
Aby menelpon Anisa. Dia bermaksud ingin bicara dengan anaknya.
"Assalamualaikum.." sapa Aby.
"WAalaikum salam, Mas." jawab Anisa berusaha tenang.
"Nis, aku ingin bicara dengan Al, bisa?"
Anisa mendesah. Ia merasa Aby agak cuek padanya.
"Bisa, Mas. Tunggu sebentar."
Anisa memberikan ponselnya pada Al.
Anisa hanya memperhatikan Al yang bicara dengan ayahnya.
Sebenarnya dia ingin membagi cerita pada Aby tentang niatnya menggugat cerai Yahya.
Tapi saat merasa Aby agak berubah, ia merasa tidak enak curhat ke pria itu.
"Aku tidak tau apa yang membuatmu berubah, Mas.mungkin juga kau sudah lelah dengan semua ini. seperti juga aku yang lelah dengan pernikahan penuh sandiwara ini." gumamnya sendiri.
"Ayah, kenapa ayah harus pergi? "
"Ayah harus pergi, ayah harus cari uang yang banyak buat biaya Al sekolah nanti."
"Aku mau ikut ayah saja. disini Nenek sering marah-marah."
"Kalau Al ikut ayah, kasihan Bunda disana sendirian." bujuk Aby.
"Bunda, kan sudah ada ayah Yahya dan dedek Liza. Aku mau ikut ayah saja."
Suara Al terdengar merajuk.
"Baiklah, Al ikut ayah, tapi Al mau nunggu sampai ayah dapat tempat yang layak buat Al, kan? Ayah janji akan segera menjemputmu."
"Tapi aku tidak berani pada Nenek,..,"
Anisa mengambil alih ponselnya.
"Mas, maafkan aku, aku tidak becus menjaga Al. Aku tidak menyangkal dengan apa yang di katakan Al padamu. Tapi aku tidak berdaya." pertahanan Anisa mulai runtuh. Air matanya menerjang keluar.
Aby belum bisa berbicara. Ia merasa bersalah karena telah mendorong Anisa pada keadaan nya sekarang.
"Mas, kau masih disana?" Isak Anisa terdengar jelas.
"Iya, Nis."
"Aku tidak tau pasti alasanmu meninggalkan rumah diam-diam. Tapi asal kau tau, kepergian mu tidak bisa memperbaiki keadaan."
"Nisa, maafkan aku. Semua yang kau alami saat ini tak lepas dari kesalahanku. walaupun tidak mungkin menghapusnya, aku tidak ingin melanjutkan kesalahan itu, atau aku akan tenggelam dalam penyesalan sepanjang hidupku.
Inilah yang terbaik buatmu. Kita sudah tidak mungkin bersama lagi. Fokuslah pada keluargamu yang sekarang. Aku tidak mau jadi penyebab kehancuran hubunganmu dengan ustadz Yahya." suara Aby terdengar bergetar.
"Kau salah, Mas. Masalahku dengan Kak Yahya tidak ada hubungannya denganmu." sergah Anisa.
Memang semua terasa berat bagi kita, khususnya bagiku. Tapi ini harus terjadi. Dan
Aku menelpon kalian karena ingin mengabarkan sesuatu."
Aby menarik nafas sebelum melanjutkan.
"Aku akan menikah dengan Lyra... Restui kami, Nis. Semoga ini pilihan yang terbaik."
Anisa begitu terkejut, suaranya tercekat di kerongkongan.
"Suatu saat kau akan mengerti kenapa aku mengambil keputusan ini."
Setelah mengucap salam, Aby menutup panggilannya.
Anisa terhenyak. Ia jatuh terduduk di ranjang anaknya. ponselnya terlepas dari tangannya.
"Menikah? Secepat ini?"
Anisa merasa ada yang tidak wajar, kenapa Aby bisa memutuskan sesuatu yang begitu besar dan terkesan terburu-buru?
Ia bertekad menyelidikinya.
***
"Hai By... Ayo duduk..!" sambutan pak Sofyan. begitu hangat.
Aby langsung menyalami pak Sofyan dan duduk di depannya.
Pak Sofyan yang biasa nya terlihat formal di tempat kerja kini terlihat lebih santai dengan hanya memakai sarung dan kaos oblong.
"Bapak sudah betul-betul sehat?"
"Iya, By. Tapi saya putuskan istirahat dulu barang empat hari baru kembali ke gudang."
Mereka berbasa basi sebentar.
Sampai Lyra mengeluarkan minuman dan camilan kecil.
"Silahkan, Mas." ucap Lyra sambil ikut duduk.
Hatinya berbunga-bunga karena ia tau Aby datang membawa lamaran untuk dirinya.
Pak Sofyan bangkit dan mengambil sesuatu di atas meja.
"Dari waktu itu saya mau memberikan ini padamu, tapi keburu sakit."
Pak Sofyan mengulurkan sesuatu kepadanya.
"Apa. Ini, pak?" tanya Aby santun.
"Buka lah!"
Aby membuka kotak kecil itu.
Ia menemukan sebuah kunci motor.
"Pak, ini untuk saya?"
Pak Sofyan mengangguk.
"Saya sudah melihat kinerja mu, dengan motor itu bisa mendukung pekerjaanmu."
"Waah, ini terlalu berlebihan, pak." ucapnya sungkan.
Aby mengucapkan terimakasih.
Selain ingin menjenguk bapak, tujuan saya kesini adalah .." Aby berhenti sejenak.
