KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 67


Dengan wajah gembira Anisa memasuki rumahnya.


Ia tidak perduli dengan tatapan aneh Rosma.


"Aku minta tolong ya sama Bibi, untuk hari ini kita cut dulu ribut-ribut nya. hari ini aku ingin ketenangan." ucapnya dengan bibir penuh senyuman.


"Kenapa dia aneh sekali hari ini? atau mungkin dia stress karna Aby menikahi Lyra Makanya sikapnya berubah drastis?" batin Rosma.


Anisa meletakkan Anaknya di ayunan kemudian dia mulai turun kedapur.


Rosma yang penasaran membuntutinya dari belakang. perlahan dia meraba kening Anisa.


"Anisa, yang sabar, ya! Semua pasti ada hikmahnya. Bibi yakin kau akan segera bisa melupakan masa lalu mu." ucapnya berusaha simpati.


Anisa tertegun sejenak. Ia tersenyum saat tau kalau Rosma belum menyadari apa yang terjadi.


Lalu ia berbalik menghadap Rosma. Sambil memegang kedua bahu perempuan itu, dia berkata,


"terima kasih, Bi. Semua ini berkat bantuan Bibi juga."


Rosma hanya tersenyum mengangguk.


Anisa kembali menghadap ke sayuran yang berserakan di depannya.


"Lalu, Al dimana? kenapa dia tidak pulang bersamamu?" tanyanya lagi.


"Eumm.. Abang Al, lagi nginap di tempat ayahnya. Sudahlah, bukankah Bibi senang kalau dia tidak ada disini, kata Bibi, Al hanya menambah jatah di keluarga ini. iya, kan?" sindir Anisa.


"Tapi itu, kan kemarin. Bibi juga sudah minta maaf. Masa kau masih mengingatnya juga?"


Anisa melengos. Dia geram karena perempuan di depannya ini sungguh pandai bermuka dua. dia pikir segampang itu akan melupakan penghinaannya pada Al tempo hari.


"Lalu kenapa kau biarkan dia menginap disana?" dia masih belum beranjak dari tempatnya berdiri.


"Lha, memangnya kenapa, Bi? Mas Aby itu ayahnya, dia berhak dong ke ayahnya kapanpun dia mau. Dan Mas Aby tidak keberatan sama sekali." bisik Anisa di telinga Rosma. Wanita itu semakin bingung dengan tingkah Anisa.


"Tentu saja Aby tidak keberatan, tapi ...?" Rosma mengurungkan niatnya untuk menyebut nama Lyra, ia takut akan ketahuan kalau ia ikut andil dalam rencana itu.


"Tapi apa? Sudahlah, Bibi mengaji saja sana! Siapa tau bisa mengurangi dosa-dosa Bibi di masa lalu." ucap Anisa menggiring Rosma meninggalkan dapurnya.


Dengan wajah bingung dia meninggal kan Anisa yang tersenyum sendirian.


"Sejahat apapun dirimu, Bi. Aku masih berharap kau segera insyaf." gumamnya menatap punggung Rosma.


Di kamarnya, diam-diam Rosma menghubungi Lyra. Ia ingin memastikan apa yang terjadi hingga Anisa bersikap aneh hari ini.


"Kemana saja anak itu, ponselnya tidak aktif lagi? Tapi... mungkin juga karna lagi sibuk dengan Aby. Mereka kan pengantin baru."


Ia menjawab sendiri rasa penasaran nya.


***


Di tempat Lyra, gadis itu tengah berbahagia. Ternyata Arman memperlakukannya dengan sangat lembut. Ia menyesal sempat meragukan pria yang kini sudah sah menjadi suaminya itu.


Walau pak Sofyan belum sepenuhnya bisa menerima kehadiran nya. Namun Arman tetap bersabar.


"Maafkan sikap Papa, ya..?" Lyra merasa tidak enak dengan sikap papanya yang masih cuek.


"Tidak apa, Ly. Aku maklum, tidak mudah buat papa menerima ku. Aku akan sabar menanti hari di mana dia bisa menerimaku dengan tulus." jawab Arman


Lyra memandang suaminya tak percaya. Ia tidak menyangka kalau Arman bisa sedewasa itu.


"Aku hanya minta padamu, jangan lagi berhubungan dengan yang namanya Bu Risma. Dia perempuan licik yang bisa saja menjerumuskan mu. aku tau semua itu dari Maba Anisa."


"Iya, kau benar. Aku hampir saja melakukan sebuah kesalahan karena hasutannya juga. Aku akan memblokir nomor nya." ucap Lyra tersenyum.


Hari berlalu begitu cepat, Rosma yang ketinggalan berita terus saja menganggap Aby sudah menikah dengan Lyra.


Dia terus menekan Anisa agar tidak jadi cerai dengan Yahya.


"Buat apa juga, toh Aby sudah menikah." nasehatnya pada Anisa.


"Memangnya aku minta berpisah gara-gara Mas Aby? Tidak Bi. Di antara aku dan laka Yahya sudah tidak ada kecocokan. Memang dari awal kami merasa tidak cocok. Tapi karena keadaan lah kami masih bertahan.


