
"Anisa, Aby sudah sadar, dia mencari mu!" Imran datang tergopoh mendekati Anisa.
"Mas, kau sudah sadar..?" Anisa mendekatinya.
Tangan Aby menggapai kearah Anisa,
"Maafkan aku, semua salahku. Apa yang menimpa ustadz Yahya adalah kesalahanku." ucapnya tergugu.
"Tenang, Mas. Semua sudah terjadi."
Anisa melirik Yahya yang masih tertidur pulas.
"Semua di luar kendali kita, semua sudah takdir."
"Aku ingin meminta maaf pada ustadz Yahya..."
"Dia masih tidur, Mas. Nanti kalau sudah bangun kalian bisa bicara."
"Kenapa kau tidak bilang kalau ingatanmu sudah kembali?"
"aku tidak mau membebani mu, memang aku yang salah. Karna itu aku akan mengakhiri semuanya.
Anisa menatap Aby yang tidak berdaya dengan wajah tidak bisa di gerak kan.
"Kau sudah menjual sebelah ginjal mu untuk pengobatanku, aku akan merawat mu!"
Anisa menghapus air yang keluar dari mata Aby. Walaupun air matanya sendiri tak bisa di bendung.
"Jangan, Anisa.. ! Tugasmu sekarang adalah berbakti pada ustadz Yahya. Aku bukan siapa siapa mu lagi." tatapan Aby begitu hampa.
"Kita memang sudah bukan suami istri lagi. Tapi kau adalah ayah dari anak ku, anak kita." jawab Anisa.
Yahya yang sebenarnya sudah bangun dan mendengar percakapan itu, ia menahan sesak di dadanya. Ia sengaja berpura-pura masih tidur.
"Aku harus mengambil keputusan. Aku tidak akan jadi penghalang lagi buat mereka." ucapnya dalam hati.
Setelah cukup lama bertangis tangisan dengan Aby, Anisa minta ijin keluar.
Hal itu di manfaatkan Yahya untuk bicara.
"Pak Aby.. " panggilnya pelan.
Aby hanya bisa meliriknya sedikit, karna lehernya memakai gift.
"Ustadz, kau sudah bangun? Anisa sudah menceritakan semuanya. Aku sangat minta maaf dan sangat menyesalkan semua yang terjadi... Kau terpaksa harus kehilangan sebelah kaki mu karna menolongku."
"Tidak ada gunanya di sesali, Pak. Yang sudah terjadi tidak mungkin kembali seperti semula lagi. Keadaan kita bertiga memang rumit..." ucap Yahya.
"Kau tidak bisah khawatir, ustadz.. Aku akan pergi dari hidup kalian. Kalian akan hidup tenang."
Yahya menggeleng.
"Tidak, pak Aby. kau sudah terlalu banyak berkorban, sekarang giliranku."
"Apa maksudmu?"
"Aku akan menceraikan Anisa, kalian harus bersatu kembali. kalau kau menolak, aku akan terjebak dalam rasa penyesalan seumur hidup."
"Jangan lakukan itu, kau tidak perlu memikirkan aku, pikirkan kalian akan punya bayi.."
"Iku tidak lupa, memang harus menunggu sampai bayi itu lahir dulu baru aku bisa menjatuhkan talak."
"Aku tidak setuju dengan ide gila mu itu." jawab Aby dengan suara sedikit tinggi.
"Tolong lah jangan menghalangiku, dan berjanjilah, rahasia ini hanya di antara kita berdua saja..."
Yahya memohon dengan memelas.
Aby tidak bisa menolak ataupun menyanggupinya.
Pembicaraan mereka terhenti karena Anisa dan Imran datang.
"Kalian sudah bangun? " sapa Imran.
Anisa menatap kedua pria itu satu persatu.
Ia merasa sedikit curiga. Apa yang sudah mereka bicarakan?
Suasana terasa hening dan kaku...
"Oh, ya.. Kalian bosan, kan di kamar ini? Kalian boleh kok jalan jalan kedepan tentunya dengan pengawasan kami.
Imran berusaha mencairkan suasana.
Seorang perawat membawakan sebuah kursi roda untuk Yahya. Sedang Aby di tuntun oleh Imran.
"Minggir..!" tiba-tiba Rosma datang dan menyuruh Anisa minggir.
"Yahya biar sama Bibi, saja." ucapnya sinis.ia langsung mengambil alih kursi roda Yahya.
Anisa tidak melawan. Ia mengikuti Rosma yang mendorong Yahya dengan pandangannya.
