
Anisa paham semua yang terjadi adalah tipu daya Bu Sari dan Jelita. Niat Bu Sari pasti agar dirinya celaka, tapi Allah masih memeliharanya.
Anisa tidak memperdulikannya lagi. Saat ini ia hanya ingin fokus pada pengobatannya.
Masalah keuangan tentu saja dia tidak terlalu khawatir lagi,
Benar kata ustadz Yahya. dirinya harus sembuh karna masih ada putranya 'Sakti Al Bany' yang masih membutuhkannya.
Anisa tidak yakin membiarkan Al tumbuh besar dalam asuhan Jelita. Karna itu pula dia masih bertahan di rumah itu.
Hari itu Anisa keluar untuk sebuah urusan. Saat pulangnya di sore hari, ia mendapati Jelita dan Bu Sari sedang menghakimi Al.
"Abang tidak pernah mencubit Dek Zahra kok." Al berusaha membela diri walaupun dengan wajah merah menahan tangis.
"Buktinya waktu ibu tinggal sebentar ke dapur Zahra sudah nangis. Tuh lihat.. Lengannya merah. Apa lagi kalau bukan Abang cubit."
Anisa berusaha bersikap bijak. walau hatinya tidak terima dengan perlakuan Jelita kepada Al, ia masih bisa bicara baik-baik.
" Ada apa ini?" Anisa langsung merangkul putranya yang hampir menangis.
"Al jangan terlalu di manjakan, Mbak. Lihat hasil didikan mu!"
Kata-kata Jelita sangat menusuk hati Anisa.
"Memangnya kenapa dengan hasil didikan ku? Apa yang sudah di lakukan Al?"
"Dia mencubit Zahra, apa mungkin dia iri, ya.. Karna Mas Aby sangat perhatian pada Zahra."
"Astagfirullah... Kau berlebihan Jelita, aku sebagai ibunya percaya penuh pada didikanku selama ini.. Tidak mungkin Al melakukan Itu."
"Bela saja terus...!" ucapnya sambil menenangkan Zahra.
Jelita berlalu dengan kesal.
Anisa menatap Al.
"Benar, Bunda, Al tidak mencubitnya."
Anisa mengusap kepala putranya.
"Bunda percaya, jangan dimasukin hati ya kata-kata ibu sama nenek tadi, mungkin mereka sedang capek saja."
Al mengangguk.
Anisa tidak mau menanamkan dendam di hati anaknya.
Anisa terus masuk ke kamarnya. Ia merenungi semua yang terjadi.
"Apapun yang terjadi aku harus bisa bertahan demi Al."
Semula Anisa sangat bangga pada cinta Aby. tapi sejak kejadian Aby tidak bisa datang di hari terakhir Abahnya, kepercayaan Anisa mulai menyusut. Di tambah perlakuannya yang semakin hari semakin tidak bijaksana. Ia merasa semakin jauh dengan suaminya itu.
Merekapun sudah tidak pernah sekamar lagi, Aby lebih memilih di kamar Jelita ketimbang kamarnya.
Malam itu, Anisa memilih makan di kamar Al saja sambil menemani putranya belajar.
Tiba-tiba ia merasa muak dan muntah-muntah. Al sampai cemas di buatnya.
Al berlari kedapur untuk memanggil bik Iroh.
Aby yang sedang makan di temani Jelita dan Bu Sari merasa heran.
"Al, ada apa?"
"Bunda muntah-muntah." jawabnya sambil menyeret tangan bik Iroh.
Aby mengikutinya dari belakang.
Ia melihat Anisa sangat pucat, tengah duduk di tepi ranjang.
"Biar saya gosok kakinya dengan balsem Bu, biar hangat." ucap bik Iroh.
Aby mengambil balsem dari tangan Bik Iroh, lalu membaluri kaki Anisa.
Tak urung Aby merasa cemas juga.
Di saat yang sama, ponsel Anisa berbunyi. Aby melirik dan Anisa melirik layar ponsel yang sedang menjerit itu.
Di sana tertera nama ustadz Yahya.
Tanpa berkata apapun, Aby melepaskan kaki Anisa dan meninggalkannya.
Anisa menghela nafas berat.
"Ia, ustadz.. Kenapa?"
