
Sejak hari itu Aby dan Anisa sering bertemu entah karena urusan Al atau hanya sekedar ingin melihat Khaliza, itu alasan Aby.
Perlahan namun pasti. Kehidupan finansial dan kesehatan Aby juga mulai membaik,. walaupun kadang masih harus check up kedokter karena kondisi ginjalnya.
Banyak teman sesama guru Anisa yang menganjurkan untuk kembali bersama Aby saja. Anisa hanya menanggapinya dengan senyum kecil.
"Apa Bu Anisa tidak niatan untuk kembali saja pada pak Aby?"
"Owh, ya.. Gimana kabar pak Yahya paska kalian berpisah?" tanya yang lainnya.
"Sudah dua minggu sejak kami resmi bercerai, saya belum tau kabarnya." jawab Anisa singkat.
"Apa dia tidak rindu pada putrinya? Tapi paling tidak ada kabar lah, apalagi dia masih punya tanggung jawab menafkahi Khaliza."
Anisa menanggapi opini teman-teman nya dengan bijak.
"Saya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, selagi saya mampu. Lagi pula kita maklum bagaimana keadaanya."
"Iya, sih. Tapi yang namanya tanggung jawab tetap saja tidak bisa di lupakan." tukas yang lain.
"Memang sudah takdirnya kali kembali pada pak Aby. cepetan saja diresmikan Bu.." celetuk seorang guru pria.
"Yee, ngga sabaran banget pak Irfan cepet kondangan dan makan gratis." jawab temannya yang segera di sambut tawa oleh yang lain.
Anisa hanya tersenyum simpul.
Candaan para sahabatnya adalah doa baginya.
 Sejujurnya dalam hati ia memang berharap seperti itu, tapi entah dengan Aby. Anisa tidak bisa membaca pikiran dari mantan suaminya itu.
Lalu Yahya? Yahya tetap mendapat tempat di hatinya. Bagaimanapun Yahya pernah menjadi orang terdekatnya bahkan jauh sebelum pernikahan mengikat mereka.
Tapi perasaan itu hanya sebatas seorang sahabat. Anisa tetap mengkhawatirkan Yahya dengan keterbatasannya yang dia alami.
Suatu pagi di hari Minggu. Al meminta pada ayahnya agar di antar ke suatu tempat.
Dengan senang hati Aby menyanggupinya.
Pagi sekali dia sudah muncul di depan pintu.
Anisa yang membukakan pintu sampai kaget.
"Mas, mau menjemput Al, ya?" dia belum mau bangun." ucap Anisa.
Aby menahan senyumnya.
"Aku kepagian, ya?" tanyanya tersenyum malu.
"Ayo masuk. atau kau bangunin saja sendiri."
Tawar Anisa
Dengan ragu ia melangkah ke kamar yang tidak terlalu besar itu.
Setelah membangunkan anaknya,
Aby kembali kedepan. Dia duduk di bangku halaman rumah dinas itu.
"Mas, aku sudah bikinin kopi, dan sarapan saja sekalian, belum sarapan, kan?" tebak Anisa langsung.
Aby tersipu.
"Kau tau saja.."
"Feeling saja." jawab Anisa.
"Aku memang jarang sarapan, kadang kalau sudah lapar sekali baru bikin mie instan." ucapnya terkekeh.
"Tidak baik makanan instan terus. Jaga kesehatanmu, Mas." Aby merasa senang karna perhatian Anisa.
"Kau benar, tapi mau gimana lagi. Aku tidak sempat memasak." jawabnya polos.
Al menyambut ayahnya dengan senyum lebar di depan pintu.
"Aku kira ayah tidak bisa mengantarku?" ucapnya tersenyum manis.
"Apa sih yang tidak buat jagoan ayah ini?" Aby mengusap rambut Al.
"Ayah lapar, ya? Kok perutnya bunyi?" tebak Al. Saat memeluk ayahnya ia mendengar sesuatu dari perut Aby.
Aby menyembunyikan senyumnya.
Ia merasa malu kalau Anisa sampai tau keadaannya.
"Jangan bilang Bundamu, ayah malu."
Bisiknya pelan.
"Kenapa harus malu? Sudah sarapan sana! " Anisa sudah berdiri di belakang mereka.
"Ayo, Yah kita sarapan." Al menarik tangannya.
Anisa mengangguk meyakinkannya.
"Kau tidak sarapan sekalian?"
"Aku nanti saja, aku masih menyiapkan keperluan dedek Liza."
"Nanti saja, Bund. Temani kita sarapan seperti dulu." pinta anaknya dengan tatapan memohon.
"Benar kata Al. Sudah lama sekali kita tidak duduk semeja lagi " ucap Aby sambil memberi isyarat agar Anisa ikut duduk dan sarapan bersama.
Walau hanya dengan telur ceplok dan tumis kangkung. Aby makan dengan lahapnya.
Al dan Anisa sampai heran melihatnya.
"Mas, kau makan seperti orang yang tidak pernah makan berhari-hari.."
