KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 47


Anisa sadar dari pingsannya.


Ia kembali menangis tersedu. Kini ia harus menyaksikan dua sosok pria yang mengisi hidupnya itu tengah terbaring tak berdaya.


Mereka belum juga sadarkan diri.


Di ranjang sebelah kanan ada Aby yang patah tulang leher. Dan sebelah kirinya ada Yahya yang terbaring dengan lemah, ia belum menyadari sudah kehilangan sebelah kakinya.


Bagaimana ini bisa terjadi? Sungguh ujian yang begitu berat bagi Anisa.


Rosma datang tergopoh ke ruangan itu. Ia langsung menarik tangan Anisa untuk keluar dari sana.


"Ada apa, Bi...?"


Rosma tidak menjawab. Karena tidak ingin membuat keributan, Anisa mengikutinya.


Di setempat yang agak sepi, Rosma menghentak tangan Anisa dengan kasar.


"Kau harus bertanggung jawab atas apa yang menimpa Yahya..!" ucapnya penuh emosi.


Anisa terduduk lemas.


"Tenanglah, Bi... aku juga terluka sebagaimana Bibi. Tapi apa yang bisa ku lakukan? Semua sudah terjadi. Ini takdir yang tidak bisa di hindari.'


"Takdir? Kalau tidak berkeras mencari mantan suami mu itu, Yahya tidak akan kehilangan sebelah kakinya. Bayangkan, sekarang keponakanku sudah menjadi pria cacat..!"


Anisa merangkul wanita tempra mental itu.


Ia mengerti apa yang dirasakannya saat ini. Tak jauh beda dengan dirinya.


"Jangan coba membujuk ku. Aku muak denganmu!" Rosma mendorong tubuh Anisa.


Anisa kembali terisak. Pantas saja kalau Rosma menudingnya penyebab musibah yang menimpa Yahya. Andai saja ia tidak pergi begitu saja, andai ia bicara baik baik dulu dengan Yahya, mungkin Yahya tidak akan pergi menyusulnya.


Anisa duduk di bangku depan ruang ICU. Matanya menatap kosong.


Berbagai kemungkinan terbayang di kepalanya. apakah Yahya, bisa menerima kenyataan? Lalu Aby, dia juga butuh seseorang untuk merawatnya.


"Nisa.." Imran duduk di sampingnya.


Anisa tidak bisa menjawab, matanya menatap ruang kosong.


Imran menarik nafas panjang.


"Kau fokus saja pada Yahya, biar Aby aku pikirkan bagaimana caranya."


Anisa memandang Imran sejenak.


"Aku tidak bisa membiarkan Mas Aby dalam keadaan seperti ini, Aku juga tidak akan meninggalkan kak Yahya...."


"Lalu bagaimana caranya, kau sedang hamil, ada Al juga yang butuh perhatianmu."


"Aku tidak tau, tapi aku sudah bertekad, aku akan merawat mereka berdua. Kalau Mas Imran ingin membantu, aku tidak menolak. Tapi mereka tetap di bawah tanggung jawabku.


Imran terdiam. Ia kagum pada Anisa. Di saat seperti ini dia tetap bisa mengambil keputusan. Padahal jika wanita lain yang mengalami seperti dirinya, mungkin hanya bisa menangis menyesali nasib.


"Mas Aby ingin pergi darimu karna tidak mau aku terjebak dalam dua pilihan yang sulit.


Dia sudah memberikan hidupnya untuk ku, aku tidak bisa membiarkannya sendirian.


Sedang kak Yahya, dia juga sama seperti ku, dia juga tersiksa dengan keadaan ini. Dia mengalami musibah ini karna ingin menyelamatkan Mas Aby. Aku juga tidak bisa membiarkan nya. aku akan merawat mereka." ucap Anisa mantap.


"Aku tidak bisa berkomentar apa-apa. Semoga keputusanmu itu lah yang terbaik."


Anisa dan Imran bergegas masuk saat di beritahu kalau salah satu pasien sudah sadar.


Yahya terlihat menatap langit-langit ruangan itu. Mungkin ia bingung karena berada di tempat itu.


Melihat Anisa datang, ia ingin bangun, tapi seluruh tubuhnya terasa kaku.


"Tidak usah bangun, Kak."


"Anisa, apa yang terjadi?" ucapnya masih bingung.


"Kau dan Mas Aby, kalian berdua tertabrak sebuah mobil. untungnya kalian tidak tertabrak langsung, tapi kalian terpental cukup jauh..."


"Lalu bagaimana keadaan Aby?"


"Dia belum sadar sampai saat ini... Tapi kata dokter, masa kritisnya sudah lewat." Imran yang menjawab.


