
Anisa tidak menyangka, kejadian di sore itu sangat membekas di hati Yahya. Pria itu terus saja murung.
Bukannya minta maaf setelah apa yang di jelaskannya, dia malah semakin terhasut oleh mulut Bibinya yang berbisa.
"Keterlaluan mereka! sama sekali tidak menghargai mu sebagai laki-laki. Kenapa tidak bisa sabar sedikit saja, tunggu kek sampai kalian benar-benar bercerai.." ia sengaja menggerutu di depan ponakannya.
Tangan Yahya mengepal mendengarnya. Selain hatinya yang sudah di bakar cemburu, di tambah lagi dengan ucapan Bibinya membuatnya kehilangan semua kebijakannya.
Walau tidak terucap satu katapun dari mulut Yahya, tapi Rosma tau, hatinya sudah di bakar kebencian yang dalam.
"Kau harus bertindak! Jangan biarkan harga dirimu di injak-injak oleh mereka." ucapnya lagi.
Rahang Yahya semakin mengeras.
Dia masih duduk di tepi ranjang di kamar yang ia tempati. Memang sejak sering terjadi kesalah pahaman di antara mereka, , ia jarang satu kamar dengan istrinya. Walaupun terkadang harus satu kamar itupun karena keadaan memaksa seperti saat -saat Anisa baru melahirkan, Yahya ikut bergadang menjaga anaknya. Tapi dia tidur di kursi panjang yang tersedia di kamar Anisa.
"Kalian lah yang bersalah dalam hal ini. kalian pula yang memaksaku menjadi seperti ini..
Dan kau pak Aby, dengan bangganya kau ingin menunjukkan padaku bahwa Anisa lebih memilihmu.." ucapnya geram.
Mata Yahya memerah.
Anisa sendiri merasa tidak nyaman dengan keadaan itu,. Namun dia masih mendiamkannya.
Paginya, dia juga masih pergi kedapur untuk menyiapkan sarapan seperti biasa.
Tapi dia sedikit heran karna Rosma belum kelihatan. Sampai dia selesai memasak pun Rosma belum nongol juga kedapur.
" Dimana Bi Rosma? Biasanya dia sudah muncul sambil mencela masakanku, kurang ini lah, kurang itu lah. ah, sebaiknya aku bersiap memandikan Liza saja... Hari ini adalah sidang terakhir. mudahan semua berjalan lancar." gumamnya sendiri.
"Kak Yahya, sarapan dulu, hati boleh marah tapi perut harus tetap terisi." ia berusaha bersikap bijak, sekalipun mereka akan berpisah, Anisa ingin meninggalkan kesan baik di antara mereka.
"Sudahlah, Nis. Jangan permainkan emosi ku seperti ini. Aku lebih suka kau acuhkan aku sekalian, dari pada seperti ini.
Kau perhatian padaku, padahal kita sudah hampir berpisah. Ini membuat hatiku terasa tercabik-cabik...!" ucap Yahya dengan nada keras. Anisa tidak mengerti kenapa Yahya malah marah. padahal dia bicara dengan baik-baik.
"Aku hanya melakukan apa yang menurutku baik. tapi kalau karna ini kau merasa tidak nyaman, aku minta maaf."
Anisa masih terus berusaha mengalah walau sebenarnya dia lah yang di pojok kan.
Anisa meninggalkan Yahya yang memandangnya dengan tatapan yang sulit dia artikan.
Setelah itu dia bergegas kekamar untuk mengambil anaknya.
Tanpa sepengetahuan Anisa, Yahya diam -diam mengikutinya.
"Lho, ada apa lagi? Kenapa kak Yahya mengikuti ku? " tanya Anisa dalam hati.
Pagi masih setia dengan kabut dan hawa dinginnya yang terasa menggigit kulit, membuat orang enggan untuk keluar kamar.
Sehingga tidak ada yang tertarik dengan ketegangan yang terjadi di kamar Anisa.
