
Hari hari Anisa dipenuhi dengan perdebatan dengan Rosma,
Ia merasa cukup heran juga, dulu pangkal perdebatan adalah Aby, sekarang Aby sudah pindah pun Rosma masih belum puas juga.
Yahya hanya bisa diam kalau di tegur oleh Anisa.
"Bi, mau di bawa kemana, Khaliza?"
"Mau Bibi mandikan?" jawabnya sambil mengangkat bayi itu dari tempat tidur.
"Tapi ini baru jam enam, Bi." Anisa berusaha mencegah.
"Kamu tau apa? Semakin pagi anak di mandikan akan semakin sehat!" ia terus melangkah kebelakang. Bayi kecil itu masih terlihat kedinginan.
Yang lebih membuat Anisa ternganga. Rosma mencelupkan khaliza dalam air dingin hingga bayi itu menangis kedinginan.
Anisa merebut bayinya dengan paksa.
Rosma begitu marah.
Anisa mendekap bayinya yang kedinginan.
Rosma segera pergi dari hadapan Anisa.
Yahya datang dengan kursi rodanya.
"Anisa, ayolah.. Kenapa kau melarang Bibi memegang Khaliza? Dia, kan neneknya juga."
Suara Yahya terdengar lembut.
Anisa masih terdiam memakaikan minyak pada Bayi Khaliza.
"Nisa, aku sedang bicara. Bibi merasa sedih dan menangis di kamarnya. Katanya kau melarangnya ikut merawat Khaliza."
"Tentu saja aku melarangnya, Kak. Apa aku harus diam saja anak ku di siksa?"
"Astagfirullah.. Anisa?"
"Tentu saja, masa dia mau memandikan Khaliza sepagi ini dengan air dingin pula!"
Yahya terdiam. Yang dia dengar dari Bibinya tidak seperti itu.
"Baiklah, Bibi salah. Tapi tidak seharusnya juga kau berkata kasar padanya. Dia orang tua, Nisa." nada suaranya terdengar melunak.
"Aku tau, kak. Tapi Bibi sudah keterlaluan menurutku."
"Yang sabar, ya..! Mungkin niat Bibi tidak seperti yang kau kira, tapi caranya saja yang salah."
Anisa tidak menjawab lagi. Ia merasa percuma berdebat dengan Yahya soal Bibinya. Semakin hari ia merasa Yahya semakin terpengaruh oleh Bibinya.
Anisa juga merasa bingung. masa cutinya tinggal seminggu lagi. Kau dia pergi mengajar, siapa yang akan menjaga Khaliza? Apa Bi Rosma? Tanpa sadar ia menggeleng keras.
"Tidak! Aku tidak bisa menyerahkan pengawasan Khaliza pada ayah dan neneknya." ia bergumam sendiri.
"Kalau aku bawa kesekolah juga jelas tidak mungkin."
"Kenapa, Nis? Kau terlihat bingung?" sapa Yahya dengan lembut malam itu.
"Aku sedang bingung, kalau aku sudah mulai masuk mengajar, Khaliza aku titipkan pada siapa?"
Yahya tersenyum kecil.
"Kenapa kau cemas, kan ada ayahnya. Kau ragu kalau aku tidak bisa mengurusnya dengan keadaanku ini?"
"Bukan, eh iya, maksudku, aku tidak mau kau terlalu capek, kak. Fokus dulu pada kesembuhanmu."
"Tenang, Nisa., sambil menjaga Khaliza, aku akan buka counter kecil - kecilan di depan rumah, walaupun hasilnya tidak seberapa, tapi setidaknya aku sudah punya usaha."
Bukannya Anisa tidak percaya pada Yahya selaku ayahnya.
Tapi yang membuatnya cemas adalah campur tangan Rosma.
***
Sementara itu, Aby sedang serius menekuni pekerjaannya, tau keadaan fisiknya yang kurang kuat, pak Sofyan memberinya pekerjaan yang lumayan ringan. dia hanya memeriksa nota barang yang keluar dan masuk.
Jam makan siang, pak Sofyan mendekatinya.
"Istirahat dulu. Kerja ya kerja, tapi perut juga perlu di isi." gurau pak Sofyan.
"Terima kasih, pak! Sebentar lagi selesai." jawab Aby
"Nak,Aby bener betah kerja seperti ini?"
Aby mengangguk dengan senyum sumringah.
"Kenapa, pak?"
"Tidak ada, cuma pantasnya nak Aby Kerja di kantoran, pake dasi, duduk di belakang meja."
'Tidal apa,pak. Saya senang dengan pekerjaan ini kok."
Sebuah motor berhenti di depan toko besar itu.
"Papa...!" suara seorang gadis terdengar nyaring. pak Sofyan langsung menyambut gadis itu dengan pelukan.
"Tumben nyamperin papa di sini."
"Lagi bosen aja di rumah."
"Ngga ada jadwal hari ini?"
Gadis itu menggeleng. Posisinya yang membelakangi Aby membuatnya tidak melihat sosok Aby.
