KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 15


Sepanjang perjalanan pulang, Anisa hanya terdiam. Berbeda dengan Al yang terlihat riang setelah melepas rindu pada ayahnya.


Anisa memikirkan permintaan Al untuk mereka berkumpul lagi.


Tapi Anisa belum sanggup melihat kebersamaan Aby dan Jelita.


Ustadz Yahya diam-diam mengamati wajah Anisa dari kaca spion.


"Kasihan Anisa. Seandainya dulu dia memilihku, aku tidak akan pernah membuatnya menangis." ucapnya dalam hati.


Malam harinya, Anisa mengikuti kajian rutin dari Abahnya untuk para muridnya.


Kajian yang isinya tentang ikhlas, sangat menarik perhatian Anisa.


"Ikhlas menerima ketentuannya, ikhlas menerima semua yang terjadi walaupun itu di luar kehendak kita. Dengan belajar ikhlas menerima ketentuannya, bersabar dan tawakkal. Insya Allah, drajat kita akan terangkat dunia akhirat."


Anisa termenung. Ia berusaha memikirkan wejangan Abahnya itu.


"Apakah memang aku harus mengikhlaskannya? Melihat kebahagiaan Al bertemu ayahnya, rasanya mengalahkan amarahku pada Mas Aby dan Jelita. yang begitu kuat. Ya.. kebahagiaan Al adalah segalanya." ucap Anisa pada diri sendiri.


Bergegas ia memanggil putranya untuk pulang.


"Ini sudah malam, Nisa. Pulang besok pagi saja.!" sapa Abahnya.


"Ada sesuatu yang harus Nisa kerjakan, Bah..." jawab Anisa memberi alasan.


"Izinkan saya mengantarnya Pak kyai. Ini sudah malam.. " kata ustadz Yahya yang kebetulan ada di sana.


"Terserah Anisa saja, kalau dia mau kau antar, silahkan." ucap orang tua itu bijak.


"Tidak usah ustadz, aku dan Al bisa sendiri pulang kok."


"Al mau di antar pak ustadz saja..!" celetuk Al tiba-tiba.


Semua saling pandang.


"Insya Allah tidak apa-apa.. kalian bertiga. jadi tidak akan timbul fitnah." kata Kyai Romli akhirnya.


Dengan canggung Anisa duduk di boncengan pria yang pernah menjadi masa lalunya.


Di moat lain, Aby duduk dengan khusuk sehabis menunaikan sholat Isya.


"Kenapa tiba-tiba aku teringat Al dan Anisa?"


Aby mengambil kunci mobilnya. Iseng-iseng ia menuju arah rumah yang di tempati Anisa.


Ia tidak berharap banyak bisa bertemu anak istrinya, ia hanya ingin memastikan mereka baik-baik saja.


"Terlihat sepi.. Mungkin mereka belum pulang dari tempat Abah." gumam Aby kecewa.


Baru saja ia selesai bicara begitu. Dari ujung jalan muncul motor yang sedang melaju dengan kecepatan sedang. Mulanya Aby tidak perduli, tapi setelah dekat dan tau siapa yang menaiki motor itu, wajahnya terlihat kecewa.


Ia melihat Al duduk di depan, sedangkan Anisa duduk manis di belakang ustadz itu.


"Terima kasih ustadz, sudah mengantar kami. Ayo Nak Salim dulu!"


 Yahya berbasa basi sebentar dengan Al.


Lalu iya menghadap Anisa.


"Nis, saya memang tidak berhak ikut campur urusan pribadimu, tapi asal kau tau, kapan pun kalian membutuhkan bantuanku, aku selalu siap." kata Yahya tulus.


'Terimakasih, sekali lagi ustadz, kebaikanmu tidak akan aku lupakan." jawab Anisa tersenyum.


Aby yang memperhatikannya menjadi panas dingin.


"Tidak usah memanggilku ustadz, Yahya saja, lebih akrab di telinga." canda pria itu lagi.


Anisa berusaha tersenyum.


Aby tidak mau membiarkan keadaan itu berlarut. Ia sengaja turun dari mobil dan memanggil Al.


Anisa dan ustadz Yahya tercengang dan salah tingkah oleh Kehadiran Aby di tempat itu.


"Assalamualaikum pak Aby.." sapa pria itu sopan.


"Waalaikum salam.. Bagaimanapun keadaanya, saya berterimakasih karna kau sudah mengantar mereka." ucap Aby terbata.


Keadaan itu benar-benar membuat mereka bertiga menjadi canggung.


Setelah Ustadz Yahya mohon diri. Tinggal Aby dan Anisa yang berdiri mematung.


Al sudah asik sendiri di teras rumahnya.


"Maaf.. Aku sudah datang di jam segini." kata Aby menatap wajah sendu istrinya.


"Kenapa kau harus minta maaf? Kau pasti datang untuk melihat Al, bukan? Dia putramu, Mas. Aku tidak berhak melarang mu bertemu putramu sendiri."


