KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 52


Di sebuah klinik persalinan. Aby menunggu dengan gelisah. Beberapa kali ia menelpon Yahya untuk memberitahu tempat bersalin nya. Tapi tidak bisa tersambung.


Ia mondar mandir tidak karuan.


Ia juga sempat di tawari masuk untuk menemani Anisa di dalam, tapi dengan menyesal ia menolak. ia sadar dengan batasan yang harus di jaganya.


Walaupun sempat merasa kecewa, tapi Anisa berusaha mengerti.


Tiga puluh menit kemudian, terdengar suara lengkingan tangis seorang bayi.


Dada Aby berdebar.


Anisa sudah melahirkan seorang bayi. Ia mengucap syukur.


Seorang perawat mempersilahkannya untuk melihat kondisi ibu dan bayi nya.


"Sebentar, saya menunggu suaminya dulu "


"Jadi, bapak ini bukan suaminya?" perawat itu menatap heran.


Aby menggeleng. Sambil matanya terus menatap ke jalanan,


berharap Yahya segera muncul disana.


Karena menunggu cukup lama dan Yahya tidak datang juga. Aby memberanikan diri untuk masuk.


Ia melihat Anisa sudah di selimuti.


"Selamat, ya..! Kau sudah menjadi seorang ibu dari dua orang anak.." ucap Aby pelan dengan senyum mengembang.


"Aku juga sudah menjadi istri dari dua orang pria ..." jawab Anisa. Suaranya terdengar kecewa.


Aby mengalihkan pandangannya kearah bayi mungil di tangan perawat.


"Bayi nya perempuan. dia sangat cantik seperti ibunya.." puji perawat itu.


"Iya, dia Peri kecil yang sangat cantik." ucap Aby menatap Anisa. Aby menyentuh pipi mungil itu.


"Silahkan di azan kan dulu, pak!"


Aby merasa ragu. Apa Yahya tidak akan merasa di langkahi kalau dia yang azan kan anaknya?


Anisa mengerti dengan kegalauan Aby.


"Iya, Mas. Kalau menunggu Kak Yahya terlalu lama." ucap Anisa meyakinkannya.


Dengan tangan gemetar, Aby mengazan kan putri kecil itu.


"Terima kasih, Mas..." Anisa begitu terharu. dia menerima bayinya untuk di susui


Yahya datang dengan Rosma. Mereka tergopoh membayar taksi dan masuk ruangan Anisa.


"Bayi mu sudah lahir, kau harus super ketat menjaganya, jangan kasi ijin sembarang orangenyenyuhnya..." ucap Rosma sambil mendorong kursi Yahya.


Yahya sangat gugup membayangkan bayi kecil dalam pangkuannya.


Saat pintu terbuka, mereka melihat Aby yang sedang bicara dengan Anisa.


"Anisa, kau sudah tidak apa-apa?"


"Kenapa tanya keadaannya? Tanya anak mu?" ia menyenggol tangan Yahya.


Mata Rosma membulat saat melihat bayi mungil tergolek di bok bayi.


"Anisa dan bayi nya baik-baik saja."


Kata Aby sambil menggeser duduknya.


"Aku tidak apa-apa, kak. Tapi untung ada Mas Aby, kalau tidak? Aku tidak tau bagaimana kelanjutannya." ucap Anisa menggeleng.


"Terima kasih, pak Aby..." ucap Yahya.


Aby membalasnya dengan senyuman.


"Yahya, lihat, anakmu sangat cantik. Kulitnya putih bersih, wajahnya bulat, hidungnya mancung bibirnya kecil merekah. tentu saja dia cantik, kan nurun neneknya..." ucapnya bangga.


Yahya mengamati anaknya. Ia memegang jemarinya yang lembut.


Yahya masih terpana oleh wajah putrinya saat Rosma menyenggol lengannya.


"Cepat kau azan kan!" Yahya tidak begitu perduli, ia terus saja mengagumi mahluk kecil di depan matanya.


Ia erasa tak percaya, benih yang hanya sekali di tanamnya di rahim Anisa berhasil dan bisa berwujud seorang malaikat kecil yang begitu cantik.


Rosma kembali menyentuh lengannya.


"Maaf, Bi. Tadi sudah di azan kan oleh Mas Aby." kata Anisa.


"Apa? kenapa harus dia? Ayahnya kan ada." Rosma tidak terima.


"Ya, tidak bisa begitu. Tidak sah lah, ayo Yahya..!"


Ia hendak mengambil bayi itu dari bok, tapi perawat melarangnya.


