KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 83


Hari itu Aby memboyong keluarga kecilnya kerumah baru. walaupun tidak mewah dan sebesar rumahnya yang dulu, tapi ia bersyukur bisa memberi tempat bernaung yang lebih nyaman dari tempat sebelumnya Anisa diami.


Mereka benar-benar keluarga kecil yang bahagia. banyak yang iri dengan keharmonisan mereka.


Anisa tidak berhenti bersyukur dengan keadaan itu.


Usaha Aby pun perlahan semakin maju. Hal itu tidak membuatnya jumawa. Ia banyak merekrut tenaga karyawan dari orang-orang yang tidak mampu di lingkungan tempat tinggalnya.


Perlahan namun pasti. ia mampu memberi penghidupan yang layak pada keluarganya.


Yahya pun terkadang bertandang kerumah Aby. Hubungan mereka semakin membaik.


Walau terkadang rasa iri dan cemburu masih terbersit di hati Yahya, tapi ia berusaha menepisnya. Ia cukup bersyukur karna Aby tidak membeda-bedakan antara khaliza dan Al.


Lima bulan setelah bersatunya mereka kembali,


"Mas, nanti kau temani Abang Al tidur, ya!" ucap Anisa setelah mereka selesai makan malam.


"Lho, kenapa? Abang sakit?" Aby merasa heran.


Al menggeleng keras.


"Bukan, Aku hanya ingin tidur sendiri dulu." jawab Anisa ikut bingung dengan keinginannya.


"Aneh..!"


Malam sudah menunjuk pukul sembilan. Setelah memeriksa pembukuan gudang nya. Karna merasa mengantuk, Aby melangkah masuk ke kamarnya.


"Mas, aku sudah bilang, Mas Aby jangan tidur disini dulu.."


Aby semakin heran. Ia pikir Anisa bercanda dengan permintaannya tadi.


"Kau bosan melihat wajahku, ya?" tanyanya penasaran.


Anisa menggeleng keras.


"Bukan! Jangan salah paham , aku hanya tidak ingin Mas Aby deket-deket dulu." ucap nya memohon.


"Iya, tapi apa alasannya?"


"Tidak ada alasannya, Mas. Terkadang sesuatu tidak membutuhkan alasan." ucap Anisa.


"Susah ngomong sama Mas Aby. Biar aku tidur di kamar Khaliza saja." ucapnya sambil ngeloyor pergi.


Aby memegangi keningnya tanda tidak mengerti dengan tingkah aneh istrinya.


"Kenapa dia? apa aku berbuat salah?"


Aby membiarkan Anisa tidur di kamar putrinya. karena mengantuk, ia memutuskan besok saja bertanya pada Anisa.


Sampai terbangun jam empat pagi, Aby merasa heran karena Anisa masih di kamar Khaliza.


Perlahan Aby bangkit dan menuju kamar Liza. Setelah di bukanya sedikit, ia bisa melihat Anisa tidur pulas dengan memeluk putrinya itu.


 Aby memilih mandi dan pergi ke masjid di kompleks mereka.


Saat pulang dari masjid, ia mendapati Anisa sudah sibuk di dapur.


Seperti yang biasa dia lakukan, dengan diam-diam dia memeluk pinggang istrinya dari belakang.


Bukan senyuman manis seperti yang ia harapkan, tapi wajah masam istrinya.


"Mas, apa-apaan sih ini? "


Aby menatapnya dengan bingung.


"Kau kenapa, Nis? Apa aku melakukan kesalahan? Perasaan dari kemarin sikapmu berubah..." ujar Aby pelan.


"Tidak ada yang berubah, itu hanya perasaanmu saja. Sebaiknya kau tunggu di ruang makan. Sebentar lagi sarapannya siap..!" ucapnya tanpa melihat ke arah suaminya.


Aby melangkah keruang makan dengan berbagai macam pertanyaan dalam benaknya.


"Ada apa sebenarnya dengan Anisa? Kenapa dia bersikap aneh seperti itu?"


Sampai Aby berangkat ke gudangnya, Anisa masih belum berubah. Ia seperti tidak merasa bersalah sama sekali.


"Aku berangkat, Nis." ucapnya seperti biasa. Anisa datang menyalaminya dan mencium tangannya.


"Hati-hati, aku sudah siapkan makan siang di jok. jangan lupa di makan.."


Aby mengangguk dan tersenyum. Ia hendak mencium kening istrinya seperti biasa. Tapi Anisa menghindar.


"Cepat berangkat, ini sudah siang." ia mengalihkan perhatian Aby.


Setelah mencium Khaliza, Aby berangkat seperti biasa.


Karena kesibukan di gudang. Aby melupakan sejenak keanehan Anisa.


***


Sementara itu, Yahya sedang menerima telpon dari Bu Fatma pengurus panti.


"Maaf, pak Yahya. kami sudah tidak bisa mentolerir tingkah Bu Rosma. Tiap hari ada saja perbuatannya yang merugikan panti ini. Kalau bisa, bapak segera jemput saja Bu Rosma."


Yahya tidak habis pikir, kenapa bibinya suka sekali membuat keributan. Tidak di rumah maupun di panti.


Dengan berat hati dia menjemput Rosma ke panti.


"Yahya... !" Rosma langsung merangkulnya dengan erat.