"Siapa dia, Nis?" Aby merasa penasaran.
"Dia Bibinya kak Yahya. Dia sangat membenciku, dia juga beranggapan kalau aku lah penyebab semua ini."
"Yang sabar ya.. Semua pasti ada hikmahnya."
Aby berusaha membesarkan hatinya.
"Biar aku saja yang menemani Mas Aby.." pintanya pada Imran.
"Mas, kenapa kehidupan kita jadi seperti ini, ya..? Dulu kita sangat bahagia.." ucap Anisa sambil menuntunnya.
"Andai saja aku tidak bertemu Jelita dan menikahinya..." sesal Aby.
"Kadang aku berpikir, takdir kita sangat kejam. Tapi aku teringat wejangan Abah. Allah tidak akan memberi ujian di luar kemampuan umatnya."
Aby terdiam lagi.
"Kandunganmu sudah berapa bulan?" tiba-tiba saja Aby menanyakan itu.
Anisa merasa tidak enak.
"Maafkan aku, ya Mas. Saat itu aku merasa bingung. kau menceraikan diriku lewat Mas Imran lalu menghilang. Aku merasa putus asa, ditambah gunjingan orang tentang ku dan kak Yahya yang selalu bersama padahal kami tidak ada hubungan.
Di tengah kegundahan, akhirnya aku menerima pernikahan itu.
Dan kau tau, selama dua bulan kami menikah, kak Yahya tidak pernah menyentuhku. Dia menghormati ku dan merasa sangat bersalah padamu. itulah sebabnya dia tidak menyentuhku."
Aby terdiam menyimak. Anisa melanjutkan kisahnya.
"Tapi suatu malam.. Bibi memberi kami sebuah ramuan entah apa, dan kejadian yang tidak kami inginkan pun terjadi. Kami sangat menyesal, Mas, Percayalah!"
"Kau tidak perlu menyalahkan siapapun, di antara suami istri hal itu sangat lumrah terjadi. Seperti halnya aku telah mengkhianatimu dengan Jelita, walau kau tidak bermaksud, tapi Allah memberikan jalan agar aku juga merasakan apa yang sudah kau rasakan saat itu, Semuanya adil Nisa."
"Kau tidak boleh sekalipun merasa terbebani dengan bayi dalam perutmu, dia adalah anugrah, anugrah terindah. Kau ingat bagaimana kita sudah kehilangan calon anak kita? Mungkin Allah menggantinya dengan cara ini."
Anisa terdiam.
"Tapi yang aku inginkan, kau adalah ayah dari anak anak ku, Mas!" ucap Anita dalam hati.
Dari tempat yang agak jauh, Yahya sedang mengawasi Anisa dan Aby yang sedang bicara.
Hatinya merasa cemburu. Tapi ia mencoba menenangkan hatinya yang kepanasan.
"Tenanglah, Yahya... Ini baru sebuah awal, kau harus terbiasa. Belajarlah ikhlas, termasuk ikhlas melepas Anisa."
"Bibi sudah bicara pada Dokter. Kita akan pulang besok. Biar Bibi merawat mu di rumah saja. Daripada setiap hari kau makan hati karna melihat pemandangan yang tidak mengenakkan disini!" ucapnya sinis sambil melirik kearah Anisa dan Aby.
Yahya tidak menjawab. Ia juga mengerti, semakin lama di rawat, akan semakin banyak pula harus keluar biaya.
"Bi, aku mau kembali ke kamar.." ucapnya, Yahya juga tampak kesulitan menyesuaikan diri dengan kursi rodanya.
Setelah merasa cukup lama di luar, Aby mengajak Anisa untuk masuk kembali.
Rosma menyambut mereka dengan senyuman sinis nya.
"Suami di cuekin, Mantan di apik apikin.. Jaman apa sekarang ini?" ucapannya jelas menyindir Anisa.
"Si mantan juga, sudah keadaan kayak gitu, ngga sadar diri juga."
Aby hanya mengucapkan istighfar.
"Bi, mendingan Bibi pulang kalau pahanya akan membuat kegaduhan.." bisik Yahya.
Rosma tidak perduli.
Ia terus saja mengoceh.
'Kasihan sekali nasib keponakanku, mencintai mati-matian, tapi akhirnya hanya di acuhkan."
"Bi, tolong. Aku mengaku bersalah, tapi jangan pojok kan aku seperti ini. aku juga manusia biasa yang punya batas kesabaran.."
Anisa merasa kesabarannya benar-benar di uji oleh Rosma. Ia pun mulai geram.