Yahya hanya terdiam. Hal itu membuat Anisa merasa was-was.
Perlahan Yahya mendekatinya.
Saat itu Khaliza sudah terjaga dan mulai merengek.
"Kak, Liza menangis, dia lapar.." ucap Anisa gugup sambil menunjuk anaknya.
Yahya tak perduli
Dia malah semakin mendekat.
Kini jarak mereka sudah tinggal beberapa senti saja.
"Aku juga sangat menyayangi Khaliza sebagaimana dirimu. Dia juga tidak akan kenapa-napa hanya karna merengek seperti itu." ucapnya dengan tatapan dingin.
perasaan Anisa semakin tidak enak.
Yahya semakin memepetnya. Tidak ada ruang lagi di antara mereka.
Perlahan tangan Yahya naik. Anisa mengikuti gerakan tangan itu dengan hati cemas.
"Istighfar, kak..!" teriak Anisa sambil mendorong tubuh besar itu.
Yahya tidak mempan lagi oleh bujukan apapun.
Ia semakin brutal.
Anisa terpekik saat Yahya menarik paksa hijabnya hingga terlepas. Kini rambutnya yang panjang tergerai indah. Hal itu membuat Yahya semakin lupa diri.
"Aku tau yang kulakukan ini salah, tapi aku sudah tidak bisa membedakan antara benar dan salah, jaraknya terlalu tipis.. Aku juga tidak mau terluka sendiri..." seiring ucapannya itu Yahya menarik tengkuk Anisa. Dia memaksakan diri untuk menciumnya. Tatapannya bringas seakan ingin menelan Anisa saat itu juga. Dengan nafas tersengal dan air mata berlinang Anisa berusaha melakukan perlawanan. Tapi apalah dayanya di hadapan tubuh Yahya yang besar.
Tangisan Khaliza tidak juga mampu menyadarkan Yahya.
Sebelum tangannya menjamah lebih jauh. Anisa menampar wajah Yahya sekuat tenaga. Hingga pria itu memegangi pipinya yang memanas.
"Ini? Ini kah perbuatan seorang pria bermoral yang bergelar ustad?"
Yahya masih terdiam.
"Bahkan kau tidak ada rasa malu pada anak mu sendiri....!" ucap Anisa sambil memakai hijab dengan asal.
Saat itu Rosma muncul di depan pintu.
Ia sempat melihat Anisa yang tidak memakai hijabnya dan Yahya yang terlihat berantakan. Sedikit banyak otaknya meraba apa yang sudah terjadi.
Senyuman sinis terukir di sudut bibirnya.
Anisa membawa anaknya keluar dari kamar itu dengan wajah memerah karna emosi. Bahkan dia tidak menyapa Rosma yang berdiri di depan pintu.
Sementara itu, Rosma langsung bergegas mendekati Yahya yang tertunduk.
Entah apa yang di bisik kan wanita itu. Yahya mendongak saat Rosma memegang bahunya. "Kau mengerti?" Yahya mengangguk samar.
Anisa memeluk Al dan khaliza dengan erat.
Al yang tidak mengerti apa yang terjadi hanya terdiam menatap Bundanya.
"Kenapa semua ini harus terjadi...? kenapa dia mampu melakukan ini padaku..." ia tergugu.
Setelah merasa sedikit tenang, dia menyuruh Al mengemas beberapa baju dan keperluan sekolahnya.
"Kita kemana, Bund?"
"Untuk sementara, Al tinggal di tempat ayah, Ya..! Nanti biar ayah yang nganter Al sekolah."
Al mengangguk patuh.
Setelah siap dengan tas besarnya. Ia mengajak Al pergi.
"Kau mau kemana?" Rosma yang melihatnya langsung menegur.
"Anisa, kau mau bawa kemana Khaliza?" ulang Rosma lagi.
Ia menghadang langkah Anisa.
"Jangan halangi aku Bi.. " Anisa terus melewati Rosma.