"Maaf kan aku, Nis. Aku tidak sabar ingin memberi tau mu tentang kabar gembira ini."
Ustadz Yahya mengabarkan kalau Anisa sudah bisa menjadwalkan keberangkatannya untuk berobat.
Anisa menjadi bimbang, bagaimana dengan Al?" sekarang Anisa berubah pikiran, dia tidak ingin Aby tau bukan lagi karena takut Aby akan merasa sedih. Tapi sekarang ia tidak mau mengemis perhatian dari Aby.
"Mas, Ku ingin bicara!" Anisa menghampiri Aby di ruang kerjanya.
"Ya, ada apa? Bicara saja!" jawabnya sambil terus bekerja.
"Aku tau ini salah, tapi aku harus melakukannya. Tolong lepaskan aku!"
spontan Aby memutar kepalanya.
Ia menatap Anisa begitu itu lama. Seolah tidak percaya kalau itu keluar dari mulut Anisa.
"Yang jelas, aku kurang jelas."
"Lepaskan aku!" ulang Anisa. wajahnya terlihat datar saja.
"Apa maksudmu minta pisah? Ini tidak pernah terjadi sebelumnya sebelum kau dekat dengan pria itu!" Aby merasa geram.
"Ini tidak ada hubungannya dengan ustadz Yahya, aku merasa kita sudah tidak cocok lagi. Untuk apa bertahan ?"
Aby merasa tersinggung.
"Tega sekali kau minta pisah, lalu Al bagaimana?"
Ijinkan dia ikut aku!" ucap Anisa cepat.
Aby menggeleng pasti.
"Kalau Kau masih ingin melihat Al, jangan sekali-kali minta cerai." kata Aby ketus.
"Aku ingin melanjutkan hidupku, kau juga perlu melanjutkan hidupmu dengan Jelita."
"Kau Tidak perlu mengurusi kehidupanku dengan Jelita, masalahnya adalah di antara kau dan aku." Aby tidak mau kalah.
'Sku mohon,Mas Aby. Talak aku, bukankah aku sudah tidak ada artinya di hidupmu? Kau lengkap dengan Jelita." Aby yang kalap malah mengiyakan perkataan Anisa.
Anisa tau Aby sedang menyindirnya. Anisa tidak meladeninya. Yang ia mau saat ini hanyalah berpisah dari Aby dan menjalani pengobatan di luar negeri.
Sedangkan Aby merasa sangat marah. Ia semakin membenci ustad Yahya yang di anggapnya sudah merubah Anisa.
"Aku minta dengan hormat, bebaskan aku, Mas!" Anisa memohon.
"Kau menangis darah pun minta aku ceraikan tidak akan aku kabulkan!"
"Lalu untuk apa kita masih bertahan kalau sudah tidak ada kecocokan?" Anisa terlihat putus asa.
"Dari awal kita cocok-cocok saja, kau yang menciptakan jarak di antara kita." serang Aby.
Anisa mengalah dengan meninggalkan pria itu. Untungnya Jelita dan Bu Sari tidak berada di rumah saat itu.
"Enak saja minta di bebaskan, mereka aku sebodoh itu? Dengan aku melepaskan Anisa membuat mereka leluasa berhubungan. Anisa.. Anisa sungguh picik pikiranmu sekarang." geram Aby dengan wajah memerah karena amarah.
Anisa duduk di tepi ranjangnya dengan wajah yang semakin memucat.
"Mas Aby tidak akan membiarkan aku bebas begitu saja, aku harus cari cara lain agar dia mau menceraikan ku." bisik Anisa sendiri.
Sejak Anisa minta cerai. Aby semakin menampakkan kemesraannya dengan Jelita. Hal itu ia lakukan karna ingin membuat Anisa cemburu.
Memang benar, bagaimanapun bencinya Anisa saat ini . Aby adalah suami yang sangat di cintainya selama ini. Tak urung hatinya terluka juga saat melihat kehangatan suami dan madunya itu.
Hal itu membuat Jelita merasa menang. ia semakin menjadi karna mendapat dukungan dan perhatian dari Aby. Perlahan dia berani memperlakukan Anisa seperti orang lain di rumah itu.
Seperti yang terjadi hari itu, Aby memberi tau kalau atasannya di kantor akan datang bersilaturahmi. Ia menyuruh orang rumah untuk memasak makanan enak. Dan pesan Aby makanannya harus di masak sendiri bukan membeli.