Pak Sofyan memasang wajah serius.
"Ada sesuatu?" tanyanya khawatir.
"Tidak, pak, ini bukan masalah pekerjaan."
"Lalu?
"Saya ingin melamar Lyra..."
Pak Sofyan ternganga.
Lyra yang juga ikut duduk ikut bicara.
"Iya, pa. aku dan Mas Aby.."
"Maksud kalian apa?" potong pak Sofyan cepat.
"Kami ingin segera menikah, tapi itu juga kalau bapak restui." ucap Aby terbata.
Pak Sofyan menepuk bahu Aby.
"Ini yang saya suka dari kamu. Kau laki-laki tegas." ucapnya tertawa.
Lyra menarik nafas lega. Ia sempat takut kalau papanya akan menolak lamaran Aby.
"Sejak kapan kalian berpikir kearah situ? Saya pikir kau dan Lyra hanya berteman biasa saja."
Aby memandang kearah Lyra.
"Sejak kemarin, Pa." jawabnya cepat.
"Kemarin?" kening pak Sofyan berkerut.
"Maksud Lyra, kemarin kami memutuskan untuk segera menikah. Saya butuh waktu untuk meyakinkan Lyra, seperti yang dia tau, saya seorang duda satu anak. Di tambah keadaan saya yang seperti bapak sudah tau sendiri."
"Saya tidak masalah dengan statusmu. yang penting bagaimana Lyra saja. Dia yang akan menjalani."
Pak Sofyan menatap Lyra.
"Aku menerima Mas Aby apa adanya, Pa." jawab Lyra yakin.
Pak Sofyan mengangguk-angguk.
"Lalu kapan kalian ingin meresmikan hubungan ini?"
"Secepatnya, Pa!" jawab Lyra bersemangat.
"Bagaimana, By?"
"Saya menyerahkan semuanya pada bapak. mana yang menurut bapak lebih baik."
"Kalau begitu, seminggu lagi kita adakan acaranya." pak Sofyan begitu gembira.
"Boleh saya mengusulkan sesuatu, pak?"
"Tentu saja. Ini acaramu kau berhak menentukan apa pun." jawab pak Sofyan bijak.
"Acaranya sederhana saja. cukup akad nikah dan sah."
Pak Sofyan memandang mereka bergantian.
Lyra mengangguk kearah papanya.
"Baiklah, kalau itu mau mu."
"Terima kasih, Pak. Dan saya hanya punya sisa tabungan segini, pak. Mohon di terima." Aby Menyerahkan uang sisa tabungannya sebanyak lima juta.
"Semua biaya saya yang tanggung. Kau hanya perlu menyiapkan maharnya saja."
"Tidak, Pak. Mahar sudah saya pikirkan. Ini untuk uang walimah dari pihak pria." jawab Aby kukuh.
Pak Sofya.enerimanya dengan senyum lebar. Ia sangat bangga dengan calon menantunya itu.
Saat pulang, Lyra mengantarnya sampai di pintu gerbang
"Terimakasih, Mas. Aku tidak akan melupakan jasa baikmu ini."
"Oh,ya Ly, setelah kita menikah, Al ingin tinggal bersama kita, kamu tidak keberatan, kan?"
"Tentu tidak, dong, Mas. Aku sayang pada Al. Tulus... " ucap Lyra dengan air mata mengembang.
"Terimakasih."
Aby pulang dengan motor hadiah dari majikannya. Tidak ada bahagia di hatinya karena akan menikahi gadis manis seperti ini Lyra. Tidak ada gairah dalam menjalani hari-hari dalam penantian ijabnya. Semua berjalan biasa saja.
Malam itu Aby duduk di atas sajadahnya. Ia termenung memikirkan keputusannya untuk menikahi Lyra.
"Benarkah aku tega menyakiti perasaan Anisa. Apakah aku juga sanggup menahan rasa sakit di hatiku karena melihat Anisa kembali terluka? Anisa... Sebenarnya ini bukan pilihanku. Tapi jalan kita sudah berbeda, walaupun tujuan kita sama." setitik air bening menetes di atas mushaf yang di pegangnya.
Di tempat lain, Anisa melakukan hal yang sama.
"Apa kau serius dengan niatmu menikahi Lyra? Apa segampang itu kau melupakan semua kenangan kita,Mas? Di saat aku ingin memutuskan satu hubungan, kau malah menjalin sebuah hubungan baru. Di mana Mas Aby yang dulu?" Anisa termenung di teras rumahnya sendirian.
Ia tak habis pikir dengan keputusan Aby yang di anggap nya begitu mendadak.
"Ini sudah malam, masuk lah. Angin malam tidak baik buat kesehatan." suara lembut Yahya menyadarkannya.
Anisa melangkah masuk dan melewati Yahya begitu saja. Tidak tegur sapa dan basa basinya.
Yahya hanya bisa tertunduk pilu.
"Aku sangat menyayangimu, Nisa, apa kurangnya cintaku padamu?"
"Atau... apakah caraku yang salah dalam mencintainya?" Yahya menelan ludahnya yang terasa pahit.
"Aku tidak bisa hidup tanpa Anisa, apalagi Liza..." ia menggeleng keras sampai rambutnya bergoyang di terpa angin malam yang cukup kencang.
"Yahya, Masuk! Sepertinya mau turun hujan." suara Rosma mengagetkannya.
Di pun menurut dan masuk lalu menutup pintu.