"Aku merasa tidak dianggap seperti manusia di disini, tapi hewan." sindir Anisa.
"Apa maksudmu?"
Anisa tidak menjawab.
"Kalian tidak usah pergi dari sini. Ini rumahmu..!" Yahya sudah berdiri di tengah pintu.
"Aku tidak bisa serumah dengan orang yang tidak menghargai ku." ucapnya acuh.
Tak di sangka oleh Anisa. Rosma mengambil paksa Khaliza dari gendongannya.
"Kalau kau mau pergi. Pergi saja .. Tapi tinggalkan Khaliza.!" ucapnya tegas.
"Tidak bisa, dia putriku. Bibi tidak bisa memisahkan kami." tantang Anisa.
"Kalau begitu, tetap diam disini!"
"Aku juga tidak bisa tetap disini."
Anisa berusaha mempertahankan anaknya.
Yahya yang menonton adegan itu justru malah diam saja.
"Lepaskan Khaliza, biar dia bersama nenek dan ayah kandungnya. Kalau kau mau pergi, pergi saja sana ke mantan suami mu itu " ucap Rosma sambil menenangkan Khaliza yang sudah berhasil di rebut nya.
"Yahya, cepat ambilkan susu itu.!"
Seperti orang bodoh, Yahya mengambil susu dari tas yang sudah di kemas Anisa.
"Kembalikan anakku, Bi. Berikan Khaliza padaku. dia masih kecil, dia masih butuh diriku."
Beberapa tetangga mulai berkerumun menyaksikan keributan itu. Ada yang membela Anisa, ada pula yang mencibir nya.
Rosma mengajak Khaliza masuk, karna Yahya tidak ikut masuk. Ia kembali dan menarik tangan Yahya agar mengikutinya.
Yahya yang berjalan memakai tongkat, hampir saja terjerembab karena menoleh kearah Anisa.
Pintu di tutup kasar dari dalam.
"Ya Allah... Kenapa mereka tega sekali pada anak sekecil Khaliza, bukakan pintu hati mereka, kembalikan anakku padaku ya Allah..." rintih Anisa.
Hari ini adalah sidang terakhirnya. Ia akan pergi ke pengadilan dengan atau tanpa putrinya di tangannya.
Anisa ingin merebut Khaliza apapun caranya.
Kalau perlu lewat jalur hukum pun akan dia tempuh.
Anisa meninggalkan rumah kenangannya semenjak kecil. Ia tidak mengerti kenapa Rosma tidak sadar kalau rumah yang dia tempati saat ini adalah rumahnya, bahkan dengan kejam ia menutup pintu buat dirinya sebagai pemilik rumah.
"Anisa, Al? Ada apa kalian pagi sekali sudah disini?" sapa Aby kaget. Ia bertambah heran saat melihat mata Anisa yang sembab.
"Di mana Liza?" Aby celingukan tidak mendapati bayi itu di gendongan Anisa.
"Nisa, ayo ceritakan. Ada apa?"
Airmatanya kembali tumpah saat ia harus menceritakan kejadian tadi pagi pada Aby.
Kemarahan terlihat dari mata Aby.
"Aku tidak menyangka Yahya sebejat itu...?"
Aby meraih tangan wanita yang tengah terguncang oleh tangisnya itu.
"Bersabarlah, Allah pasti memberi jalan yang terbaik buatmu. Dengan mengalami hal seperti yang kau ceritakan tadi, membuatmu tidak ragu dan merasa bersalah telah mengambil keputusan untuk bercerai darinya. Mungkin ini cara Allah menunjuk kan siapa sebenarnya mereka."
Aby menatap iba wanita yang selalu mengisi hatinya itu.
"Kau jangan khawatir, Khaliza akan kembali ke pelukan mu..." kita akan perjuangkan dia bersama-sama." ucapnya lagi. Anisa menatap Aby. Ada angin harapan yang bertiup di tengah keputus asa'an nya.