KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 19


Kecemburuan di hati Jelita mulai timbul, apalagi Bu Sari sering berkunjung ke rumah itu. Ia mulai mendapat hasutan yang menjerumuskan.


"Hak mu itu sama dengan Anisa. Lalu buat apa Aby menikahi mu kalau hanya untuk di pajang saja?"


"Tapi aku maklum sih kalau dia tidak bisa menyakiti mbak Anisa."


"Itulah salahnya Aby, kalau merasa tidak mampu berbuat adil, kenapa dia mempertahankan mu, kamu minta cerai saja! Masih banyak pria lajang yang akan mau denganmu, kau cantik, Nak."


Jelita termenung, ia memikirkan kata-kata ibunya.


"Benar, mungkin banyak pria yang akan mau denganku, tapi bisakah dia menyayangi Zahra seperti Mas Aby menyayanginya? Sepertinya tidak ada.." gumamnya ragu.


"Ingat pesan ibu, jangan selalu mau jadi yang kedua!"


Jelita terus terngiang pesan ibunya.


"Jangan mau selalu jadi yang kedua!"


"Ada tiket liburan menginap di puncak selama dua hari dari kantor." ucap Aby saat mereka selesai makan malam.


"Di puncak? Selama ini aku sampai bermimpi dapat liburan disana." sambut Anisa.


"Imran dan Lisa juga ikut, kok." jawab Aby tersenyum


Anisa merasa senang, liburan di puncak adalah cita-citanya, bukanya selama ini mereka tidak mampu, tapi waktu yang belum mengijinkannya.


Wajah Anisa berubah masam.


Aby dan Anisa sama sekali tidak menanyakan pendapatnya. Ia masih berusaha menahan diri.


Mata Jelita semakin memanas saat melihat keharmonisan Aby dan Anisa.


"Lita, ayo duduk dulu disini. Pekerjaan itu biar di kerjakan besok saja." Anisa berusaha melibatkan Jelita dalam kehangatan mereka.


"Tanggung, Mbak. Biar aku kerjakan dulu." jawab Jelita dengan dada sesak.


"Mas, tiketnya untuk berapa orang, sih" tanya Anisa tiba-tiba.


"Dua orang, kenapa?"


"Jelita. Aku pikir tidak enak meninggalkannya di rumah Sedangkan kita bersenang-senang."


Aby terdiam.


"Tapi sayangnya tiket cuma dua, Nis." sesal Aby.


"Kalau begitu, biar Jelita saja yang pergi."


 Aby terhenyak.


"Tapi ini adalah impianmu... Hal yang sudah lama kau inginkan. Lagian Jelita punya bayi. Tidak mungkin, kan membawa bayi kesana." Aby mencoba menjelaskan.


"Tapi Mbak Anisa bisa kok jagain Zahra sementara. Mas Aby tidak pernah bertanya keinginanku." Aby dan Anisa menoleh kaget. Jelita sudah berdiri di belakang mereka.


Rupanya sedari tadi dia mendengar percakapan suami-istri itu.


"Maksud ku, selain Zahra masih kecil, disana ada Imran dan Lisa, juga rekan kerjaku yang lain. Kau akan susah menyesuaikan diri, kalau Anisa, kebetulan sudah mengenal mereka." Aby mencoba memberi alasan.


"Kenapa aku harus khawatir, kan ada mas Aby?" Jelita tidak mau kalah.


"Aku juga sangat ingin liburan, Mas! apa kau pernah menanyakan itu padaku? "


Aby terdiam.


"Sudah, sudah.. jangan di perpanjang. Kau yang akan menemani Mas Aby besok. Zahra biar aku yang pegang. Siapkan sana baju-baju yang harus kau bawa. Jangan lupa bawa mantel. disana dingin." ucap Anisa berusaha tersenyum.


"Terimakasih, Mbak. tapi beneran Mbak tidak apa-apa?"


Anisa mengangguk pasti. Ia menyambut Jelita yang merangkulnya erat.


Aby hanya terdiam menyaksikan semua itu.


Sepeninggal Jelita.


'Mas Aby jangan murung begitu!"


"Apa aku harus bersorak kegirangan? Nisa, kenapa harus memberikan kesempatan ini pada Jelita?" sesal Aby.


"Mas.. cuma masalah liburan saja, aku bisa pergi kapan saja kalau sudah ada waktu." jawab Anisa tenang.


"Ya, kalau kau ada waktu, belum tentu Mas Aby ada waktu juga."


"Sudahlah, ayo istirahat. Besok perjalanannya cukup jauh, kan?"


Aby tidak membantah. Ia berbaring di dekat Anisa. Aby mendesah panjang. Ia merasa ada jarak dengan Anisa semenjak kehadiran Jelita. Ada saja sesuatu yang bisa menghalanginya bila ingin bersama Anisa.


Kalau tidak menemani Jelita menenangkan Zahra di kamarnya sampai ketiduran. Kadang Anisa membawa Zahra tidur di kamar mereka.


Besok sorenya.


Jelita terlihat sangat antusias.


Ia sudah menyiapkan beberapa baju ganti termasuk baju seksinya.


"Apa, pak? Kenapa harus saya? Minta saja pak Jaka yang mengerjakannya.." Anisa menerima telpon dari sekolahnya.


"Kenapa?" Aby yang kebetulan di sampingnya bertanya dengan penasaran.


"Pak kepsek minta aku membuat laporan ke dinas, memang ini bukan tugasku, tapi yang bersangkutan sedang sakit dan laporan ini tidak bisa di tunda." ucap Anisa bingung.