"Oh, ya..kenalkan ini karyawan baru di sini, orangnya sangat rajin." pak Sofyan menunjuk Aby.
Aby tersenyum malu oleh sanjungan itu.
"Mas Aby...?" gadis itu terbelalak kaget.
Begitupun Aby.
Pak Sofyan terheran heran.
"Kalian sudah saling kenal?"
"Banget, pa. Mas Aby ini adalah pasienku. Setelah dia keluar dari rumah sakit aku tidak tau lagi kabarnya. Dia menghilang begitu saja." gadis itu terlihat begitu ceria.
"Jadi, Mas Aby kerja sama papa sekarang?"
Aby hanya mengangguk.
Bibir gadis itu tak berhenti tersenyum.
"Sudah, biarkan Aby istirahat dulu." pak Sofyan menyadarkan Lyra yang sedang menatap pria di depannya.
Sore harinya, Lyra menghampiri Aby yang sedang menunggu jemputan.
"Mas, pulang pake apa?"
"Ada ojek langganan ku, maklum belum ada rizqi buat beli motor." jawab Aby tersipu.
Tapi cukup lama ia berdiri menunggu, ojeknya belum datang juga.
"Biar aku antar saja, Mas." tawar Lyra dengan ramahnya.
"Ah, tidak usah. Nanti merepotkan." tolaknya dengan halus.
"Tidak repot, sekalian aku mau pulang juga."
Lyra masih memaksa.
"Ayolah, ketimbang nunggu ojeknya ngga tau sampai kapan."
Dengan sedikit sungkan, Aby menerima bantuan gadis manis itu.
Lyra menyodorkan kunci motornya.Aby masih tertegun.
"Hmm.. Masa aku yang di depan?" candanya dengan senyuman manis.
Aby menerima helm dan kunci motornya. Mereka menyusuri jalanan sore itu. walaupun tidak banyak, Lyra tau tentang kisah hidup Aby. Karena itu pula dia merasa simpati pada pria di depannya itu.
"Dengan siapa tinggal, Mas?" Lyra setengah berteriak karena jalanan begitu bising.
"Kadang Al datang menemani ku kalau malam. Maklum, jarak tempat tinggal kami tidak begitu jauh." jawab Aby.
Mereka melewati pedagang kaki lima yang berjejer di pinggir jalan.
"Mas berhenti sebentar. .."
Aby menghentikan laju motornya.
Lyra memilih martabak kesukaannya. Dia langsung membeli dua bungkus.
"Kita jalan lagi." ucapnya riang. Gadis itu sangat ceria, seolah tidak ada beban dalam hidupnya. Gadis itu menyebarkan aura positif bagi Aby. Bersamanya ia bisa sedikit melupakan kerumitan hidupnya.
"Kamu tidak ada jadwal hari ini?" tanya Aby berbasa-basi.
"Tidak." jawabnya singkat.
"Mas, Aby. Aku boleh nanya sesuatu yang agak pribadi?" ujarnya serius.
"Tanya apa?" jawab Aby sambil terus melajukan motor dengan pelan.
"Mas Aby masih mencintai mba Anisa?"
Aby terdiam, dia tidak bisa langsung menjawab.
"Kenapa? Aku terlalu lancang, ya Mas?" ucap Lyra dengan menyesal.
Aby menggeleng. Andai saja Lyra tau ekspresi wajah Aby saat itu.
"Aku tidak bisa menjawabnya, Lyra."
"Owh.. Ya sudah lupakan saja pertanyaan ku tadi. Hemmm... Usia Mas Aby berapa sekarang?"
Aby kaget, gadis itu sangat agresif. Dia berani bertanya tentang usia.
"Kenapa? Memangnya aku terlihat begitu Tia, ya?" gurau Aby.
"Tidak, Mas. Kau jangan tersinggung." Lyra khawatir kalau pria itu sampai tersinggung.
"Buat apa aku tersinggung. Kenyataan nya aku sudah beneran tua, kok. Anak sudah dua.."
jawab Aby tertawa kecil.
"Sudah dua? Tapi mba Anisa, kan..?"
"Iya, sudah dua. Dulu sebelum musibah datang pada kami. Anisa sempat keguguran. Dan anaknya yang Anisa yang sekarang juga sudah ku anggap sebagai anak ku."
"Ooh..!"
"Benar, kan aku sudah tua?"
"Tidak juga. Mas Aby bukannya tua, tapi dewasa. tua dengan dewasa itu beda lho, Mas!"
"Iya, beda tipis.." jawab Aby yang di sambut gelak tawa oleh Lyra.
Tak terasa karena sambil mengobrol, mereka sampai di halaman rumah Aby.
Lyra langsung melompat dari boncengan Aby.
Secara tak sengaja, Anisa melihatnya dari teras rumahnya yang tidak begitu jauh.
Ada rasa tidak enak di hatinya saatelihat keakraban kedua orang itu.
Ia langsung masuk rumah, ia tidak tidak mau bertemu Lyra. tanpa sengaja ia menabrak Rosma yang mau keluar. Rosma merasa heran.
"Ada. Apa dengannya?"
Bersambung....