
Anisa bergegas memasak makanan kesukaan Aby.
Rosma mengintipnya dari balik pintu.
Setelah selesai, Anisa bersiap untuk mandi.
"Kak, aku mau kerumah sakit, tapi tidak akan menginap lagi. Kau bisa mengantarku?"
"Tentu, Nisa..." Yahya gembira karena Anisa terlihat lebih ramah hari itu.
Tapi diam-diam Rosma ingin membatalkan rencana mereka.
Rosma sengaja kedapur dan menyenggol makanan yang sudah di siapkan Anisa di rantang susun.
Prang...!
Semua isinya berhamburan.
Anisa begitu kaget. Ia hanya berdiri mematung memandangi makanan yang sudah di buatnya dengan susah payah berhamburan di lantai.
Antara kesal dan marah bercampur aduk dalam hatinya.
"Maaf, Anisa, Bibi tidak tau ada makanan itu. Bibi pusing dan tidak sengaja menyenggol rantang itu."
Anisa hanya terdiam. Ia kembali membuat makanan untuk Aby.
Rosma sangat geram melihatnya.
ia kembali memikirkan cara agar Anisa batal kerumah sakit.
Sementara Anisa sibuk di dapur dan Yahya sibuk bersama Al.
Diam-diam Rosma mengempeskan ban sepada motor Anisa. Motor Yahya? Tidak mungkin, karena masih di bengkel.
Setelah semua siap. Anisa mengingatkan pada Al.
"Ayo kita berangkat? Dimana ayah?"
Al terlihat tidak bersemangat.
"Ustadz Yahya ada di kamar nya Al."
Anisa mengernyitkan keningnya.
"Ustadz? Dia kembali memanggil ustadz?" bisik Anisa pada dirinya sendiri.
"Ya, sudah. Kita berangkat sekarang."
Saat semua sudah siap, Yahya kembali turun memeriksa ban motornya.
"Kempes, Ya?" Anisa ikut memperhatikannya.
"Anisa mendesah kecewa. Rosma yang melihatnya tersenyum puas.
"Lalu bagaimana ini?" ucap Anisa putus asa.
Kita pakai taksi saja."
Saat Mereka menunggu taksi datang. Rosma menghampirinya.
"Masih mau berangkat juga? padahal sudah banyak pertanda agar kalian tidak pergi, lho..."
Makanan yang jatuh, motor yang kempes..." omelnya.
Anisa tidak mengindahkannya. Hal itu membuat Rosma semakin panas.
Saat taksi datang, mereka langsung naik tanpa memedulikan Rosma.
Tidak mau sendirian di rumah, Rosma mengejar mereka.
"Bibi ikut ,saja.. ketimbang di rumah sendirian... "
Yahya dan Anisa menghembuskan nafas mereka.
Aby begitu gembira melihat kedatangan anak dan istrinya.
Ia sudah mulai bisa duduk, walaupun masih memakai selang infus.
Yahya dan Rosma ikut masuk hanya sebentar, lalu Yahya menarik tangan Rosma untuk menunggu di luar. Anisa sempat merasa tidak enak pada Yahya dan Rosma.
Tapi itu hanya sebentar.Saat melihat semangat di mata Aby, sejenak ia lupa pada Yahya.
Beberapa kali Yahya menahan Bibinya untuk masuk
"Jangan halangi Bibi...!"
"Tolong duduklah dengan tenang, Bi. beri mereka kesempatan bicara."
Rosma menggeleng keras. Ia heran dengan jalan pikiran Yahya.
Ia duduk dengan terpaksa.
"Ayah kapan ayah boleh, pulang?" pertanyaan Al membuat Anisa tertegun.
Seandainya Aby sudah di perbolehkan pulang, akan pulang kemana? Rumah sudah tidak ada.
"Ayah belum tau, Nak." jawab Aby.
"Aku ingin ayah cepat sehat, kita main sepeda bareng lagi kayak dulu." celoteh Al dengan gembira.
Hati Aby begitu bahagia berada di tengah tengah anak dan istrinya.
Tapi di luar, ada hati yang sedang merana. Yahya berusaha menata hatinya. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan Bibinya.
"Kenapa mereka lama sekali, sih? Bibi sumpek disini. Mau cari angin keluar sebentar." ujarnya sembari bangkit dan meninggalkan Yahya.
"Mas, lagi menunggu mba Anisa, ya?" seorang hitam manis sudah berdiri di depannya.
"Iya, Mba... " jawab Yahya berusaha tersenyum.
"Mas Aby sangat beruntung punya istri seperti dia." Yahya tertegun, namun akhirnya mengangguk.
"Mba kenal Aby?"
"Iya, dia salah satu pasien yang harus saya rawat.. Eem.. Ngomong-ngomong, Mas nya apanya mba Anisa? Saya lihat dia sering datang bersama Mas?"
Yahya mendesah berat. Tidak mungkin juga dia bercerita tentang hubungannya yang rumit.
"Sudah lama kerja disini?" ia mengalihkan pembicaraan.
Gadis manis itu tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipinya.
"Lyra...!" suara Anisa mengagetkan mereka.
"Iya mba.."
"Bisa tolong liatin sebentar? Infusnya tidak jalan."
