KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 21


Sekeras apapun Aby membujuknya, Anisa tidak mau pergi ke dokter.


Anisa merasa khawatir , kalau sampai Aby mengantarnya ke dokter, dia akan tau yang sebenarnya.


Tapi ia merasa cemas karena kondisinya semakin melemah. Sedang obat yang harus di konsumsinya juga tidak murah.


Belum lagi biaya check up setiap seminggu sekali.


"Dari mana aku mendapatkan biaya pengobatan ku? Tabunganku sendiri sudah semakin menipis. Kalau aku bilang ke Mas Aby kalau butuh uang, dia pasti curiga dan bertanya uangnya untuk apa?"


Anisa menghela nafas berat.


Ia tidak ingin membuat orang-orang terdekatnya merasa cemas akan penyakitnya.


"Ada apa?" tiba-tiba Aby menyentuh pundaknya.


Aby melirik buku tabungan di tangan Anisa.


"Kau lagi butuh uang? Berapa?" Aby merangkul bahunya. Anisa merasakan kehangatan setiap di dekat suaminya itu.


"Apa jadinya kalau dia tau tentang penyakit mematikan yang aku derita? Aku tidak mau membuatnya bersedih." batin Anisa.


"Oh, tidak, Mas. aku hanya melihat- lihat saja. Kalau ada Rizki lebih di tabung saja buat masa depan Al dan Zahra."


Aby mencium keningnya dengan mesra.


Anisa merasakan cinta Aby begitu besar pada dirinya


"Kau tidak usah khawatirkan yang itu. Mas Aby sudah memikirkannya."


"Nis, Mas Aby ingin mengulang liburan, tapi kali ini kau harus ikut." ucap Aby serius.


Anisa mendongak heran. Ia mencubit lengan Aby.


"Bukannya baru kemarin dari puncak? Sudah mau balik lagi?"


"Sekarang aku ingin kita berdua yang pergi. Al kita titipkan ke Jelita." Aby mengedipkan sebelah matanya.


"Tidak, ah! lagian aku tidak punya waktu."


"Nanti biar aku yang mintakan ijin ke sekolahmu."


"Jangan, Mas. Aku tidak mau pergi. Tidak tau kenapa badanku lemas sekali, malas untuk beraktivitas."


"Kau jenuh sayang, karna itu kau perlu refreshing. Mau, kan?" desak Aby.


Anisa menggeleng keras.


Aby bangkit untuk melihat keadaan Al yang sedang belajar.


Setelah Aby pergi. Air mata Anisa tak tertahankan lagi.


"Maafkan aku, Mas. Aku tidak bisa berterus terang padamu tentang keadaanku. Aku tidak mau kau bersedih karena hal itu."


Dengan berat hati Aby berangkat ke kantor.


Anisa dan Jelita melepasnya di depan pintu.


"Ingat, kau harus istirahat, jangan bekerja terlalu berat." pesan Aby pada Anisa.


Anisa mengangguk.


Anisa hendak pergi kekamarnya saat Jelita meminta tolong padanya.


"Mbak, bisa tolong pegangin Zahra sebentar?"


Dengan senang hati Anisa mengangguk.


Walau dengan tubuh yang masih lemas, ia menjaga Zahra.


Anisa merasay kantuk yang luar biasa hebatnya. ia hampir tidak bisa membuka matanya lagi.


Zahra yang sedang berada di pangkuannya meronta. Anisa tidak sanggup menahannya dan akhirnya anak itu terjatuh dari pangkuan Anisa


Lengkingan tangis Zahra membuat Jelita berlari kedepan.


"Astaga, Mbak Anisa ngapain Zahra?"


Jelita mengambil Zahra dengan paksa.


"Maaf, Lita, mataku tiba-tiba saja mengantuk sekali. aku tidak bisa menahan Zahra. Dia terjatuh." sesal Anisa.


"Kalau merasa keberatan di mintain tolong, bilang dong. Jangan anak kecil di jadikan sasaran." omel Jelita.


Anisa terdiam, ia memang merasa teledor menjaga Zahra.


"Sebaiknya Mbak tidur saja, nanti keluar kalau Mas Aby sudah pulang biar di kira mbak bekerja."


"Astagfirullah.. Kamu salah paham padaku." ucap Anisa.


Jelita tidak perduli. Ia meninggalkan Anisa yang masih menyesali kesalahannya.


"Benar-benar keterlaluan Mbak Anisa, mentang-mentang Mas Aby selalu membelanya dia jadi semena-mena." Jelita menggerutu kesal.


Malam harinya, Jelita mengadu pada Aby tentang apa yang terjadi.


"Mungkin memang dia tidak sengaja, kau tau sendiri kalau Anisa sedang kurang sehat. Kenapa pula kau suruh pegang Zahra?" ucap Aby Menanggapi pengaduan Jelita.


