
Melihat kerenggangan di antara Aby dan Anisa, membuat Jelita bersorak dalam hati.
Diam-diam dia mengambil keuntungan dari keadaan itu.
Bunda, tolong temani Al mandi, ya!" pinta Al suatu sore.
Anisa yang merasa lemas masih berbaring di tempat tidur.
"Iya, sayang. Bentar lagi bunda temani mandi," Anisa bangkit dari tempat tidur dengan malas.
Jelita yang kebetulan mendengar, segera menghampiri mereka.
"Biar aku saja, Mbak. Mbak Anisa teruskan istirahat saja."
"Tidak, Lita. kamu ada Zahra, nanti dia sendirian." tolak Anisa dengan halus.
"Zahra lagi bobok kok. aman." ucapnya memaksa.
"Al mandinya sama ibu aja, gimana? biarin Bunda istirahat." bujuknya pada Al.
Al mengangguk mengerti.
Jelita merebahkan tubuhnya lagi. Rasa lemas dan kantuk yang menyerangnya begitu hebat.
Ia kembali berbaring, ia juga tidak mengerti dirinya sangat mudah tertidur.
Aby pulang sambil memanggil Al dan Zahra dengan gembira.
Ia kaget mendapati Zahra sedang menangis sendirian di ruang tamu.
"Pada kemana sih, semuanya?" ucapnya heran.
Ia mengambil Zahra dari keretanya.
Aby mencari keberadaan Jelita sambil mengendong Zahra.
Sejenak ia tertegun saat melihat Jelita sedang menemani Al mandi.
"Anisa kemana saja, kenapa harus jelita yang harus mengurus Al juga?"
Aby menghampirinya dengan wajah tidak senang.
"Lita, Zahra menangis sendirian di depan, yang lain pada kemana?"
Jelita memasang wajah lelah.
Ibu sedang ke warung sebelah. Bik Iroh sedang mengantar iuran ke pak RW, dan mbak Anisa aku tidak tau, karna aku lihat Al merengek minta di awasi mandinya. makanya aku tinggalkan Zahra, lagian tadi dia anteng kok Mas." jawabnya beralasan.
"Bunda kemana sayang?"
Aby bertanya pada Al dengan lembut.
"Tadi di kamar sedang tidur?" jawab Al polos.
Aby tidak tahan lagi, ingin sekali rasanya memarahi Anisa saat itu. Namun ia berusaha menahan diri.
Aby menyerahkan Zahra pada ibunya, lalu memakaikan handuk pada Al.
Saat itu Anisa memaksakan diri untuk bangun. Ia menyiapkan baju buat Al di kamarnya.
Ia terkejut saat melihat Aby datang menuntun Al dengan pakaian kantor masih lengkap.
"Mas Aby?" ucapnya heran.
"Al? tadi, kan mandi sama ibu? Kok sekarang sama ayah?" matanya menatap Al.
"Dek Zahra nangis, ibu gendong Dek Zahra." jawab Al jujur.
"Maaf, Mas. Aku ketiduran." suara Anisa penuh penyesalan.
"Harusnya kau pikirkan Jelita yang punya bayi, masa dia harus mengurus dua anak." jawab Aby tanpa senyum sedikitpun.
Jantung Anisa berdenyut nyeri.
Terbayang kebahagiaan yang telah berlalu bersama keluarga kecilnya. Aby yang selalu tersenyum setiap kali menatapnya. Aby yang selalu menyapanya dengan suara lemah lembutnya.
Tapi kini semua tinggal kenangan.
Aby yang kini sudah jauh berubah. Anisa sadar, semua itu karena keadaan yang ia ciptakan sendiri. Penyebab Aby berubah justru karna rasa cintanya pada Anisa yang begitu besar. Ia cemburu melihat kedekatan istrinya dengan ustadz Yahya, menjadi semakin parah karena Anisa mengipasi nya hingga menjadi bara yang lebih besar.
Sore itu. Anisa sengaja mendekati Aby yang sedang duduk menikmati secangkir kopi.
"Mas, aku mau minta ijin menjenguk Abah.."
Aby terdiam sejenak. Sebenarnya ia tidak rela membiarkan Anisa pergi kesana. Karna itu berarti ia memberi kesempatan pada Anisa dan Yahya bertemu.
Tapi Aby tidak bisa egois melarang Anisa bertemu Abahnya.
"Jangan alih alih menjenguk Abah, niatmu malah yang lain." sindir Aby.
"Tidak baik berprasangka buruk pada istri sendiri."
"Aku antar!" jawab Aby ketus.
Anisa tidak menolaknya.
Ia pergi ke kamar untuk bersiap. Ia menggunakan gamis warna biru, dan hijab yang berwarna senada. Anisa tampak sangat anggun. Aby sangat menyukai warna itu. bahkan hampir semua pakaian Anisa Aby lah yang memilihkannya.
Aby yang ikut masuk ke kamar, sejenak terpana melihat istrinya. Walaupun kini Anisa terlihat lebih kurus, tapi tetap saja Anisa sangat cantik di matanya.
