
"Mas Aby..." suara Lyra mengejutkan Aby yang sedang serius dengan pekerjaannya.
"Kamu disini? Memangnya tidak kerja?"
"Aku tukar shift dengan temanku. Karena bingung mau ngelakuin apa, aku kesini saja. Oh ya.. Aku bawa makan siang buat Mas Aby."
"Wah, kau jangan repot-repot. disini kan juga di sediakan makanan."
"Ini lain, aku masak khusus buat Mas Aby." ucapnya tersenyum manis.
Sebenarnya, Aby merasa tidak enak dengan pak Sofyan dan karyawan lainnya atas perlakuan Lyra.
Tapi gadis itu seperti tidak perduli. Ia enjoy saja bahkan ketika duduk di dekat Aby.
"Ly, biar aku selesaikan ini dulu, lagi sedikit, kok."
"Lanjutin saja, Mas. Aku tidak akan menganggu kok." jawabnya enteng.
Aby kembali fokus dengan pekerjaannya. Sedangkan Lyra duduk santai di sebrang mejanya. sekali ia memperhatikan pria itu.
"Sosoknya sederhana, sikapnya ramah dan sorot matanya itu, lho.. Sangat teduh." ucap Lyra dalam hati.
Lyra mendesah pelan. sejak memergoki kekasihnya telah selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Lyra menutup hati pada setiap pria yang ingin mendekatinya.
Tapi sejak mengenal Aby, hatinya mulai mencair.
Pribadi Aby yang rendah hati dan tidak banyak bicara membuatnya tersentuh. Di tambah kisah hidupnya yang tragis membuat Lyra semakin simpati.
Tapi ia tidak berani berharap banyak, karna dia juga tau kalau kisah Aby dan Arini belum lah selesai.
Aby merenggangkan kedua tangan dan menggerakkan bahunya.
"Capek, Mas?" sapa Lyra.
"Lumayan, mungkin karena belum terbiasa saja." jawabnya sambil tersenyum.
"Oh, ya? Mas Aby masih rutin check up?menurut riwayat penyakit yang Mas derita sangat rentan kambuh." Aby tersenyum, dia tau Lyra akan paham tentang penyakit yang di deritanya. Tentu saja, karna gadis itu bertugas di bangsalnya.
"Alhamdulillah, masih rutin kok."
Lyra tersenyum puas.
"Yang lainnya sudah istirahat makan. Tinggal Mas Aby saja yang belum. Ayo makan dulu!" Lyra membuka rantang yang di bawanya.
Tangan Aby menahan ya dengan cepat.
"Ly.. Aku tidak bermaksud untuk mengecewakanmu. Tapi aku sudah berniat setiap hari Senin dan Kamis, akan menjalani puasa. Aku cerita seperti ini bukan karena ingin di puji atau yang lainnya, tapi aku harus menjelaskan agar kau tidak tersinggung."
Aby menanti reaksi gadis di depannya itu.
"Okey, tidak apa kok Mas. Nanti makanannya bisa Mas Aby bawa pulang pake berbuka." jawabnya cepat.
Aby tidak sampai hati menolak lagi. Ia mengangguk dan berterimakasih.
Di saat itu Anisa dan Al juga datang kesana. Dia membawa rantang sebagai mana Lyra.
Tatapan mata ketiganya bertemu.
"Anisa, Al?" sapa Aby tersenyum lembut.
"Kalian darimana?" ucapnya lagi.
"Lyra ada disini juga? Kami dari supermarket membeli keperluan bayi, Al pikir kami sekalian saja menjenguk Mas Aby sambil bawain makan siang.' ucap Anisa.
Lyra mengangguk ramah.
Tangan Anisa yang hampir meletakkan rantang di depan Aby ia tarik kembali saat melihat ada rantang serupa disana.
"Oh, iya.. Lyra juga membawakan ku makan siang, tapi aku bilang aku lagi puasa. Aku juga lupa mengabari mu." ucap Aby merasa bersalah.
Anisa tersenyum di paksakan.
"Begitu, ya? Ya sudah kalau begitu kita pulang saja." ucap Anisa agak kecewa, bukan karna makanannya tidak di makan Aby, tapi karena Lyra selalu nempel dan menemani mantan suaminya itu.
Sementara Aby mengobrol bersama putranya, Anisa memaksakan diri berbasa basi dengan gadis itu.
"Masih kerja dirumah sakit?"
"Masih, Mba. Tapi aku shift malam." jawabnya tersenyum manis.
Entah kenapa Anisa merasa canggung berhadapan dengan gadis itu. Padahal waktu di rumah sakit, dia merasa nyaman dan akrab dengan Lyra.