Lyra mengangguk ke arah Yahya.. "Saya tinggal ya, Mas!"
Anisa duduk di samping Yahya.
Yahya masih terdiam.
"Aku tau, ini sangat sulit buatmu, buatku juga buat Aby. Karna itu diantara kita harus ada yang mengalah..." jawab Yahya pelan.
"Maksud kakak?"
Yahya hendak menjawab, tapi Lyra sudah datang menghampiri mereka.
"Sudah, Mba.."
"Terima kasih, ya dek.." ucap Anisa tulus. Ketika Aby sendiri karna Imran harus pulang bekerja. Lyra lah yang menjaga Aby.
Gadis itu tersenyum dan berlalu.
"Aku bingung, apa yang harus aku jawab kalau Mas Aby menanyakan tentang kehamilanku.."
Yahya juga ikut bingung.
"Bilang saja, kalau itu anak Yahya! Apa susahnya?" tiba-tiba Rosma sudah berada di antara mereka lagi.
"Tolong pelanin suaranya, Bi. Aku takut ada yang mendengarnya." sergah Yahya.
"Di dengar juga kenapa? Toh itu kenyataan." sungut Rosma.
Anisa benar-benar merasa kesal oleh tingkah Rosma.
"Bunda, ayah manggil Bunda." ujar Al yang kepalanya menyembul di pintu.
"Masuklah, Nis," Yahya memberi isyarat.
Tangan Rosma menahannya.
"Bi.. Tolong lepaskan saya!"
Rosma menggeleng.
"Kali ini tidak, ayo kita pulang." ia menarik tangan Anisa.
Tiba-tiba Aby sudah berada di depan pintu dengan memakai kursi roda.
Ia menatap bingung pada keributan yang terjadi.
"Mas..?"
Anisa begitu khawatir kalau Aby sempat mendengar perdebatan mereka.
"Apa yang terjadi, Nisa?" tanyanya bingung
Yahya dan Anisa begitu tegang.
"Anda mau tau? Sebenarnya..."
"Owh tidak ada apa-apa pak Aby, cuma ke salah pahaman saja." Yahya langsung berdiri di depan Rosma.
Aby seperti tidak percaya.
"Aby, mereka telah berbohong padamu." suara Rosma dari belakang tubuh Yahya.
Kejadian itu tak lepas dari tontonan banyak orang.
Anisa mendekati Aby dan membawanya masuk.
"Ayo, Mas... Jangan hiraukan mereka."
Sementara itu, Yahya memaksa Rosma untuk pulang.
"Bibi mau pulang kalau bersama Anisa."
"Jangan keras kepala, Bi. Ini rumah sakit, jangan membuat keributan."
Yahya memegang tangan Rosma dengan erat.
Walaupun dengan tersungut- tersungut Rosma mengikuti Yahya.
"Ayo Mas.. Hati-hati."
Anisa membantu Aby naik ke atas ranjang.
"Terima kasih, Nisa." wajah itu terlihat lebih segar. Ada senyum mengembang disana.
Al masih asik main handphone milik Bundanya. Ia tidak tau keributan yang terjadi.
"Nis.." Aby memegang tangan Anisa. Ada perasaan saat itu.
"Kau baik-baik saja?" tatapannya yang teduh membuat Anisa tertegun.
"Aku baik, Mas." Anisa menarik tangannya.
"Siapa wanita tadi? Kenapa dia bilang kalau aku sudah di bohongi? Apa ada sesuatu yang aku tidak tau?"
"Mas... Kenapa kau memikirkan kata-kata nya. Ini hanya salah paham saja." ucap Anisa gelisah.
Aby kembali kembali meraih tangannya.
Anisa merasa serba salah.
Tiba-tiba mata Aby terbentur pada bentuk perutnya yang agak gendut.
"Nis, apa Al mau punya adik? Tapi....? " Aby berhenti. Dia tidak melanjutkan ucapannya.
"Ini, aku memang agak gendut, Mas. Lihat saja pipiku gembul begini."
Dalam hati Anisa menangis.
"Maafkan aku telah berbohong,telah mengkhianati mu."
"Ya sudah.. Syukurlah kalau kau gendut, itu berarti kau bahagia" Aby mencubit pipinya.
Anisa minta ijin pada untuk menjalankan ibadah sholat.
Hanya tinggal Al dan ayahnya di ruangan itu.
"Ayah, kapan ayah pulang? Kita balik kerumah yang dulu. bukan rumah yang sekarang, Bunda sering menangis.. Apa lagi nenek sering memarahinya." ucap Al tiba-tiba.
Aby mencoba mencerna ucapan anaknya.
"Maksudnya Al, kalian tidak tinggal di rumah kita yang dulu?" tanya Aby heran.
"Iya, yah.. sejak ayah menghilang. Al dan Bunda tinggal bersama ayah Yahya.
Tapi Al ingin kerumah kita yang dulu..."
Aby menangkap suatu keanehan dari cerita putranya. Tapi ia tetap tersenyum.
Ia berusaha mengingat apa yang sebenarnya sudah terjadi. Banyak sekali keanehan yang dia rasakan baik dari Anisa dan orang-orang di sekelilingnya.
Maaf, telat lagi.. Edisi ada acara di rumah guys...