KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 35


Jelita terus saja mengerang kesakitan.


Bu Sari tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengurangi rasa sakitnya.


Karna panik, ia sampai memarahi perawat yang menanganinya.


"Kalian bisa kerja, nggak? anak saya kesakitan, berbuat sesuatu, atau gimana kek?"


Mendapat teguran dari Bu Sari, perawat yang masih muda itu merasa tersinggung.


"Heh, buk. Kami sudah melakukan yang seharusnya kami lakukan


kalau putri ibu masih merasa kesakitan, bukan salah kami dong. Mungkin juga itu karma atas dosa-dosanya. Enak saja mengatai kami. Tau diri, dong!"


Bu Sari naik pitam. Tapi mau gimana lagi, penyebab Jelita di siram air keras sudah menyebar luas.


Banyak yang mencemooh keadaan yang menimpa Jelita.


Tapi ada juga beberapa gelintir orang yang masih berperi kemanusiaan. Mereka menaruh simpati padanya.


"Kenapa semua berbalik begitu cepat? rasanya baru saja kami bisa mengecap kehidupan yang nyaman, kenapa secepat itu kau ambil? Hidup ini sungguh tidak adil!"


Hatinya semakin miris saat melihat keadaan Jelita.


Setelah mengalami luka bakar yang serius


Di bagian wajahnya, siapa lagi yang akan meliriknya? kecantikan nya lah yang selama ini menjadi aset buat mereka untuk bertahan hidup. Zahra duduk diam di lantai sambil sesekali menengok ibunya.


 Bu Sari memandangnya, timbul ide buruknya.


"Kenapa tidak aku cari ayah kandungnya Zahra saja? mungkin ini jalan keluar dari semua kesulitan ini." pikir Bu Sari.


"Ibu sakit, Bu... Panas dan perih." rintih Jelita.


"Ya, tenanglah.. Kita akan cari jalan keluarnya."


"Ibu.. ! " seru gadis kecil itu.


Jelita tidak terlalu menggubrisnya.


Bu Sari muai mencari informasi tentang ayah kandung Zahra. Ia bermaksud menukar anak itu dengan sejumlah uang.


 "Cari siapa, Bu?" sapa seorang satpam di sebuah kantor imigrasi.


"Pak Anwar..." ucapnya ragu.


"Ibu sudah ada janji?"


"Belum, cuma ini sangat penting."


"Pak Anwar orang penting, kalau tidak ada janji, susah bertemu beliau."


Bu Sari tidak putus asa. Ia menunggu di depan gerbang.


Ketika ada mobil mewah yang datang. Ia yakin itu yang namanya pak Anwar.


Ia langsung mencegatnya.


"Anda siapa?" suaranya terdengar angkuh.


"Saya ibunya Jelita, bapak ingat gadis yang bapak lecehkan lima tahun lalu? Sekarang dia sudah punya seorang anak perempuan yang manis berusia empat tahun."


Pria angkuh itu terlihat mengingat ingat sesuatu.


"Lalu mau ibu, apa?"


Jelita dalam kesusahan, pak. Dia di rumah sakit. Berilah kami uang untuk biaya pengobatannya. Sebagai ganti bapak boleh membawa anak itu." ucap Bu Sari terbata.


Pria yang di panggil pak Anwar itu berpikir sejenak.


"saya takut ibu menipu saya, karena itu bawa anak itu dulu kehadapan saya!" perintahnya dengan sombong.


"Baiklah, besok saya akan usahakan." jawab Bu Sari. Sebenarnya ia merasa jengkel juga. Kenapa pake ngeliat segala. Padahal Zahra itu anaknya, darah dagingnya.


***


Sementara Jelita dan Bu Sari bingung mencari uang untuk biaya pengobatan.


Anisa dan Yahya berusaha bahagia atas pernikahan mereka. Yahya benar-benar tulus mencintai Anisa dan putranya.


Malam itu mereka sedang berbincang di kamar setelah sholat isya.


"Kak, apakah aku boleh bertanya?"


Yahya berbalik menatapnya.


"Kakak mencintaiku?"


Yahya merasa heran. Kenapa Anisa menanyakan hal itu, apakah dia tidak merasakan perasaan ku yang begitu besar padanya?


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau merasa kasih sayang kakak kurang selama ini?"


"Aku hanya takut kau tidak bahagia dengan kami, kau terpaksa dalam ikatan ini karena rasa tanggung jawab yang kau emban dari Abah ku."


"Sssttt...! Yahya meletakkan telunjuknya di bibir Anisa yang merekah.


"Kakak sangat mencintaimu, bahkan dari dulu , tapi sayang saat itu kau lebih memilih ayahnya Al dari padaku yang hanya anak pesantren biasa. sampai sekarang perasaan itu belum berubah."


Anisa tersipu, Ia merasa tersanjung.


"Kenapa kau tanyakan itu,?" kejar Yahya.