"Oh, ya. Nis. Liza dengan siapa?" tak pernah lupa Aby menanyakan keadaan Khaliza putri Anisa dan Yahya.
"Ada, Mas. sengaja aku tinggal biar cepat." jawab Anisa asal.
Ia tidak mau bilang di depan Lyra kalau Khaliza sedang di jaga oleh ayahnya. Hal itu akan .menyadarkan Lyra kalau dirinya sudah punya anak dari pria lain, dan otomatis tidak berhak lagi atas Aby. Anisa tidak mau Lyra berpikiran seperti itu.
Hati kecilnya tetap berkeras bahwa ia masih berhak atas Aby, karna pria itu adalah ayah dari anaknya, pria itu adalah cintanya.
Anisa ingin menyadarkan semua orang tentang hal itu. termasuk pada Lyra.
Kenyataan nya sekarang mereka berbeda dunia, walau masih ada jembatan penghubung di antara mereka, yaitu, Al.
"Al, ayo Salim dulu sama ayah, kita pulang. Dek Liza sudah haus..." ujar Anisa sembari bangkit.
"Aku duluan, ya Ly."
Lyra mengangguk ramah.
Saat Al, menyalami Lyra.
Gadis itu merangkulnya dengan mesra sambil berbisik.
"Al, suka main bola, ya?"
Merasa hobinya di ungkit, Al menanggapinya dengan antusias.
"Suka banget, Tante."
"Kalau begitu kapan -kapan Tante bawain baju bola, ohya idolanya club' apa?" tanya Lyra lagi.
"Maaf, Ly. Al aku batasi main bolanya, soalnya dia ada les dan harus mengaji juga. Kalau dapat hadiah darimu aku takut dia akan melupakan tugas utamanya!" kata Anisa tegas. Ia merasa tidak senang karena Lyra berusaha menarik perhatian Aby lewat putra mereka.
"Maaf, kalau begitu mba. Aku tidak tau." jawab Lyra pelan.
Aby berusaha mencairkan suasana yang agak gerah itu.
"Bunda sangat benar, Al. Tapi kalau sudah melakukan tugas dengan baik, bolehlah sekali sekali mainnya." ucap Aby membesarkan hati Lyra yang di patahkan Anisa.
Anisa pergi dengan raut wajah kesal.
Ia merasa kesal pada Lyra yang menurut nya terlalu agresif.
"Dasar perempuan jaman sekarang. Tidak punya malu." ucapnya ketus.
"Siapa, Bund?" Anisa terkejut karna Al bisa mendengar Omelan nya.
"Bukan siapa-siapa, kok. Hanya saja Bunda agak kurang enak badan." jawabnya beralasan.
Sampai dirumah, ia langsung melempar barang bawaannya di meja.
"Dia pikir dia siapa?" hati Anisa masih dongkol pada Lyra.
Yahya yang kebetulan melihatnya, merasa heran.
"Kenapa wajahnya terlihat bete begitu.?
Setelah Anisa masuk dengan bayi nya.
Yahya mendekati Al yang sedang belajar menggambar.
"Tadi sempat ketemu siapa, Bang?" tanyanya pelan karena takut kedengaran Anisa.
Al terlihat berpikir.
"Hanya ketemu ayah Aby, dan seorang Tante cantik." jawab Al dengan polos.
Yahya baru mengerti kenapa istrinya uring-uringan.
"Kenapa Yah?"
"Tidak ada, lanjutin menggambarnya!" jawab Yahya sambil mengusap kepala putra sambungnya.
Ia langsung masuk kekamar.
Ia melihat Anisa sedang termenung di disi ranjang.
Yahya mendekatinya.
"Apa yang kau pikirkan?"
Anisa tergagap lalu menggeleng.
"Kau bertemu Lyra di tempat pak Aby?"
Anisa menoleh, ia merasa tidak perlu berbohong.
"Iya.." jawabnya singkat.
"Kau cemburu padanya?" kejar Yahya.
"Sudahlah, kak. Jangan mengungkit sesuatu yang bisa membuat ku dan dirimu sakit... Kita sudah saling tau keadaan yang terjadi di antara kita.
Aku tetap berharap semua berakhir dengan baik, baik untuk kita bertiga."
Yahya terdiam. Ia sangat mengerti maksud Anisa. Yang bisa di lakukannya saat ini hanyalah berdoa, semoga nasib berpihak pada dirinya. Jujur, ia tidak ingin berpisah dengan wanita yang telah memberinya seorang putri itu.
Tonggalkan jejak di kollom komentar ya!