Meskipun Jelita termasuk cantik juga, tapi kecantikan Anisa lebih menarik baginya.
"Mas, kenapa? Ada yang salah dengan pakaianku?"
Aby tergagap.
"Iya, itu terlalu jelek, sebaiknya kau ganti saja dengan yang lain." ucapnya tegas.
Anisa mematut dirinya di depan kaca.
ia merasa tidak ada yang aneh ataupun jelek dengan busananya saat ini.
Tapi karna Aby yang meminta, ia pun melakukannya.
Anisa memakai gaun yang berwarna peach.
Tapi tetap saja ia terlihat cantik di mata Aby. Aby merasa tidak rela Yahya ikut menikmati kecantikan istrinya.
"Itu juga jelek. Ganti yang lain!"
Anisa merasa heran. baru kali ini Aby begitu selektif memilihkan gaun untuknya, padahal dia hanya pergi kerumah Abahnya saja.
Lalu Anisa mengerti sesuatu.
Ia tau, Aby melakukan itu semua karena merasa dirinya akan bertemu ustadz Yahya.
"Walaupun kau berusaha menutupi perasaanmu, aku tau kau sangat perduli padaku, Mas." ucapnya dalam hati.
Jelita merasa jengkel karena melihat Aby terlihat mencuri-curi pandang pada Anisa.
"Aku tau, Mas Aby hanya pura-pura marahnya pada Mbak Anisa. Padahal hatinya begitu perduli." ia menggerutu kesal.
Di saat mereka ingin berangkat. Tiba-tiba Jelita mencegahnya.
"Mas, tolong anterin aku ke bidan, Zahra muntah terus dari tadi. Mulanya aku biarin karna aku pikir akan membaik sendiri, tapi nyatanya semakin menjadi." kata Jelita sambil menenangkan Zahra dalam gendongannya.
Aby merasa serba salah.
Ia memandang Anisa seolah minta pendapat.
"Kau antar saja Jelita, Zahra lebih penting!" kata Anisa tenang.
Aby merasa tertampar oleh ucapan Anisa.
tapi sekaligus tertantang juga.
Ia menganggap persetujuan Anisa karna gembira dirinya tidak jadi ikut. Dengan begitu ia bisa leluasa bertemu kekasihnya. Itu versi Aby.
Dengan cepat ia meraih Zahra dari gendongan Jelita.
"Ayo, Lita..!"
Akhirnya Aby mengantar Jelita pergi.
Anisa memandanginya dengan bibir yang tersenyum. Namun hatinya menangis.
Aby merasa senyuman Anisa adalah senyum kemenanganya.
Perasaan Aby terus tidak tenang. Ia membayangkan Anisa dan Yahya bebas mengobrol.
"Mas Aby kenapa gelisah seperti ini?" tanya Jelita.
Aby menyeka keringat yang tiba-tiba saja keluar.
Jelita merasa curiga. Padahal ruangan tempat mereka berada ber AC, tapi Aby bisa kegerahan seperti itu.
Sampai di Rumah pun Aby masih gelisah.
Ia mondar mandir di depan pintu.
Ponselnya tergeletak begitu saja di meja ruang tamu.
Sebuah panggilan dari Anisa menarik perhatian Jelita.
Jelita membiarkannya hingga mati sendiri.
Tak berapa lama kemudian, pesannya masuk.
(Mas, bagaimana keadaan Zahra? Kalau sudah baikan, Mas Aby tolong datang, Abah kurang sehat, kami sedang dirumah sakit)
(Tolong segera datang saat kau membaca pesanku ini, seberapapun marahnya kau padaku, hadirlah di sisi Abah saat ini)
Seteah berpikir sejenak, Jelita menghapus kedua pesan dari Anisa itu.
"Rasain..! Kau selalu menjadi yang nomor satu buat Mas Aby. Sekarang kita lihat apa yang terjadi?"
Jelita menghampiri Aby uang terlihat gelisah.
"Kalau merasa gelisah seperti itu, mendingan Mas Aby samperin mereka, jangan kasi kesempatan mereka buat berduaan." bisik Jelita.
Hasutan Jelita membuat Aby semakin marah.
Namun ia merasa gengsi karna Anisa tidak memintanya datang.
"Buat apa aku datang kesana, Anisa saja tidak memintaku datang." gumam hatinya.
Sampai pukul sembilan malam Anisa tidak berkirim kabar lagi. Aby terus memeriksa ponselnya. Tak ada satupun pesan atau panggilan dari Anisa.
Aby merasa cemas dan gelisah menunggu di teras.
"Mas, ada pesan dari Mbak Anisa, Abahnya meninggal di rumah sakit." Aby begitu kaget mendengar hal itu.
"Abah ..?"
Dalam hati ia sangat menyesalkan kenapa Anisa tega tidak memberi taunya. Ia alah mengirim pesan lewat Jelita? Lalu aku siapanya? Hati Aby berkecamuk oleh banyak pertanyaan.
Dukungannya ya,