"Kau benar, aku ingin bertemu putraku, tapi aku juga ingin bertemu istriku. Apakah aku tidak boleh lagi melihat dan merindukannya?"


Anisa terdiam.


"Apakah aku sudah tidak punya hak untuk itu, Nis?"


"Aku sadar, semua yang kau lakukan bukanlah sebuah dosa? Aku juga tau kalau seorang pria di bolehkan beristri lebih dari satu.


Tapi aku janji akan berusaha mengerti keadaan ini. Tapi tidak sekarang, Mas. Aku belum sanggup." ucap Anisa sambil berurai air mata. Aby sangat terharu. Ia maju perlahan dan memberanikan diri mengusap air mata yang membasahi pipi putih Anisa.


Tak di sangka, Anisa menahan tangan Aby untuk tetap disana.


Ia menangis tersedu. Antara benci dan rindu yang begitu menyiksa batinnya membuatnya menumpahkan semuanya.


Aby meraih tubuh Anisa dalam pelukannya. Ia membiarkan Anisa menangis di dadanya.


Al datang dan bertanya dengan heran.


"Kenapa Bunda menangis?"


Hal itu membuat Aby dan Anisa mengurai rangkulan mereka.


"Tidak apa-apa, mata bunda kemasukan debu sedikit, dan Ayah tiupin."


"Malam kok ada debu?" tukas Al lagi memuat Aby kebingungan mencari alasan lain.


Anisa membuka pintu rumahnya.


"Maaf, Mas Aby, aku memang sedang berusaha mengerti dan menerima semua yang terjadi. Tapi aku belum bisa serumah." tutur Anisa.


"Tidak apa-apa, kau mau membuka hati saja Mas sudah sangat bersyukur. Mas akan pulang ke kantor."


Jawab Aby.


"Kantor?" ulang Anisa dengan heran


"Iya. Mas, numpang tidur di kantor selama ini."


Anisa terhenyak. Bayangannya kalau Aby bahagia dengan istri barunya selama ini ternyata salah.


"Mas sudah berjanji pada diri sendiri, sebelum mendapat restu darimu, tidak akan tinggal serumah dengan Jelita."


Anisa masih terdiam. ia tidak tau harus berkata apa, bahagia kah ia mendengar penuturan Aby?


Sampai Aby menghilang dari pandangannya Anisa masih bingung.


"Kasihan mas Aby, ternyata dia juga menderita dengan keadaan ini. Aku kira dia bahagia dengan wanita itu, tapi...?"


Ada rasa bersalah di hati Anisa saat mengetahui kalau selama ini Aby tidur di kantor.


Bayangan wajah Aby yang berseri saat mendengar perubahan sikapnya terus terbayang di benak Anisa.


"Apakah aku terlalu kejam pada suami ku sendiri? Makan dan tidurnya pasti tidak terurus." bisik Anisa lagi.


Pukul sebelas tepat, Anisa di kejutkan oleh suara ponselnya.


Dengan malas ia meraih benda itu.


"Mas Aby ngapain nelpon malam-malam begini?" gumamnya seraya mengangkat panggilan itu.


"Assalamualaikum.. Ada apa Mas?" sapa Anisa.


Namun seketika tangannya bergetar dan ponselnya hampir saja terjatuh.


Yang menelponnya bukan lah SBY, melainkan polisi yang mengabarkan bahwa Aby kecelakaan dan saat ini sedang koma di rumah sakit.


Dengan panik Anisa memanggil seorang tetangganya untuk menemani Al. Ia langsung bergegas kerumah sakit tempat Aby di rawat.


Sampai disana ia langsung berlari ke ruang ICU. Terlihat Aby terbaring diam dengan kepala yang di perban.


Anisa tak bisa menahan air matanya lagi.


Ia menangis sendirian.


Polisi datang memberikan beberapa barang milik Aby.


Sebuah tangan menjamah pundaknya.


"Yang kuat ya, Nisa.." Lisa dan Imran sudah berada disana pula.


Anisa merasa heran kenapa sampai sekarang Jelita belum juga menjenguk Aby.


"Mas Imran, kau tau alamat Jelita?"


Imran dan Lisa tercengang heran.


Imran mengangguk.


"Jangan bilang kau mau menemuinya.."


"Kalau menuruti ego, aku memilih untuk merawat dan memiliki Mas Aby sendirian, tapi kenyataannya Jelita juga istrinya. Dia berhak tau dengan bapa yang menimpa Mas Aby."


"CK ck ck... Hatimu terbuat dari apa, Nis? kalau aku tidak sanggup menjadi dirimu." ujar Lisa kagum.


Setelah mendapat alamat lengkap dari Imran, ia langsung menuju tempat Jelita.


Favorit dong... Like juga, jangan jadi pembaca misterius yang tidak meninggalkan jejak🤣🤣


"