
Kesibukan terlihat di kediaman Anisa. Para sanak keluarga sedang mempersiapkan pernikahan Anisa dan ustadz Yahya.
Semua bersuka cita. Begitu juga dengan Yahya. Hal yang paling di impikannya dari
dulu adalah menikahi Anisa. Dan hari itu tinggal beberapa jam lagi.
Namun sebenarnya yang terjadi, dia merasa bimbang. Bagaimana ia akan bahagia di atas pengorbanan pria lain?
Begitu pun dengan Anisa, dia berusaha mengukir senyum di depan semua orang, padahal hatinya merasa sunyi.
Baik Yahya maupun Anisa sama-sama berusaha menyembunyikan perasaan mereka masing-masing. Mereka bersikap seolah benar-benar bahagia dengan pernikahan itu.
Satu sama lain bersikap seolah saling menunjukkan perasaan cinta.
Ijab kabul tinggal beberapa menit lagi. Yahya masih gelisah di kamarnya.
"Apakah aku harus melanjutkan pernikahan ini?"
Seorang kerabat datang memanggilnya.
"Ustadz, pak penghulu sudah menunggu."
"Oh, iya. Saya segera datang."
Yahya beranjak keluar dari kamarnya.
Ia memasuki ruangan dengan gugup.
Ia melihat Anisa terlihat begitu anggun dengan balutan kebaya putihnya.
Acara yang menegangkan itu berlangsung lancar.
Suara Yahya bergetar saat mengucapkan dua kalimat syahadat.
Air mata Anisa langsung luruh. Kini ia sudah sah menjadi istri pria disampingnya.
Ritual pernikahan yang sangat menguras tenaga dan emosi itu membuat Anisa kecapean. Malamnya, ia berbaring di ranjangnya yang sudah di hias sedemikian rupa.
Anisa kembali terbayang ia pernah ada di detik itu beberapa tahun yang lampau.
Tapi bedanya, saat itu ia menunggu dengan hati berdebar kedatangan seorang pria yang bernama Abyaksa pratama, seorang pria tampan dan baik hati yang sudah merebut hatinya.
Anisa mendesah lirih. Dimana kau Mas? Kenapa kisah kita begitu memilukan? Kenapa kau tega menceraikan ku, itupun lewat Imran. segitu bencinya kah kau padaku sehingga tidak Sudi melihat wajahku lagi?
Yahya memasuki kamar Anisa dengan langkah ragu. ia tertegun mendapati Anisa sedang berbaring sambil melamun.
Melihat kedatangan Yahya Anisa langsung bangkit. Ada perasaan canggung di hatinya
Ia mencoba berdamai dengan membujuk hatinya.
"Bersikaplah tenang,Anisa.. Dia adalah imam hidupmu sekarang. Kalian sudah terikat sebuah pernikahan. Dia suami mu!"
"Kak..." sapanya dengan kikuk. suasana menjadi kaku. Tak seperti keseharian mereka yang akrab seperti kakak adik.
Perlahan Yahya menghampirinya, ia mengangkat dagu Anisa menatap wajahnya cukup lama.
Siapa yang tidak bahagia bisa bersama dengan gadis impiannya? Bahkan wanita yang mengisi hari-hari dan pikirannya itu kini pasrah di depan matanya. Apalagi sekarang dia sudah halal untuk di sentuh.
Tapi Yahya tau, ia bisa melihat kegelisahan di mata Anisa. Ia juga tau kalau wanita itu belum bisa sepenuhnya bisa menerima kehadiran dirinya.
"Nisa, aku lelah sekali, pasti kau juga merasakan hal yang sama. Istirahatlah..!"
Anisa hanya terbengong mendengar nya.
Ia sempat berpikir Yahya akan meminta haknya malam itu.
Tapi nyatanya, dia langsung merebahkan tubuhnya di samping Anisa dengan kaku.
Tidak ada perbincangan lagi. Tapi Anisa merasa yakin kalau Yahya juga belum bisa memejamkan mata seperti dirinya. entah apa yang di pikirkan nya.
Akhirnya malam itu berlalu tanpa terjadi apapun di antara mereka.
Keesokan harinya, Anisa melayani Yahya seperti seorang istri pada umumnya.
Ia menyiapkan sarapan dan lain sebagainya.
Yang paling bahagia adalah Al. Ia gembira Karna sudah mempunyai seorang ayah.
Ia membayangkan teman-teman nya berhenti meledeknya seperti biasa, karna tidak punya ayah.
"Hari ini Al mau di antar ayah ke sekolah. Boleh, Bunda?" matanya menatap penuh harap.
"Tanya pada ayah, bisa nggak dia ngantar Al?."
"Pasti, dong sayang. Jagoan ayah..!" ucap Yahya tersenyum sambil mengusap rambut
Al dengan penuh kasih sayang.
Anisa terharu.
"Maafkan aku, kak.. Tapi aku janji akan berusaha memberikan semua hak. Yang pantas kau dapatkan. Walaupun itu butuh waktu." ucapnya dalam hati.
***
Sementara itu, Jelita yang mendengar kabar tentang Anisa sudah menikah lagi, merasa tidak senang.
