KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 62


Aby menyelesaikan semua pekerjaannya, setelah itu dia bersama orang karyawan lainnya menjenguk pak Sofyan di rumah sakit.


"Assalamualaikum..!"


"WAalaikum salam." jawab pak Sofyan tersenyum.


"Terima kasih sudah datang."


"Kami dengar kalau bapak sakit, sebenarnya sakit apa, Pak?" tanya Aby.


"Asam lambung saya naik. Tapi sudah tidak apa-apa kok. Bagaimana di gudang?"


"Alhamdulillah, pekerjaan lancar, pak.."


Pak Sofyan tersenyum bangga.


"Saya percaya, kalau ada kau disana semua akan aman terkendali."


"Terima kasih, pak atas kepercayaan yang bapak berikan."


"Oh, ya By, sebenarnya saya ada sesuatu buat kamu. Tapi saya keburu terbaring di sini." ucapnya agak kecewa.


Saat itu Lyra masuk sambil membawa sebotol air putih.


Ia agak kaget juga saat melihat Aby di sana.


"Mas, sudah lama?" sapanya berbasa basi.


"Baru saja, kamu gimana kabarnya?"


"Iya, aku baik-baik saja, Mas." jawabnya kaku.


Pak Sofyan menatap Lyra dengan perasaan sedih. sejak kejadian bersama Arman itu, ia jarang menyapa putrinya itu.


Bukannya kenapa-kenapa, ia hanya merasa kecewa. Dan kekecewaan itu ia lampiaskan dengan mendiamkan Lyra.


"Silahkan lanjutin ngobrolnya, Mas aku keluar sebentar." ucap Lyra sedikit sungkan.


Aby merasa heran.


Setelah merasa cukup berbasa basi, Aby dan rekannya mohon diri.


Dan sebelum pulang, Aby mencoba mencari keberadaan Lyra di koridor rumah sakit itu.


Dia melihat gadis itu sedang menelpon seseorang sambil membentak- bentak.


"Dasar kau bajingan..! Aku tidak Sudi lagi berurusan denganmu!" kau dan temanmu sama saja!"


Lyra menutup telponnya dengan geram.


Dengan nafas terengah dia menggerutu.


"Enak saja dia minta maaf.. Apa dia kira dengan minta maaf semua akan bisa kembali seperti semula?" Lyra mengacak rambutnya. Ia tidak menyadari kalau Aby sedang memperhatikannya.


"Ly..?"


"Kau ada masalah?" tebaknya.


Tiba-tiba air mata Lyra tumpah tidak bisa di bendung lagi. Gadis itu terlihat sangat tertekan.


Aby mendekati temannya yang tadinya datang bersamanya.


"Kalian duluan, saja. Nanti aku bisa pake taksi."


Setelah itu ia kembali lagi pada Lyra.


"Kalau kau percaya padaku, cerita lah! Dengan begitu, siapa tau bisa mengurangi sedikit bebanmu."


Lyra semakin terisak.


"Aku salah, Mas, Aku tidak mendengarkan nasehat papa."


Lalu ia menceritakan urutan kejadian yang sudah menimpanya.


Aby ikut geram mendengar cerita itu.


"Kenapa kau tidak laporkan orang-orang bejat itu ke polisi?"


Lyra menggeleng.


"Aku tidak mau aib ku tersebar. Lagi pula, sekalipun mereka mau bertanggung jawab. Aku tidak Sudi hidup bersama mereka." ucap Lyra berlinang air mata.


Aby melipat kedua tangannya di depan dada. Ia juga tidak tau harus bilang apa.


"Dan yang menjadi bebanku saat ini adalah papa. Bagaimana jika dia tau kalau akibat kejadian itu , aku hamil, hanya ada dua kemungkinan, kalau dia tidak Anfal, berarti dia akan membunuh ku." ucap Lyra pilu.


"Jangan berprasangka buruk dulu, papa mu sangat sayang padamu, mungkin kalau bicara baik-baik dari hati ke hati.. Pak Sofyan akan mengerti."


"Mas Aby belum tau papaku kaya gimana, dia memang terlihat lembut di luar, tapi sangat tegas dan keras di dalam."


"Ya, aku tidak bisa kasi saran apa-apa. Hanya pesanku, cobalah bicara baik-baik dengan beliau. Semoga kau segera menemukan jalan keluar dari masalah ini."


"Oh, ya.. Boleh aku minta nomor nya Arman?"


"Untuk apa"


"Tidak ada, aku hanya ingin mengenalnya saja... Siapa tau aku bisa bicara baik-baik dengannya."


"Percuma, Mas. kalaupun Mas berhasil ngomong dengannya mungkin dia sudah tidak mau bertanggung jawab. Karena aku sudah memakinya habis-habisan."


"Tidak ada salahnya mencoba."


Lyra memberikan nomer kontak Arman kepada Aby.


 Setelah berjanji akan berusaha membantu mencarikan jalan keluar untuk masalahnya, Akhirnya Aby pamit pulang.


Sampai di depan rumah, dia sudah mendengar keributan dari arah rumah Anisa.


Aby mendekat.


Disana dia bisa melihat bagaiman Rosma sedang beradu mulut dengan para ibu-ibu tetangga.


"Hallah.. Ngaku saja, memang keponakanmu itu yang sok. Katanya ustadz, tapi ustadz apaan kalau gampang tersinggung kayak gitu."


"Jaga, ya mulut, ibu. Kami tidak pernah minta sesuap nasi pada kalian, jadi jangan ngatain anak ku macam-macam . keluargaku orang terhormat!" sentak Rosma tak mau kalah.


"Sudah numpang masih belagu, , sadar diri, dong Bu Rosma..." tegur yang lain.