"Maaf ibu, bayinya kami bawa sebentar."


"Tapi sus, ini ayahnya, dia belum mengazan kan putrinya, lho." Rosma tetap kukuh.


"Setau saya sudah, kok. Di azan kan oleh siapa saja itu tidak masalah, yang penting lafadz nya sudah benar tidak?" perawat itu membawa bayi nya pergi.


"Sudahlah, Bi. Biar saja, kan pak Aby sudah melakukannya."


kata Yahya.


"Tidak bisa begitu, kamu tidak tegas, makanya di injak-injak orang " Rosma begitu kesal karna sepertinya Yahya tidak terusik.


"Tolonglah, Bi. Ini rumah sakit, malu sama orang-orang." keluh Anisa. Untung saja perawat sudah pergi saat mereka berdebat.


"kau sih, enak bilang begitu. Kau sudah dapatkan yang kau inginkan, menjebak Yahya, kini mau menggaet Aby lagi. Coba kalian pikir, mana ada yang melahirkan siapa? Yang menunggunya siapa?" Rosma semakin berani bicara terang terangan.


Anisa sangat tersinggung.kalau saja tidak ingat baru melahirkan, rasanya dua sudah menyambal mulut pedas Rosma.


"Kak, kenapa kau lemah sekarang? kau tidak berani bicara di depan Bibi mu." sergah Anisa sengit kecarah Yahya.


Yahya hanya bisa terdiam.


"Sudah, sudah... Sebaiknya jangan berantem di sini Nisa, kau lupa kalau baru melahirkan,?


Tahan emosi mu sedikit. Aku akan pulang, lagian Al akan sendirian di rumah." ucap Aby mengalah.


Rosma hanya mencibir melihat kepergian nya.


Anisa memandang punggung Aby yang semakin menjauh. ia merasa kasihan pada pria itu, niat baiknya selalu di salah artikan.


"Kak, apa kalian tidak bosan selalu mencari cari kesalahan kami?" wajahnya begitu kesal menatap Yahya.


'Maaf, Nisa, bulan begitu maksudku."


"Bukan maksud? Tapi kalian sudah menyakiti perasaan Mas Aby.."


"Bela saja terus mantanmu itu. Sudah melahirkan di temani mantan, sudah mengazan kan anak juga harus mantan, masih saja bisa membela diri." sungut Rosma memancing amarah Anisa lagi.


"Owh, jadi itu yang membuat Bibi keberatan?


Lalu kemana kalian saat aku kesakitan, kemana saja saat aku membutuhkan dukungan karna berjuang di antara hidup dan mati melahirkan?"


"Jangan hanya bisa mencari kesalahan tanpa introspeksi diri. Dia? pria yang Bibi sebut sebagai mantanku, padahal apa ruginya menghargainya sedikit dengan menyebut ayahnya Al... tapi dia tidak pernah mengeluh.


Dia, pria yang Bibi sebut sebagai benalu, dia juga yang berusaha membawaku ketempat ini dengan segala keterbatasannya. Begitu kalian masih juga memandangnya dengan sinis."


Kali ini Anisa tidak bisa menahan diri lagi.


Rosma hanya menggerutu tak menentu.


Yahya hanya tertunduk malu.


"Kalau merasa tidak puas dan selalu mencurigai kami, lepaskan saja aku!"


Yahya sontak mendongak mendengar ucapan Anisa.


"Benar, kak. aku tidak tahan selalu tertekan begini."


"Aku akan memikirkan permintaan mu ini.." jawab Yahya dengan lirih.


"Tidak! Kalian ngomong apa? Berpisah? Kenapa tidak dari dulu, sekarang sudah ada putri kecil yang tidak berdosa." ucap Rosma. Suaranya sedikit membujuk.


Yahya mengusap matanya yang mulai membasah.


Melihat itu, Anisa merasa tidak tega.


'Maaf, kak. aku tidak bermaksud seperti itu, tapi tolong, tegas lah sedikit sebagai kepala keluarga."


Perawat datang membawa sang bayi.


"Ibu, tolong di susui anaknya, ya!"


Anisa menyambut putrinya dengan senyum lebar.


"Anak ini tidak pantas mendapat perlakuan yang kurang baik. dia tidak berdosa walaupun memang kehadirannya tidak di kehendaki."


Yahya ikut mengusap kepala putrinya.


'Sangat cantik seperti ibunya... Ku harap juga akhlaknya Mulya seperti mu."


"Terima kasih...' jawab Anisa singkat.


Ia masih merasa dongkol atas perlakuan yang di terima Aby.