Tidak apa, hanya ingin memastikan saja." jawab Anisa gugup.


Sebenarnya Yahya tau alasan Anisa bertanya seperti itu. Dia pasti merasa aneh, karna hampir dua Minggu menikah, dirinya belum di sentuhnya sama sekali.


Bukannya Yahya tidak punya keinginan itu, ia adalah pria normal, bahkan sangat normal.btapi setiap kali terbersit niat itu, hati kecilnya menentang. bayangan pengorbanan Aby selalu menghantuinya.


Dan pada akhirnya, Yahya hanya bisa masuk ke kamar mandi dan mengguyur kepalanya dengan air untuk meredakan gejolak hasrat yang tak terbendung.


"Tapi kenapa kakak belum pernah....?" kalimat Anisa menggantung.wajahnya tertunduk. ia tau pertanyaan itu terlalu sensitif untuk di ucapkan.


Tapi Anisa merasa harus tau alasannya, kenapa dia belum di sentuh bahkan setelah hampir dua minggu mereka di halalkan.


Apalagi Yahya yang sering tiba-tiba masuk kamar mandi dan diam berjam-jam di sana.


Itu dia lakukan hampir setiap malam, di saat Anisa sudah bersiap menjadi seorang istri yang sesungguhnya.


"Kau jangan berpikiran macam-macam, apalagi sampai berpikir kalau aku tidak mencintaimu."


Aku ingin melakukan menyempurnakan kewajiban ku sebagai suami, tapi itu di saat hatimu sudah benar-benar ikhlas menerimaku."


Anisa menatap wajah yang tersenyum penuh ketenangan itu.


Seluas itukah hati pria ini? Dia mengabaikan haknya hanya untuk menghormati perasaan ku?


Anisa menelan ludah yang terasa pahit.


Ia semakin kagum pada pria yang sudah sah bergelar sebagai suaminya itu.


Ia semakin berjanji akan membuka hati sepenuhnya pada ustadz Yahya.


"Oh, ya.. besok bibik ku yang tinggal di Lampung besok mau datang. Katanya dia ingin melihat menantunya."


ucap Yahya mengalihkan perbincangan mereka.


"Benarkah? Dengan siapa beliau datang?"


"Sendiri. Ayo kita istirahat, Besik kita jemput dia di stasiun." Aby mengecup kening Anisa dengan mesra sebelum akhirnya mereka tidur bersebelahan dengan pikiran masing-masing.


Lain halnya dengan yang terjadi pada Aby.


Ia terlihat semakin kurus,


Infeksi ginjal yang di deritanya sangat menyiksa. Namun ia tidak ada uang untuk biaya ke dokter. Jangankan untuk berobat, untuk makan saja ia merasa kesulitan.


Semua harta dan asetnya sudah habis.


Yang dapat di lakukannya hanyalah berpasrah.


Aby hanya bisa terbaring di ranjang lusuhnya.


Kadang rasa sakit yang menderanya sampai membuatnya meneteskan air mata.


Keadaannya sungguh memprihatinkan.


Semenjak ia memutuskan untuk pindah dari tempat semula, Imran tidak bisa lagi menemuinya


Namun sedikitpun ia tidak pernah mengeluh. ia sadar semua yang dialaminya karna pengorbanannya untuk Anisa.


"Apa kabarnya mereka sekarang?" ratapnya sembari menatap puluhan gambar istri dan anaknya yang terpampang memenuhi dinding kamar itu.


Ia kembali mengenang kesalahannya yang telah menolong Jelita. Dari sanalah awal kehancuran rumah tangganya.


 Suatu hari, dengan tongkat dan baju lusuhnya. Aby berusaha keluar dari gubuknya.


Itu terpaksa ia lakukan untuk menyambung hidupnya.


"Tapi siapa yang akan mempekerjakan orang lemah seperti aku? Tapi aku harus tetap berusaha! Allah sudah menjatahkan rizki buat semua makhluknya." ucapnya tidak putus asa.


Sambil menyeret sebelah kakinya, ia menyusuri jalanan yang panas. Keringat mulai membasahi lehernya.


"Sebaiknya aku istirahat sebentar disitu" pikirnya.


Lalu ia menepi dan menumpang duduk di emperan sebuah toko.


Sambil bersandar di tembok, ia terbayang betapa tahun silam saat masih sehat dan berjaya, ia punya keluarga yang hampir sempurna. Punya karier bagus, istri cantik dan Solehah serta anak yang pintar dan tampan. Tanpa di sadarinya bibirnya melengkung, mengukur sebuah senyuman. Sebuah kenangan yang sangat berharga baginya. Namun senyum itu kembali lenyap saat bayangan tragedi di kantor yang membuatnya harus bertemu dengan Jelita.


Abi menghembuskan nafas perlahan.


"Semua adil, semua sudah mendapatkan balasan dari perbuatannya masing-masing."