Hatinya merasa terbakar.
Ia protes pada nasibnya sendiri.
"Apa sih kelebihan wanita penyakitan itu? Setelah lepas dari Aby, kini dia mendapatkan laki-laki baik seperti Yahya. Sedangkan aku? Aku harus puas hanya dengan menjadi wanita simpanan." ia menggerutu kesal.
Ya, dengan profesinya yang sekarang, Jelita selalu merasa was-was, sewaktu -waktu istri sah dari pria yang di kencaninya bisa saja datang dan melabraknya.
Jelita mulai memikirkan cara untuk menjatuhkan Anisa.
"Aku harus menguras harta pak Surya dulu, Setelah hidupku mapan, aku akan membalas Mbak Anisa." tekad Jelita.
Ia mulai menjalankan aksinya.
Ia menelpon pria hidung belang itu dan merayunya.
"Mas, malam ini kita jadi ketemu, kan?" rayunya dengan suara merdu mendayu.
"Tentu, kita bertemu di tempat biasa, ya!"
Angannya sudah melayang jauh.
"Aku harus mencoba minyak urut dari temanku biar tambah tokcer."
Dengan mengendap pria itu mengeluarkan sesuatu dari tas kerjanya.
Sang istri yang sedang mengawasinya memandangnya geram.
"Awas saja kalian..!" ucapnya dengan marah. Dan saat sang suami lengah,
istrinya menuangkan bubuk cabe kedalam botol milik suaminya.
Diam-diam si istri mengikuti suaminya itu.
Ia bertambah geram saat suaminya ternyata pergi ke hotel dan bertemu Jelita.
"Dasar tua bangka, Sudah bau tanah juga masih main perempuan!" ucapnya geram.
Jelita sudah siap menunggu dengan senyum genitnya.
"Maas.. Kenapa lama sekali...?"
"Aku masih mencari alasan pada istriku." jawab pria itu sambil celingukan kanan kiri.
"Aman...!" ucapnya sambil menutup pintu.
Pria itu langsung merangkul Jelita.
'Sebentar dulu, jangan langsung main tembak saja, kurang seru, Mas." Jelita mendorong tubuh pria itu ke kasur.
'Mas, rasanya aku capek jalan kaki terus"
"Lalu?
"Aku mau minta motor, dong!"
"Motor? gampang..! Yang penting kau kasi servis yang memuaskan." pria itu mulai menyerangnya dengan bringas.
Di tengah permainan, Si pria merasa ada yang aneh, begitupun Jelita. Ada rasa panas membakar daerah intim mereka.
"Mas kau apaaan sih? Panas!!" jerit Jelita menghambur ke kamar kecil.
Si Pria merasa heran, bukannya tambah perkasa malah dapat bencana memakai minyak oles itu. Ia mengipasi burungnya sambil mengerang menahan panas.
Jelita masih seperti cacing kepanasan. Ia mondar mandir sambil mengomel tiada henti.
Saat itulah si istri langsung menggedor pintu.
dengan cerdiknya dia membawa kamera dan beberapa orang sebagai saksi.
Petugas membuka pintu kamar hotel itu dengan kunci serep. Sang istri memasang kamera kearah mereka.
Jelita langsung menarik selimut besar untuk menutupi tubuhnya yang polos.
"Apa-apaan ini? siapa kalian?" Jelita begitu panik.
"Ma, hentikan! Apa yang kau lakukan? papa bisa di pecat kalau atasan melihatnya."
Si pria gendut itu berlutut memohon ampun pada istrinya.
"Aku tidak perduli! Mau di pecat atau tidak, aku tidak perduli. Dasar tua bangka."
"Mas, kenapa kau diam saja? Usir mereka!"
teriak Jelita.
"Hai wanita ******, Tutup mulutmu! Sudah ketangkap basah masih berani bersuara? Dasar wanita murahan, sudah putus ya urat malu mu?" wanita itu menyiram Jelita dengan cairan yang sudah di siapkannya. Ia begitu geram.
Seketika Jelita berteriak kesakitan. Ia memegangi wajahnya yang terasa panas membakar.
"Rasakan kau j***ng. Dengan begini tidak akan ada lagi pria yang mau padamu."
Rupanya si ibu terlah menyiapkan air keras untuk Jelita.
Semua yang menyaksikan di situ terkesiap. mereka tidak menyangka kalau si ibu akan melakukan hal itu.
Jelita berteriak teriak minta tolong. si ibu terlihat puas menyaksikannya.
"Itulah balasan untuk perempuan perusak rumah tangga, sekarang tidak ada lagi yang bisa dia banggakan darinya." ucapnya tenang.
Sama sekali tidak ada penyesalan di wajahnya.
Dengan tenang dia menyaksikan suami dan selingkuhannya di giring petugas.
Jelita langsung mendapat perawatan seadanya. Sebelah wajahnya rusak oleh air keras. Ia mengerang kesakitan. Bu Sari yang menungguinya ikut sedih sekaligus malu. Bagaimana tidak? banyak wartawan yang meliput kejadian itu.
Itu karma pertama yang di dapat Jelita...