukan pada wanita ****** ini, jangan pernah ikut campur! Dan jangan lupa.. Karna siapa jabatan mu tinggi saat ini?" bisiknya di ujung kalimat.
Pak Surya terdiam.
"Cepat kau ke belakang! para tamuku bisa muntah melihatmu lama-lama di sini."
Jelita berlalu kebelakang. Bu Sari yang menyaksikan kejadian itu tidak bisa membela putrinya. Hatinya begitu sakit saat Jelita di permalukan.
Jelita menghempaskan tubuhnya di ranjang kecil yang biasanya mereka pakai tidur bertiga.
Mereka tidur di kamar sempit di dekat gudang. Kasurnya sangat padat.ckadang Zahra menangis karna merasakan sakit di punggungnya.
Si nyonya besar yang angkuh itu sedikitpun terenyuh melihat Zahra yang masih kecil.
Dalam bayangannya Zahra adalah hasil selingkuhan dengan suaminya.
Karna itulah dia sangat membenci Jelita ataupun ibunya.
Walaupun secara pribadi pak Surya Sudah mengakui pernah melecehkan Jelita.
Si nyonya sakit hati. Ia lampiaskan kekesalan nya dengan menyiksa batin dan fisik Jelita.
Kadang kala, Jelita berpikir kalau semua yang di alaminya saat ini adalah karma karna telah menipu Aby dan menyiksa batin Anisa. Tapi ia menepis perasaannya itu. "Tidak ada karma apa pun. Nasib baik saja yang tidak pernah berpihak padaku. Tuhan memang tidak adil!!"
.