
Anisa terus. Masuk ke kamarnya.
Ada nyeri di hatinya saat melihat Aby membonceng cewek lain.
"Sabar Anisa, kau sudah tidak berhak atas Aby. Relakan dia dekat gadis lain." ia mengusap dadanya yang terasa sesak.
Di depan. Rosma terus melihat kearah rumah Aby. ia mengangguk mengerti penyebab sikap Anisa barusan.
"Owh, jadi ini tho penyebab sikap Anisa yang tiba-tiba aneh begitu"
Dia semakin penasaran dan mendekati rumah Aby.
"Rumahnya nyaman, Mas." kata Lyra sembari duduk di kursi yang sudah usang.
"Kau meledek atau gimana?" tukas Aby menyodorkan segelas air putih.
"Terimakasih.." ucap Lyra dan langsung meneguknya.
"Makannya masak sendiri?"
"Kadang beli, kebanyakan sih di anterin sama Anisa."
Lyra terdiam sejenak.
"Mbak Anisa baik, ya?" timpalnya lagi.
"Dia sangat baik," jawab Aby singkat.
Tiba-tiba
"Brak....!" sesuatu yang di injak Rosma menimbulkan suara.
Sontak Aby dan Lyra melihat kearahnya.
"Bibi tidak apa-apa?" sapa Aby.
Rosma malah pergi begitu saja saat ketahuan sedang menguping pembicaraan orang.
"Siapa dia?" tanya Lyra keheranan.
"Dia Bibinya Yahya. Masih ingat, kan?"
"Tentu masih laah. Usiaku baru dua puluh empat tahun, masa sudah pikun?"
Aby tertawa kecil.
Ia merasa heran karena tidak melihat Anisa di teras rumahnya seperti biasa. Apakah dia sakit?
"Nunggu siapa,Mas?" Lyra penasaran karena mata Aby selalu memandang teras rumah Anisa.
"Al, biasanya dia sudah pulang dari lesnya. Tapi kenapa belum kelihatan.." ucapnya sedikit berdusta.
Lyra meletakkan sebungkus martabak yang di belinya.
"Tidak usah repot."
"Aku memang sengaja membeli dua, untuk Al satu." jawabnya tersenyum manis.
"Terimakasih Lyra."
"Simpan terima kasih mu, Mas. Jangan di habiskan sekarang." gurau Lyra.
"Baiklah, karena sudah hampir Maghrib, aku pulang dulu.."
"Baiklah, hati-hati, ya!" pesan Aby.
Aby melepasnya dengan pandangan.
Ketika Lyra sudah pergi.
"Anisa datang membawakan makanan untuknya.
"Nisa, Mana Liza? Kau tidak membawanya, aku ingin menggendongnya."
"Dia tidur, Mas. Al juga baru selesai mandi."
Kata-kata Anisa sangat singkat. Membuat Aby merasa heran.
"Oh, ya.. Mulai besok tidak usah mengantarkan aku makanan lagi, aku tidak enak Nisa.." ucap Aby pelan.
Anisa terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia menyinggung soal Lyra.
"Kenapa? Apa karena sudah ada yang membawakan makanan buatmu?"
"Tidak juga, hanya tidak enak saja pada Yahya dan Bibinya. Kita sudah tidak ada hubungan apa pun lagi..." ucap Aby pilu, ingat bagaimana statusnya dengan Anisa sekarang. Semua pintu harapan untuk bersama sudah tertutup.
Begitupun Anisa, ketika Aby mengingatkan status mereka saat ini, dadanya terasa bergetar.
"Apa maksud Ma Aby mengingatkan aku tentang hal itu? Aku terluka, Mas." ucapnya dengan mata memerah.
"Aku juga merasakan apa yang kau rasakan.
Tapi kita tidak bisa lari dari kenyataan."
"Apa karna itu kau sengaja membawa Lyra kesini?"
Aby menggeleng keras. "Bukan begitu. Kebetulan saja kami bertemu di tempat kerjaku, dia adalah anak dari bos ku." jelas Aby.
"Mas, pernikahanku dengan kak Yahya hanyalah simbol semata. Kami tidak bisa bersatu secara batin. Lalu apakah bijak kita mendzolimi dieu sendiri dengan memaksa hati?" Anisa begitu terluka. Ia sampai tersedu di depan Aby.
"Yang kita lakukan salah, Nisa. perasaan kita salah. ini dilarang agama."
Anisa mengangguk samar
"Kau bisa bayangkan bagaimana perasaan Yahya kalau sampai tau semua ini?"
"Entah. Kenapa, aku merasa semakin jauh darinya. Aku seperti tidak mengenalnya lagi."