"Ngakunya terhormat, tapi hidup masih numpang. Kasian Anisa, Apa yang bisa di harapkan dari suami macam Yahya, sudah cacat di tambah Bibinya yang cerewet."


"Kalian bilang, apa? Anak ku itu sudah bekerja! Kami tidak menumpang lagi, dan asal kalian tau, anak ku adalah korban. Dia begitu karna menyelamatkan mantan suami dari istrinya, lalu apa yang dia dapatkan setelah itu? hanya sakit hati karena mantan suaminya itu tidak bisa jauh dari Anisa. Kalian masih menyalahkan anak ku juga?" Suara Rosma bergetar.


Para ibu yang berkerumun itu menjadi diam.


"Kalau mau menghujat, hujat tuh, si Aby. Dasar laki tak tau diri. Sudah cerai masih saja berusaha mendekati Anisa."


Hati Aby terasa sakit mendengar tuduhan Rosma. Ia tidak menyangkal kalau masih ada perasaan pada Anisa. Tapi ia merasa tidak pernah melewati batasan. Ia masih menjaga norma-norma yang ada. Ia dekat dengan Anisa semata karena masih ada Al di antara mereka.


Tapi tuduhan Rosma kali ini entah kenapa membuatnya berpikir sesuatu.


"Aku harus meluruskan semua. Aku akan menjauhi Anisa secepatnya." gumamnya. Tanpa menunggu esok paginya. Malam itu juga ia meninggalkan rumah itu secara diam-diam.


Ia berencana akan memberi tau Anisa kalau sudah mendapatkan tempat tinggal saja.


Untuk sementara ia bermaksud menginap di rumah seorang temannya.


Atas kebaikan sahabatnya pula, ia mendapat tempat tinggal yang kebetulan dekat dari tempatnya bekerja.


Aby sangat bersyukur atas keadaan itu. Ia tinggal memikirkan bagaimana cara memberitau Anisa dan putranya.


***


Sementara di tempat Anisa, sedang terjadi kehebohan.


Al menangis karna mendapati rumah Aby yang Kosong.


"Ayah kemana, Bunda? Bajunya tidak ada. Lemarinya kosong." Al terlihat begitu sedih. Mungkin ia membayangkan di mana ayahnya akan berteduh.


Anisa bergegas kerumah itu. Hati kecilnya berharap kalau apa yang di katakan Al adalah salah.


Rosma dan Yahya menyusulnya.


Anisa terduduk lemas. Ia Juga menyayangkan, kalau memang harus pergi, kenapa dengan cara begini?


Yahya tidak berani berkomentar, ia melihat Anisa sangat shock saat itu.


Yang paling senang tentu saja Rosma.


Ia merasa sudah berhasil menyingkirkan biang masalah selama ini.


"Apa mungkin dia mengetahui kejadian tadi siang, ya?" ia tertawa kecil.


Anisa berusaha menelpon Aby beberapa kali namun tidak aktif.


Anisa merasa gelisah, sebentar -sebentar ia melirik ponselnya. Ia sangat berharap Aby Segera menjawab pesan yang di kirim nya.


"Bunda, ayah menjawab pesan, Bunda!."


Anisa menyambar ponselnya dengan cepat.


(Maaf, Aku tidak bicara dulu pada kalian tentang keputusan ku kali ini. Aku rasa ini yang terbaik buat kita. Dengan kita berjauhan, insya Allah semua akan membaik. Kau tenang saja, aku tetap ingat tanggung jawabku sebagai seorang ayah, salam buat Al)


Butiran bening mulai menetes muncul di sudut matanya.


Ia Tidak bisa membayangkan harus jauh lagi dari pria itu. Ia juga membayangkan akan seperti apa hari-harinya tanpa Aby lagi.


(Kau tinggal dimana, Mas? Al sangat khawatir..)


"(Alhamdulillah, Aku dapat tempat yang cukup baik. bilang pada Al. Tidak usah khawatir, ayah akan cari uang yang banyak untuk membeli sebuah rumah agar kita bisa berkumpul kembali. Kau juga tidak perlu khawatir lagi, aku akan baik-baik saja. Jagalah keluargamu)


Anisa merasa terharu. "Kali ini Mas Aby tidak mau memberi tau tempat tinggalnya." gumam Anisa.


Al hanya memandang makanan di depannya.


Ia terus termenung memikirkan ayahnya.


"Eh, ayo makan cah ganteng, jangan buang-buang makanan. Itu Mubazir namanya.


kasian ayah Yahya sudah bekerja keras untuk dapat mendapatkan makanan ini.


Al tau, ngga? Ayah Yahya kakinya begitu karna apa?' tanya Rosma pada Al.


Al hanya menggeleng.


"Karna Ayah Yahya orang Mulya, dia menyelamatkan ayah Aby hingga kakinya harus di potong."


Anisa memandang Rosma dengan tatapan tidak suka.


Yahya hanya menarik nafas panjang melihat ulah Bibinya.


"Jangan di terusin, Bi. Al masih kecil." ia mengatakan, namun Rosma membentaknya.


"Diam! kamu tau apa? Ini caranya mendidik anak biar bisa menghargai mu sebagai kepala keluarga di sini. Apalagi dia harus membalas budi atas nama ayahnya, bukan?"


Anisa merasa tak tahan dengan sindiran Rosma. Ia mengambil dua piring dan membantingnya kelantai. suaranya yang keras membangunkan Khaliza. Suasana jadi hiruk pikuk.


"Terus saja, Bibi hina Mas Aby, terus saja Bibi buat anak ku tertekan! Atau aku akan menggugat cerai Kak Yahya!"


Ancam Anisa sambil berteriak kencang..


Mohon maaf banget. Dari kemarin jaringan di tempatku bermasalah, makanya baru bisa up🙏🙏