"Kenapa lama sekali baru datang. Bibi lelah menunggumu. Bagaimana keadaanmu? " dia memeriksa Yahya dari kepala sampai kaki.


"Bi, aku baik.. Bibi gimana?"


"Waktu Lima bulan di panti ternyata tidak bisa merubah sikap Bibi..." gumam Yahya kecewa.


Rosma seketika terdiam.


"Maaf, Bibi terlalu senang kau datang."


Yahya menemui pengurus panti.


Setelah bicara panjang lebar. Yahya membawa Rosma pulang ketempat kost nya.


"Ini tempat tinggal ku, Bi.."


Rosma menatap sekeliling, sangat gersang dan kumuh.


"Jadi, kau masih ngekost? Bibi pikir sudah punya rumah sendiri." ia mendesah kecewa.


"Dari mana aku dapat uang ? Aku hanya penjual aksesoris ponsel. Maaf, kalau Bibi kecewa."


Yahya terdiam.


"Sudahlah, tidak apa-apa. Yang penting kita giat berusaha." hibur Rosma.


Mulai hari itu, Rosma ikut tinggal di kost kecil milik Yahya. Dia merasa gerah, namun tidak ada pilihan lain.


"Maaf, Bi. Aku tidak bisa memberi Bibi kehidupan yang seperti Bibi bayangkan." ucap Yahya sendu malam itu.


Ia melihat Bibinya selalu mengeluh dengan keterbatasan yang mereka alami.


"Bibi juga minta maaf, mungkin karena belum pernah merasakan hidup susah sebelumnya, makanya Bibi bersikap berlebihan. Atau gimana kalau Bibi ikut jual gorengan di samping lapak mu"


Yahya senang mendengar Rosma bersemangat.


"Aku setuju, Bi." dengan bersemangat Yahya membantu persiapan Rosma.


Rosma sudah mulai berdagang beberapa jenis gorengan. Dengan sabar ia menunggui dagangannya di sapa orang yang lalu lalang.


Jangankan menawar atau bertanya, melihat pun tidak.


Sampai kakinya merasa pegal, satu pun belum ada yang laku.


Rosma melihat penjual gorengan di sebelahnya sangat ramai, belum beberapa jam saja sudah habis.


"Apa yang salah pada daganganku?" ucapnya bingung.


Yahya yang melihat kekecewaan di wajah Bibinya berusaha menghibur.


"Sabar, berjualan memang begini. kadang laku kadang juga tidak. Yang penting kita sudah berusaha."


Rosma menanggapinya dengan senyum kecut. Sampai sore hari hanya beberapa saja barang dagangannya yang laku.


Rosma terpaksa mengemas kembali gorengannya yang tidak laku.


Dia sudah hendak membuangnya ke tong sampah saat Yahya menegurnya.


"Bi, kenapa di buang? Sini biar aku yang bawa"


"Tapi ini terlalu banyak, kalau kau mau, dirumah masih ada." ujarnya kecewa.


"Bukan untuk aku, tapi buat mereka.." Yahya menunjuk beberapa teman sesama penjaga lapak seperti dirinya.


"Jangan.., kau mau memberikannya kepada mereka? Enak saja. Tadi mereka melirik pun tidak pada daganganku, sekarang mau yang gratisan, tidak bisa!" ucap Rosma sambil membuang makanannya ke tong sampah.


Yahya tercenung sejenak.


Rosma tidak perduli. Ia terus berjalan pulang dengan wajah lelah.


"Bi Rosma lebih suka melihat makanannya terbuang ketimbang di berikan pada orang lain..." Yahya Menggeleng.


Sepanjang malam Rosma berpikir bagaimana caranya agar dagangannya laris seperti penjual di sebelahnya.


Karna lelah berpikir, dia sampai ketiduran.


Pagi buta, dia sudah bangun dan berkecimpung di dapur.


Yahya sampai heran terlihatnya.


Tapi ia bersyukur Rosma kembali bersemangat.


Yahya heran karena dagangan Bibinya ramai, tidak seperti kemarin.


"Iya, sebentar.. Antri ya..?" ucapnya sambil melayani pembeli yang mayoritas ibu-ibu.


"Begini, dong ibu-ibu, belinya di saya.. Di jamin selain rasa lebih enak, yang penting itu halal. Ga kaya yang di sebelah itu, tuh..?


Tapi jangan bilang siapa-siapa ya. gorengan yang itu, di gorengnya pakai minyak babi."


"Masa, sih Bu? Ibu tau dari mana? Kayaknya ngga mungkin deh. Lihat saja penjualnya pakai hijab. Bu Rosma jangan memfitnah."


Ucap salah seorang pelanggan.


"Iih, kok lihat hijabnya, itu hanya kedok, jangan sampai tertipu." Rosma semakin keterlaluan.


Sontak para ibu itu bergidik.


"Amit-amit deh, kalau begitu mulai sekarang saya akan belinya di Bu Rosma saja."


"Bener banget Bu ibu... Kalau membeli di saya, di jamin seratus persen halal. Saya, kan mengerti agama. Jadi mengerti, lah hal yang begituan tidak di bolehkan."


Penjual yang satunya merasa gelisah karena pelanggannya semua lari ke Rosma.


"Rasain lu..! " ucap Rosma mencibir.