Karna Bik Iroh sedang tidak masuk kerja. Jelita untuk memasak.
"Aku kurang enak badan Lita." elak Anisa. Memang hari itu ia merasa tidak fit.
"Lalu siapa lagi yang bisa di harapkan? Hanya mbak Anisa yang bisa masak enak di rumah ini." keluhnya membujuk.
Dengan tubuh yang linglung, Anisa terpaksa memasak di dapur.
Sedangkan Jelita sibuk mematut diri di depan cermin. Ia sama sekali tidak perduli pada Anisa memasang dengan badan meriang.
Setelah selesai menata makanan di meja makan. Anisa masuk kamar dan istirahat.
Jelita memeriksa makanan yang tersaji. Ia merasa puas dengan hasil masakan Anisa.
Sore tiba. Aby benar-benar datang dengan tamunya.
Jelita menyambut mereka di depan pintu.
Ia memperkenalkan diri sebagai istri Aby.
Aby sendiri tidak terlalu perduli.
Istri atasannya itu memuji penataan rumah yang cantik dan asri.
"ini pasti sentuhan seorang istri yang lembut dan serba bisa seperti anda." Jelita tersipu mendapat pujian itu.
Aby terdiam sejenak. ia terbayang bagaimana Anisa menata dan memelihara rumah itu selama bertahun -tahun.
Mereka berbincang akrab. Aby minta ijin untuk kedalam sebentar, Pada saat yang bersamaan Anisa merasa haus dan keluar dari kamarnya.
Ia melihat tamunya Aby sudah datang.
Anisa memutuskan untuk menyapa mereka. Bagaimanapun mereka adalah tamu yang harus di hormati.
"Ehh.. Tamunya sudah datang? maaf saya ketiduran." sapa Anisa ramah.
Kedua tamu Aby itu memandang heran.
"Siapa dia?"
"Saya..."
"Dia saudara jauh kamu, kebetulan sedang menginap disini." Jelita menjawab cepat.
Kedua tamu itu mengangguk.
"Mbak, tolong bikinin minum dong!" ucap Jelita sopan. Anisa yang masih merasa bingung menuruti perintah Jelita.
Sampai acara makan siang. Jelita masih membuat kalau masakan yang tersaji adalah masakannya.
Aby hanya diam mendengarkan. Walaupun agak muak juga dengan sikap Jelita yang berlebihan.
"Mbak, tolong tuangkan air minumnya..! Jelita kembali beraksi.
Anisa hanya menurut saja. Ia ingin melihat sampai dimana keangkuhan Jelita.
Aby sempat melirik wajah Anisa. Sebenarnya ia merasa kasihan, tapi wajah tenang itu seolah mengejeknya bahwa perlakuan mereka tidak apa-apanya buat Anisa. Karena itulah Aby hanya diam.
Anisa berdiri tidak jauh dari meja makan.
Ia mendengar dengan jelas kalau para tamunya memuji rasa masakannya.
"Hebat, sekali.. Masakanmu benar-benar enak."
"Ah, biasa saja Bu." Jelita merendah.
Aby hanya tersenyum kecil, ia tidak percaya kalau itu hasil masakan Jelita. Ia juga tau dan hafal hasil karya tangan Anisa.
"Boleh di sebutkan ini bahannya apa saja?" tiba-tiba nyonya bos itu bertanya.
Jelita terlihat kebingungan.
"Ah, iya... "
Wajah Jelita terlihat bingung.
Pada saat itulah Anisa muncul.
"Kalau ibu mau, saya punya resepnya kok."
Semua mata menoleh padanya.
"Mbak tau?" si nyonya menegaskan.
Anisa mengangguk.
"Walaupun saya cuma saudara jauh yang numpang disini, tapi saya lebih tau tentang masak memasak ketimbang nyonya rumah." jawab Anisa dengan tegas. Ia memandang Aby dan Jelita yang tertunduk malu.
Si nyonya terlihat kagum dengan Anisa.
"Boleh saya minta nomor kontaknya, siapa tau kita bisa saling membagi ilmu, kebetulan saya senang dengan dunia perdapuran."
ucap si nyonya dengan ramah.