Tapi aku juga mau mendahului takdir. Kalau memang aku dan Mas Aby masih ada jodoh, tentu saja aku tidak bisa menolak." jawab Anisa santai.


"Huh, itu sih sama saja. Kau minta cerai Karan dari Yahya karna ingin balik pada suamimu itu."


"Terserahlah apa kata Bibi..." Anisa berusaha cuek dengan semua ucapan Rosma. Ia merasa tidak akan lama lagi mereka tidak akan bersama lagi.


"Kak, kau bisa datang ke pengadilan hari ini, kan?" sapa Anisa.


Yahya mengangguk samar.


"Jangan khawatir, Liza tetap putrimu, kau tidak akan kehilangan hak mu atas dia."


"Tapi aku akan kehilangan kalian bertiga.." jawab Yahya tertunduk.


"Semua akan baik-baik saja, kak. Setelah berpisah kita masih berhubungan baik. Tidak ada yang berubah, hanya status kita saja yang akan membedakan nya.


"Aku juga tidak lupa dengan semua pengorbanan mu selama aku tidak berdaya, hanya kau yang ada di sampingku. Tapi hati tidak bisa di paksa, Kak. Aku harap walaupun kita bukan suami istri lagi, kita tetap sebagai saudara.


"Sudah lah.. Jangan bahas itu lagi. Hal itu hanya akan menambah luka ku semakin dalam." ucap Yahya sembari mengambil Liza dari Bundanya.


"Maafkan aku, kak.." gumam Anisa pelan.


Sore itu saat Anisa sedang keluar, Rosma sengaja mendekati Yahya di kiosnya.


"Yahya, kenapa Anisa tetap ingin bercerai, padahal Aby yang di harapkan ya sudah menikah." ucap Rosma asal.


"Bibi belum tau kalau Aby batal menikah dengan Lyra?" tanya Yahya dengan ekspresi biasa saja.


"Jadi? " Rosma melotot kearah Yahya. Ia begitu kaget.


"Gustiii.. Jadi ini sebabnya Anisa bersikap aneh beberapa hari ini. Kenapa kamu tidak bilang pada Bibi.?"


"Bilang apa? Tentang Aby yang batal menikah?" ulang Yahya.


"Ya, iyalah.. Masa tentang kamu yang lemah tidak dan bisa berbuat apa-apa." omelnya.


"Sudahlah, Bi.. Aku berusaha merelakan semua yang terjadi. Di paksa pun tidak mungkin." sergah Yahya.


Rosma memasang wajah masam.


"Bibi tolong dukung aku, aku sudah sangat lelah dengan semua ini. Jangan tambah lagi dengan semua omelan Bibi setiap hari." Yahya memohon.


"Jadi kamu rela? Ingat, Anisa akan balik pada Aby.. Kalau kamu merasa rela. Bibi yang yang tidak rela! Harga diri keluarga kita di injak-injak oleh mereka."


Rosma begitu marah nya.


Ia menunggu kedatangan Anisa dengan wajah merah padam.


Dia mondar mandir dengan gelisah di teras.


Tak berapa lama kemudian, Anisa muncul dari menjemput Al.


Tanpa basa basi lagi, Risma menarik tangan Anisa dengan kasar.


"Dasar wanita berperasaan. Kamu tega mempermainkan perasaan orang tua sepertiku." hardiknya keras.


"Ada apa, Bi?" Anisa yang tidak tau apa-apa tentu saja merasa kaget.


"Jangan banyak sandiwara. Sini berikan Khaliza. Sekarang kalau kau mau cerai, cerai saja. Tapi Khaliza bersamaku!"


Anisa terkejut.


"Kak Yahya, ada apa ini sebenarnya?"


Yahya datang tergopoh.


Khaliza menjerit-jerit di pangkuan Rosma.


Yahya mengambilnya dan langsung diam.


"Sudah aku bilang, tolong biarkan rumah ini tenang sesaat. Setidaknya sampai putusan pengadilan keluar." Yahya memandang Rosma dengan penuh harap.


"Mana bisa tenang? wanita ini, istrimu, yang hampir menjadi mantan istrimu ini sudah mengolok olok Bibi... Kau juga sama saja.


Kalian sudah tau kalau Aby natal menikah dengan Yahya, tapi kenapa tidak bilang? Bibi seperti orang bodoh yang kalian tipu."


Yahya tertunduk menghadapi kemarahan Bibinya.


Sedang Anisa justru tersenyum.


"Owh itu yang membuat Bibi sewot? Makanya, Bi. Buat apa suka ikut campur pada masalah orang, kalau Mas Aby batal nikah memangnya kenapa? Bibi yang rugi? Tidak, kan"


Rosma masih menahan amarah. Dadanya turun naik.


"Sudahlah, Nis. Jangan pojok kan Bibi seperti itu, dia orang tua. tidak semua yang katakannya itu salah." bela Yahya.


"Ini yang membuat aku semakin yakin untuk berpisah darimu kak." jawab Anisa.


"Berpisah saja. Tapi Khaliza akan bersama kami." teriak Rosma.


"Itu tidak akan terjadi, jangan pisahkan seorang ibu dari anaknya ."