Saat itu dia ada belakang Anisa. saat melihat ada mobil yang melaju kencang hendak menabrak Aby, ia berusaha mendorong tubuh Aby ke samping. kejadian selanjutnya ia tidak ingat apa-apa lagi.


Anisa terlihat gelisah. Ia takut akan reaksi Yahya kalau menyadari sebelah kakinya sudah tidak ada.


Nis, tolong bantu aku untuk bangun, tubuhku bagian bawah terasa kebas, susah di gerakkan"


Anisa dan Imran saling pandang.


Tentu saja tidak bisa di gerak kan karena efek biusnya belum bilang total.


Saat itu Anisa maupun Imran masih bisa menunda waktu dengan alasan macam-macam. Tapi setelah se jam, dua jam Yahya juga akan tau semuanya.


"Tolong tanya Dokter, kenapa kaki ku sebelah kanan terasa ringan tidak berfungsi." ucapnya heran. Ia menyingkap selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya.


Matanya mengerjap beberapa kali.


"Kakiku ke apa? Dimana kali ku?" ucapnya panik. Ia masih belum percaya, hingga melempar selimut itu kebawah. Tapi tetap saja kakinya tidak kembali.


Anisa mendekap mulutnya sendiri agar tidak terdengar isaknya.


Yahya tertunduk layu. ia pandangi kakinya yang Ter bebat perban.


"Aku Cacat.. aku hanya punya sebelah kaki...?" gumamnya sendiri.


Anisa memeluknya dengan tangis yang tidak tertahankan. Dada Yahya terguncang menahan tangisnya.


Ia sudah sempat membayangkan akan bermain dengan buah hatinya yang akan lahir. Menggendongnya, mengangkatnya dan mengajarinya berjalan. tapi sekarang, dia hanya punya sebelah kaki saja. ia seolah mendengar suara suara anak kecil yang mengejek anaknya. Mereka bersorak


Dan berkata,


"A-yah cacat, a-yah cacat!!" Yahya menutup kedua telinganya.


Ia tidak tahan dengan bayangannya sendiri.


"Aku cacat, Nisa.. Aku tidak mau anak ku kelak malu dengan keadaan ku ini, aku tidak mau dia jadi bahan ejekan teman-temannya."


Yahya mengusap air matanya.


"Tidak, kak! Anak mu justru akan bangga punya ayah seperti mu, dia akan bangga karna ayahnya jadi seperti ini karena menolong orang lain.


Yang kuat, kak. Aku percaya kau pasti bisa menghadapi semua ini." hibur Anisa.


walaupun ia sendiri tau tidak akan mudah menerima kenyataan yang seberat itu.


Yahya begitu terpukul, ia terus meneteskan air mata, hingga akhirnya di lelah dan tertidur.


Anisa menatapnya dengan iba. Kemarin dia masih benci pada pria itu, dia pun beranggapan kalau Yahya sengaja memanfaatkan kesempatan untuk menikahinya.


Tapi saat melihatnya tidak berdaya seperti itu, ia menyesal. Perlahan ia mengusap kepala pria itu. Ia menyesal kenapa sampai saat ini belum bisa memberikan seluruh hatinya. Padahal Anisa tau, betapa besar cinta dan pengorbanannya selama ini.


Tak sengaja matanya melihat Aby yang terbaring di ranjang sebelahnya.


Dia...? pria yang selalu mengisi hatinya, pria yang pernah mengecewakannya , tapi pria itu juga sudah memberikan kehidupan baru baginya. Ia rela hidup menyendiri demi istri dan anaknya.


"Ya Robb... Tolong berikan jalan yang terbaik buatku, apa yang harus aku lakukan dengan mereka? Aku tidak mau mengecewakan keduanya..." rintih Anisa dalam hati.


Anisa mengurus berniat mengurus administrasinya. tapi ia di cegat Rosma.


"Heh, Aku yang akan membayar semua biaya perawatan Yahya, kau urus saja mantan suami mu itu..!"


Anisa hanya terdiam menarik nafas.


Ia malas meladeni orang tua itu.


"Kalau Bibi punya uang, tidak apa-apa." jawab Anisa tenang.


"Tentu saja kau suka, kan? Sebenarnya Yahya adalah beban buatmu, Bibi, tau semuanya."


"Astagfirullah... Bibi terlalu berlebihan menuduhku, Kak Yahya itu suamiku, tentu saja dia juga tanggung jawabku."


"Masih juga berani membantah, jelas-jelas apa yang terjadi karena ulahmu yang sok perhatian pada mantan mu itu."


Anisa hanya mampu mengurut dada.


Ia sama sekali tidak mengerti kenapa Rosma begitu membencinya, padahal ia merasa tidak pernah menyinggung atau pun berbuat sesuatu yang sekiranya merugikan wanita itu.