"Pokoknya aku mohon sama Mas Aby untuk mengijinkan ibu tinggal disini juga, biar ada yang bantu pegang Zahra, mas."


Aby masih berpikir dua kali untuk mengajak Bu Sari tinggal di rumahnya.


"Boleh juga, sih. Tapi sayang uangnya, Mas.


Ketimbang buat nyewa jasa baby sitter lebih baik buat ibu saja." Jelita belum menyerah juga.


Aby terdiam sejenak. Ia tidak mau berdebat dengan Jelita lebih lama hingga akhirnya dia mengijinkan nya juga.


"Mas, Jelita pasti sudah cerita tentang kejadian tadi pagi, ya?"


"Iya.." jawab Aby singkat.


"Aku tidak sengaja, tapi Jelita salah paham. Aku sangat menyesalkan semua ini."


"Sudah aku bilang kau sedang kurang sehat, kenapa dia menyuruhmu menjaga Zahra, tapi mungkin karna naluri seorang ibu hingga dia bereaksi berlebihan seperti itu." ucap Aby bijak.


Kondisi Anisa semakin menurun. Namun ia masih memaksakan diri untuk pergi mengajar.


Aby terpaksa mengijinkan dengan syarat ia mau di antar jemput olehnya.


Anisa setuju.


"Mas, aku sudah mengajukan cuti selama dia bulan. Aku ingin istirahat total. entah kenapa aku merasa kondisi tubuh ku semakin lemah saja."


Aby memandangnya heran.


"Kau benar, seharusnya dari jauh hari kau memutuskan hal ini." jawab Aby.


"Iya, aku ingin fokus mengurus Al dan... "


"Dan siapa?" potong Aby cepat.


"Dirimu, Mas. selagi masih ada waktu dan kesempatan." ucapnya tersenyum.


"Kau ini bicaranya seakan mau meninggalkan kami saja." Aby tertawa.


"Umur manusia siapa yang bisa menebak, Mas? Mungkin Aku, atau mungkin juga kau lebih dulu. Bisa saja, kan?" ucap Anisa serius.


"Hus! Jangan membicarakan kematian, mati itu memang wajib bagi setiap mahluk yang bernyawa. Tapi Mas Aby belum siap.. Belum siap meninggalkan dan di tinggalkan." Aby mengelus kepala Anisa.


Keesokan harinya, ustadz Yahya datang berkunjung.


Ia di sambut oleh Al dengan gembira.


"Bunda ada?"


"Sedang di kamar, ustadz, biar Al panggilkan." ucap bocah itu sopan.


"Jangan! Kalau bunda sedang istirahat, biarkan saja. ustadz juga mau pulang saja." Al mengangguk.


Ia meletakkan keranjang jeruk bawaan ustadz Yahya.


Bu Sari yang kebetulan melihatnya langsung menghampiri Al.


"Siapa yang tadi itu, Bang?"


"Itu ustadz Yahya, Nek. Temanya Bunda."


"Dia sering datang?" tanyanya lagi.


Al menggeleng.


Bu Sari menceritakan apa yang di lihatnya kepada Jelita.


"Memang sangat mencurigakan tingkah Mbak Anisa akhir-akhir ini, biar mas Aby terbuka matanya, bahwa Mbak Anisa tidaklah sebaik yang dia kira."


"Betul itu, sudah saatnya kau bangkit melawan ke tidak Adilan ini. Kau juga istrinya Aby, hak mu sama dengan Anisa."


Malamnya Jelita mengadu pada Aby.


"Mas, tadi sore ada seorang pria datang kesini mencari mbak Anisa. Dia pasti tidak cerita."


Aby menggeleng.


"Siapa?"


"Ustadz Yahya. Dia bawa jeruk segala sebagai oleh-oleh."


Aby mengerutkan keningnya.


Yahya datang mencari Anisa? Aby tau kalau pria itu menaruh hati pada Anisa sejak dirinya belum hadir di kehidupannya. Tapi masa, senekat itu dia datang sekarang?


"Ustadz Yahya adalah kaki tangan Abah. jadi, wajar saja kalau dia kenal baik dengan Anisa." jawab Aby.


"Terserah Mas Aby saja. Yang jelas aku sudah mengingatkan."


Jelita meninggalkan Aby sendirian di meja makan.


Aby merasa perlu minta penjelasan Anisa.


"Nis, benar ustadz Yahya kesini?"


"Al bilang begitu, aku tidak sempat bertemu, karna sedang istirahat di kamar. Kenapa, Mas? Ada yang aneh?"


"Aneh sih, tidak. Cuma rasanya kurang pantas saja. seharusnya dia mencariku walaupun memang urusannya denganmu."


Anisa memaklumi perasaan Aby. Ia berjanji akan memberi pengertian pada ustadz Yahya


Dukungannya!!