"Kau benar, aku jadi malu. Soalnya tumben makan masakan rumahan, biasanya kalau tidak beli, ya.. dapat dari tempat kerja." ucapnya sambil meneguk air minumnya.
"Kalau begitu biar Bunda saja yang masak untuk ayah setiap hari, gampang, kan?" celetuk Al.
Anisa tersedak di buatnya.
Dengan perhatian Aby menyodorkan air minum.
"Terima kasih.." ucapnya pada Aby.
Aby hanya mengangguk.
"Sebentar, ya.. Bunda mau lihat dedek Liza dulu." ucap Anisa. Ia tergesa bangkit dari tempat duduknya. Sebenarnya ia hanya mencari alasan untuk menghindar dari meja makan. Hatinya berdebar kencang tidak karuan.
"Ayolah, Nisa.. apa yang terjadi padamu? belum tentu Mas Aby punya perasaan dan harapan yang sama denganmu." Anisa bicara sendiri.
"Bunda, kita sudah selesai..?" teriak Al mengagetkannya.
"Iya... Biarin saja. Bunda masih bangunin dedek Liza."
Anisa mengintip keluar.
Dia melihat Aby dan Al sudah ke depan.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Aby.
Al mengangguk, kemudian terdiam.
"Kenapa, nak.?"
"Sebenarnya Bunda juga mau keluar. Tapi dedek Liza tidak ada yang jagain..." jawab Al sedih.
Aby berpikir sejenak
Saat itu Anisa datang dan bergabung dengan mereka. Dia membawa Khaliza serta di pangkuannya.
"Selamat pagi anak cantik..." sapa Aby pada anak itu.
Tak disangka Khaliza langsung tersenyum dan mencondongkan tubuhnya ke arah Aby.
"Dia minta di gendong, Mas.."
Dengan senang hati Aby menyambutnya.
Mereka terlihat begitu akrab.
Anisa terharu melihatnya.
"Nis, kata Al. Kau mau keluar?"
"Iya, sih Mas.. Tapi Khaliza tidak ada yang menjaga."
"Kenapa tidak biarkan bersamaku, lihat saja dia anteng. masa kau tidak percaya padaku?"
"Bukannya tidak percaya, tapi aku tidak ingin merepotkan mas Aby lagi."
"Merepotkan gimana? kau pergi saja. Tolong siapkan susunya saja." ucap Aby.
"Tapi kau mau mengantar Al, bukan?"
"Benar, tapi kita hanya ingin ketaman saja."
"kalau Mas Aby tidak repot aku berterimakasih sekali."
Akhirnya Anisa menyiapkan keperluan Khaliza.
Aby membawa Khaliza dengan gendongan depa dan Al duduk di boncengan nya. ia membawa mereka pergi ketaman.
Anisa menarik nafas lega.
Kemudian dia bersiap untuk pergi.
***
Yahya sudah mulai membuka usahanya kembali. Namun kali ini dia mencari lokasi di sebuah pasar tradisional. Hasilnya lumayan ramai. Siang harinya dia istirahat untuk sholat dhuhur di masjid terdekat.
"Sebaiknya aku rehat dulu sebentar disini..." dia merebahkan tubuhnya yang penat.
Saat menyalakan ponselnya, wajah Anisa dan anaknya langsung terpampang jelas.
"Apa kabarnya mereka, ya..? Ayah rindu padamu, Nak.." Yahya mengusap gambar di ponsel tu.
"Semoga kalian baik-baik saja dimanapun berada..." ucapnya pelan.
"Apa mungkin mereka sudah kembali ke rumah yang dulu? Mungkin juga. Rumah itu, kan kosong.." ucapnya lagi.
Sebaiknya aku sambangi mereka nanti sore, sekalian memberi sedikit rizki untuk membeli susu khaliza."
ucapnya dalam hati.
Lain dengan Yahya yang mulai bangkit dari terpuruknya, lain lagi dengan Rosma yang berada di panti jompo.
Dia merasa tidak betah, namun dia juga tidak tau harus kemana lagi kalau nekat pergi dari tempat itu.
"Membosankan..! Tiap hari harus melihat wajah-wajah itu lagi dan itu lagi. tapi harus gimana lagi? Aku mau kemana mencari Yahya, dia tidak ada di rumah Anisa." keluhnya sendiri.
"Rosma...!!" Rosma menutup kedua telinganya. Teriakan dari seorang lansia yang kurang sehat mentalnya membuat telinganya berdenging
Rosma mendatangi lansia itu.
"Jangan berteriak lagi padaku, aku bukan babu disini..!" bentaknya kasar.
"Yang sabar, Bu. beliau seperti ini karena stress bertahun-tahun anaknya tidak menjenguknya sama sekali. Jangan di bentak Bu Rosma." Bu Fatma menasehatinya.
Rosma memang di minta membantu merawat para lansia tersebut karena dirinya termasuk yang paling muda di antara lansia lainnya.
"Dan ibu harus ingat, disini tidak ada yang namanya babu.. Kita semua sama.
.