"Bersabarlah menghadapinya. Mungkin karena keadaannya sekarang, harga dirinya ikut terluka. Karna itu pula ego nya semakin tinggi "
"Aku tidak mengerti, Mas. kemana arah rumah tanggaku kedepannya .."
"Aku yakin. Semuanya akan kembali seperti semula. Hanya saja itu menuntut kesabaranmu."
Anisa mengusap air matanya dengan punggung tangannya.
Wanita itu bangkit dari tempat duduknya. ia melangkah ke halaman
Tapi langkahnya terhenti oleh panggilan Aby.
"Anisa, jangan kau kira aku tidak menderita dengan keadaan ini. Hatiku sakit, setiap membayangkan kebahagiaan kita dulu telah berakhir..."
Anisa tak menyahut. Ia terus melangkah pergi.
"Nisa, bawa Liza ke teras ya! Aku ingin menggendongnya."
Anisa hanya mengangguk tanpa menoleh lagi.
Aby melaksanakan sholat berjamaah di masjid yang tak jauh dari tempatnya.
Setelah itu, dia bertandang kerumah Anisa.
Setelah Mengucap salam dan di persilahkan oleh Yahya. Ia pun duduk.
"Aku ingin melihat Liza, berapa hari tidak melihatnya kangen juga." ucapnya antusias.
Rosma yang ikut menyimak tiba-tiba nyeletuk.
"Kangen anaknya atau ibunya?"
Aby dan Yahya saling pandang.
Aby merasa tidak enak dengan sindiran Rosma.
"Nak, Aby.. jangan terlalu serakah jadi laki-laki.
Kalau sudah dapat menggaet gadis muda, kenapa asih mengejar Anisa?" tanya Rosma seolah tanpa beban.
Aby membuang pandangannya ke halaman.
"Bibi, berkata apa, aku tidak mengerti." sanggahnya.
"Karna Bibi terus menuduh kita, apa tidak sebaiknya kita wujudkan saja impiannya, Mas?" seru Anisa sambil menyerahkan Liza pada Aby.
"Anisa, tidak baik bilang begitu." bisik Aby.
Yahya hanya bisa mengusap wajah nya dengan kasar.
"Habisnya kita selalu di tuduh, sekalian saja di jadikan kenyataan."
"Memang anak jaman sekarang kalau ngomong tidak di pikir dulu. Asal kamu tau, Aby sudah membawa seorang gadis kerumahnya sore ini. Jadi lupakan mantanmu ini. Kau hanya akan mendapatkan kekecewaan."
Entah kenapa, mengingat percakapannya dengan Aby tadi sore, membuat Anisa tidak lagi bertenggang rasa pada Rosma.
"Apa perduli Bibi kalau aku kecewa, tidak bada, kan? "
Rosma melangkah masuk saat pertanyaan nya selalu di jawab Anisa.
"Dedek Liza, ayah Aby pulang dulu, ya..! Besok kalau ayah sudah ada uang, ayah beliin mainan, okey?"
Aby terlihat begitu menyayangi Khaliza, dia terus menciumi bayi cantik itu. Seperti ada ikatan batin di antara mereka, bayi itu juga betah di pegang Aby.
Padahal kalau di pegang Yahya yang ayah biologisnya, hanya bertahan sebentar sudah merengek.
Anisa tersenyum menyaksikan Aby bicara pada bayi sekecil Khaliza. terlihat sangat manis, andai saja saja, Khaliza adalah putri kandungnya..."
"Aku pulang dulu, kalau Al datang, suruh pulang kerumah, ya..! Ada martabak dari Lyra untuknya."
Bibir Anisa langsung mengerucut saat mendengar nama Lyra. Aby mengerti kalau Anisa tidak suka pada gadis itu.
"Iya, pak Aby. Nanti saya suruh kesana." Yahya yang menjawab.
Aby pulang dengan hati lega. Begitupun Anisa, langsung membawa bayi nya masuk.
Tinggal Yahya yang menarik nafas lega.
Setiap kali ia berpapasan dengan Aby. ia ingat akan janjinya untuk menceraikan Anisa setelah bayi mereka lahir. Tapi kenyataannya, dia tidak bisa melakukan itu. Apa lagi saat melihat lucunya Khaliza buah cintanya dengan wanita itu.
Ia tidak rela kalau Khaliza akan menganggap Aby sebagai ayahnya, bukan dirinya.
Yahya berubah pikiran, apalagi masukan dari Bibinya sedikit tidak ikut mempengaruhi setiap keputusannya.
💞Gimana dong kelanjutannya? Aby balik sama Anisa? Atau Aby sama Lyra sajalah.. Biar aman, komen ya!