"Tapi Zahra?"


"Zahra akan ikut dengan kami." jawab Aby pasti.


Jelita merasa sedikit kesal saat Aby mengabari nya bahwa Anisa tidak bisa menjaga anaknya, dan Aby minta ia harus membawanya.


"Mas Aby sendiri yang bilang kalau bayi tidak baik dibajak ke puncak." sergahnya kecewa.


"Kalau tidak, dia akan tinggal dengan siapa? Atau kita semua tidak usah pergi saja." kata Aby akhirnya.


"Jangan, Mas! Baiklah.. Aku akan siapkan keperluan Zahra." kata Jelita mengalah.dia tidak mau kesempatan pergi dengan Aby hilang begitu saja.


"Ayo aku antar membeli keperluan Zahra." tawar Anisa berbaik hati.


"Tidak usah, Mbak. Aku bisa pergi sendiri kok." Jelita menolak dengan halus.


Anisa mendesah pelan.


Jelita pergi sendiri mencari perlengkapan anaknya.


"Kayaknya Jelita kecewa karna aku tidak jadi menjaga Zahra...." gumamnya pelan.


Ia tidak tau di belakangnya Aby sedang berdiri dan mendengar keluhannya.


"Tidak usah jadi beban pikiran. Biarkan dia belajar menerima keadaan, sebagaimana kau menerimanya dengan lapang dada."


"Dia lebih muda dariku, mungkin karena itu pula dia merasa aku harus lebih mengerti padanya." Anisa masih membela Jelita.


Sore harinya Aby dan Jelita berangkat di iringi pandangan Anisa. Hati Aby terasa sunyi tanpa kehadiran Anisa. Aby mencoba mencari celah di hati Anisa, benarkah dia sudah mengikhlaskan semuanya? Benarkah hati wanita itu tidak terluka? Pertanyaan itu menggema di hati Aby.


Anisa menyibukkan diri dengan tugas dari sekolahnya.


Sejenak ia bisa melupakan Aby dan Jelita.


Di saat Aby sedang berada di puncak bersama istri mudanya, keadaan membuat Anisa bertemu lagi dengan ustadz Yahya. Mereka sama-sama di utus pihak sekolah untuk sebuah proyek dan mengharuskan mereka terus bertemu.


"Biar aku antar pulang, ini sudah sore, taksi juga susah lewat sini."


"Maaf, ustadz. Aku akan menunggu sebentar lagi." jawab Anisa. Saat itu mereka sedang berada di pinggir jalan. beberapa rekan mereka sudah pulang terlebih dulu.


Anisa menyesal kenapa tidak membawa motor sendiri, ia memilih naik mobil jemputan tadi pagi.


Ustadz Yahya tidak tega meninggalkan Anisa sendirian. Ia duduk namun agak jauh darinya.


Tidak berapa lama, tiba-tiba Anisa jatuh dan tidak sadarkan diri.


Ustadz Yahya langsung membawanya kerumah sakit.


Anisa terkejut saat menyadari dirinya berada di rumah sakit.


"Terima kasih, ustadz." ucapnya tersenyum.


"Kau jangan terlalu banyak bergerak dulu."


Anisa memaksakan diri untuk menegakkan kepalanya.


"Tolong jangan beritahu siapa pun tentang keadaanku." ucapnya memohon.


"Kenapa?"


"Aku tidak mau membuat orang-orang yang ku sayang merasa cemas. Padahal aku hanya kecapean saja."


Ustadz Yahya mengangguk. Tapi ia tidak percaya Anisa baik-baik saja. Wajahnya terlihat pucat dan lemas.


Dokter datang untuk melihat keadaannya.


"Ustadz, bisa aku bicara dengan dokter berdua saja?"


Walau heran, Ustadz Yahya mengangguk dan permisi keluar.


"Anisa, saya cepat-cepat datang kesini saat teman saya yang bertugas disini bilang punya pasien bernama Anisa. Dan feeling saya bilang bahwa itu kamu." kata dokter cantik itu serius.


"Terima kasih, Dok. semuanya masih aman, kan?" tanya Anisa dengan bibirnya yang semakin kering.


"Selama ini aman, tapi saya tidak sanggup menyembunyikan rahasia sebesar ini. Ini sangat membebani pikiran saya."


"Dokter tidak akan di salahkan siapa pun, ini adalah permintaan saya selaku pasien. tujuan saya hanya tidak ingin membuat orang- orang yang saya sayangi bersedih."


"Obat-obatan masih rutin kau minum?"


Anisa mengangguk


"Cuma dalam dua hari ini, mungkin saya kecapean karna bergadang mengerjakan tugas."


Dokter Ratna tersenyum penuh kekaguman.


"Baru kali ini saya menangani pasien yang mempunyai semangat hidup begitu tinggi. Saya salut." ucapnya tersenyum.


"Biasa saja, Dok. Jika Allah memanggilku dalam waktu dekat, saya hanya ingin mengisi waktu yang tersisa dengan hal yang bermanfaat. tidak ada gunanya juga menangisi keadaan." jawab Anisa tegar.


Dokter itu juga tau bagaimana Anisa menghadapi kemelut dalam rumah tangganya, selain bergelut melawan penyakitnya.


"Sungguh seorang wanita yang tegar dan patut menjadi panutan." batin dokter itu.


Ustadz Yahya semakin penasaran karena melihat pembicaraan yang begitu serius antara Anisa dan Dokter Ratna.


"Jalan satu-satunya sku harus mencari tau tentang dokter itu."